Tampilkan postingan dengan label Cerdas Finansial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerdas Finansial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2018

Manajemen Keuangan: Bekal Berharga Untuk Masa Depan Buah Hati

Jumat, 20 Juli 2018




Pada game level 8, kami hanya menyelesaikan 10 hari dari masa tantangan 17 hari. Banyaknya aktivitas lain, membuat kami harus membuat prioritas, memilah kegiatan urgent dan yang bisa ditunda terlebih dahulu. Karena menurut indikator yang kami tetapkan sendiri untuk kecerdasan finansial ini si bocah sudah lulus sesuai tingkatan usianya, maka kami cukupkan membuat laporan harian sampai batas minimal penyetoran. Namun untuk aplikasinya sendiri, sebelum materi kecerdasan finansial diberikan, kami memang sudah menerapkan pola berhemat dan pembelajaran keuangan sederhana kepada Zee.

Dengan adanya materi dan tantangan dari kelas Bunda Sayang ini, membuat kami berlatih konsisten dalam penerapan harian. Seperti menabung misalnya, kami akan memberikan uang koin yang kami miliki setiap hari kepada Zee untuk ditabung ke dalam celengan ayamnya. Zee juga jadi terbiasa mengontrol jatah jajan hariannya sendiri tanpa dipaksa.

Manajemen keuangan memang menjadi salah satu goals yang kami tetapkan untuk diajarkan kepada Zee. Pengalaman pahit yang pernah saya alami semasa lajang dulu karena tidak mengerti tentang manajemen keuangan, membuat kami akhirnya harus menerapkan sistem pengajaran manajemen keuangan yang lebih terstruktur lagi kepada Zee. Dengan harapan di masa depan nanti Zee menjadi perempuan cerdas yang dapat memilah mana kebutuhan dan mana keinginan yang hanya berlandas nafsu, maka kami tidak akan berhenti membantunya meningkatkan kecerdasan finansial meskipun masa tantangan di kelas Bunda Sayang telah selesai.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 07 Juli 2018

Beli Cokelat, Bukan Jelly Kecil

Sabtu, 7 Juli 2018




Day 10

Pada hari kesepuluh tantangan level 8 Bunda Sayang Batch #3, kami memberikan pemahaman kepada Zee bahwa ketika mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu, maka harus berguna dan tidak boleh mubazir.

Malam ini, Zee yang ikut ke warung, merengek karena minta dibelikan jelly kecil kesukaannya. Namun karena sejak beberapa hari belakangan ini ia hanya membeli jelly tersebut tanpa memakannya secara benar dan berujung terbuang, maka mami mencoba memberitahunya untuk mengganti jelly dengan cokelat.

Awalnya Zee menolak, namun setelah beberapa kali mami memberitahunya, akhirnya ia menurut. Nyatanya, dua buah kue cokelat tersebut habis dalam sekejap. Tidak sia-sia ia mengeluarkan uang untuk membeli kue dan tidak juga berdosa karena telah menghabiskan makanan.

Pancar Matahari Family

Jumat, 06 Juli 2018

Seribu Papi

Jumat, 6 Juli 2018


Day 9

Hari kesembilan ini, Zee kembali menabung uang logam. Begitu papi pulang kerja tadi, ia berlari ke arah pintu dan langsung menengadahkan tangan.

“Pi, minta seribu, Pi,” kata Zee. Papi yang memahami maksud Zee, langsung memberikan uang logam pecahan seratusan yang dilakban sejumlah sepuluh buah.

“Mi, ambilkan celeng ayam Dedek tolong, Mi,” lanjut Zee.

“Mami fotokan Dedek ya,” ucap Zee lagi. Mami tertawa. Mungkin karena terlalu sering didokumentasikan aktivitasnya, ia jadi terbiasa.

“Itu nanti kalau celengannya udah penuh, Dedek mau beli apa?” tanya papi.

“Buat beli jelly kecil, chacha, sama susu,” jawab Zee cepat. Mami dan papi tertawa.

“Mi, udah celeng Dedek, Mi. Simpan lagi ayamnya, Mi.” Ah, memang kalau sesuatu sudah dibiasakan, jadinya lebih mudah.

Pancar Matahari Family

Kamis, 05 Juli 2018

Naik Kereta Kecil

Kamis, 5 Juli 2018




Day 8

Hari ini, kami kembali mengajarkan Zee mengelola keuangan, dengan cara memilih sesuatu yang lebih murah namun tetap menyenangkan. Bermula dari Zee yang ingin bermain di sebuah wahana permainan dengan harga cukup fantastis yang ada di salah satu mall, dan kami memberikan pengertian untuk menggantinya dengan wahana murah meriah namun tetap menyenangkan.

Karena hari Minggu nanti kami berjanji akan membelikan Zee sebuah mainan dengan harga yang cukup lumayan, maka keinginannya untuk bermain di wahana permainan yang cukup mahal tidak bisa kami penuhi. Mau tidak mau ia harus memilih antara membeli mainan atau bermain di wahana permainan. Tentu saja ia tetap menginginkan mainan yang sudah lama diidam-idamkannya. Sebagai gantinya, kami mengajaknya untuk naik kereta odong-odong yang disebutnya kereta kecil. Pada awalnya ia memang protes, namun akhirnya ia mau juga.

