Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Keluargaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Keluargaku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 November 2017

Sebentuk Rasa Hati



Sebulan sudah kelas Bunda Sayang Batch #3 IIP berlangsung. Komunikasi produktif merupakan materi pertama yang peserta kelas dapatkan. Mulai dari mencerna materi, cemilan, serta mengerjakan tantangan level 1 yang diberikan oleh tim pusat IIP, memerlukan kesungguhan. Konsistensi dan kemauan untuk berubah menjadi individu, istri, serta ibu yang jauh lebih baik merupakan syarat dan modal utama. Tidak mudah saat peserta kelas harus menerapkan materi yang didapat selama minimal sepuluh hari berturut-turut. Apalagi saat harus mengikat hasil penerapan ke dalam sebuah tulisan, tentu memerlukan usaha lebih. Tidak sedikit rintangan yang menghadang. Rasa malas, ketidaksabaran, emosi yang fluktuatif, seringkali menghampiri. Namun saat tekad lebih kuat, semua halangan itu bisa dihindarkan.

Setelah menerapkan komunikasi produktif selama tujuh belas hari berturut-turut, dan tetap menerapkannya hingga saat ini meskipun masa tantangan sudah berakhir, efeknya sungguh di luar dugaan. Jika biasanya rumah selalu diwarnai dengan pekikan, teriakan, suara rengekan, serta tangisan Zee, kini menurun drastis. Mami yang kadangkala terpaksa bersuara dengan nada tinggi, sekarang mengubahnya dengan cara dan trik lain. Mencoba menjelaskan suatu informasi, perintah, serta hal-hal yang ingin diketahui Zee secara sederhana. Mami hanya berharap ia mengerti, meskipun di usianya yang baru dua tahun tentu saja membuatnya belum sepenuhnya mampu memahami kalimat yang terucap dari mulut Mami. Mencoba mengerti bahwa tumbuh kembang anak seusia Zee memang sedang dalam fase eksplorasi, maka ketika tidak sengaja ia melakukan sesuatu yang kurang semestinya dan menyulut emosi Mami, sejak menerapkan komunikasi produktif, Mami lebih memilih menghirup udara banyak-banyak, jeda sejenak, sebelum akhirnya menasihatinya dengan ramah sambil menunjukkan rasa sayang melalui bahasa tubuh.

Menerapkan komunikasi produktif di dalam kehidupan kami, membuat rasa bahagia yang kami rasakan semakin tak terkira. Zee jadi lebih bebas mengekspresikan diri, Mami tidak perlu cemas dan takut diserang rasa bersalah ketika harus memarahi Zee. Yang jelas, dengan berkomunikasi secara produktif, membuat kehidupan kami menjadi lebih baik.

Terima kasih Mbak Amma, fasilitator kelas Bunda Sayang Batch#3 Sumatera 1, atas kesediaannya mendampingi kami selama sebulan di kelas, menjawab rasa ingin tahu kami dan segala kegundahan yang kami rasakan. Terima kasih segenap pengurus kelas atas jerih payahnya mendampingi kami selama sebulan ini. Terima kasih Institut Ibu Profesional atas kesempatannya untuk mengikuti kelas Bunda Sayang Batch#3.

Pancar Matahari Family

Selasa, 21 November 2017

Outstanding Performance Badge



Setelah tujuh belas hari berturut-turut menerapkan komunikasi produktif di rumah serta mengikatnya dalam bentuk tulisan, terbayar juga segala lelah. Meskipun tujuan utama mengikuti tantangan level satu ini adalah untuk memperbaiki komunikasi antar anggota keluarga, namun apresiasi yang diberikan oleh tim Bunda Sayang sungguh membuat semangat saya kembali berkobar.

Terima kasih Institut Ibu Profesional atas kesempatannya untuk mengikuti kelas Bunda Sayang Batch#3 ini.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 18 November 2017

Dedek Makan Sendiri



Day 17

Sabtu, 18 November 2017

Hari terakhir tantangan materi pertama kuliah Bunda Sayang Batch#3 IIP, Komunikasi Produktif, Mami kembali mengangkat tema makan. Meskipun kemarin materi ini sudah dicoba dan sedikit berhasil, namun karena pagi tadi Zee meminta untuk makan sendiri tanpa disuap, maka Mami sekalian saja kembali mencoba menerapkan komunikasi produktif dengannya.

“Dedek makan sendiri, Mi,” ucap Zee saat Mami tengah membuat telur mata sapi.

“Iya sebentar ya, Mami buatkan dulu nasi goreng. Dedek tunggu di situ ya,” jawab Mami sambil menunjuk lantai dekat pintu belakang. Zee mengangguk dan menurut. Ia sibuk duduk di lantai sambil memainkan kartu Abang sepupunya.

“Nih, Dedek makan dulu. Duduk yang bagus, Nak,” kata Mami sambil memberikan piring berisi nasi goreng dan telur mata sapi yang sudah Mami potong kecil-kecil. Awalnya Zee hendak protes karena Mami menyuruh duduk. Namun Mami kembali memberinya pengertian.

“Dek, kemarin kan Mami udah bilang sama Dedek, kalau kita lagi makan itu harus duduk. Sekarang Dedek duduk yang bagus ya,” ulang Mami sambil mengusap punggung Zee dan duduk terlebih dahulu di lantai. Zee memandang Mami lama, namun akhirnya mengikuti perkataan Mami.

“Baca doa dulu sebelum makan ya, Dek. Gimana doanya?” Mami mengingatkan Zee untuk berdoa. Zee bersemangat membuka mulut dan melafalkan doa sebelum makan dengan lancar.

Setelah itu ia langsung memegang sendok dan memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut. Mami tersenyum senang melihatnya. Zee makan dengan baik selama empat suapan.

“Tambah, Mi,” pinta Zee begitu nasi yang di piring tinggal sedikit. Ia memegang sendok berisi nasi dan memberikan piring kepada Mami. Dengan cepat Mami memgambilkan nasi dan berbalik menghadap si bocah.

Tahukah apa yang terjadi? Nasi berserakan di lantai. Zee tertawa girang. Selama ini, dilema yang Mami alami memang seperti ini. Ingin membiarkan Zee mandiri dan makan sendiri, namun takut ia mengotori meja, kursi, maupun lantai. Kalau di rumah hanya ada Mami dan Papi, mungkin hal tersebut tidak akan menjadi masalah besar. Namun anggota keluarga lain merasa keberatan dengan perbuatan Zee yang sebenarnya manusiawi karena ia sedang melalui proses pembelajaran mandiri. Ada sebuah cara untuk menyiasati, seperti misalnya menggunakan tikar sebagai alas saat ia makan sendiri. Hal itu sudah kami coba beberapa kali dan tidak efektif, karena pada dasarnya ia sangat senang bereksplorasi. Ia tidak akan diam di atas tikar. Ia akan berlari sambil makan kemudian sengaja membuat makanan berserak di lantai yang tanpa alas. Berkaca pada kejadian tersebut, satu-satunya hal yang bisa Mami lakukan adalah menggunakan komunikasi produktif untuk menjelaskan cara makan yang benar kepada Zee.

“Zee, kalau makan itu langsung disuapkan ke dalam mulut ya nasinya. Bukan diserak ke lantai. Seperti ini nih.” Mami menunjukkan kepada Zee bagaimana cara menyendok nasi dan menyuapkan nasi ke dalam mulut dengan benar.

“Dedek coba ya,” ujar Mami. Zee mengambil sendok dari tangan Mami dan memulai sesi makan sendiri. Beberapa saat Mami bernapas lega karena Zee tidak berulah. Hingga akhirnya Zee kembali menguji kesabaran Mami.

“Dedek nggak mau pakai sendok,” kata Zee sembari melempar sendok ke lantai. Hampir saja Mami mengomel, namun batal, dan memilih mengambil napas dalam-dalam sebelum menasihati Zee dengan lembut.

“Dedek mau makan pakai tangan? Ya udah, boleh. Tapi makannya baik-baik ya. Yang betul. Nasinya disuapkan ke mulut, bukan diserak ke lantai. Oke?” Bening manik matanya memandang Mami tanpa rasa bersalah. Lalu dalam sekejap, ia melancarkan aksi jahilnya. Kedua tangannya bergerak mengambil nasi di dalam piring dan menghamburkannya begitu saja. Lantai di sekitar kami otomatis menjadi kotor. Mami menghela napas untuk menurunkan emosi.

“Dedek, kan tadi Mami bilang, kalau nasi tidak boleh diserak. Dedek udah kenyang? Tidak mau makan lagi?” tanya Mami. Zee diam tidak menjawab.

“Kalau udah kenyang, minum air putihnya,” lanjut Mami sambil menyodorkan botol berisi air putih ke arah Zee. Awalnya ia menolak, namun akhirnya dilakukannya juga permintaan Mami.

“Dedek tunggu ya. Duduk bagus. Biar Mami bersihkan nasi di lantai ini. Oke?” Zee mengangguk mendengar perkataan Mami. Untung saja kali ini ia tidak mengganggu apa yang sedang Mami lakukan.

“Dedek ingat yang Mami bilang ya. Besok lagi, kalau makan itu tidak boleh main-main dengan nasinya ya. Itu tidak bagus,” ucap Mami. Zee memandangi Mami.

