Tampilkan postingan dengan label Tantangan 10 hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tantangan 10 hari. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2018

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018


Day 1

Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-anaknya. Selain meningkatkan wawasan dan pengetahuan, dengan menggunakan waktu untuk membaca buku, akan mengurangi resiko kenakalan remaja maupun kegiatan tidak penting khas anak-anak seperti nongkrong di tepi jalan, dan lain sebagainya.

Membeli buku tentu saja memerlukan dana yang tidak sedikit. Banyak orang mengeluh bahwa mereka tidak mempunyai budget khusus untuk itu karena sebagian besar keuangan sudah dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun tanggungan serta dana cadangan jika sewaktu-waktu terjadi kejadian darurat.

Di era digital ini, teknologi banyak menawarkan fasilitas untuk membaca buku dan tulisan secara cuma-cuma. Salah satunya adalah aplikasi buatan perpustakaan nasional RI, iPusnas. iPusnas merupakan aplikasi yang bisa diinstall di ponsel pintar.

Bagi pecinta buku, bisa memilih bermacam genre bacaan tentu saja bagai menemukan surga. Apalagi untuk bisa menikmati fasilitas membaca secara gratis tersebut tidak diperlukan syarat khusus. Kita hanya perlu mendaftar menggunakan email, akun google, ataupun facebook yang kita miliki. Setelah semuanya selesai, kita bisa langsung mencari buku yang ingin kita baca dengan menggunakan keyword judul, nama pengarang, maupun penerbit. Jika sudah menemukan buku yang ingin kita baca, langsung saja pilih opsi pinjam, dan kita akan diberikan kesempatan selama tiga hari untuk menyelesaikan satu judul buku.

Berbagai jenis bacaan bisa kita temukan di iPusnas, baik itu fiksi maupun nonfiksi. Buku edukasi anak semacam dongeng, ensiklopedia, juga activity book dengan mudah bisa kita jumpai. Pun buku yang menunjang pengetahuan seputar parenting, juga manajemen rumah tangga dan keuangan hingga novel lokal dan terjemahan tersedia untuk kita pinjam. Hal ini menjadikan iPusnas sangat layak untuk diinstall di ponsel pintar para ibu yang ingin terus belajar dengan memanfaatkan fasilitas digital.

Pancar Matahari Family

Minggu, 09 September 2018

Kebaikan Hati Pingu

Minggu, 9 September 2018



Day 10

Dongeng terakhir dalam game level 10 Bunda Sayang ini saya tulis dengan ditemani oleh Zee langsung. Ia yang memang susah diajak tidur siang, kali ini memilih menemani mami menulis dengan dalih ingin membantu.

Kisah Pingu si baik hati yang membantu Nello dengan memberikan makanan yang ia punya serta mantel bulu ini mengajarkan tentang pentingnya rasa empati kepada sesama. Membantu orang yang sedang kesusahan harus selalu diutamakan jika kita mampu. Begitulah kiranya yang ingin saya tanamkan dalam pribadi Zee.

Membaca dongeng kali ini, kami menggunakan boneka penguin warna blue ice milik Zee. Ia bersemangat sekali menggerakkan boneka, seolah menirukan Pingu yang sedang berjalan. Zee juga bertanya ikan apa yang dimakan oleh Pingu, membuat mami harus mencari informasi lebih lanjut mengenai habitat dan kehidupan penguin.

Bagi yang mau menyimak dongeng tentang Pingu dan Nello bisa membuka tautan di bawah ini


Pancar Matahari Family

Kisah Sepasang Bangau

Minggu, 9 September 2018


Day 9

Dongeng kesembilan kali ini kami mengangkat mengenai nilai-nilai luhur yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Dalam dongeng sepasang bangau ini, diselipkan mengenai pentingnya ketulusan, kesetiaan, pengharapan, serta kepercayaan kepada Allah, Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kesabaran ketika menerima cobaan merupakan sikap yang ingin kami tanamkan kepada Zee sejak dini, sehingga melalui dongeng inilah kami sisipkan value tersebut.

