Tampilkan postingan dengan label Game Level 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Game Level 5. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2018

Book Lover

Kamis, 22 Maret 2018


Aliran Rasa Game Level 5

Membuat pohon literasi, seakan menjadi booster bagi kami untuk kembali menjadwalkan kegiatan membaca secara rutin. One day one book. Semoga setiap anggota keluarga kami akan selalu konsisten menjalankan program tersebut.

Terima kasih kepada fasilitator, tim dapur Bunda Sayang Batch #3, perangkat kelas, korlan sesi 5, serta teman-teman pembelajar yang saling support dan memberi semangat.

Pancar Matahari Family

Kamis, 15 Maret 2018

Mombi Aja!

Kamis, 15 Maret 2018


Day 15

Yeay... tak terasa tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3 sudah memasuki hari kelima belas. Dan hingga saat ini, kami masih berusaha menjaga konsistensi dalam hal meningkatkan minat baca. Meskipun di awal kami berusaha menerapkan jadwal one day one book, secara khusus one book yang dimaksud adalah one title alias berbeda judul setiap hari. Namun saat pelaksanaannya, hal tersebut terkadang tidak terpenuhi, karena Zee maupun Mami membaca buku yang sama dalam beberapa hari, terlebih buku-buku tebal yang memerlukan waktu beberapa hari sampai tamat dibaca. Hanya Papi saja yang berganti-ganti judul bacaan setiap hari, karena Papi lebih suka membaca artikel maupun koran online.

Kejadian seperti di atas juga kami alami hari ini. Ketika Mami menawarkan judul-judul buku yang belum dibaca kepada Zee, responnya diluar dugaan.

“Dek, kita baca buku apa hari ini? Salman? Nabi Yunus? Abu Bakar?” tanya Mami.

“Nggak. Nggak. Nggak mau. Mombi aja Mami ambilkan,” jawab Zee.

“Kok baca Mombi terus? Kan udah dibaca kemarin. Baca buku yang lain aja yuk,” ajak Mami masih berusaha membujuk.

“Mombi aja. Dedek mau baca Loli, Mi!” pekik Zee. Akhirnya Mamipun mengalah dan menuruti keinginan Zee. Tak apalah, yang terpenting si bocah mau membaca hari ini. Zee tertawa lebar saat melihat Mami keluar kamar sambil membawa majalah di tangan.

“Ini bayangan Mombi ni, Mi,” ucap Zee. Ia menunjuk salah satu bayangan dari tiga gambar, yang sesuai dengan gambar Mombi di sebelah bayangan.

“Eh, pintar ya, Dedek. Udah tahu yang mana bayangan Mombi,” puji Mami. Zee bertepuk tangan.

“Ini kakaknya pakai topi orange nih. Yang mana topengnya, Mi?” Zee membalik halaman majalah yang menunjukkan gambar anak-anak memakai topi, dan harus disesuaikan dengan topeng senada warna topi.

“Yang mana, Dek?” tanya Mami.

“Ini, ini. Topeng orange juga,” sahut Zee cepat. Ia kembali menunjuk topi-topi yang lain. Zee lalu melanjutkan membaca halaman lain, ia menyebut berbagai alat musik tiup yang ada di gambar, donald di kolom iklan, serta gambar-gambar lain.

Jika Zee lagi-lagi membaca majalah Mombi, hari ini Mami menamatkan novel Resign karya Kal Almira Bastari yang sebelumnya telah Mami baca beberapa hari lalu. Dan ternyata, versi cetak yang dijual ini berbeda dengan yang ada di wattpad. Ada beberapa perubahan, seperti misalnya unsur keromantisan yang sedikit berlebihan di wattpad, tidak dimunculkan di versi cetak. Hal ini membuat unsur romantika di buku ini tidak terlalu mencolok. Namun justru hal itu menjadi daya tarik tersendiri, terlebih bagi para pembaca yang kurang menyukai cerita roman picisan.

Jika Mami dan Zee membaca buku yang sama dengan beberapa hari lalu, Papi malah tidak membaca kali ini. Tak mengapa, Mami mengerti, karena padatnya pekerjaan yang harus Papi selesaikan beberapa hari ini pasti cukup menyita waktu. Meskipun begitu, Papi masih menyempatkan diri untuk berdiskusi mengenai cerita Mombi bersama Zee.

Pancar Matahari Family

Rabu, 14 Maret 2018

Retelling Story Ala Zee

Rabu, 14 Maret 2018


Day 14

Menjelang penghujung masa tantangan level 5, daun Zee dan Mami tidak bertambah. Bukannya kami tidak membaca, namun buku yang kami baca adalah buku-buju yang nama judulnya sudah pernah dituliskan di salah satu daun, jadi kami tidak membuat naa yanh sama di daun yang berbeda. Sedangkan daun hijau kepunyaan Papi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bertambah kuantitasnya juga, karena Papi yang sibuk dengan pekerjaan memang tidak sempat membaca hari apapun hari ini.

Hari ini, Zee membaca majalah Mombi. Setelah mandi pagi, ia yang masih berada di kasur langsung meminta Mami mengambilkan majalah tersebut. Jika biasanya si bocah akan berteriak minta dibacakan, namun kali ini ia hanya diam, sehingga Mami lebih dulu menawarkan.

“Dedek mau Mami bacakan Mombinya?” tanya Mami.

“Nggak, nggak. Dedek bisa baca sendiri,” jawab Zee cepat. Oke, fix. Ini anak sok bisa baca. Batin Mami.

“Mi, lihat Loli ni,” ucap Zee. Mami yang tengah bercermin, menoleh dan langsung mendapati pemandangan Zee yang tengah membuka halaman cerita Loli tengah mencari selendang untuk belajar menari.

“Itu Lolinya ngapain?” tanya Mami.

“Biar Dedek baca,” sahut Zee jumawa. Mami tertawa. Emang dasar bocah sok iye.

“Loli melakukan, apa yang Loli itu lakukan? Ibu keluar. Selendang Loli di mana? Kamar Ibu. Iya, kamar Ibu. Lalu suara gendang televisi. Nang nung. Loli pun menari,” cerocos Zee, yang sontak membuat Mami tergelak. Meskipun bercerita dengan bahasa alien, namun rupanya ia masih menyimpan memori tentang kisah Loli yang Mami bacakan sebelumnya. Hebat.

“Eh, Dedek pintar cerita ya,” puji Mami. Zee meringis, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, bercerita sembari membaca setiap halaman majalah Mombi.

Sore harinya, Zee yang menolak untuk diajak tidur, meminta Mami membacakan buku Gunung. Namun bukannya mendengarkan dengan baik, ia malah menyuruh Mami membaca buku Gunung sendiri. Alhasil Mamilah yang menamatkan cerita Zee yang tengah berpetualang melihat gunung Merapi dari gardu pandang Kaliurang.

Pancar Matahari Family

Selasa, 13 Maret 2018

Dongeng Malam

Selasa, 13 Maret 2018


Day 13

Sudah masuk hari ketiga belas tantangan level lima ternyata. Sungguh tidak terasa. Kemarin daun di pohon literasi kami berjumlah 28, kini menjadi 31 buah. Kali ini bukan hanya daun Zee dan Mami saja yang bertambah, tetapi daun warna hijau kepunyaan Papi juga bertambah.

Papi yang tengah mengerjakan project layout buku, sepulang kerja memilih membaca artikel seputar indesign, software yang akan digunakan untuk mengedit dan menata naskah sebelum dicetak.