“Kalau kita makannya bagus-bagus, nanti Allah sayang,” lanjut Mami.

“Nanti Allah sayang,” kata Zee mengulang perkataan Mami.

Momen makan pagi hari ini kami akhiri dengan pelukan hangat. Meskipun Mami tahu Zee belum sepenuhnya mengerti setiap kalimat yang terucap dari mulut Mami, namun dengan membiasakan penggunaan komunikasi produktif yang hari ini masih belum sepenuhnya berhasil, Mami yakin memberikan efek positif. Jika sudah besar nanti, Mami yakin Zee pasti mengingat setiap perkataan Mami.

Sesi tantangan di bulan pertama ini sudah selesai. Namun ke depannya kami tidak boleh meninggalkan komunikasi produktif, karena dengan menerapkannya banyak memberikan dampak positif buat kami.

Sampai jumpa di tantangan materi berikutnya bersama Zee, Mami, dan Papi.

Pancar Matahari Family

Jumat, 17 November 2017

Balada Makan Pagi



Day 16

Jumat, 17 November 2017

Hari ini, Mami kembali menuliskan tentang makan pagi alias sarapan. Mengapa begitu? Karena hingga saat ini, penerapan komunikasi produktif untuk masalah ini belum sepenuhnya berhasil.

Begitu bangun dari tidur, Zee langsung ikut Papi mengantar Abang sepupunya. Ia memang suka sekali dibawa naik motor meskipun tidak jauh. Pulangnya, ia minta handphone untuk menonton video. Mami yang saat itu baru selesai mandi dan dandan ala kadarnya, langsung mengingatkan Zee.

“Zee, mandi dulu. Abis itu baru nonton,” ucap Mami.

“Nonton, Dedek mau nonton. Mau susu. Susu strawberry. Susu mau, Mi. Sambil nonton,” rengek Zee. Mami sudah bersiap menegakkan aturan di rumah, namun melihat muka si kecil aktif itu memerah bersiap menangis lebih keras, maka urung Mami lakukan.

“Ya udah, kalau nggak mau mandi, Dedek makan dulu ya,” ucap Mami lagi.

“Susu. Dedek mau susu aja,” ulang Zee, kembali menekankan keinginannya. Baiklah, Mami yang harus mengalah. Membawa si bocah ke ruang samping, lalu mengambilkan sekotak susu UHT.

Sembari matanya menonton layar handphone, Zee memegang susu dan berdiri tegak. Mami yang melihatnya langsung mengingatkan.

“Dek, kalau minum susu itu duduk ya.” Mami sengaja merendahkan suara, menghindari kenaikan emosi. Bukannya menuruti perkataan Mami, Zee justru berjalan ke arah sepeda sambil menyedot susu.

“Dedek naik sepeda, Mi. Pakai sepatu.” Ia sibuk mengambil sepatu dengan tangan kiri lalu membawanya ke dekat sepeda.

“Mami pasangkan sepatu Dedek,” pinta Zee. Mami menggeleng.

“No. Dedek habiskan dulu susunya. Duduk sini,” kata Mami tegas namun tetap menjaga nada suara agar tidak meninggi.

“Zee, dengarkan Mami, Nak. Kalau Dedek sedang minum itu harus duduk.” Karena Zee mengacuhkan Mami, maka kalimat bernada tegas kembali keluar dari mulut Mami.

“Duduk sini dulu Dedek ya. Mami ambil nasi, kita sarapan.” Berharap Zee mau menurut, Mami kembali mencoba peruntungan.

“Lho, kok Dedek masih berdiri? Kan Mami bilang duduk.” Mami kembali mendekati Zee yanh asyik berdiri sambil menari, mengikuti gerakan dalam video yang ditontonnya. Sedotan di dalam susu masih terselip di mulutnya.

“Sini Mami suap. Duduk.” Entah yang keberapa kali, Mami kembali berujar. Zee memandang Mami. Lalu pelan-pelan tubuhnya ditekuk hingga ke posisi duduk. Mami tersenyum.

“Nah gitu dong. Dedek kan pintar, tahu kalau makan itu harus duduk. Iya kan?” Mami memuji Zee. Ia memamerkan senyum manisnya. Satu suap nasi berhasil masuk ke dalam mulut mungilnya.

“Eh, Dedek mau ke mana? Tapi kita kan makan? Kalau makan harus duduk tadi Mami bilang.” Melihat Zee kembali berdiri setelah menerima suapan nasi, Mami bertanya. Ynag ditanya langsung kabur berlari kesana kemari tanpa repot-repot menjawab.

“Makan lagi, Mi,” ucap Zee. Mami kembali menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut Zee. Ia kembali bangkit dari duduk. Mami mengingatkan tentang keharusan duduk kalau sednag makan.

Berkali-kali mencoba, namun sepertinya hari ini masih belum sepenuhnya berhasil. Zee hanya sebentar saja mengikuti aturan yang Mami berikan, lantas kembali bermain sesuka hatinya. Sepertinya harus mencoba ekstra keras lagi. Karena kalau Mami perhatikan, permasalahan bukan terletak pada ketidakmampuan Zee mencerna aturan yang Mami jabarkan. Ia mengerti, namun masih belum mau menuruti ucapan Mami. Semoga semakin besar nanti ia lebih mudah melakukan setiap kebaikan.

Be positive! Besok kita belajar lagi ya, Zee.

Pancar Matahari Family

Kamis, 16 November 2017

Zee's Creation



Day 15

Kamis, 16 November 2017

Seperti biasa, pagi ini Zee susah diajak mandi. Hampir satu jam Mami membujuk hingga akhirnya ia mau beranjak masuk ke dalam kamar mandi, dengan janji setelah mandi Mami akan menemaninya bermain crayon. Selesai mandi, belum sempat Mami memakaikan baju, ia sudah merengek, menagih janjinya untuk bermain crayon.

“Mami ambilkan buku Dedek. Sama crayon,” ucap Zee. Sambil sedikit membujuknya untuk bersabar, Mami menyelesaikan urusan memakaikan baju dengan cepat.

“Nih. Buku gambar Dedek sama crayon. Gambarnya di sini ya,” tunjuk Mami dengan jari telunjuk mengarah ke buku gambar.

Jika sedang bermain crayon, Zee tidak bisa ditinggal sendirian. Meskipun sudah disediakan tempat khusus untuk menggambar, tetap saja ia akan lebih senang memilih dinding, lantai, maupun sprei untuk dicoret. Sebenarnya hal ini wajar bagi anak seusianya, namun karena kami masih menumpang di rumah Kakek dan Neneknya yang kurang menyukai dinding penuh coretan, maka sebisa mungkin Mami selalu mengawasi Zee ketika sedang asyik dengan crayon.

“Mi, Dedek gambar ular. Ni komodo. Dinosaurus.” Celoteh si bocah sambil membuat coretan berwarna-warni. Bukan bentuk yang ia gambar, namun garis-garis lurus panjang, yang ia sebut ular, juga arsiran kecil-kecil yang menurutnya adalah komodo dan dinosaurus.

“Dedek sudah pintar gambar ya. Tepuk tangan!” seru Mami begitu Zee memamerkan hasil karyanya di depan Mami. Mendengar pujian dari Mami, ia tersenyum lebar, lalu kembali meneruskan kreasinya.

“Mi, Dedek coret sini ya? Ya?” Zee menoleh sebentar ke arah Mami sambil mencoretkan crayon ke atas sprei. Karena sudah berkali-kali ia menguji Mami dengan kelakuan jahilnya itu, serta Mami harus konsisten menerapkan komunikasi produktif, maka penggunaan kalimat 'jangan coret di situ' tidak lagi Mami gunakan untuk mengingatkan Zee.

“Dek, kalau gambar itu di buku gambar ya. Atau di papan tulis itu,” tunjuk Mami ke arah papan tulis yang tergantung di dinding kamar.

“Dedek sini aja gambar,” lanjut Zee dengan tangan terangkat, lalu perlahan turun hendak kembali mencoret sprei. Emosi Mami terpancing. Namun sekali lagi, Mami mencoba bersabar.

“Ini buku gambar Dedek kan masih kosong, jadi gambarnya di sini aja. Oke?” Mami membujuk perlahan. Zee menatap Mami cukup lama.

“Dedek mau digambarkan apa?” Jika tidak dialihkan segera, ia pasti akan tantrum dan tetap melakukan kemauannya untuk mencoret sembarang tempat.

“Panda Mami buatkan,” kata Zee.

“Oke, sini bukunya, biar Mami buatkan Panda.” Mami berkata sambil tersenyum. Zee mengangsurkan buku gambar bersampul merah muda ke hadapan Mami.

“Nanti lagi Dedek kalau mau gambar di buku ini ya. Kayak Mami nih,” ucap Mami.

“Iya,” jawab Zee cepat.

Kami melakukan aktivitas menggambar serta mencoret-coret buku hampir dua jam. Dan tak sekalipun Zee mencoret dinding maupun lantai. Sprei yang sebelumnya ia coret, tidak lagi terkena warna-warni crayon. 