Tokoh burung bangau ini diminta khusus oleh Zee. Jadi ketika mami selesai menulis dan segera membacakannya, ia pun berseru senang. Lalu muncullah sebuah pertanyaan, kapan kita melihat burung bangau? Ah, memang bocah satu ini selalu ingin tahu akan banyak hal.

Kisah Sepasang Bangau dapat dibaca pada tautan berikut


Pancar Matahari Family

Sabtu, 08 September 2018

Cibi Si Bebek: Melawan Takut

Minggu, 9 September 2018


Day 8

Siang ini, setelah mami selesai memasak, Zee meminta untuk membaca dongeng yang mami buat kemarin. Ia meminta membaca cerita mengenai Popi si kupu-kupu dan Lili si ulat bulu. Sekali dibacakan, ia meminta dongeng yang lain. Akhirnya mami menawarkan kisah Cibi si bebek bungsu yang baru ditulis pagi tadi. Tentu saja Zee langsung menampilkan wajah gembira dengan bola mata berbinar, karena bebek merupakan salah satu hewan kesukaannya.

Kisah Cibi si anak bebek ini bercerita tentang ketakutan saat pertama kali ia harus masuk ke dalam air dan berenang di kolam. Cibi tidak yakin dan takut jika ia tidak bisa menggerakkan kaki yang nantinya akan menyebabkan tubuhnya tenggelam. Peran ibu bebek dan kakak-kakak Cibi di sini sangatlah penting. Mereka memberikan semangat sehingga akhirnya Cibi bisa melawan ketakutan yang muncul dari dalam dirinya dan berhasil berenang seperti kakak-kakaknya. 

Penanaman nilai dan karakter seorang pemberani ini sangatlah penting bagi Zee. Apalagi saat ini ia memang sedang semangat untuk belajar berenang. Pembacaan dongeng Cibi ini bahkan berhasil membuat Zee menagih kapan mami dan papi akan mengajaknya pergi ke kolam lagi dan berenang seperti Cibi. 😄😄😄

Berikut tautan untuk membaca kisah Cibi si bungsu


Pancar Matahari Family

Kisah Jeje Si Jerapah: Kesombongan Berujung Petaka

Minggu, 9 September 2018


Day 7

Kisah Jeje Si Jerapah ini merupakan dongeng terakhir yang kami baca bersama sebelum tidur semalam. Zee yang sedang senang-senangnya membaca buku dunia hewan, meminta dongeng dengan tokoh jerapah.

Jeje merupakan jerapah sombong yang tinggal di padang rumput. Karena mempunyai leher panjang sehingga bisa memakan dedaunan segar dari pucuk-pucuk pohon, ia menghina Kiki, si kelinci kecil berwarna cokelat muda yang harus menerima kenyataan hanya bisa makan rumput yang telah ia injak-injak. Jeje lupa bahwa setiap makhluk hidup telah dikaruniai dengan kelebihan masing-masing. Begitulah kira-kira inti cerita dari dongeng jerapah ini. Value yang ingin kami sampaikan kepada Zee yaitu mengenai sifat sombong yang tidak boleh dimiliki setiap makhluk hidup, juga pemahaman bahwa tolong-menolong dan saling membutuhkan itu merupakan sifat dasar setiap makhluk yang ada di muka bumi ini. Muatan akademis mengenai cara jerapah jika ingin minum juga terselip dalam dongeng ini.

Saat kami membaca bersama semalam, tanpa diduga, Zee tiba-tiba berjalan meninggalkan mami yang masih membaca sambil memegang ponsel. Rupanya si bocah mengambil sepeda kecilnya yang memang mempunyai bentuk jerapah. Ia mengatakan jika itu adalah si Jeje. Zee minta dibacakan beberapa kali oleh papinya dongeng si Jeje ini sebelum akhirnya tertidur 

Kisah jerapah dan kelinci di padang rumput bisa dibaca dari tautan berikut


Pancar Matahari Family

Sasa: Si Sapi Qurban

Sabtu, 7 September 2018


Day 6

Karena hari ini rapel setor laporan, maka setelah dongeng Tiga Kurcaci saya baca bersama dengan Zee, maka langsung dilanjutkan dengan dongeng tentang sapi. Tema sapi ini juga atas permintaan Zee, sama seperti dongeng yang sebelumnya.