Lain halnya dengan Papi, Mami hari ini membaca salah satu antologi yang baru saja terbit dan seleai cetak. Antologi tersebut berjudul Life is Yummy, yang merupakan kumpulan kisah flash fiction yang Mami tulis bersama dengan penulis perempuan lainnya. Di dalam Life is Yummy ini, terdapat berbagai macam genre yang terdiri dari kisah-kisah fiksi yang menarik bertema makanan.

Seperti Mami, Zee juga membaca buku cetak. Ceritanya terjadi saat tengah malam, menjelang pukul satu dini hari, ia yang tidak mau tidur meminta untuk membaca buku.

“Pi, Papi. Ambilkan buku kambing, Pi,” pinta Zee. Ia memang lebih suka membaca cerita bersama Papi dibandingkan Mami, terlebih saat tengah malam sebelum tidur.

“Buku kambing tu buku apa?” tanya Papi.

“Buku kambing. Buku kambing. Ambilkan. Itu, itu,” tunjuk Zee ke arah rak buku, alih-alih menyebut judul buku yang ia inginkan dengan benar.

“Buku nabi Muhammad Dedek maunya? Buku Aminah?” Setelah berpikir beberapa saat, Mami baru menyadari mau Zee. Si bocah mengangguk dan tersenyum lebar. Mami langsung meminta Papi mengambilkan buku yang Zee maksud di rak buku. Tanpa menunggu lama, Zee yang sudah menanti langsung membuka boardbook yang menceritakan tentang kehidupan Rasulullah tersebut. Ia meminta Papi membacakan halaman yang ia mau. Mami yang ada di sebelah mereka sesekali tersenyum dan menimpali jalannya cerita maupun menambahkan kisah jika ada gambar yang menarik perhatian Zee.

Pancar Matahari Family

Senin, 12 Maret 2018

Mau Kue atau Buku?

Senin, 12 Maret 2018


Day 12

Wah, tak terasa sudah dua belas hari kami melakukan tantangan level 5 di kelas Bunda Sayang Batch #3. Hingga hari ini, total daun di pohon literrasi kami ada 28. Kali ini, daun Zee bertambah satu, begitupun daun Mami. Sementara daun Papi masih belum bertambah lagi.

Aktivitas membaca si bocah ini baru dilakukan malam hari. Selepas isya, Zee menagih janji kepada Mami dan Papi untuk ke toko buku. Iya, si bocah memang sejak beberapa hari lalu minta dibelikan majalah Bobo. Namun saat sudah berada di toko buku malam ini, ia berubah pikiran saat melihat majalah Mombi yang mungkin saja menurutnya lebih menarik. Alhasil, ia lebih memilih membawa pulang majalah Mombi tersebut. Baru saja keluar mall, Zee langsung merengek minta majalahnya.

“Mana, Mi? Mana Mombinya?” tanya Zee. Mami yang sedang berjalan di samping Papi langsung mencari tempat duduk. Deretan bangku di sepanjang jalan menjadi pilihan. Mami mengeluarkan majalah dari dalam tas, yang disambut dengan senyum lebar khas bocah dua tahun.

“Dedek baca situ ya, ya.” Alih-alih ikut Mami dan Papi duduk di bangku besi berwarna hijau, ia malah duduk di jalanan, dan dengan santainya membuka majalah.

“Pi, Papi. Ini ngapain Mombinya, Pi?” Zee berteriak kepada Papi yang tengah memakan kue bersama Mami. Papi langsung berjalan menghampiri Zee.

“Ini namanya bukan Mombi. Ini Loli,” kata Papi.

“Lolinya ngapain?” tanya Zee lagi.

“Lolinya mau menari. Itu bawa selendang. Warna apa selendang Loli tu, Dek?” Papi menunjuk gambar selendang yang ditalikan di perut Loli.

“Warna apa? Warna merah.” Zee memekik, lalu tertawa.

“Bahasa Inggrisnya merah itu red,” ujar Zee. Papi dan Mami bertepuk tangan lalu memuji Zee.

“Dedek mau kue nggak?” Mami menawarkan kue kepada Zee. Sebelum keluar mall tadi, kami memang singgah di counter roti, membeli cheese cake dan muffin cokelat kesukaan Zee.

“Nggak. Nggak. Mami makan sendiri aja kuenya. Dedek mau baca aja, nggak mau kue,” ujar Zee cepat. Mami dan Papi tertawa. Terlebih saat ia langsung menarik tangan Papi agar memperhatikan gambar-gambar yang ditunjuk olehnya di setiap halaman majalah. Ada gambar alat musik, baju adat, balon, dan lain sebagainya.

Jika Zee memilih majalah, Mami justru mulai membuka novel bergenre metropop karya Almira Bastari yang sedang booming, berjudul Resign. Sampai dituliskan kisah ini, baru beberapa halaman saja yang berhasil Mami baca. Sebelum membeli versi cetak, Mami sudah mengikuti cerita Kak Almira ini di wattpad. Dan memang tidak dapat disangkal, alur dan penggalian karakternya cukup kuat. Setting Ibukota dengan dunia kerja yang gila-gilaan memang merupakan tema yang sangat pas untuk diangkat ke dalam cerita. Tulisan Kak Almira ini seolah mewakili perasaan sebagian besar para pekerja kantoran yang setiap hari berkutat dengan kubikel dan tumpukan dokumen hingga jam lembur di luar batas normal. Saat mulai mengikuti cerita ini dapat dipastikan pembaca akan larut ke dalam penggambaran setiap tokoh, kejadian, serta tempat yang selalu membuat baper. Pokoknya dua jempol buat Kak Almira.

Pancar Matahari Family

Minggu, 11 Maret 2018

Tertukar

Minggu, 11 Maret 2018



Day 11

Hari pertama setelah melewati jumlah setoran minimal tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3 ini jumlah daun di pohon literasi kami bertambah dua buah. Dan seperti biasa, daun Zee dan Mami yang semakin lebat, sementara daun Papi masih tetap seperti semula. Kini, total daun di pohon kami ada 26 buah.

Hari ini, cerita lucu tentang Zee dan buku akan Mami tuliskan. Karena kemarin kami membahas buku orang besar dan buku anak-anak, sepertinya hari ini Zee masih penasaran dengan buku IEP karya Dee Lestari.

“Dek, mau baca buku?” tanya Mami setelah Zee selesai mandi pagi.

“Buku Nabi Yunus mau?” lanjut Mami karena Zee tidak kunjung mengatakan keinginannya, mau membaca buku atau tidak.

“Mau. Mami ambilkan buku Nabi Yunus,” sahut Zee. Mami dengan cepat memberikan buku tersebut kepada Zee.

“Mi, buku Nabi Yunus nggak mau Dedek, Mi. Mau buku Mami aja,” kata Zee sesaat setelah memandang buku di hadapannya.

“Buku Mami yang mana?” tanya Mami.

“Itu. Itu. Buku besar Mami. Buku yang berat tu,” tunjuk Zee ke arah rak buku.

“Itu kan buku orang besar, Dek. Masa iya anak kecil baca buku itu?” Mami enggan menuruti permintaan Zee.

“Mamilah yang baca buku besar,” tukas Zee. Sepertinya ia tahu jika Mami keberatan jika ia membaca buku IEP. Akhirnya Mami mengambil buku bersampul putih dan membawanya ke atas kasur.