Meskipun harus berkali-kali menjelaskan dan tidak selalu berhasil, serta tetap mendampingi aktivitas menggambarnya, penerapan komunikasi produktif cukup membantu kami. Mami belajar bersabar dan menghilangkan penggunaan kalimat negatif, sedangkan Zee belajar menangkap penjelasan Mami tentang sesuatu yang boleh ataupun tidak boleh dilakukan tanpa melibatkan emosi yang berujung tantrum.

Semangat ya, Zee. Mami yakin semakin besar nanti Zee akan lebih mudah mengerti makna dari setiap perkataan Mami.

Pancar Matahari Family

Rabu, 15 November 2017

Screen Time



Day 14

Rabu, 15 November 2017

Pagi-pagi sekali hari ini Zee terbangun. Sambil menunggu Mami salat subuh, ia bermain bersama Papi. Selepas itu, ternyata Zee mau tidur lagi. Mami mencoba mengajaknya keluar kamar, namun ia tidak mau dan merengek minta tidur lagi. Karena semalam si bocah tidur larut, akhirnya Mami membiarkannya kembali tidur.

Saat Zee tidur, Mami berkutat dengan urusan domestik. Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Zee bangun. Mau Mami ajak mandi langsung, ia tidak mau. Dan setelah mengamati ekspresinya, Mami menyimpulkan sepertinya Zee mau buang air besar. Karena setiap malam hari Zee masih memakai diapers, Mami memberikan waktu kepada Zee untuk buang air besar dulu, sementara Mami memasak menu makan siang. Satu jam lebih Mami memasak sekaligus mencuci piring. Setelah itu, Mami membujuk Zee untuk langsung mandi. Ada sedikit drama, namun dengan lembut Mami terus membujuk, hingga akhirnya ia menurut tanpa merengek.

“Mi, Dedek mau nonton,” ucap Zee saat Mami sedang membalurkan minyak telon di sekujur tubuhnya.

“Oke. Tapi sekarang pakai baju dulu ya. Setelah itu nonton,” putus Mami dengan suara tegas. Zee menurut, meskipun sesekali ia bergerak ke sana kemari saat Mami tengah memakaikan baju.

“Dedek nyalakan tv ya, Mi.” Baru saja Mami akan beranjak menjemur handuk, Zee sudah berlari ke ruang tengah dan memencet tombol power. Adegan film kartun kesukaannya langsung terpampang di layar.

“Dek, nontonnya sebentar aja ya. Nanti kalau film Rubi udah selesai, kita tidur ya,” Mami mencoba menerapkan komunikasi produktif untuk membatasi waktu menonton televisi. Karena selama ini, Zee tidak mau menuruti permintaan Mami jika Mami berkata jangan lama-lama menonton tv.

“Iya,” ucap Zee cepat sambil memandang layar.

“Janji?” tanya Mami.

“Janji. Abis nonton kita tidur,” jawab Zee. Mami tersenyum sambil mengusap rambutnya. Oke, Zee. Mari kita lihat janjimu. Batin Mami.

“Dedek nontonnya dari jauh sini, Dek. Duduk sini.” Mami kembali mengingatkan Zee saat ia berdiri terlalu dekat dengan televisi. Hampir saja keceplosan berkata jangan dekat-dekat nontonnya, namun Mami langsung ingat materi katakan yang kita mau, bukan yang kita tidak mau. Jadi strategi diubah.

Tanpa menjawab, Zee berjalan mundur mendekati Mami dan langsung duduk di pangkuan Mami. Wah, jelas saja Mami terpukau. Jika diperhatikan, si kecil ini tidak memerhatikan ucapan Mami, namun rupanya ia mencerna kalimat yang Mami katakan. Hebatnya lagi, ia menuruti permintaan Mami. Sepertinya komunikasi produktif berhasil.

Selama satu jam lebih Zee menikmati film kartun kesukaannya, sambil sesekali minta diambilkan tempe goreng. Ia berlari keliling ruangan sambil sesekali menari mengikuti irama yang ia dengar, saat film yang ditontonnya menyuguhkan adegan menyanyi. Mami membiarkan Zee menonton saat harus menunaikan salat dhuhur.

“Mi, tidur lagi kita, Mi,” ucap Zee saat jarum jam menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit.

“Tidur lagi kita, Mi,” rengek Zee lagi karena belum mendapatkan tanggapan serius dari Mami. Biasanya Zee memang sangat jarang meminta tidur siang sendiri tanpa Mami bujuk terlebih dahulu.

“Dedek udah nontonnya. Tidur lagi kita.” Zee membawa botol air minumnya ke dalam kamar dan langsung berbaring di kasur. Mami tersenyum. Sepertinya ia mengingat janjinya sebelum Mami memberinya izin menonton televisi. Sungguh tidak diduga anak sekecil Zee bisa konsisten dan bertanggung jawab. Padahal jika diamati, ia terlihat cuek dan tidak memedulikan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Mami.

“Dedek udah pintar ya sekarang, mau tidur siang.” Pillow talk berlangsung sebentar sebelum si bocah terlelap. Deretan gigi mungilnya tampak dipamerkannya, menanggapi pujian Mami.

“Besok lagi kayak gitu ya nontonnya. Nonton sebentar aja, abis itu tidur siang,” lanjut Mami. Zee tidak menjawab dan hanya tersenyum. Meskipun begitu, Mami berharap ia memahami kalimat yang Mami ucapkan.

Di era digital dan modern seperti sekarang ini, pengaruh teknologi memang tidak bisa langsung kita musuhi begitu saja secara frontal. Mungkin dengan sedikit menyiasati, tetap memberikan kelonggaran yang disertai aturan yang tepat, merupakan solusi bagi orang tua yang tidak mau anak-anaknya terlena dengan kemajuan teknologi, namun tidak juga tergerus arus zaman karena begitu kuat menghindari teknologi. Semoga Zee seperti itu ya, Nak.

Pancar Matahari Family

Selasa, 14 November 2017

Sarapan Sehat Ala Zee



Day 13

Selasa, 14 November 2017

Pagi ini langit murung tiada henti. Gerimis membuat hawa dingin menyergap tulang dan persendian. Zee yang menyukai udara sejuk, jelas saja terlelap hingga hari beranjak siang. Hampir pukul sembilan ketika ia bangun dan mau meninggalkan kasur.

“Dedek mau makan sama Papi.” Melihat Papinya sedang sarapan sebelum berangkat ke kantor, ia pun langsung menghampiri meja makan. Si bocah tembam ini memang sangat manja sama Papinya. Bukan sekali dua kali ia suka minta makan sama Papi.

“Nasi Papi udah mau habis, Dek,” sahut Papi. Namun rupanya Zee tetap tidak mau tahu. Ia merengek. Papi memberinya dua suap nasi goreng sebelum akhirnya nasi di piring Papi benar-benar tak bersisa.

“Dedek mau lagi,” rengek Zee. Mami yang  sedang berada di dapur langsung menyahut.

“Dek, Mami buatkan bubur oat mau?” Hahaha. Apalah Mami ni, mana tahu Zee oat itu apa kan? Mungkin begitulah ungkapan hati Zee kalau ia sudah bisa mengungkapkannya. Namun dugaan Mami salah.

“Mau, Mi. Dedek mau bubur.” What? Tidak salah dengar? Rupanya melihat bungkus oat, si bocah antusias dan langsung mengekori Mami yang sudah berdiri di depan kompor.

“Ya udah, Dedek tunggu sebentar ya. Duduk dulu ya.” Sambil menyalakan kompor setelah menuang oat ke dalam panci dan menambahkan air, Mami berkata ramah kepada Zee.

Beberapa menit kemudian, bubur oat matang. Zee yang tidak sabar, langung merengek.

“Mau, Mi! Dedek mau!” Ia menarik kaki Mami. Alhasil, Mami dan Zee langsung duduk saja di lantai depan kompor.

“Dek, buburnya masih panas. Tunggu sebentar ya, biar agak dingin.” Mami menjelaskan kepada Zee.

“Mau! Dedek mau!” Nah, tantrum si bocah mulai kambuh.

“Ya udah, coba makan. Buka mulutnya ya.” Daripada ia merengek, Mami sengaja membiarkam Zee merasakan panasnya bubur. Dan benar saja. Baru saja sendok masuk ke dalam mulut, ia mengeluarkan suapan pertama buburnya kembali.

“Panas, Mi. Dedek nggak mau,” ucap Zee. Mami tersenyum.

“Kan tadi Mami sudah bilang kalau buburnya panas. Jadi kita tunggu sebentar, biar agak dingin. Dedek minum susu dulu mau?” Mau mengalihkan perhatian Zee. Kebetulan juga si bocah mau.

“Dedek makan sendiri.” Sembari menarik mangkok bubur di tangan Mami, Zee merengek.

“Ya udah, Dedek pegang ni. Pelan-pelan ya makannya,” ucap Mami memberi instruksi. Baru dua sendok ia makan, kepalanya menggeleng.

“Dedek nggak mau lagi. Nggak mau,” kata Zee.

“Kenapa?” tanya Mami.

“Nggak mau,” ulang Zee. Mami tersenyum.

“Dedek mau sehat nggak?” Mami memancing Zee. Ia terlihat berpikir cukup lama, ia mengangguk.

“Mau, Mi. Mau.” Zee menjawab dengan penuh semangat.

“Nah, kalau mau sehat, kita sarapan oat ya.” Mami menjelaskan dan mata Zee langsung kembali menatap mangkok bubur.