Dongeng dengan tokoh utama seekor sapi berwarna cokelat yang bernama Sasa mengambil momen Idul Adha sebagai fokus cerita. Pemilihan momen ini diharapkan membuat Zee semakin mudah menyerap nilai-nilai dan pesan moral yang diselipkan, karena saat Idul Adha bulan Agustus lalu, Zee sempat melihat momen penyembelihan hewan qurban, yaitu beberapa ekor sapi berwarna cokelat.

Cerita berjenis fabel mengenai perasaan seekor sapi saat tahu dirinya terpilih untuk diqurbankan ini mengajarkan tentang keikhlasan dan kepercayaan akan takdir Allah yang telah dituliskan untuk setiap makhluknya di muka bumi ini.

Khusus cerita yang kami sebut 'marathon' dalam proses pembuatannya hari ini, Zee tidak hanya terlibat saat proses mendongeng berlangsung. Ketika mami sedang menulis pun, ia ikut serta memilih gambar-gambar dari internet untuk dimasukkan sebagai visual pendukung dongeng. Begitu cerita selesai ditulis dan kami membaca bersama, rupanya ingatan Zee langsung tersambung dengan momen penyembelihan hewan qurban yang pernah ia lihat di musholla dekat rumah kakeknya. Zee spontan menyambungkan kedua cerita, dan endingnya dibuat sesuai maunya sendiri. 😁😁

Bagi yang mau mengintip dongeng si Sasa, boleh langsung membuka link di bawah ini


Pancar Matahari Family

Kisah Tiga Kurcaci: Air Terakhir di Ember

Sabtu, 8 September 2018


Day 5

Setelah beberapa hari berhenti membuat laporan di game level 10 Bunda Sayang Batch #3, hari ini saya harus mengejar ketertinggalan. Semoga sebelum masa tantangan berakhir besok semuanya bisa selesai.

Dongeng mengenai kurcaci yang kami angkat kali ini sebenarnya sudah cukup lama diminta oleh Zee, namun karena ia sedang dalam masa ingin ditemani belajar terus-menerus dan tidak mengizinkan maminya untuk memegang ponsel sama sekali, maka versi digital dongeng baru sempat terselesaikan hari ini.

Kisah Tiga Kurcaci: Air Terakhir di Ember ini menceritakan tentang sebuah keluarga kurcaci yang tinggal di negeri Short Short Away. Ayah, ibu, dan tiga anaknya ini harus merasakan kekeringan akibat kemarau panjang. Permasalahan yang kami angkat yaitu tentang perjuangan untuk mendapatkan air dari danau yang berada jauh di dalam hutan sehingga dalam penggunaannya harus dihemat. Namun, salah seorang kurcaci kecil rupanya tergoda untuk menghabiskan persediaan air yang seharusnya digunakan ibu untuk memasak. Nah, value yang disisipkan dalam dongeng kali ini yaitu mengenai nilai kejujuran serta keikhlasan untuk berbagi, juga mengenai pengorbanan yang harus dilakukan jika ingin mendapatkan sesuatu.

Senyum lebar Zee langsung terpampang begitu ia menerima ponsel yang menampilkan visual kurcaci kecil beserta tulisan berisi naskah dongeng. Dengan bersemangat ia minta untuk dibacakan. Begitu selesai membaca sebanyak tiga kali, seperti biasa, ia mulai menceritakan kembali kisah kurcaci ala dirinya yang bahkan digabung dengan dongeng-dongeng sebelumnya yang pernah mami ceritakan.

Berikut naskah dongeng keluarga kurcaci di negeri Short Short Away


Pancar Matahari Family

Rabu, 29 Agustus 2018

Kiko Si Kambing dan Momo Si Semut

Rabu, 29 Agustus 2018



Day 4

Hari ini, seharusnya menjadi hari keenam kami menyetor laporan game level 10 di kelas Bunda Sayang Batch #3. Namun karena dua hari kemarin Zee betul-betul tidak mengizinkan maminya untuk memegang ponsel dalam waktu lama, jadi pembuatan dongeng sekaligus proses penulisan laporannya otomatis terhenti dan baru dilanjut hari ini setelah ia menghabiskan waktu dua jam untuk tidur siang sehingga mami dapat kembali menulis.