“Mi, buku kita tertukar,” ucap Zee tiba-tiba. Mami mengerutkan dahi.

“Nggaklah. Buku Dedek itu Nabi Yunus. Buku anak-anak. Kalau buku berat ini buku Mami. Orang besar yang boleh baca.” Mami terus mencoba agar ia mau membaca buku sesuai usianya. Namun akhirnya si bocah merengek, dan Mami dengan sedikit terpaksa memberikannya buku tebal yang ada di tangan Mami. Dengan cekatan Zee membuka halaman demi halaman, lalu membaca sesuka hati.

“Mi, Mami nggak baca?” tanya Zee.

“Itu Mami mau baca. Tapi bukunya kan Dedek minta,” ucap Mami.

“Mami baca buku Nabi Yunus aja. Dedek kan udah besar, mau baca buku Mami,” pungkas Zee sebelum kembali sibuk dengan telling story berbahasa 'ala-ala'. Alhasil, dunia kami terbalik. Mami membaca kisah kaum Ninawa dan Nabi Yunus sedangkan Zee seolah larut ke dalam pusaran dunia Dee Lestari. 

Ah, dasar bocah. Maunya memang aneh-aneh. But, it's ok. Setidaknya Zee masih mau memegang buku tanpa merasa terpaksa. Semangat, sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 10 Maret 2018

Buku Anak-Anak

Sabtu, 10 Maret 2018


Day 10

Yeay... sampai juga di sepuluh hari perjalanan tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3, meningkatkan minat membaca anak. Hingga hari ini, total daun yang ada di pohon literasi kami berjumlah 24 buah. Tapi sayang, saat tulisan ini dibuat, daun hari terakhir belum sempat dipasang karena Zee terus mengajak main, sementara Mami belum sempat menempel kertas pada daun yang telah diwarnai, untuk dituliskan judul buku yang kami baca.

Daun berwarna hijau kepunyaan Papi belum bertambah, masih berjumlah empat buah. Sementara daun Mami genap sepuluh buah. Hari ini, Mami membaca ulang buku terakhir Supernova, Intelegensi Embun Pagi, karya Dee. Membaca satu per satu buku Supernova membuat kita seolah hanyut di dalamnya, mengikuti setiap tokoh yang digambarkan oleh Dee mencari jati diri. Meskipun gaya penceritaan dan pemilihan tema Supernova terbilang berat dan unik, namun buku ini punya penggemarnya sendiri. Dan Mami merupakan salah satu yang menikmati tulisan Dee. Memang diperlukan perenungan yang dalam agar kita dapat betul-betul memahami inti cerita yang ingin disampaikan penulis cantik tersebut. Oleh karena itu, tak heran jika karya Dee tergolong ke dalam sastra serius dan cukup berat.

Saat Mami tengah membaca IEP, Zee yang semula asyik bermain lego, tiba-tiba beranjak mendekati Mami.

“Mi, Dedek pinjam buku berat Mami tu,” ucap Zee.

“Buat apa? Emang Dedek mau baca buku ini?” tanya Mami.

“Iya,” jawab Zee. Mami lalu memberikan buku tersebut kepada Zee.

“Ini buku berat Mami. Aduh, berat. Dedek nggak kuat,” cerocos Zee. Ia berusaha mengangkat buku bersampul putih tersebut. Dengan kerutan di dahi dan napas berat, ia akhirnya berhasil mengangkat buku Mami. Zee lalu membuka halaman demi halaman dan bertingkah seolah sedang membaca. Mami tertawa dibuatnya.

“Dek, Dedek baca buku punya Dedek ajalah. Itu buku Mami,” ujar Mami. Zee memandang Mami sejenak, lalu berkata dengan santai.

“Ini buku Mami ni. Buku orang besar. Dedek baca buku anak-anak ajalah. Mami tolong ambilkan, Mi,” sahut Zee.

“Buku apa? Yang judulnya apa?” tanya Mami.

“Buku apa ya?” Zee bergaya seolah sedang berpikir, lalu berlari menuju kamar, melihat rak buku.

“Buku itu, Mi. Buku Dedek bayi,” ucap Zee sambil menunjuk deretan buku di rak. Mami lalu mengambilkan buku yang diminta oleh Zee. Buku berjudul Baby Care Day by Day itu merupakan buku panduan merawat bayi baru lahir hingga berumur satu tahun, yang Mami beli dua setengah tahun lalu saat hendak melahirkan Zee. Dengan lincah, jari-jari mungil Zee membuka satu persatu halaman buku. Setiap gambar yang ia lihat, selalu diberikannya komentar. Mulai dari gambar bayi sedang dimandikan Ibunya, bayi dipakaikan popok, seorang Ibu yang tengah menyuapi anaknya makan, hingga aktivitas Ibu dan anak lainnya. Dari situ Zee beberapa kali bertanya, apakah dulu waktu bayi ia juga dipakaikan popok, dimandikan, dan lain sebagainya. Si bocah juga bercerita, seolah ia mengingat kisah bayinya. Dan berakhirlah aktivitas membaca hari ini dengan menyalakan laptop, karena Zee meminta Mami memutar video waktu dirinya bayi, lengkap dengan foto-fotonya.

Jumlah minimal tantangan sudah terlewati, tetapi mudah-mudahan besok kami masih bisa tetap melanjutkan aktivitas membaca secara rutin. Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Jumat, 09 Maret 2018

Semut Kecil dan Kaki Besar

Jumat, 9 Maret 2018


Day 9

Memasuki hari kesembilan, daun Papi yang masih berjumlah empat buah, masih belum bertambah. Lain halnya dengan daun Zee dan Mami yang terus tumbuh. Total daun dipohon kami sekarang ada 22 buah.

Papi yang sangat sibuk, tampaknya memang belum bisa menjaga konsistensi untuk terus membaca setiap hari. Dari sembilan hari yang sudah terlewati, belum sampai separuh perjalanan yang dilalui Papi dengan membaca. Tak mengapa, semua berawal dari kebiasaan dan kemauan. Setidak masih tumbuh daun di cabang ranting bagian Papi, tidak kering kerontang.

Mami yang memang tidak bisa melalui hari tanpa membaca, kali ini memilih membaca cerita di wattpad seperti biasa. Giliran tulisan Kak Julie Hasyim aka @BurningLady90 yang berjudul Perfect Competition. Dalam cerita ini, tokoh utama perempuan bernama Vara dan si laki-laki bernama Naga, selalu bersaing di dalam kompetisi apapun. Di masa lalu, mereka bersaing untuk memperebutkan posisi ketua BEM, sedang masa kini, mereka harus memperebutkan jabatan manajer di kantor. Namun celakanya, si Naga menaruh hati kepada Vara sejak dulu, dan ia selalu berambisi untuk memenangkan hati gadis pujaannya. Tetapi memang tidak semudah yang terlihat, karena Vara bukan tipe perempuan yang mudah menyerah dan mau dikalahkan begitu saja, terlebih untuk urusan hati. Meskipun tulisan ini masih on going, namun Mami sedikit banyak sudah dapat memetik pesan moral yang Kak Julie selipkan di dalamnya. Laki-laki itu kodratnya memimpin, dan seambisiusnya seorang perempuan, mau tidak mau memang harus menurunkan ego dan menerima kenyataan jika posisi pemimpin itu adalah bagian laki-laki. Selain itu, terkait hati dan perasaan, dua hal tersebut tidak bisa diprediksi, apalagi digunakan sebagai ajang kompetisi. Perasaan tidak bisa diatur, mau ke arah mana ia menuju. Apakah mencintai orang yang kita benci atau tidak, bukan hak kita untuk mengatur. Ia selalu akan menemukan jalannya sendiri.