“Mau, Dedek mau.” Zee kembali manuruti perkataan Mami.

“Dedek mau makan sendiri?” tanya Mami.

“Nggak mau. Mami suap Dedek. Panas,” jawab Zee cepat.

Mami akhirnya menyuapkan sesendok demi sesendok bubur oat ke dalam mulut Zee. Tak terasa, lebih dari separuhnya habis ia makan.

“Anak Mami pintar ya, udah tahu makanan sehat.” Mami memuji Zee sambil mengusap punggungnya. Ia tersenyum lebar.

Besok lagi ya, Zee. Kita belajar sarapan sehat, yuk!

Pancar Matahari Family


Minggu, 12 November 2017

Sandal Baba



Day 12

Senin, 13 November 2017

Pagi ini Zee bangun pukul 04.00, karena semalam ia tidur sebelum jam dua belas. Mami pikir ia mau diajak tidur lagi hingga usai salat subuh. Rupanya dugaan Mami salah. Setelah si bocah sibuk bermain botol air minum dengan menumpahkan isinya ke kasur, ia pun meminta Mami menyalakan lampu.

“Mi, hidupkan lampu, Mi.” Zee meminta dengan sedikit rengekan.

“Emang Dedek mau ngapain?” tanya Mami.

“Dedek mau baca. Mami ambilkan buku.” Zee menjawab dengan mata berbinar.

Akhirnya Mami menuruti keinginannya, alih-alih berkata jangan. Sembari menunggu Mami salat, Zee sibuk membuka-buka buku di atas kasur. Hingga tiba-tiba ia berkata.

“Makan nasi kita, Mi. Masak kita.” Dengan cengiran kecil, Zee menatap Mami.

Mami menuruti kemauan Zee. Dengan sekali membujuk, Mami berhasil mengajak Zee ikut ke dapur. Ia meninggalkan buku-bukunya. Selesai masak, Mami menyuapi Zee sarapan. Sambil sesekali si aktif itu bermain dengan lego dan peralatan masak-masakan. Setelah selesai, Mami membiarkan Zee bermain sendiri karena akan menyapu halaman dan dalam rumah.

“Mi, Dedek ambil sepatu, Mi.” Zee berjalan ke arah Mami sambil menenteng dua pasang sepatu boot miliknya. Dengan cekatan, ia menyusun sepatu-sepatu yang dibawanya ke atas rak tv. Lalu Zee kembali berlari.

“Mi, Dedek pakai sandal Baba.” Baba adalah panggilan Zee untuk Abang sepupunya. Sepasang sandal merah bertali sudah melekat di kakinya.

“Dek, kalau mau pakai sandal itu di luar rumah.” Mami menjelaskan kepada Zee. Ia hanya memandang Mami.

“Bukan dipakai di dalam rumah ya. Nanti kotor.” Mami kembali melanjutkan ucapannya.

“Lepas sandal Baba itu ya.” Dengan halus Mami memintanya melepas sandal Babanya. Namun bukannya diletakkan kembali ke rak sepatu, malah dibiarkan begitu saja di ruang tengah.

“Dek, sini.” Mami memanggil Zee yang tengah asyik membongkar crayon. Meskipun masih kecil, ia harus belajar bertanggung jawab.

“Tadi siapa yang ambil sandal Baba ni?” tanya Mami.

“Dedek, Mi,” jawab Zee cepat.

“Terus kenapa nggak dibalikin lagi?” Mami memancingnya agar belajar mengungkapkan perasaan.

“Di mana letak sandal, Dek?” Karena Zee hanya memandang Mami bengong, Mami kembali melanjutkan pertanyaan.

“Rak sepatu,” jawab Zee lagi.

“Nah, kalau gitu, sekarang Dedek susun lagi sandal Baba di rak sepatu ya.” Mami berjongkok di depan Zee sambil memberikan kode dengan mata agar ia mengambil sandal yang berserak di lantai ruang tengah.

Zee berlari sambil membawa sandal Baba. Mami mengikuti di belakang, dan melihatnya dari pintu. Rupanya meskipun tidak menjawab, si bocah langsung menyusun sandal dengan rapi, tepat di tempat semula.

“Udah, Mi!” pekik Zee sambil berjalan menghampiri Mami.

“Anak pintar udah pandai susun sandal sendiri ya sekarang,” puji Mami, membuat Zee meringis kegirangan. Ia pun melanjutkan aktivitas bermain, sementara Mami sibuk dengan urusan bersih-bersih rumah.

Mungkin begitulah anak-anak. Kadangkala ia terlihat tidak memahami apa yang orang tuanya bicarakan, namun nyatanya, otak cerdasnya sebenarnya menangkap maksud yang disampaikan oleh mereka. Orang tua hanya perlu bersabar, berkali-kali menjelaskan dengan kalimat sederhana agar mudah dimengerti. Tetap semangat ya, Zee. Besok kita lanjutkan lagi penerapan komunikasi produktifnya.

Pancar Matahari Family

Let's Play The Music



Day 11

Minggu, 12 November 2017

Biasanya, jika hari Minggu tiba, Zee akan menghabiskan Minggu pagi dengan berenang. Namun karena ia bangun sudah hampir pukul sembilan, maka kami meniadakan jadwal berenang. Mami yang saat itu sedang masak, membiarkan Zee menikmati akhir pekan dengan Papi. Ia menggelar tempat duduk, mengambil drumband, lalu minta kepada Papi untuk diambilkan kaleng soya dan sarang burung.

“Pi, Dedek main, Pi. Dedek main!” Seru Zee sambil mengangkat sebelah tangan dan stik drumband.

“Dedek nyanyi apa?” tanya Papi.

“Selamat, selamat, selamat pengantin baru. Kompang dipalu,” ucap Zee dengan irama teratur. Rupanya ia tengah menirukan lagu yang dinyanyikan Upin Ipin, seperti dalam video yang suka ia lihat di youtube.

“Pukul lagi drumband-nya, Dek. Sama kaleng soya-nya juga,” kata Mami menimpali. Tanpa diduga, dengan sebelah tangan, Zee memulai aksinya. Dengan feeling-nya, ia mulai memukul drumband, lalu satu persatu kaleng juga ia pukul menggunakan stik. Ah, anak sekecil ini sudah punya feel merasakan nada.

“Yeay! Dedek keren, pandai main musik ya,” puji Mami setelah serempak bertepuk tangan bersama Papi. Zee meringis, tersenyum lebar memamerkan gigi mungilnya.

Mami melanjutkan aktivitas dapur, sementara Papi sibuk dengan crafting-nya. Zee masih asyik bermain sendiri. Setelah selesai, Mami mengajak Zee mandi.

“Dek, kita mandi yuk,” ajak Mami. Seperti biasa, Zee berlari menghindari Mami.

“Nggak mau! Dedek main aja,” kilah Zee. Mami harus membujuk lagi.

“Nanti kita main lagi sepuasnya setelah mandi. Oke?” Zee menatap Mami skeptis. Mami balas menatapnya sambil tersenyum meyakinkan. Setelah melihat Zee melunak, Mami kembali ke mode pembujukan.

“Yuk Mami bantu bereskan mainannya ya. Abis itu kita mandi, baru main lagi.” Dengan lembut Mami menuntun Zee untuk mengajaknya membereskan mainan yang berserak.

“Mi! Udah, Mi. Dedek udah bereskan mainan.” Zee memekik. Mami langsung bertepuk tangan.

“Susun mainan. Susun mainan.” Tanpa menunggu komando dari Mami, Zee sudah mengangkat drumband beserta botol minumnya ke arah kamar. Mami menyusul.

“Anak Mami pintar ya, udah pandai susun mainan sendiri.” Mami mengacungkan jempol sambil mengusap kepala Zee.

Ah, akhirnya selesai juga proses bujuk membujuk masalah mandi. Zee yang asyik dengan musik ala-ala, enggan dipisahkan dengan kaleng-kaleng bekasnya. 

Semoga semakin besar nanti, dirimu bisa mengerti sendiri bahwa mandi itu baik untuk kesehatan ya, Nak.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 11 November 2017

Kotak Papi


Day 10

Sabtu, 11 November 2017

Hari kesepuluh di tantangan level 1 kelas Bunda Sayang IIP ini semangat Mami dan Zee masih membara. Mudah-mudahan bisa konsisten menerapkan komunikasi produktif hingga masa tantangan selesai.

Pagi ini Mami menyelesaikan urusan dapur sebelum Zee bangun. Jika biasanya hanya memasak untuk sarapan saja, kali ini Mami memasak menu makan siang sekaligus. Pukul delapan lewat si bocah bangun. Seperti biasa, ia langsung minta buku gambar dan crayon. Mami biarkan Zee bermain dengan warna sebelum mandi.

Aktivitas mandi pagi hari ini tidak terlalu banyak drama. Dengan sendirinya Zee mau menggosok gigi serta tidak perlu waktu lama untuk membujuknya agar segera masuk ke kamar mandi. Mungkin karena sebelumnya ia sudah Mami berikan waktu bermain sebentar. Selepas mandi, bahkan saat Zee belum memakai baju, ia sudah sibuk meraih mainan di dalam kotak, dan langsung membongkarnya.