Begitu Zee bangun, dongeng langsung dibacakan. Ia tersenyum senang karena akhirnya cerita mengenai semut dan kambing sesuai permintaannya selesai sudah. Jika biasanya cerita semut ini selalu disandingkan dengan harimau, merpati, kerbau, dan sebagainya, kali ini dongeng buatan mami jauh berbeda. Sempat bingung dan menjadi tantangan tersendiri saat harus memasukkan dua tokoh yang jarang bertemu dalam sebuah cerita. Namun akhirnya dongeng tersebut selesai.

Value yang ingin disampaikan kepada Zee melalui dongeng kali ini yaitu terkait sikap berhati-hati, tidak ceroboh, serta mendengarkan setiap perkataan dari orang yang lebih tua dengan saksama. Perilaku tolong menolong serta membalas budi atas kebaikan yang pernah dilakukan oleh sesama terhadap kita juga tetap menjadi muatan utama. Alhamdulillah Zee gembira setelah mendengar cerita mengenai si kambing yang tengah tersesat serta semut kecil baik hati yang rela menolongnya.

Dongeng hari ini bisa dibaca di tautan berikut:


Pancar Matahari Family

Minggu, 26 Agustus 2018

Popi, Lili, dan Bunga Terompet

Minggu, 26 Agustus 2018


Day 3

Hari ini, kami kembali membuat dongeng fabel, dengan tambahan tokoh tumbuhan, yaitu bunga terompet. Seperti sebelumnya, tokoh yang kami angkat kali ini sesuai permintaan Zee. Bunga terompet, ulat bulu, dan kupu-kupu ini sering Zee lihat di tanah kosong depan rumah, maka tak mengherankan ketika ditanya mau dibuatkan dongeng tentang apa, ia memilih ketiga tokoh tersebut.

Selain menanamkan nilai sebuah pengorbanan untuk mewujudkan impian, kami juga menyisipkan pentingnya membalas kebaikan yang pernah kita terima, juga tak lupa berterima kasih ketika mendapatkan bantuan dari orang lain. Yang spesial pada dongeng kali ini, kami mengangkat mengenai metamorfosis kupu-kupu sebagai muatan akademis.

Seperti kemarin, Zee sangat antusias saat menunggu dongeng selesai. Berkali-kali ia melongok ke arah ponsel saat mami menulis dongeng. Begitu selesai selepas isya tadi, ia langsung bergegas membawa ponsel mami ke dekat papi dan meminta dibacakan. Sesekali tampak kerutan di dahi Zee, tanda ia sedang berpikir. Semoga saja value yang kami sisipkan ke dalam dongeng kali ini bisa meresap ke dalam hatinya.

Kisah ketiga tokoh yang kami angkat kali ini bisa dibaca di file berikut:


Pancar Matahari Family

Sabtu, 25 Agustus 2018

Persahabatan Gaga dan Cila

Sabtu, 25 Agustus 2018



Day 2

Pada hari kedua tantangan level 10 Bunda Sayang Batch #3, kami kembali memilih tokoh binatang dalam dongeng yang kami buat. Akhir-akhir ini Zee memang menyukai dunia binatang, dan pemilihan gajah sebagai tokoh dalam dongeng ini juga atas permintaan Zee.

Sejak selesai dibacakan dongeng mengenai Sisi si Singa kecil kemarin, ia terus menagih dongeng tentang gajah ini. Namun baru sore tadi dongeng yang kami sisipkan value mengenai tolong menolong dan sikap hati-hati dalam bertindak ini dapat kami kisahkan kepada Zee.

Semula ia membaca bersama mami. Malam hari setelah papi pulang kerja, Zee kembali menyerahkan ponsel kepada papi dan meminta papi untuk membacakan dongeng mengenai Gaga si gajah dan Cila si kancil. Papi mendongeng menggunakan ekspresi dan nada suara yang berbeda, sehingga membuat Zee senang.