Bocah dua tahun lebih yang selalu suka bereksplorasi, hari ini juga membaca beberapa buku. Namun satu buku saja yang benar-benar ia sentuh. Selepas mandi pagi, belum sempat lagi Mami memakaikan baju, Zee sudah minta diambilkan buku berjudul Sulaiman.

“Mi, ambilkan buku Sulaiman. Dedek mau baca. Mami bacakan,” kata Zee.

“Tunggu, Mami pakaikan baju dulu, baru kita baca buku. Oke?” sahut Mami. Awalnya Zee merengek tetap mempertahankan pendapatnya. Namun setelah Mami berkata memakai baju itu hanya butuh waktu sebentar, ia menurut untuk diam.

“Udah, Mi. Kita baca lagi sekarang,” tembak Zee langsung begitu Mami seleai memasangkan celananya. Kali ini Mami menuruti permintaannya. Si bocah tertawa girang, lalu langsung saja membuka halaman demi halaman boardbook yang ada di tangannya. Ia membaca dengan bahasa ala dirinya, sebelum kemudian kembali berucap.

“Mi, bacakan ini,” kata Zee sambil menunjuk gambar semut-semut kecil yang sedang berbaris. Dengan sigap Mami menyelesaikan dua buah kalimat pendek di halaman yang sedang Zee perhatikan. Selesai membaca, Zee tidak langsung puas begitu saja. Ia mencecar Mami dengan berbagai pertanyaan dan mau tidak mau Mami harus melakukan aktivitas telling story kepadanya. Dari bacaan yang kami habiskan berdua, Mami menyelipkan nilai kebaikan, yaitu tentang menghargai semua makhluk hidup, seperti yang dicontohkan nabi Sulaiman, tidak membiarkan para prajuritnya menginjak kawanan semut yang sedang beraktivitas di lembah. Nabi Sulaiman memberikan kesempatan kepada gerombolan semut untuk lewat terlebih dahulu, baru kemudian bala tentaranya kembali melanjutkan perjalanan. Mami juga menceritakan kepada Zee tentang kelebihan nabi Sulaiman yang bisa berbicara kepada hewan. Zee mendengar dengan mata berbinar dan langsung protes begitu Mami menghentikan cerita.

Hari ini cukup seru aktivitas literasi kami. Semoga besok tidak kalah semangat dibanding hari ini.

Pancar Matahari Family

Kamis, 08 Maret 2018

Konsistensi dan Kesibukan

Jumat, 8 Maret 2018


 Day 8

Memasuki hari kedelapan ini, jumlah daun pohon literasi kami ada dua puluh buah. Delapan daun kuning, empat daun hijau, serta delapan daun oranye. Dan menjaga sebuah konsistensi di tengah kesibukan yang tiada berakhir, sungguh merupakan proses yang tidak mudah. Hari ini, lagi-lagi hanya Mami dan Zee yang membaca. Papi yang sedang padat dengan berbagai rutinitas, memilih meliburkan diri untuk sekadar membaca artikel maupun koran sekalipun.

Zee yang tidak pernah lepas dari buku-buku koleksinya, kali ini membaca buku karangan Bapak Muzi A. Marpaung, yaitu 52 Eksperimen Sederhana Indonesia Main Sains. Beberapa dari eksperimen yang dijabarkan secara sederhana di dalam buku tersebut sudah kami praktikkan, dan hal itu selalu diingat-ingat oleh Zee. Ia bisa menyebutkan bagian mana yang belum kami coba.

Lain halnya dengan Zee, Mami kali ini membaca cerita online di wattpad. Hari ini tulisan Kak Prajna Paramita yang Mami baca. Tulisan itu berjudul When We Meet Again. Karena belum finish, konflik yang disuguhkan belum lengkap. Pesan moral yang disampaikan oleh penulis juga belum sepenuhnya bisa disimpulkan. Namun ada satu hal yang menjadi daya tarik cerita ini. Tokoh utama perempuan bernama Gadis, serta tokoh utama laki-laki bernama Bhaga, memilih untuk keluar zona nyaman, dengan tidak bekerja di perusahaan keluarga mereka, dan memilih bekerja di bidang yang mereka senangi. Sungguh merupakan sebuah pelajaran yang bagus bagi orang tua. Bahwa kadangkala memaksakan sesuatu yang menjadi kehendak kita kepada anak, bukanlah suatu hal yang baik. Bisa jadi si anak merasa tidak nyaman.

Masih setengah perjalanan lagi tantangan level 5 ini berakhir, sehingga diperlukan semangat yang terus membara. Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Rabu, 07 Maret 2018

Yaasin

Rabu, 7 Maret 2018


Day 7

Hari ini memasuki hari ketujuh tantangan level 5. Jumlah daun di pohon literasi kami yang kemarin ada enam belas buah, kali ini bertambah dua lagi. Satu daun berwarna oranye punya Zee, dan satu lagi daun kuning milik Mami. Hari ini Papi bercerita jika sedang banyak pekerjaan, sehingga libur menyetorkan judul bacaan.

Zee yang biasanya tidak lepas dari buku, malam ini memilih membaca buku yaasin. Ia terus merengek mulai dari saat Mami sedang salat ashar hingga magrib tiba.

“Mami ambilkan buku yaasin warna green,” kata Zee.

“Emang Dedek mau baca apa?” tanya Mami. Zee memilih diam hingga Mami menyerahkan yaasin kepadanya.

“Ini alhamdulillah ni. Dedek mau baca.” Setelah membolak-balik halaman yaasin, Zee mulai melafalkan basmallah, lalu ayat demi ayat surat al fatihah ia lantunkan. Ah, sejuk terdengar. Sungguh, membaca ayat Allah tanpa paksaan merupakan anugerah luar biasa. Setelah selesai, Zee bertanya mengenai surat al falaq. Ia membuka-buka halaman buku yaasin dengan tersenyum riang.

Lain halnya dengan Zee, kali ini Mami memilih menikmati puisi demi puisi yang ditulis oleh teman-teman sesama penulis perempuan, yang tergabung dalam antologi berjudul Balada Sayap Pernikahan. Di dalam buku tersebut terdapat berbagai cerita tentang pernikahan yang digambar melalui sajak-sajak indah dan menawan. Mami saja ikut terhanyut ketika menghayati satu demi satu karya teman-teman tersebut.

Hari ini aktivitas literasi kami cukup sederhana. Semoga besok kami bisa kembali berdiskusi mengenai bacaan yang kami lahap masing-masing.

Pancar Matahari Family

Selasa, 06 Maret 2018

Suka Karena Terbiasa

Selasa, 6 Maret 2018



Day 6

Setengah perjalanan dari jumlah setoran minimal tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3 terlewati sudah. Syukur alhamdulillah, hingga detik ini tidak ada yang merasa terpaksa untuk membaca buku ataupun bacaan lainnya. Hari ini, daun di pohon literasi Pancar Matahari Family bertambah tiga, sehingga total daun yang menghiasi pohon sederhana itu total berjumlah enam belas buah.