“Mi, Dedek pakai sepatu.” Setelah selesai memakai baju, Zee berlari ke arah ruangan samping untuk mengambil sepatu boot di rak sepatu. Si kecil aktif ini memang terlihat menyukai fashion. Sesekali ia akan bergaya mengenakan sepatu serta topi pantai warna merah muda favoritnya.

“Dedek mau ke mana?” tanya Mami.

“Dedek mau pergi jalan.” Sambil kembali berlari setelah Mami memakaikan sepatu, Zee berteriak menyuarakan keinginannya. Mami menggelengkan kepala. Zee dan pergi jalan memang dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

“Ini siang, Dek. Panas. Kalau panas kita di rumah aja biar nggak sakit.” Mami mencoba menjelaskan secara simple. Ia memandang Mami, lalu kembali berlari.

“Dedek main ajalah.” Entah karena ia mengerti perkataan Mami sebelumnya atau tidak, tetapi kata-kata jalan sudah tidak ia dengungkan lagi.

“Dedek ambil kotak, Mi.” Mami langsung berjalan cepat menghampiri Zee. Eh, rupanya krucil ini sudah meraih prototype kotak desain produk karya Papinya. Hampir saja Mami terlepas dan mengeluarkan kata jangan. Untung saja seketika langsung teringat materi yang sedang diterapkan dalam komunikasi sehari-hari. Mami berjalan mendekati Zee.

“Dek, itu kotak Papi.” Mami berkata ramah dan memberikan jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan.

“Kotak itu buat kerja ya, Dek. Bukan buat main.” Mami melanjutkan. Zee menghentikan gerakan tangannya.

“Dedek mau main kotak? Yuk kita ambil kotak di tempat mainan Dedek.” Zee memandang Mami sangsi. Sepertinya ia tahu jika Mami hanya berusaha mengalihkan perhatiannya.

“Dedek mau buat kotak kayak punya Papi?” Mami memancingnya. Binar mata Zee menjawab pertanyaan Mami.

“Mau!” Pekik Zee. Mami tersenyum sambil mengelus punggung bocah dua tahun itu.

“Nanti kalau Dedek udah umur tiga tahun, kita buat kotak kayak punya Papi ya. Mau?” Bukannya Mami tak mau mengajak Zee crafting saat ini, namun melihat uji coba yang beberapa kali kami lakukan, sepertinya masanya belum tepat. Apalagi yang melibatkan gunting dan benda tajam lainnya, masih harus dijauhkan dari jangkauan Zee. Ajaibnya, si bocah mengerti.

“Mau. Dedek mau buat kotak umur tiga tahun.” Mami mengangguk sambil tetap tersenyum.

“Iya, nanti kita buat ya. Sekarang umur Dedek berapa?” Mami bertanya. Zee terlihat berpikir.

“Umur Dedek sekarang dua ta ...,” Mami menggantung ucapan.

“Dua tahun.” Zee menimpali. Mami tepuk tangan, mengapresiasi kepintaran Zee.

“Ya udah, sekarang kita main yang lain yuk. Kotak Papi buat apa tadi, Dek?” Mami sengaja mengingatkannya, berharap Zee membiarkan kotak itu aman berada di atas meja, tidak ia jamah lagi.

“Bukan buat main. Itu kotak Papi. Buat kerja,” ucap Zee riang sambil tersenyum. Mami tersenyum sambil kembali bertepuk tangan. Kami pun bermain dengan mainan lainnya. Zee memilih bermain lompat-lompat sambil sesekali belajar bergelantungan di teralis jendela.

Kadangkala, kita sebagai orang tua, terlalu dini menyimpulkan jika seorang anak kecil tidak mungkin memahami penjelasan yang kita jabarkan. Namun rupanya, penilaian kita tidak selalu benar. Yang harus kita lakukan adalah belajar menjelaskan sesuatu yang rumit menjadi kalimat sederhana yang mudah diterima seorang anak. Meskipun belum sepenuhnya mengerti, akantetapi otak anak pasti merekam penjelasan kita. Berdasar hasil observasi tersebut, sepertinya Mami memang harus lebih banyak belajar lagi. Semangat!

Pancar Matahari Family

Jumat, 10 November 2017

Tidur Siang



Day 9

Jumat, 10 November 2017

Pagi ini Mami demam. Zee yang selalu ikut sakit saat Mami sakit, rupanya kali ini sedikit banyak terpengaruh juga. Meskipun tidak demam, tapi saat bangun tidur, ia merengek, terlihat seperti sedang tidak enak badan.

Setelah bangun, bukannya mandi, ia justru sibuk membongkar mainan di lantai sambil makan kue. Karena Mami masih lemas, jadi membiarkan Zee menikmati pagi dengan santai. Setelah puas bermain crayon, ia pun minta bermain dough. Papi membentang tikar di belakang untuk tempat Zee main, sembari Mami memasak di dapur. Setelah selesai memasak, Mami baru memandikan Zee.

Selesai mandi, Zee langsung minta makan nasi. Sambil sibuk mengunyak nasi plus hati ayam, Zee kembali membongkar mainan di ruang tengah. Saat sibuk bermain, Mami melihatnya menguap. Matanya juga terlihat mengantuk.

“Dek, Dedek mau tidur siang?” Mami bertanya lembut.

“Nggak mau! Nggak mau!” Begitulah Zee, ia akan melawan rasa kantuk dan tak berhenti bermain.

“Kenapa Dedek nggak mau tidur?” Mami memancingnya menjelaskan alasan mengapa ia tidak mau tidur, alih-alih memaksanya.

“Nggak mau. Main aja, Mi.” Oke. Sepertinya rasa kantuk belum terlalu menyerangnya.

“Oke. Main apa lagi kita?” Mami bertanya.

“Tiup ini, Mi.” Zee berlari ke dalam kamar. Terdengar bunyi lemari dibuka, lalu ia keluar kembali sambil memegang flute. Dan beraksilah si bocah kecil nan aktif itu.

Setelah puas bermain flute, tiba-tiba ia kembali merengek. Sesekali Zee mengucek mata. Mami kembali bertanya.

“Dedek ngantuk?” Bukannya menjawab, Zee malah merengek lagi.

“Kalau Dedek ngantuk, Dedek harus tidur dulu.” Zee memandang Mami. Ia mulai mengacak-acak crayon sambil sesekali melemparnya.

“Dedek masih mau main?” Mami bertanya sambil mengelus kepala Zee yang sudah berbaring di lantai.

“Tidur, Mi. Kita tidur.” Nah kan! Pasti bentar lagi tantrum kalau sudah begini.

“Ya udah, kalau kita tidur, bereskan dulu mainannya ya. Sini, Mami bantu.” Mami mengajak Zee membereskan mainan yang berserakan di mana-mana.

“Nggak mau! Main lagi! Main lagi!” Si bocah kecil ini, meskipun sedang mengantuk dan ingin tidur, tetapi setiap melihat mainannya dibereskan, pasti akan langsung berteriak. Sepertinya Zee sangat tidak mau berpisah dengan mainan.

“Tapi katanya mau tidur?” Mami kembali bertanya sambil menatap mata Zee.

“Dedek mau tidur dulu sebentar, abis itu main lagi, atau main aja sambil ngantuk?” Hahaha. Mami memaksakan anak dua tahun memilih sesuatu yang susah dimengerti. Zee berpikir sambil membulatkan mata memandang Mami.

“Tidur aja kita. Tidur, Mi.” Lho? Kok itu bocah bisa milih? Batin Mami. Ajaib ya.

“Tapi kita bereskan mainannya dulu ya. Baru tidur.” Mami mendekati Zee dan memeluknya. Lalu pelan-pelan mengajak Zee mengumpulkan mainan satu persatu.

Setelah semuanya beres, ia berdiri, membawa botol minum dan langsung masuk ke dalam kamar. Meskipun melalui proses yang alot, namun tampaknya komunikasi produktif hari ini berhasil. Dan penilaian Mami tentang pemikiran anak kecil yang kemungkinan tidak mengerti logika agak rumit, ternyata salah. Buktinya begitu dijelaskan pelan, pun diberikan pertanyaan dengan lembut, Zee ternyata bisa memahami ucapan Mami. Semangat tumbuh dan berkembang lebih baik lagi ya, Zenitha.

Pancar Matahari Family


Kamis, 09 November 2017

Meow Meow Meow


Day 8

Kamis, 9 November 2017

Waktu baru menunjukkan pukul 06.15 saat Zee memekik dan menangis di tengah tidur. Karena tengah mencuci baju, maka Mami memilih untuk membiarkan Zee puas merengek sampai akhirnya bangun sendiri. Selesai mencuci, Mami mengajak Zee keluar kamar. Sementara Mami merapikan tempat tidur, Zee bermain dengan Papi di depan rumah.

“Mi, tengok, Mi! Kucing itu, ada kucing.” Begitu selesai membereskan kamar, Mami bergabung dengan Zee dan Papi yang tengah asyik menikmati roti dan kopi susu.

“Mana kucingnya?” Mami bertanya.

“Itu! Itu!” Zee berlari menuju pintu pagar yang terbuka separuh.

“Dek, pakai sandalnya dulu. Nanti kaki Dedek kotor.” Mami menjelaskan dengan perlahan karena melihat Zee langsung berlari tanpa mengenakan sandal. Ia tertawa hingga menampakkan deretan gigi mungilnya, lalu berbalik dan mengambil salah satu sandal di rak sepatu.