Kisah mengenai Gaga dan Cila bisa dibaca dengan membuka link berikut:


Pancar Matahari Family

Jumat, 24 Agustus 2018

Sisi: Si Kecil yang Penyayang


Jumat, 24 Agustus 2018

Day 1

Materi ke-10 di kelas Bunda Sayang kali ini betul-betul menantang. Kenapa begitu? Jawabannya tentu saja karena saya tidak terlalu sering membuatkan dongeng khusus buat Zee. Biasanya, kami hanya berdiskusi mengenai hal-hal logis, cerita-cerita realistis, hingga aktivitas sehari-hari. Buku-buku yang kami baca juga hampir semuanya tentang kisah nabi dan rasul, sahabat nabi, hingga ilmuan-ilmuan islam di masa lampau.

Tantangan kali ini, akhirnya saya memutuskan untuk membuat dongeng dengan tokoh utama seekor anak singa. Zee jarang saya kenalkan dengan fabel hingga usianya menginjak tiga tahun. Dongeng mengenai singa ini merupakan fabel kedua yang saya kenalkan kepadanya.

Mengapa memilih singa? Hal ini terinspirasi dari pertanyaan dan permintaan Zee pada saya untuk menulis mengenai singa. Kebetulannya lagi, beberapa hari lalu Zee baru saja membeli buku tentang hewan-hewan yang hidup di padang rumput, salah satunya adalah singa itu sendiri.

Sisi: Si Kecil yang Penyayang. Itulah judul dongeng yang saya siapkan buat Zee siang tadi. Media yang saya gunakan adalah smartphone, berbasis aplikasi microsoft power point. Zee yang senang menonton video maupun melihat gambar-gambar menarik yang ada di smartphone.

Value yang mau saya kenalkan dan tanamkan pada kepribadian Zee yaitu tentang sikap empati, peduli, serta mengasihi dan menyayangi sesama. Saat selesai menuliskannya, saya langsung mengajaknya membaca. Benar saja, raut gembira terpampang jelas pada mukanya. Zee juga langsung menunjukkan dongeng yang kami baca kepada papinya begitu pulang kerja.

Berikut dongeng mengenai singa kecil yang mempunyai sikap peduli terhadap sesamanya:


Pancar Matahari Family

Sabtu, 04 Agustus 2018

Rumah dari Kursi

Sabtu, 4 Agustus 2018


Day 10

Pada hari kesepuluh ini, lagi-lagi Zee menunjukkan kreativitasnya. Jika sebelumnya ia menggunakan bangku lipat kecilnya sebagai helm, kali ini ia membentuk bangkunya hingga menyerupai rumah. Mami yang awalnya tidak mengerti mengapa ia harus melipat bangkunya setengah penuh, langsung paham saat ia mengatakan bahwa itu adalah rumah, sembari ia meletakkan beberapa mainan di dalamnya. Amazing. Sungguh imajinasi bocah satu ini patut diapresiasi, karena ia selalu mampu mewujudkan apa yang ada di dalam imajinasinya menjadi bentuk nyata sebagai hasil proses berpikir kreatifnya.

Pancar Matahari Family

Jumat, 03 Agustus 2018

Tangga dari Meja

Jumat, 3 Agustus 2018




Day 9

Pada hari kesembilan ini, kreativitas yang tercipta di keseharian kami terinspirasi dari usul Zee. Sebenarnya merupakan hal yang sederhana cenderung biasa, namun karena pemikiran Zee yang ternyata sudah sampai ke situ, maka mami menyebutnya sebuah hal kreatif.

Siang tadi, saat papi tengah bekerja, mami yang biasanya membeli token listrik di dekat rumah, ternyata kehabisan saldo. Alhasil, karena listrik sudah kritis, maka mami meminta bantuan kepada pakdhe untuk dikirim token. Nah, berhubung nomor stroom dikirim lewat chat whatsapp yang kadang suka error hingga hilang sendiri, maka mau tidak mau harus dimasukkan saat itu juga. Padahal letak meteran listrik sangat tinggi dan tidak bisa dijangkau tanpa tangga. Mami bergumam mengenai alat apa yang bisa dipakai sebagai pengganti tangga karena di rumah kami tidak ada meja kursi.