Papi yang biasanya sibuk dengan pekerjaan, pagi-pagi sekali sudah menyetorkan judul bacaan yang dilahapnya. Papi membaca tentang minyak kelapa yang tidak boleh dipanaskan, karena akan merusak kandungan lemak tak jenuh ganda yang ada di dalamnya. Dari diskusi kecil itu terciptalah obrolan menjelang Papi berangkat kerja. Mulai dari rasa minyak kelapa yang sangat gurih, begitu sedapnya rasa makanan yang digoreng menggunakan minyak kelapa, hingga harganya yang lumayan membuat kantong bolong.

Berbeda dengan Papi yang memilih membaca artikel, Mami tetap setia dengan novel sebagai bahan bacaan. Kali ini salah satu reading list di wattpad yang Mami baca, judulnya Suami Satu Semester. Meskipun di dalam gaya berceritanya terdapat ungkapan dan kata-kata sedikit kasar khas anak kuliahan, namun pesan yang diselipkan oleh penulis sungguh membuat pembaca berpikir dan merenung. Sesuatu yang terlihat baik dari luar, belum tentu sama baiknya dengan bagian dalamnya. Begitulah kira-kira pesan yang Mami tangkap. Ya, di cerita tersebut, penulis mengisahkan tentang Junia, yang terpaksa harus menyelamatkan harga diri keluarganya dan menikah dengan Pak Nugraha, dosen tidak tetap di kampusnya, yang kebetulan menjadi Pembimbing Skripsi yang sedang ia kerjakan. Nasib tidak bagus yang dialami Junia disebabkan oleh Ivy, Kakak perempuannya, yang seharusnya menikah dengan Nugraha, malah hamil di luar nikah dengan laki-laki lain. Ivy yang terlihat lembut, sopan, dan baik di luar, ternyata mampu melakukan sesuatu yang tidak pernah disangka oleh siapapun. Lain halnya dengan Junia yang tampak kasar dan kurang sopan, justru berhati mulia, mau menanggung beban yang diakibatkan oleh perbuatan Ivy. Ya, kadangkala kita memang tidak bisa serta merta menilai dan menghakimi seseorang hanya dengan melihat penampilan luarnya saja. Inilah yang kita sebut sebagai hikmah dari membaca. Adakalanya, lewat sebuah cerita, fiksi sekalipun, kita bisa memetik nilai kebaikan.

Jika Mami membaca secara online, Zee siang hari memilih membaca buku Dunia Hewan. Buku ini merupakan salah satu ensiklopedia sederhana keluaran BIP.

“Mi, Dedek mau baca buku hewan. Mami ambilkan,” pinta Zee sesaat setelah memakai baju, waktu kami selesai mandi pagi.

“Iya. Ini bukunya. Dedek mau baca yang mana?” tanya Mami, sambil mengulurkan buku berwarna merah ke arah Zee yang tengah berbaring di kasur.

“Lihat ini, Mi. Ada bebek berenang. Dia berenang di kolam, sama anak-anaknya.” Zee membuka halaman kedua buku yang menunjukkan gambar bebek berenang di kolam.

“Ada singa ini juga. Gimana suara singa, Mi? Aum aum,” ucap Zee sambil menirukan suara singa. Mami tersenyum dan mengamati bocah dua tahun lima bulan itu.

“Mi, ini apa? Ini kodok kan?” Tangan mungil Zee menunjuk hewan berwarna cokelat. Rupanya seekor marmut.

“Bukan kodok itu, Dek. Itu namanya marmut,” sahut Mami.

“Bukan kodok. Marmut ini,” kata Zee mengulang ucapan Mami.

“Ada marmut besar. Ada marmut kecil,” lanjutnya.

“Marmutnya ada berapa ini, Mi?” tanya Zee.

“Ada berapa, Dek? Coba hitung.” Mami mengembalikan pertanyaan untuk dijawab oleh Zee. Ia terlihat berpikir sebentar.

“Ada dua. Bukan. Ada tiga,” ucap Zee cepat. Mami bertepuk tangan sambil memuji Zee yang sudah bisa menyebutkan jumlah marmut yang ia lihat.

Meskipun bukan menghitung satu persatu dan mungkin saja si bocah hanya menebak-nebak saja, tetapi hal itu cukup membuat Mami bahagia. Begitulah membaca, sebuah aktivitas yang bisa dimaksimalkan untuk belajar banyak hal. Dan jika kita sudah membiasakan membaca setiap hari, pasti tidak akan ada rasa terpaksa. Kita akan menyukai aktivitas tersebut, dan bisa jadi ada kecenderungan kita menikmatinya.

Sudahkah kamu membaca hari ini? Kami sudah lho. Yuk membaca.

Pancar Matahari Family

Senin, 05 Maret 2018

Midnight Book (Again)

Senin, 5 Maret 2018



Day 5

Setengah dari perjalanan sepuluh hari tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3, kami masih semangat untuk terus membaca. Hari ini, daun berwarna oranye bertambah satu, begitu pula daun kuning dan hijau yang juga semakin rimbun. Baik Zee, Papi, maupun Mami masing-masing membaca sebuah bacaan.

Zee yang paling rajin membuka buku. Aktivitas rutin itu ia lakukan tengah malam, menjelang pukul satu. Ia yang memang tidak mau tidur, memilih membaca buku seperti hari kemarin.

“Mi, ambilkan buku Utsman,” kata Zee.

“Emang Dedek nggak mau tidur?” tanya Mami.

“Nggak. Dedek mau baca aja. Hidupkan lampu tolong, Mi,” ujar Zee.

“Ini ada kakek, minta kue,” ucap Zee.

“Mana kakeknya?” tanya Mami.

“Ini,” tunjuk Zee sambil melihat salah satu halaman boardbook warna biru yang ada di hadapannya.

“Itu siapa yang kasih kue?” Mami mencoba memancing.

“Utsman yang kasih kue. Utsman baik. Nanti masuk surga,” sahut Zee cepat.

“Kalau Dedek, mau masuk surga?” Zee menatap Mami yang sedang bertanya.

“Mau,” jawab Zee. Mami mengelus kepala bocah super aktif itu. Lalu ia kembali meminta Mami berkisah tentang Utsman, sambil telunjuk mungilnya menunjuk gambar-gambar yang membuatnya tertarik. Membaca buku yang berkisah tentang salah satu khalifah di zaman Rasulullah ini Mami jadikan ajang untuk mengajarkan kepada Zee tentang kedermawanan, berbagi kepada sesama, serta selalu bersedia membantu orang-orang yang sedang membutuhkan pertolongan kita.

Jika Zee membaca di malam hari, Papi justru memilih membaca sebuah artikel saat pagi baru saja datang, sebelum sarapan dan berangkat ke kantor. Kali ini Papi membaca tulisan tentang teknologi, yang berjudul Sepuluh Teknologi Komputer Tercanggih di Dunia, dari sebuah situs di internet. Papi memang penggemar teknologi, jadi bahan bacaannya pun tak jauh-jauh dari berita dan perkembangan bidang tersebut. Sayang saat tulisan inu diposting, kami belum sempat membahas isi artikel tersebut secara detail, sama seperti yang sering kami lakukan. Kesibukan Papi dengan project membuat ilustrasi membuat kesulitan meluangkan waktu untuk berdiskusi seperti biasa. Tak mengapa, setidak Papi masih menyempatkan diri untuk membaca, meskipun hanya sebuah artikel. Yang namanya tulisan, pasti tetap mengandung sebuah nilai kebaikan dan manfaat. Semangat, Pi.