“Ada berapa tu kucingnya, Pi?” Zee bertanya kepada Papi. Matanya mengawasi anak kucing beserta induknya sedang bersembunyi di bawah pintu pagar tetangga depan rumah.

“Ada dua.” Papi menjawab.

“Ada tiga,” ucap Zee cukup keras. Lho kok? Mami yang mendengar dua jawaban berbeda dari si anak dan Bapak itu jelas bingung.

“Eh iya ada tiga. Papi nggak lihat yang kecil itu sembunyi.” Rupanya Papi yang salah lihat.

“Pintar Dedek ya, udah bisa menghitung kucing itu.” Mami memuji Zee.

Rupanya si bocah penasaran dengan kucing kecil yang kebetulan tengah memandangnya. Papi mengizinkan Zee keluar pagar dan mendekat ke arah kucing berwarna kuning.

“Ih, takut, Dedek.” Zee pasti begitu. Ia paling sering takut-takut berani jika berhadapan dengan kucing. Setelah dipanggilnya kucing dengan gerakan tangan, lalu si bocah kecil itu berlari memeluk Papi.

“Nggak apa-apa, Dek. Dedek kan sudah besar, berani sama kucing. Yuk tengok kucingnya yuk.” Mami mengajak Zee mendekat ke arah anak kucing.

“Meow, meow, meow.” Zee mengulurkan tangan ke arah si anak kucing sembari berjalan mendekat. Ia berjongkok hendak mengelus kepala kucing imut yang tengah meringkuk di bawah pintu pagar berwarna hitam. Tetapi kucing berbulu lembut itu malah berlari ke arah dalam.

“Mana kucingnya, Mi? Mana kucingnya, Pi?” Zee hendak masuk ke dalam halaman rumah orang.

“Kucingnya masuk ke dalam, Dek.” Mami menjelaskan singkat. Zee terlihat kecewa.

“Dedek hebat ya, berani dekat kucing.” Mami langsung memberinya pujian yang membuatnya kembali tersenyum lebar.

Ah, meskipun Mami kurang menyukai hewan peliharaan masuk di dalam rumah, tetapi sebagai orang tua, tetap harus memupuk keberanian si bocah kan? Dan ternyata, melalui komunikasi yang produktif, mengubah kata takut menjadi berani, membuat kepercayaan diri Zee meningkat. Semangat ya, Zee. Kapan-kapan kalau ada kesempatan kita lihat hewan-hewan lainnya.

Pancar Matahari Family

Rabu, 08 November 2017

Segelas Susu Cokelat



Day 7

Rabu, 8 November 2017

Hari ini masih sama dengan kemarin. Hujan tak berhenti mengguyur sejak malam. Hal itu membuat Zee betah bermalas-malasan dan enggan mandi. Namun setelah membujuknya, ia yang paling suka mandi di dalam ember besar langsung setuju dengan ajakan Mami karena berniat main air.

“Dedek mau main crayon,” ucap Zee begitu keluar dari kamar mandi.

Mami langsung saja memberikan crayon dan buku gambar kepadanya, daripada nanti si bocah tantrum. Sembari memakai baju, tangan Zee lincah mencoret kertas dengan berbagai macam warna.

“Dedek mau kue. Mami ambilkan.” Begitu selesai memakai baju, Zee langsung meminta cemilan. Sejak boleh makan, ia memang sangat jarang makan nasi. Biasanya Zee akan lebih memilih cemilan dibanding makanan berat.

“Kue apa?” tanya Mami.

“Kue wafer. Mami ambilkan. Wafer brown.” Mami tersenyum mendengarnya. Langsung saja Mami ambilkan kue yang ia minta, lalu memberitahunya untuk segera memakan kue tersebut.

“Dedek mau teh. Mami buatkan. Dedek tunggu sini.” Ah, ini bocah, belum juga selesai makan kue, sudah minta teh saja.

“Dek, anak kecil itu nggak bagus minum teh.” Mami mencoba memberinya pengertian. Meskipun faktanya sekali-kali ia masih meminta teh, terlebih es teh, namun Mami tetap selalu memberinya pengertian singkat. Entah ia pahak atau tidak.

“Susu aja. Mami buatkan ya, ya? Susu cokelat Dedek mau, Mi.” Mami tercengang mendengarnya. Dibanding susu formula, Zee memang lebih senang minum susu fullcream dan susu uht. Tak apalah, setidaknya ia mengerti jika Mami tidak ingin ia sering-sering minum teh.

“Mami buatkan, Dedek tunggu sini ya. Oke?” Mami tersenyum dan menggerakkan tangan membentuk huruf O.

“Dedek tunggu sini. Main sendiri. Main abc.” Sambil tersenyum lebar Zee menyahut. Syukurlah si kecil dua puluh lima bulan ini sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah dan mengerti perintah serta ucapan-ucapan singkat Mami.

“Dek, ini susunya. Tunggu dulu sebentar ya, masih agak panas.” Mami kembali ke kamar dan mendekati Zee. Tanpa diduga, ia malah merengek.

“Dedek pegang. Dedek pegang susunya.” Kedua tangan mungil Zee berusaha menjangkau segelas susu yang berada di pegangan Mami. Karena merengek terus, akhirnya Mami biarkan ia mencoba merasakan sendiri panas yang terasa pada gelas.

“Nggak mau, Mi. Panas.” Dengan cepat Zee menyerahkan kembali gelas kepada Mami.

“Nah, kan Mami udah bilang tadi. Ditunggu dulu sebentar biar dingin.” Zee masih menatap Mami sebelum kembali menyibukkan diri dengan mainannya dan melupakan kemauannya untuk minum susu. Karena melihat susu yang hanya teronggok, Mami menawarkan kembali kepada Zee.

“Dedek mau susunya?” Ia memandang Mami, lalu mengangguk.

“Mami pegangkan. Dedek nggak mau. Panas. Panas.” Sepertinya karena ia tadi sempat merasakan panas dari gelas, sekarang tak berani lagi menyentuh.

“Nggak apa-apa. Susunya udah dingin. Dedek bisa pegang sendiri sekarang.” Awalnya Zee tetap menolak dan sedikit merengek, namun lama-kelamaan ia tampak mengerti dan langsung menggenggam gelas.

“Nah, gitu dong. Anak pinter udah bisa minum sendiri.” Mami bertepuk tangan sambil menatap Zee lembut.

Hari ini nggak cukup menyita waktu dan tenaga untuk berkomunikasi secara produktif dengan Zee. Efek cuaca kali ya. Kalau adem Zee memang seringkali lebih tenang dibandingkan saat panas membara. Main lagi kita yuk, Zee!

Pancar Matahari Family

Selasa, 07 November 2017

Main Crayon Yuk!


Day 6

Selasa, 7 November 2017

Setelah semalam Pekanbaru diguyur hujan, pagi ini cuaca sepertinya masih enggan beranjak meninggalkan kegelapan. Mendung menggantung sejak pagi hingga pukul delapan lewat, membuat Zee betah meringkuk di kasur. Hampir pukul delapan lewat tiga puluh menit ketika Zee akhirnya bangun dan beranjak dari tempat tidur.

“Dek, mandi yuk.” Ajak Mami. Dan seperti biasa, Zee menolak. Pasti ia akan beralasan dingin. Padahal kemarin sore, bocah yang baru genap dua puluh lima bulan itu justru minta mandi hujan. Ia tak takut sedikitpun meskipun air turun begitu derasnya dari langit, ditambah petir dan kilat yang sahut-menyahut terdengar memekakkan telinga.

“Nggak mau. Dedek mau main crayon, Mi.” Sambil merengek, Zee mengulurkan tangan, minta Mami gendong. Dan kalau sudah seperti ini, Mami tahu maksud bocah kecil nan aktif itu. Apalagi kalau bukan ingin mengambil crayon?

“Kalau main crayon sekarang, kita mainnya sebentar aja ya. Abis itu mandi.” Mulutnya mengerucut ke depan.

“Dedek main crayon! Main crayon!” Pekikan mulai keluar dari mulut mungilnya.

“Dedek pilih main crayon sebentar terus mandi, atau mandi dulu sekarang abis itu kita main crayonnya lama?” Matanya membulat memandang Mami. Kena lagi kamu, Bocah! Haha.

“Pilih mandi kan?” Mami mempercepat ajakan. Zee memang tidak menjawab, namun bahasa tubuhnya menunjukkan kalau ia sudah melunak dan bisa diajak mandi.

“Yuk kita mandi. Abis itu kita main crayon. Dedek mau buat apa? Gambar Panda? Donat?” Sambil mengajaknya berbicara, Mami menuntun Zee ke kamar mandi.

Aktivitas mandi pagi Zee kali ini berlangsung cukup singkat karena ia mandi sendiri, sedang biasanya ia mandi bersama Mami. Drama terjadi ketika tiba saatnya menggosok gigi. Mami mengoles pasta gigi ke atas sikat gigi lalu menyerahkan kepada Zee.

“Dedek gosok gigi sendiri?” Ia memandang sikat gigi lalu mulutnya terbuka, hendak protes.