Gumaman mami rupanya didengar oleh Zee, dan tiba-tiba ia berkata tentang meja kecil yang biasa kami gunakan untuk menaruh rice cooker. Ah, mami bahkan terlupa akan keberadaan meja tersebut di dapur. Akhirnya mami mengikuti saran Zee dan kami mengangkat meja tersebut ke dekat meteran listrik. Tanpa disuruh, Zee memegang kaki meja saat mami naik ke atas. Masalah listrik pun teratasi karena usul Zee tersebut. Sayangnya tak sempat kami dokumentasikan karena saat itu ponsel tengah diisi dayanya.

Pancar Matahari Family

Kamis, 02 Agustus 2018

Helm Ala Zee

Kamis, 2 Agustus 2018


Day 8

Bagi Zee, setiap benda bisa beralih fungsi menjadi apapun yang ia kehendaki. Hal itu terjadi hampir setiap hari, sehingga melakukan tantangan level 9 tentang kreativitas ini terasa lancar dan mengalir begitu saja setiap harinya.

Kemarin malam, selepas papi pulang kerja, kami pergi ke mall. Awalnya hanya sekadar mencari buku yang Zee mau, lalu singgah sebentar ke store yang menjual aneka pernak-pernik import dari Jepang. Hasilnya, Zee membawa pulang sebuah kursi lipat kecil beserta mejanya. Dari pas sampai di rumah hingga pagi tadi, Zee sibuk belajar menggunakan meja kursi barunya. Awalnya hanya seperti itu, hingga imajinasinya kembali bermain siang tadi.

“Mi, lihat Zee ni.” Zee memanggil mami yang tengah menulis. Ketika mami menoleh, rupanya kursi kecilnya sudah berada di atas kepala menutupi mukanya.

“Apa Dedek buat tu?” tanya mami.

“Ini helm kecil Zee ni, Mi. Dedek jalan dulu ya, naik motor. Dadah Mami,” ucap Zee sambil berjalan ke arah kasur dan duduk di atas boneka lumba-lumba. Ia menggerak-gerakkan badan seperti gerakan seseorang tengah naik sepeda motor.

Hebat si bocah satu ini. Ia tak pernah kehabisan ide kreatif. Entah apalagi yang akan dibuatnya esok hari, semua seolah seperti sebuah kejutan.

Pancar Matahari Family

Rabu, 01 Agustus 2018

Jembatan London

Rabu, 1 Juli 2018


Day 7

Salah satu proses kreatif yang dilakukan oleh Zee adalah reaplikasi berbagai benda. Kadangkala, ia menuangkan ide dan imajinasi yang sama, namun dengan media berbeda-beda. Hal itu terjadi juga hari ini.

Sebelumnya, Zee pernah membuat 'jembatan' dari buku yang disusun memanjang. Ia pernah juga menggunakan papan untuk menggambarkan jembatan. Nah, hari ini, giliran kepingan puzzle yang menjadi bahan percobaan.

Zee mengatakan hasil karyanya sebagai jembatan London, lalu mengambil dua buah 'robocar poli' koleksinya dan menjalankannya di atas jembatan yang telah ia buat. Satu hal yang patut diapresiasi adalah logikanya yang mampu memahami bahwa jembatan itu harus disusun dari dua buah garis lurus. Proud of you, Zee.

Pancar Matahari Family

Selasa, 31 Juli 2018

Jemuran Dadakan

Selasa, 31 Juli 2018


Day 6

Menurut kami, kreatif itu tidak harus berfokus pada sesuatu yang rumit dan terstruktur. Ada banyak aktivitas harian si kecil yang jika diamati, ternyata mengandung unsur kreativitas.

Hari ini misalnya, si bocah yang baru saja kami ajak mengunjungi kakek neneknya, langsung berlari begitu pintu rumah kami buka. Lantas ia berteriak memanggil mami dan menarik baju mami agar cepat masuk ke dalam.

“Mi, lihat ini, Mi,” kata Zee sambil menarik baju mami, mengarahkan ke ruang tengah.