Nah, Mami yang biasanya membaca cerita online, siang tadi justru membaca buku fisik. Sebuah antologi yang Mami tulis bersama dengan 61 penulis perempuan lain itu kembali Mami baca. Buku yang berisi puluhan kisah inspiratif tentang orang tua tersebut berjudul Dear Ayah Bunda: Suksesku Ada di Ridamu. Membaca kisah penuh haru yang dikemas apik oleh masing-masing penulisnya dalam buku ini kembali membuat buliran air mata mengalir tak terbendung. Memang cerita tentang suka duka kehidupan yang pernah dijalani semasa masih tinggal bersama orang tua, akan selalu menggetarkan hati siapapun. Bahkan Mami yang merupakan salah satu penulis saja akan selalu ikut larut di dalam kisah bahagia maupun pilu perempuan-perempuan hebat sesama penulis.

Hari ini sebenarnya Zee membaca beberapa buku juga, namun Mami sengaja tidak membuatkan daunnya karena ia hanya membolak-balik tiap halaman tanpa benar-benar mengamati gambar maupun ceritanya. Bagi kami, membaca itu harus menghasilkan sebuah pemahaman baru, menghasilkan sebuah ilmu yang diserap oleh otak. Jika hanya membuka-buka buku, kami menyebutnya 'bermain', hanya ajang untuk menstimulasi minat membaca dan kecerdasan linguistiknya. Semoga esok hari Zee membaca banyak buku tanpa meninggalkan keinginan untuk memahami makna tulisan yang ia baca.

Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Minggu, 04 Maret 2018

Midnight Book

Minggu, 4 Maret 2018



Memasuki hari keempat tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3, semangat Zee untuk membaca masih besar. Hingga hari ini, daun di pohon literasi kami sudah berjumlah sepuluh buah. Empat daun berwarna oranye, dua daun hijau, serta sisanya daun berwarna kuning.

Papi yang sempat absen membaca dua hari, kali ini kembali membaca, meskipun hanya sebuah artikel, bukan buku elektronik maupun fisik. Artikel yang dibaca Papi kali ini berkaitan dengan dunia astronomi, yaitu Produksi Bintang di Galaksi Bimasakti Lebih Rendah dibandingkan di Galaksi Lain di Antariksa. Artikel tersebut Papi baca dari okezone.com. Dari artikel tersebut, muncul diskusi antara Papi dan Mami. Hal yang kami bahas mengenai pemilihan dan makna kata 'produksi' di awal judul artikel. Produksi ini seperti apa? Terdengar rancu bagi pembaca yang awam masalah astronomi. Tetapi akhirnya kami menyimpulkan bahwa maksud dari kata 'produksi' sendiri adalah terbentuknya bintang baru ketika bintang-bintang yang lain sudah 'mati' atau kehilangan cahayanya.

Sama dengan Papi, Mami juga memilih membaca melalui media online. Namun yang Mami baca adalah novel wattpad. Kali ini Mami membaca salah satu cerita Alnira yang berjudul Randa Tapak. Alnira merupakan salah satu penulis wattpad kesukaan Mami. Ciri khas dia dalam bercerita itu selalu pas, tidak ada yang dipanjang-panjangkan ataupun dipangkas biar lebih sedikit. Alnira juga seringkali mengangkat tema yang tidak mainstream. Randa Tapak ini salah satu contohnya. Unsur romansa tidak begitu mendominasi dalam cerita tentang dandelion ini. Kasus yang diangkat adalah passion si tokoh perempuan yang bernama Ola. Seorang mahasiswi yang tidak menikmati kuliah di jurusan manajemen, dan lebih memilih menggunakan waktu senggangnya untuk membuka sebuah layanan curhat online di platform facebook serta privat via telepon. Rupanya, Ola begitu menjiwai menjadi seorang pendengar dan pemberi saran. Hari-hari yang ia lewati dengan mendengarkan berbagai macam masalah dari kliennya, membuatnya mengubah haluan tujuan hidupnya. Ola memutuskan berhenti kuliah manajemen dan beralih masuk jurusan psikologi di usianya yang seharusnya sudah lulus dan bekerja. Karena passion yang tepat inilah ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan waktu singkat. Sungguh sebuah pesan moral yang bermanfaat dapat kita ambil dari cerita ini, bisa digunakan sebagai bahan renungan Mami sebagai orang tua.

Berbeda dengan Papi dan Mami, Zee selalu tertarik dengan buku-buku cetaknya. Aktivitas membaca sudah Zee lakukan saat tanggal tiga baru saja berlalu. Ia membaca buku di tengah malam buta, tepat pukul 01.00 WIB. Saat Mami mengajaknya tidur, ia menolak dan memaksa Mami untuk kembali menyalakan lampu kamar.

“Mami nyalakan lampu. Dedek nggak mau tidur,” ucap Zee.

“Emang Dedek mau ngapain lagi? Ini kan sudah malam banget,” sahut Mami.

“Buku. Mami ambilkan. Kita baca yuk, Mi.” Dengan mata yang masih secerah mentari, Zee menunjuk rak buku.

“Buku apa?” tanya Mami.

“Khadijah,” jawab Zee. Ia menunjuk rak paling atas, tempat beberapa koleksi boardbooknya semasa bayi.

“Ini ada khadijah, ada Mami, ada Papi. Dedek mana? Mi, Dedeknya mana?” celoteh Zee begitu ia membuka buku dan melihat gambar Khadijah di antara keramaian.

“Itu yang kecil tu Dedek. Yang di belakang,” kata Mami sambil menunjuk gambar seorang anak kecil yang berdiri di bagian belakang kerumunan orang-orang.

“Dedek mau masuk surga kayak Khadijah.” Tiba-tiba Zee berujar.

“Yang bener? Dedek mau masuk surga?” tanya Mami.

“Iya. Dedek suka masuk surga,” jawab Zee cepat. Mami tersenyum.

“Kalau mau masuk surga, Dedek harus jadi anak apa?” Mami kembali bertanya.

“Jadi anak baik. Nanti Allah sayang. Dedek masuk surga,” sahut Zee cepat sambil tersenyum pintar. Mami bertepuk tangan.

“Anak Mami pintar ya,” puji Mami. Zee meringis, lalu kembali membuka halaman demi halaman buku yang ada di hadapannya.

Teruslah membaca, Nak. Karena lewat aktivitas itulah Mami bisa menyelipkan nilai-nilai moral dan karakter yang baik buat dirimu.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 03 Maret 2018

Maukah Kamu Membaca Buku?

Sabtu, 3 Maret 2018



Day 3

Hari ini merupakan hari ketiga tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3. Dan hingga detik ini, pohon literasi keluarga kami sudah bertambah dua lagi daunnya, sehingga total ada tujuh daun. Untuk menstimulasi kemampuan Zee dalam bercerita dan mengungkapkan perasaan, sumber bacaan merupakan modal utama. Jadi memang sejak ia usia sembilan bulan, setiap hari Mami selalu bertanya, maukah kamu membaca buku? Buku apa? Judulnya apa? Alhamdulillah, setiap Mami bertanya, meskipun tidak seketika itu juga Zee langsung mau diajak membaca buku, tetapi pada hari yang sama, ia pasti teringat pertanyaan Mami dan minta untuk diambilkan buku saat ia menginginkannya. Seperti siang ini misalnya.