“Nggak mau! Dedek nggak mau gosok gigi.” Zee berteriak. Mami tersenyum sambil mengusap rambutnya yang masih basah.

“Nanti kalau Dedek gosok gigi, mulutnya harum. Gigi Dedek bersih.” Mami berusaha menjelaskan. Entah ia paham atau tidak. Lama ia berpikir, sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

“Dedek gosok gigi. Nanti Allah sayang.” Kata Zee sambil tangannya meminta sikat gigi yang masih Mami pegang.

Meskipun hanya beberapa kali menggosok dan tidak mau berkumur, setidaknya si bocah sudah mau membersihkan giginya.

“Anak Mami pintar, sudah bisa menggosok gigi sendiri.” Zee meringis lebar.

Keluar dari kamar mandi, Zee langsung memberikan kode kepada Mami.

“Zee Zee wants to play. Zee Zee wants to play.”

Dan belum juga sempat memakai baju, Zee langsung teringat kesepakatan kami sebelumnya. Ia langsung menagih sambil tersenyum lebar.

“Main crayon, Mi! Dedek main crayon.” Kesabaran Mami kembali diuji.

“Kita pakai baju sebentar dulu ya, abis itu main crayon lama deh.” Tidak cukup membantu, karena rengekan sepanjang Mami memakaikan baju terus terdengar. Setelah semuanya beres, saat bermain akhirnya tiba.

“Yuk kita main crayon. Nih sini Dedek mainnya, pakai buku gambar.” Mami mengambilkan crayon dan buku gambar. Zee memekik kegirangan.

“Mami duduk sini.” Matanya kembali memandang Mami sambil memohon.

“Mami buatkan panda,” ucap Zee.

“Buat anggur red lagi.”

“Buat donat brown, Mi. Mami dua. Sama donat green.” Celoteh Zee membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung tertawa. Ia memang suka berbicara dengan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Berbagai gambar kami buat. Mulai donat, panda, anggur, padi, gunung, dan banyak lagi yang lain. Sprei mulai kusut, crayon berserakan.

“Dek, bereskan crayon ya. Mami mau masak.” Mami berkata dengan nada rendah. Zee sempat protes, namun akhirnya ia menurut juga. Ditatanya satu persatu crayon ke dalam kotaknya.

“Udah, Mi! Dedek udah susun crayon.” Zee memandang Mami dan tersenyum bangga.

“Anak Mami hebat ya. Sudah pandai susun crayon sendiri. Tepuk tangan.” Mami memberikan tepukan tangan sambil tersenyum senang. Zee mengikutinya.

Crayon beres, namun keinginan mainnya belum berakhir. Mainan lain kembali ia keluarkan dan diserak di lantai. It's ok. Bermainlah sepuasmu, Zee! Masa kecil tidak akan berlangsung lama kok, Nak. Besok kita sama-sama belajar lagi ya menahan emosi.

Pancar Matahari Family

Senin, 06 November 2017

Mau Sambal Terasi?


Day 5

Senin, 6 November 2017

Pagi tadi seperti biasa, mengajak Zee mandi dipenuhi drama. Si bocah terus mengelak setiap Mami mengejarnya. Hampir setengah jam membujuk, akhirnya Mami berhasil juga membawa Zee mandi. Namun ternyata, drama berlanjut setelah ia selesai mandi dan sedang Mami pakaikan baju.

“Dedek mau buku baru sama buku Apel.” Buku baru, adalah sebutan Zee untuk Ensiklopedia Anak-Anak di Dunia, gift dari penerbit BIP beberapa waktu lalu.

“Pakai baju dulu, Dek. Abis itu baru kita baca buku.” Mami membujuknya dengan nada rendah sambil tersenyum. Namun ternyata gagal total. Si bocah malah merengek dan memekik. Akhirnya Mami yang mengalah, mengikuti kemauan Zee. Si kecil nan aktif itu pun membuka-buka buku sambil Mami pakaikan baju.

“Dek, Mami mau masak ya di belakang. Dedek ikut?” Bibirnya mencebik begitu mendengar Mami hendak meninggalkannya.

“Mami duduk sini aja.” Sambil merengek, Zee menatap Mami. Sebentar lagi pasti nangis. Batin Mami.

“Mami masak dulu sebentar ya.” Mami memberitahu Zee, dan si krucil itu tetap menatap Mami dengan mata berkaca-kaca, bersiap menumpahkan air mata.

Mami menunda untuk memasak, lalu duduk di sebelah Zee yang tengah tengkurap di kasur sambil membuka buku. Sepertinya memang harus dicoba memberinya pilihan lagi.

“Dedek mau Mami bacakan buku Apel aja abis itu Mami masak, atau Dedek ikut Mami masak sebentar abis itu kita baca buku Apel, buku baru, sama buku Dinar. Sambil tulis juga. Mau?” Hahaha. Biarlah si bocah bingung dengan kalimat panjang nan lebar yang Mami ucapkan.

Ternyata, dugaan Mami salah lho. Meskipun menatap Mami sangat lama seperti tidak mengerti ucapan Mami, nyatanya saat itu Zee sedang berpikir. Dan hasilnya, ia bisa menyampaikan pilihannya, meskipun dengan bahasa sederhana.

“Dedek ikut Mami. Mami bawakan buku baru.” Mami tercengang sesaat. Lalu tersenyum dan membantu Zee membawakan bukunya yang cukup berat.

Di dapur, jangan harap Zee mau diam sambil membaca buku. Ia justru bergerak lebih aktif dibandingkan Mami. Mulai dari membuka-buka rak piring dan mengeluarkan isinya, membuka kulkas dengan harapan bisa mengambil susu uht yang letaknya di rak paling tinggi, hingga puncaknya hendak masuk ke dalam tempat mencuci piring sekaligus menyimpan alat-alat dapur.

“Wajan itu, Mi. Mami ambilkan wajan itu.” Sambil menunjuk wajan kecil, Zee memohon.

“Buat apa wajan itu? Dedek kan ada wajan sendiri.” Maksud Mami wajan mainan berbahan plastik yang ia punyai.

“Nggak mau! Dedek mau wajan itu!” Zee mulai tantrum. Mami mencoba mengabaikannya dan memilih melanjutkan aktivitas dapur.

Mami mengeluarkan batu tumbuk untuk membuat sambal. Di dalamnya sudah terisi cabai, bawang, dan terasi. Saat Mami tinggal ke dalam mengambil garam, gula, serta jeruk nipis, rupa-rupanya Zee sudah beraksi.

“Mi! Tengok, Mi! Dedek pintar. Dedek masak.” Pekik Zee dengan riang. Tangannya menggenggam anak batu tumbuk sambil tersenyum jahil. Panik, Mami langsung datang menghampirinya.

“Zee, itu cabai tu, pedas tu.” Tak dihiraukannya ucapan Mami. Zee tetap mencoba mengangkat anak batu tumbuk dengan susah payah.

“Dedek nggak bisa, Mi. Nggak bisa.” Zee mengeluh disertai rengekan. Mami tersenyum dan mengusap kepalanya.

“Bisa, Dedek bisa kok. Coba.” Mami ikut memegang anak batu tumbuk. Zee mengangkatnya kembali.

“Angkatnya pelan-pelan, Dek.” Mami memberi instruksi sederhana. Zee mengikuti gerakan Mami, hingga akhirnya Mami melepas tangan dan membiarkan Zee menghasilkan bunyi berdenting, gesekan anak dan batu tumbuk.

“Horay! Dedek bisa! Dedek masak.” Setelah beberapa kali berhasil menumbuk bahan membuat sambal terasi di dalam batu tumbuk, Zee berteriak kegirangan.

Ya, ya, ya. Anak Mami memang hebat. Dan peran komunikasi produktif dalam menaikkan kepercayaan diri serta mendongkrak keberaniannya jelas sangat signifikan. Besok kita eksplorasi lagi ya, Zee.

Kakak, Abang, Om, Tante, Kakek, Nenek, Adik, mau sambal terasi buatan Zee? Sedap lho. Hihihi.

Minggu, 05 November 2017

Menara Ala Zee


Day 4

Minggu, 5 November 2017

Hari ini merupakan hari yang sibuk bagi kami. Mami dan Papi harus membuat sample produk makanan untuk persiapan usaha baru. Pagi-pagi, Mami sudah membangunkan Zee dan mengajaknya mandi. Tak ada drama yang terjadi, karena Mami membisikkan kalimat 'kita mau jalan' di telinga Zee saat membangunkannya. Bocah berumur dua tahun itu memang paling senang pergi keluar rumah. Termasuk ikut Mami dan Papi ke pasar.

Akhirnya setelah mandi dan memasak menu makan hari ini, kami bertiga pergi ke pasar pagi Arengka. Zee termasuk anak yang baik dan tidak pernah rewel jika diajak ke pasar. Mungkin karena sejak usianya enam bulan, ia sudah biasanya kami ajak ke tempat ramai tersebut. Begitu sampai di tempat parkir, mata Zee berbinar.

“Dedek mau naik odong.” Mami menoleh mencari di manakah gerangan odong-odong yang ia katakan tersebut. Setelah menyisir sekitar, ternyata bunyi nyanyian yang terdengar itu bukan dari tukang odong, melainkan sales susu kental manis yang sedang promosi.

“Itu bukan odong Dek. Tante itu jual susu. Dedek mau?” Mami menawari Zee.