“Dedeknya jemur jilbab di sepeda,” lanjut Zee. Mami tersenyum, tidak menyangka jika otak si bocah itu sudah seperti emak-emak.

“Itu kenapa jilbabnya dijemur di situ?” tanya mami.

“Biar nggak bau,” jawab Zee mantap sembari tersenyum lebar.

“Pintar Dedek kan, Mi?” ujar Zee, membuat mami seketika mengacungkan jempol.

Jika dilihat, mungkin hal tersebut sederhana. Namun menurut mami, apa yang dibuat oleh Zee sudah menunjukkan sisi kreatif si bocah, karena belum tentu semua anak punya pemikiran sejauh itu.

Good job, Zee.

Pancar Matahari Family

Senin, 30 Juli 2018

Mikrofon Pipa

Senin, 30 Juli 2018


Day 5

Daya kreativitas si bocah 2 tahun 10 bulan ini memang tidak pernah ada matinya. Selama lima hari menjalankan tantangan level 9 Bunda Sayang Batch #3, belum pernah sekalipun kami membuat aktivitas kreatif yang terencana. Yang terjadi adalah mami mengamati dan ikut mempraktikkan apa yang dilakukan oleh Zee.

Hari ini contohnya. Si bocah yang biasanya bermain dengan pipa yang sering kami pakai untuk membuat tenda ala-ala dengan cara memutar-mutarnya saja, kini tiba-tiba berinisiatif lain. Ia berbicara di ujung pipa hingga menghasilkan bunyi yang lebih keras dari seharusnya. Bukan karena ia tahu tentang prinsip bunyi dalam ilmu fisika. Bukan. Murni hasil coba-coba si kecil ini saja.

Awalnya ia hanya mengucapkan satu dua kata dan akan berujung tawa jika selesai berbicara dan mendengar suaranya yang berubah lebih keras. Hingga mendadak ia memanggil mami yang tengah sibuk di dapur, dan menunjukkan aksinya.

Zee menyanyikan lagu Twinkle Twinkle Little Star di depan lubang pipa, dan langsung terkikik begitu selesai. Lalu ia berkata kepada mami, pipa yang ia pegang itu adalah mikrofon, yang akan dipakai nyanyi.

Mami tercengang, tentu saja. Bahkan hingga mendekati usia kepala tiga ini saja mami tidak pernah berpikir tentang mikrofon dari pipa itu, justru Zee yang bahkan belum genap tiga tahun sudah punya ide unik itu. Anak hebat.

Pancar Matahari Family

Minggu, 29 Juli 2018

Kotak dari Toples

Minggu, 29 Juli 2018



Day 4

Sampai hari keempat tantangan materi kreativitas anak ini, kami masih belum membuat aktivitas yang terencana. Ketika ada beberapa rancangan yang sudah tersimpan di otak dan tinggal dieksekusi, selalu saja batal karena rupanya Zee sudah lebih dulu berkreasi dengan daya imajinasinya.

Hari ini, saat mami tengah memasak di dapur, Zee yang memang sering ikut bermain di area tersebut, tiba-tiba sibuk dengan gelas, nampan, dan lain sebagainya. Mami tidak mengamati, namun langsung menoleh ketika ia memanggil mami dengan suara melengking sambil menunjukkan sesuatu yang menakjubkan.

Beberapa toples bekas cokelat roll tampak terisi mobil-mobilan miliknya. Ketika mami bertanya mengapa mobil-mobilan itu harus dimasukkan ke dalam toples, ia menjawab agar tidak kotor. Amazing. Rupanya ia mempunyai pemikiran untuk mengganti kotak mobil-mobilan yang telah ia robek dengan toples. Sungguh sebuah kreativitas yang tidak terduga.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 28 Juli 2018

Kipas Angin Dadakan

Sabtu, 28 Juli 2018




Day 3

Sampai hari ketiga mengerjakan tantangan level 9 Bunda Sayang Batch #3 ini, saya dibuat takjub dengan ide Zee yang tidak tertebak sisi kreatifnya. Si bocah yang suka melakukan aktivitas secara spontan itu memang sering sekali membuat mami dan papinya tercengang dengan kepintarannya.