Setelah selesai makan siang, Zee sibuk dengan permainan kartunya. Camilan siap sedia berada di sebelah tangannya. Sesekali ia berbaring sambil bermain. Hal ini tentu saja langsung Mami manfaatkan untuk mengajak si bocah membaca buku.

“Dedek mau baca buku?” tanya Mami. Zee terlihat berpikir sambil memasukkan camilan ke dalam mulut.

“Mau. Buku itu. Buku itu. Mami ambilkan.” Beberapa menit setelahnya Zee menjawab pertanyaan Mami sambil menunjuk rak buku.

“Buku itu buku apa? Yang mana? Judulnya apa?” Kalau sedang malas, Zee memang tidak mau menyebutkan judul buku yang diinginkannya.

“Itu, Mi. Itu. Buku Hassan,” ujar Zee dengan sedikit kesal karena Mami mendesaknya untuk menyebutkan judul buku yang mau ia baca.

Zee dengan antusias langsung menunjuk gambar anak-anak di sampul Ensiklopedia Junior Anak-Anak di Dunia sambil menyebut kata 'black', 'white', serta 'brown' sesuai warna kulit anak-anak tersebut. Ia lalu membuka halaman demi halaman buku dan meminta Mami bercerita sesuai gambar yang ia tunjuk. Dari ensiklopedia ini, Zee belajar banyak hal. Mulai dari budaya tiap suku di dunia, peta yang menunjukkan lima benua besar, sistem persekolahan yang ada di dunia, jenis makanan khas, dan lain sebagainya. Hampir setengah Zee menghabiskan halaman buku hingga akhirnya ia meminta Mami mengambilkan buku lain, namun hanya dibuka-buka saja tanpa dibaca, jadi tidak Mami tuliskan di daun kepunyaan bocah aktif itu.

Sore harinya, saat Zee tidur, giliran Mami yang mendapatkan kesempatan untuk membaca. Kali ini Mami kembali mengikuti kisah Lila dan Hendi di cerita berjudul (Masih) Tentang Dia, salah satu tulisan Kak Titi Sanaria di wattpad. Cerita ini cukup memikat ketika pertama kali Mami membacanya beberapa minggu lalu. Banyak pesan moral yang diselipkan oleh Kak Titi di sana. Salah satunya adalah tentang mahalnya kepercayaan. Jika kita telah mengikatkan diri di dalam pernikahan suci, sebaiknya menghindari pertemuan ataupun urusan yang tidak penting dengan lawan jenis, karena bisa jadi hal tersebut memicu kesalahpahaman pasangan. Selain itu, dari sikap Lila yang selalu menghindari Hendi, pembaca juga bisa belajar bahwa ketika sebuah permasalahan membelit diri kita, alangkah lebih baik tidak kita hindari. Memghadapi sebuah masalah tentu saja memerlukan kekuatan yang besar, namun menghindarinya justru menjadikan energi kita tersedot habis karena masalah tersebut pasti selalu menghantui diri kita.

Hari ini, hanya Mami dan Zee yang membaca, sementara Papi, masih seperti kemarin, disibukkan dengan banyaknya project desain. Mudah-mudahan besok Papi bisa kembali membaca seperti pada hari pertama tantangan level 5 ini dimulai.

Pancar Matahari Family

Jumat, 02 Maret 2018

One Book One Day

Jumat, 2 Maret 2018



Day 2

Hai,

Sudah hari kedua tantangan level lima nih. Kemarin daun yang berhasil terpasang ada tiga, dan hari ini jumlahnya hanya bertambah dua saja, yaitu daun warna kuning dan oranye. Daun kuning untuk Mami, sedangkan oranye kepunyaan Zee. Hari ini Papi yang sedang hectic dengan pekerjaan memang tidak membaca sama sekali. Maklum saja sih, pekerjaan yang menghabiskan waktu hampir dua belas jam di depan komputer tentu saja membuat mata lelah dan kepala pusing, sehingga untuk sekadar membuka buku maupun membaca artikel dan berita di ponsel, Papi sudah tidak sanggup lagi. It's ok. Semoga besok Papi ada sedikit waktu luang untuk membaca.

Kali ini, kita akan berkisah tentang Zee terlebih dahulu. Zee yang bangun pukul empat pagi, kembali tidur saat waktu menunjukkan angka sembilan. Tidak tanggung-tanggung, si bocah itu baru bangun pukul dua belas. Setelah aktivitas rutin seperti mandi, sarapan dan sebagainya, Mami mengajak Zee menempel daun yang terbuat dari kertas bekas dengan lapisan polos berwarna putih. Setelahnya, kami mewarnai tiga daun, masing-masing untuk Papi, Mami, dan Zee. Nah, setelah selesai, Zee antusias mau langsung memasang setiap daun di ranting pohon literasi kami.

“Dek, kalau mau pasang daunnya, Dedek harus baca buku dulu. Nanti kita tuliskan judul buku yang Dedek baca. Baru deh pasang daunnya.” Mami memberikan penjelasan ketika Zee merajuk karena tidak dituruti untuk memasang daun.

“Dedek nggak mau baca,” ujar Zee.

“Jadi maunya apa? Main apa kita?” tanya Mami.

“Dedek mau nonton aja. Nonton Umi Zumi,” jawab Zee sambil berlari ke dalam kamar. Sepertinya belum bisa nih diajak baca buku. Batin Mami.

“Oke. Dedek boleh nonton, tapi setelah nonton nanti kita baca buku ya,” kata Mami. Zee menatap Mami sekilas, lalu tersenyum lebar.

“Janji Dedek,” sahut Zee tiba-tiba tanpa Mami tanya. Akhirnya Mami memberikan kesempatan kepada Zee untuk menonton film animasi edukasi tentang matematika dan desain itu. Sampai di pertengah film, tiba-tiba Zee berbicara dari yang semula diam.

“Mi, tolong ambilkan buku Apel, Dedek mau baca,” pinta Zee. Mami langsung tersenyum lebar.

“Kalau Dedek mau baca, kita matikan ya filmnya,” ujar Mami

“Jangan. Dedek mau baca sambil nonton.” Nah kan, kombinasi ajaibnya mulai kambuh.

“Mi, Dedek nggak mau buku Apel. Mau buku Dinar aja,” kata Zee.

“Nih, buku Dinarnya.” Mami mengangsurkan sebuah buku bersampul gradasi warna biru. Zee meletakkan buku apel di sampingnya, dan mulai membuka buku Dinar. Ia meminta Mami  bercerita tentang buku yang sebenarnya berjudul Petualangan Dinar. Mulailah Mami bercerita tentang seorang anak yang sangat jujur, yaitu Abdul Qodir Jaelani. Zee membolak-balik halaman setiap Mami selesai menceritakan tentang petualangan uang Dinar yang berada di dalam jas Abdul Qodir Jailani.

Setelah buku Dinar selesai kami baca, Mami mencoba menawarkan untuk membaca buku Apel Kejujuran. Namun rupanya si bocah tidak berminat. Tak mengapa, setidaknya Zee sudah membaca satu buki hari ini. Selanjutnya, ia mengawasi Mami yang tengah menuliskan judul buku dan nama pengarang di daun oranye miliknya.