“Nggak mau. Odong aja.” Zee masih mempertahankan keinginannya.

“Malam ya. Sekarang nggak ada odong. Es krim mau?” Akhirnya Mami mengganti pilihan agar ia tidak merengek.

“Mau. Dedek mau es krim.” Dengan ceria Zee melihat tukang es krim.

“Oke. Sekarang kita belanja dulu ya. Abis itu baru beli es krim.” Zee mengangguk.

Di dalam pasar, Zee tenang dalam gendongan Papi,  sementara Mami sibuk berbelanja. Kami menyelesaikan semuanya dengan cepat karena takut Zee kepanasan. Sampai di luar, rupanya ia kembali teringat tentang es krim.

“Es krim, Mi. Dedek mau es krim.” Baiklah, kali ini kamu boleh makan es krim, Bocah kecil.

“Kita duduk dulu sini ya baru makan.” Mami menjelaskan dengan kalimat sederhana sebelum Zee mulai menyendok es krim beraneka rasa. Ia mengangguk dan Mami tersenyum sambil membelai rambutnya.

Setelah selesai, kami pun langsung pulang. Sampai di rumah, untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak mengganggu pekerjaan Mami dan Papi, kami memberinya mainan. Papi membentang tikar di belakang rumah.

“Dedek main cetak-cetak.” Ah, mulai lagi ini bocah. Mami memang tidak pernah membiarkan Zee main dogh tanpa pengawasan, karena kadangkala ia masih suka memasukkan mainan tersebut ke dalam mulut.

“Kita main kaleng aja mau?” Mami menawarkan pilihan.

“Kaleng soya mau, Mi.” Karena Mami tengah sibuk di depan kompor, Papi yang mengambilkannya.

“Dedek main sendiri ya. Mami sama Papi mau masak.” Mami menjelaskan dengan suara lembut dan Zee mengangguk. Syukurlah, setidaknya untuk beberapa saat ia akan tenang.

Lama ia berkutat dengan kaleng dan suara-suara musik dari handphone. Sambil sesekali minta diambilkan susu uht, kue, dan makanan lain. Lalu tiba-tiba ia berteriak. Mami yang sedang fokus di dapur menoleh.

“Mi, tengok, Mi! Menara Dedek ini, Mi! Tinggi menara Dedek.” Ia tersenyum sambil memperlihatkan hasil karyanya. Rupanya tujuh buah kaleng soya dan sarang burung sudah tersusun menjulang tinggi ke atas.

“Eh, anak Mami pintar ya buat menara. Keren menara Dedek ni.” Mami memberinya pujian sambil bertepuk tangan. Zee berputar-putar sambil tersenyum lebar, sesekali menyanyikan lagu-lagu kesukaannya.

Begitulah, selama Mami dan Papi sibuk di dapur, selama itu pula ia sibuk dengan berbagai macam mainan. Dan akhirnya, kami memberinya kesempatan untuk bermain dogh saat sudah bisa mengawasi tanpa meninggalkan pekerjaan.

Zee adalah anak yang hebat. Di usia sekecil ini ia sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah. Sungguh anugerah yang luar biasa bagi kami. Besok kita main lagi ya, Zee.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 04 November 2017

Es Krim dan Tempe Goreng


Day 3

Sabtu, 4 November 2017

Zee is drama queen! Ya, semua hal yang berhubungan dengan bocah kecil ini memang selalu penuh drama. Seperti pagi ini misalnya. Hampir satu jam lebih Mami membujuknya untuk segera mandi pagi, dan baru berhasil saat jarum jam menunjukkan angka sepuluh. Ada saja yang diucapkan sebagai alasan. Mulai dari makan kacang dululah, main dogh dululah, main crayon, main lilin, hingga saat tak ada lagi yang mau dikatakan, ia pun memilih lari dan bersembunyi dari kejaran Mami. Akhirnya Mami kembali memberi pilihan.

“Dedek mau main lilin sebentar terus mandi, atau mandi dulu habis itu kita main lilin, main crayon, dan makan es krim?” Mendengar kata-kata Mami, Zee tampak berpikir. Maklumlah anak umur dua tahun kalau dihadapkan dengan kalimat agak rumit pasti butuh waktu untuk mencerna.

“Mandi dulu ya? Baru main lagi kita. Nanti makan es krim.” Mami kembali berucap. Zee menatap mata Mami, lalu dengan pandangan berbinar-binar, ia tertawa.

“Es krim, mau! Mau!” Hahaha. Gotcha! Si krucil ini memang tidak bisa mendengar kata es krim.

“Kalau mau es krim, Dedek mandi dulu ya.” Satu, dua, tiga. Mami menghitung dalam hati sambil tersenyum. Dan benar saja!

“Iya. Dedek mandi.”

Begitu di dalam kamar mandi, ia pun mulai berakting. Lengkap dengan ekspresi yang sangat meyakinkan.

“Dedek dingin, Mi! Dedek takut dingin.” Sambil memeluk Mami yang terpaksa merelakan baju basah terkena air.

“Ngapain takut dingin? Dedek kan udah besar.” Ah, memang si bocah tengil ini suka sekali menjahili Mami.

“Pura-pura Dedek. Dedek pura-pura. Pura-pura takut dingin.” Astaga! Emaknya saja dikerjain kan?

Akhirnya Mami dengan cepat menyiram badan Zee lagi dan mulai menyabuni tangan, kaki, serta bagian lagi.

 “Mi! Dedek bisa, Mi! Dedek bisa!” Sambil kedua tangannya menggosok dada dan perut, Zee menyampaikan maksud bahwa ia sudah bisa mandi.

“Ih, anak pintar. Hebat Dedek ya sudah bisa mandi sendiri.” Mami memberikan pujian spesifik, dan membuat Zee tersenyum lebar dengan menampakkan deretan gigi kecilnya.

Setelah selesai mandi, Zee sibuk membongkar mainan bongkar pasang, alfabet, serta buku-bukunya. Tak lupa juga crayon dan buku gambar. Mami pikir ia sudah lupa soal es krim, namun ternyata ingatan si bocah ini tak bisa diragukan lagi.

“Dedek mau es krim, Mi! Es krim!” Sambil berlari ke arah kulkas, ia memekik. Mami mengejarnya.

“Tunggu, Zee! Biar Mami ambilkan.” Zee memandang Mami ragu.

“Dedek duduk dulu di dekat Baba ya.” Baba adalah panggilan Zee kepada Abang sepupunya. Zee mengangguk dan kembali berlari menghampiri Abangnya di depan televisi.

“Nih! Dedek satu, Baba satu ya.” Zee dan Baba sama-sama tertawa. Rupanya Zee tidak mau makan sambil duduk. Ia memegang es krim rasa nanas buatan Mami sambil berlari ke sana kemari hingga sampai di belakang rumah.

“Dek, duduk sini, Dek.” Mami menunjuk bangku kayu, dan akhirnya Zee menurut. Drama kembali terjadi saat es krim di tangan Zee tinggal sekali gigit.

“Lagi, Mi! Dedek mau es krim lagi!” Dengan tangan belepotan bekas tetesan es krim, ia berlari kembali menghampiri kulkas.

“No!” Mami sejenak melupakan tentang komunikasi produktif karena geram melihat tangan kotor Zee yang sedang memegang pintu kulkas. Namun rupanya hal itu justru membuatnya merajuk.

“Dedek mau, Mi! Mau es krim lagi! Mau!” Mami diam sebentar, lalu menarik napas dalam. Sepertinya bocah aktif ini harus diberikan pengertian lagi.

Mami berjalan mendekati Zee, lalu berjongkok di depannya untuk mendapatkan posisi sejajar. Tangan Mami memegang kedua bahu Zee sambil tersenyum.

“Dedek mau es krim lagi?” Zee mengangguk.

“Nanti kalau pilek gimana? Kemarin kan habis pilek.” Mendengar perkataan Mami, Zee hanya berkelap-kelip, lalu ia mencebik.

“Kan hari ini udah makan satu es krimnya. Baba juga satu. Sama kan?” Zee masih diam saja.

“Makan es krimnya besok lagi ya.” Nah! Sampai di sini ia mulai menunjukkan ekspresi mau berteriak.

“Mau nggak mau sakit kan?” Mami memancing. Biasanya ia akan mengerti dengan pertanyaan seperti ini. Dan benar saja. Zee langsung menggeleng.

“Kalau gitu, makan es krimnya besok lagi ya. Sekarang Mami buatkan tempe goreng mau?” Setelah terlihat berpikir sejenak, Zee mengangguk. Ah, untung saja di kulkas ada tempe, dan bocah cilik ini sangat menyukai tempe goreng. Baiklah, mari kita mainkan, Zee!

“Sekarang Dedek tunggu dulu di depan tv ya.” Mami berkata dengan nada rendah sambil mengelus kepala Zee. Dan berhasil! Si bocah berlari dengan gembira, melupakan tentang es krim.

Memang the power of komprod (komunikasi produktif) sangat berpengaruh dalam psikologis anak ya. Meskipun masih harus bersusah payah dalam menerapkannya, tetapi kita tidak boleh berhenti di sini ya, Zee. Besok kita coba belajar lagi ya, Nak.

Pancar Matahari Family


Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...