Siang ini misalnya. Zee merengek minta ditemani bermain balon sabun dengan alat tembak berbentuk ikan. Mami dan Zee bermain berdua di teras rumah dengan berbekal satu wadah shampoo milik Zee yang sudah diencerkan dengan air.

Awalnya aktivitas bermain berlangsung normal, dengan mami yang menembakkan balon dan Zee dengan riang mengejar balon-balon tersebut dan menepuknya hingga meletus. Hampir setengah jam lamanya kami bermain, hingga shampoo encer di wadah berwarna hijau habis. Tiba-tiba, Zee yang tengah berkeringat meminta alat tembak kepada mami.

“Dedek mau ngapain? Kan sabunnya sudah habis. Biar mami simpan ya tembaknya,” ujar mami.

“Pinjam dulu, Mi. Dedeknya panas,” sahut Zee sambil menadahkan tangan di depan mami. Mendengar jawaban Zee, mami mengerutkan kening, tidak memahami antara panas dan alat tembak. Meskipun begitu, mami tetap memberikan alat tembak kepada Zee.

“Tengok Dedek, Mi!” pekik Zee. Tangan kanannya tampak memegang alat tembak, dengan telunjuknya dalam posisi memencet bagian untuk menghidupkan alat tersebut. Sekilas, tak ada yang salah. Namun mami kembali memperhatikan ketika Zee meminta mami untuk menengoknya lagi.

“Lho, kok dihadapkan ke muka Dedek?” tanya mami heran melihat bagian depan alat tembak menghadap ke wajah Zee.

“Dingin ni, Mi. Kipas ni. Tengok ni,” kata Zee sambil kembali menyalakan alat tembak. Mami mendekatkan wajah ke arah Zee. Astaga, benar yang dibilang si bocah. Rupanya ia mengalihfungsikan kipas yang ada di dalam alat tembak menjadi kipas angin untuk mendinginkan wajahnya.

Mami bengong, sempat tercengang, namun akhirnya bertepuk tangan dan memuji kreativitas Zee. Hebat, seorang batita sudah mahir melakukan reaplikasi tanpa instruksi dari emaknya.

*Foto diambil setelahnya, karena saat aktivitas tersebut berlangsung, kami meninggalkan ponsel di dalam rumah.

Pancar Matahari Family

Jumat, 27 Juli 2018

Rumah Kecil Zee

Jumat, 27 Juli 2018




Day 2

Di keluarga kami, aktivitas harian anak sangat jarang direncanakan secara detail. Kami lebih sering mengikuti apa maunya Zee, dan menyisipkan pelajaran-pelajaran yang ingin kami sampaikan lewat aktivitas yang diinginkannya. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya, setiap anak itu kreatif. Jadi bagi kami, menunggu dan membiarkan Zee berkreasi merupakan cara yang tepat untuk membantunya meningkatkan daya kreativitas yang ia miliki.

Sudah hampir dua bulan ini, Zee sedang senang bermain tenda dan rumah-rumahan. Ia terinspirasi dari cerita anak yang sedang berkemah, yang ia baca di majalah anak. Malam ini, permintaannya kembali diucapkan.

Ia menunjuk selimut, dan berteriak tidak sabar sambil mengikuti mami yang tengah mengambil alat-alat untuk mendirikan tenda dadakan. Sebenarnya, kami hendak menggunakan kayu untuk tiangnya, namun mengingat di rumah ada potongan-potongan pipa yang awalnya digunakan untuk display tas buatan kami, maka pipa merupakan pilihan tepat untuk melengkapi selimut dan tali hingga menjadi tenda.

Zee membantu mami membentangkan selimut setelah sebelumnya mami menyusun pipa sedemikian rupa dan menalikan ujung selimut ke paku yang ada di dinding. Tak memerlukan waktu lama, hanya sekitar 10 menit, tenda ala Zee dan mami sudah berdiri tegak. Kalau Zee, suka sekali menyebut tenda ala-ala ini dengan sebutan 'rumah kecil Zee'.

Tenda selesai dibuat, Zee langsung bergerak masuk ke  dalam dengan membawa buku favoritnya. Ia membaca dengan senyuman lebar menghiasi bibirnya.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...