Selesai membaca buku, Zee kembali sibuk dengan puzzle dan crayon, sehingga sambil menunggui bocah aktif ini, Mami sempat membaca buku fisik. Kali ini Mami meneruskan membaca novel berjudul Anak Sejuta Bintang yang ditulis oleh Akmal Nasery Basral. Halaman yang Mami baca yaitu dari 80 sampai 90. Buku ini merupakan novel based on true story, yang mengangkat kehidupan masa kecil Aburizal Bakrie atau akrab disapa Ical. Cara penulis menggambarkan kehidupan masa Ical kecil, sungguh menarik. Hanya saja, karena buku ini kami dapatkan sebagai hadiah lomba saat Zee masih belum genap berusia dua tahun dan suka merobek buku, Mami selalu menahan diri untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Namun rasanya Mami ingin kembali melahap tulisan apik salah seorang penulis senior mulai saat ini. Semoga bisa istiqomah.

Selesai Mami membaca, daun-daun yang sudah kami warnai langsung diisi dengan judul buku yang telah kami baca. Ada dua daun sebagai tambahan, sehingga total daun yang menempel pada pohon literasi kami total berjumlah lima. Sepertinya kami harus terus memupuk semangat, agar esok bisa lebih banyak membaca buku. Sampai jumpa esok pagi semua.

Pancar Matahari Family

Kamis, 01 Maret 2018

Kita Tempel Daun Yuk!

Kamis, 1 Maret 2018





Day 1

Halo semua,

Bertemu lagi dengan kami, Pancar Matahari Family. Kali ini Mami akan menuliskan kisah hari pertama tantangan level 5 Kelas Bunda Sayang Batch #3. Di tantangan kali ini, pelajar harus menstimulasi anak, suami, maupun diri sendiri untuk meningkatkan minat baca. Dan cara yang dilakukan adalah dengan membuat pohon literasi. Ada banyak jenis pohon literasi, mulai dari yang model ditempel pada dinding maupun papan dan media lain, pohon literasi digital (dibuat di corel atau media lain), serta model pohon berdiri. Pilihan kami jatuh pada yang bisa berdiri alias pohon 3D, karena ada kemungkinan di tengah-tengah masa tantangan nanti kami akan pindah rumah, jadi untuk model pohon yang ditempel ke dinding rasanya tidak memungkinkan untuk dibuat.

Pohon literasi Pancar Matahari Family sendiri baru kami buat tadi malam, dengan formasi lengkap saat menyelesaikan bagian demi bagian yang menyusun pohon. Ada Papi yang membantu memotong karton yang sebelumnya sudah Mami gambar, dan ada Zee yang membantu mewarnai daun. Zee pula yang menentukan warna daun kami masing-masing. Ia ingin daunnya sendiri berwarna oranye. Kuning untuk daun Mami serta hijau buat Papi. Kami memang membuat satu pohon saja untuk satu keluarga, dengan menjadikan ranting sebagai pemisah.

Nah, di hari pertama ini, pagi-pagi sekali sebelum subuh, Zee sudah bangun. Rupanya ia teringat janji Mami malam sebelumnya untuk menempel daun dengan tulisan judul buku serta nama penulis untuk kemudian dipasang di pohon literasi kami.

“Mi, kita baca buku lagi yuk. Dedeknya mau tempel daun,” ucap Zee. Namun karena hari masih sangat pagi dan Mami harus segera membereskan aktivitas domestik, maka Mami membujuk Zee dan menjanjikan akan melakukan kegiatan membaca di siang hari setelah pekerjaan rumah selesai. Zee awalnya protes dan merengek, namun akhirnya fokusnya tentang buku teralih saat Papi mengajaknya bermain menyusun huruf abjad berbahan plastik.

Siang harinya, sembari bermain kartu, Zee kembali menagih janji Mami.

“Dedek mau baca buku apa?” tanya Mami saat Zee meminta Mami mengambilkan buku di rak.

“Judulnya apa ya?” gumam Zee sembari berpikir.

“Buku Esspresso lah, buku Mami,” ujar Zee tiba-tiba. Ia menyebutkan novel karangan Mami.

“No. Itu buku bacaan Ibu-Ibu. Kan ada buku anak-anak Dedek. Baca itu aja,” jawab Mami dengan tegas.

“Buku Gunung ajalah kalau gitu,” sahut Zee. Mami langsung berlalu meninggalkan Zee untuk mengambil buku. Gunung merupakan judul buku yang Mami dan Papi tulis sebagai media pembelajaran untuk Zee. Dan syukur alhamdulillah ia begitu menyukai setiap halamannya.

“Mi, ini gunung Merapi kan namanya. Ini ada tas Dedek nih disangkut Papi dekat pohon,” cerocos Zee saat ia sudah membuka buku. Memang diusianya yang sudah genap dua tahun lima bulan ini, ia sudah jarang mau dibacakan buku lagi. Seringkali ia memilih untuk 'membaca' sendiri, dalam artian mengarang berdasar gambar yang ia lihat ataupun ingatan dari apa yang pernah Mami bacakan sebelumnya. Akhirnya Mami lebih memilih bercerita kepada Zee tentang proses gunung meletus, pergerakan lempeng bumi, hingga mengapa udara di daerah pegunungan cenderung lebih dingin dibandingkan di dataran rendah. Seperti biasa pula, si bocah tekun menyimak sambil sesekali bermain dengan kartunya, dan diselingi pertanyaan maupun komentar ajaibnya saat melihat gambar yang ada di dalam buku.

Jika biasanya Zee membaca lebih dari satu judul buku setiap harinya, kali ini ia hanya membaca buku Gunung. It's ok. I think that's enough for her today. Karena pada usianya yang menjelang tiga tahun, ia memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan permainan yang melibatkan pergerakan fisik.

Jika Zee membaca buku fisik, lain halnya dengan Mami dan Papi. Mami seperti biasa memilih membaca cerita di wattpad. Dan hari ini, tulisan Alnira yang berjudul Di Penghujung Usia 31 menjadi pilihan. Cerita ini keren. Menggambarkan pergolakan batin tokoh utama perempuan yang belum menikah di usia 31 tahun. Bagaimana komentar sinis masyarakat serta lingkungan keluarga yang semakin mendesak untuk segera mengakhiri masa lajang membuat si tokoh yang bernama Kara itu acapkali stress dan menjadi lebih sensitif jika mengetahui orang-orang di sekitarnya menikah. Dari cerita ini, ada pesan moral yang Mami dapatkan, yaitu jodoh merupakan sebuah misteri, rahasia Ilahi yang tidak bisa diganggu gugat oleh hamba-Nya. Jadi entah datangnya cepat atau lambat, sebagai manusia yang beriman, kita harus tetap sabar dan bersyukur.

Sementara Papi yang memang lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca koran online ataupun artikel, hari ini membaca sebuah artikel berjudul Setting V-Ray dari website sketchup.blogspot.com. Ya, Papi memang bergelut di bidang desain grafis dalam pekerjaan, sehingga pilihan-pilihan artikel yang dibaca juga tidak jauh-jauh dari bidang tersebut. Meskipun tak jarang juga artikel seputar teknologi, otomotif serta bisnis habis dilahap. Meskipun tidak membaca buku fisik, tetapi tetap harus disyukuri karena melalui artikel juga minat baca tetap bisa ditingkatkan. Semangat ya, Pi.

Oke, hari pertama cukup sampai di sini. Sampai jumpa esok pagi, semoga pohon kami segera bertambah lebat daunnya.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...