Pengajaran ini kami lakukan agar ia memahami bahwa mengeluarkan uang untuk suatu keinginan, bukan kebutuhan, harus dengan perencanaan yang matang dan direncanakan dengan baik. Semoga saja dengan begitu, nantinya ia terbiasa mengelola keuangan dengan teliti.

Pancar Matahari Family

Rabu, 04 Juli 2018

Kenapa Pergi ke Pasar Kaget?

Rabu, 4 Juli 2018




Day 7

Tak terasa sudah memasuki hari ketujuh tantangan level 8 Bunda Sayang. Selama ini, melatih kecerdasan finansial kepada anak di keluarga kami dilakukan natural saja. Ada beberapa yang terkonsep, hanya dalam pelaksanaannya dibuat fleksibel tanpa aturan waktu dan target yang kaku.

Seperti hari ini misalnya. Dua kali dalam seminggu, biasanya kami mengajak Zee berbelanja ke pasar kaget setiap sore atau malam. Kebiasaan itu sudah kami lakukan sejak ia bayi, bahkan saat usianya masih di bawah enam bulan kalau tidak salah waktu itu. Seringnya Zee senang, namun beberapa minggu ini, ia beberapa kali protes, tidak mau diajak pergi ke pasar kaget.

Selepas magrib tadi, saat kami hendak pergi ke pasar kaget, Zee tiba-tiba protes. Ia mengatakan tidak mau pergi ke pasar kaget, dan mengatakan kenapa kami tidak pergi ke pasar pagi saja. Melihat hal itu, kami mencoba menjelaskan kepada Zee bahwa untuk belanja stok bahan makanan yang tidak cepat busuk, kami harus belanja di pasar kaget, karena harganya yang murah dan pilihan barangnya beragam. Semula ia tetap protes, namun akhirnya berhenti karena kami menjanjikan akan mengizinkan dirinya memilih tomat serta sayuran lain yang akan kami beli. Trik itu membuat wajahnya seketika berbinar dan dengan senang hati, Zee mengikuti langkah kami.

Zee dengan antusias memerhatikan setiap aktivitas yang ada di dalam pasar, termasuk saat kami melakukan transaksi jual beli dengan pedagang. Sesekali, ia mengingatkan kami mengenai uang kembalian saat kami membayar. Meskipun belum betul-betul mengenal nilai uang, setidaknya konsep ini sudah meresap di dalam kepalanya.

Semoga pengajaran sederhana ini menjadikannya pribadi yang sederhana dan cermat dalam mengatur keuangan jika ia beranjak dewasa kelak, karena sesungguhnya bukan pengajaran teoritis yang utama, namun penerapan di kehidupan sehari-hari yang harus dimaksimalkan.

Begitulah cerita Zee hari ini. Sayang tidak dilengkapi foto karena saat ke pasar tadi kami tidak membawa handphone sama sekali.

Pancar Matahari Family

Selasa, 03 Juli 2018

Pos-Pos Anggaran

Selasa, 3 Juli 2018


Day 6

Pada hari keenam tantangan level 8 Bunda Sayang, Zee kembali mami ajak untuk menabung. Kali ini, mami menyelipkan juga pengenalan nominal uang pecahan 5000 dan 2000, dengan cara memisahkan tempat menabungnya.

Zee sangat antusias, dan matanya berbinar kala papi pulang kerja dan memberinya uang logam. Segera saja ia memasukkannya ke dalam celengan ayam miliknya. Ada satu momen yang membuat mami takjub, yaitu saat Zee tiba-tiba mengatakan sesuatu di luar dugaan, sebuah konsep yang belum mami kenalkan kepadanya. Pos-pos anggaran.

“Mi, yang celeng ayam ini buat beli donat kalau udah penuh,” kata Zee.

“Yang ini buat beli paket,” lanjutnya sambil menunjuk kaleng berisi pecahan 5000.

“Kalau yang ini buat beli robocar poli blue nanti pas car free day,” ucap Zee lagi, kali ini dengan menunjuk botol berisi uang pecahan 2000.

Tentu saja mami takjub. Ia bahkan dapat mengelompokkan pos-pos anggaran sesuai kebutuhannya, dengan bonus sesuai pula sama harga barang yang ingin dibeli dengan masing-masing pecahan, dari yang paling kecil ke besar.

Memang kemampuan anak-anak itu kadangkala di luar nalar kita sebagai orang tua. Semoga ke depannya Zee lebih mudah untuk diajak membuat perencanaan pengeluaran harian.

Pancar Matahari Family

Senin, 02 Juli 2018

Jelly Emak

Senin, 2 Juli 2018



Day 5

Hari kelima tantangan level 8 Bunda Sayang Batch #3 ini, saya mengajarkan kepada Zee untuk menerima segala sesuatu yang sudah disediakan di rumah guna menghemat anggaran jajan. Karena celengan ayam milik Zee baru mulai diisi, jadi saat ini ia hanya menerima jatah jajan dari mami, dan tidak bisa membeli apapun yang diinginkannya. Hanya barang-barang yang mami setujui untuk dibeli yang bisa ia tebus di penjual.

Sebagai gantinya, mami menyediakan makanan kesukaannya di rumah. Kali ini, mami membuat jelly. Warna pink muda dan rasa strawberry yang manis-manis asam langsung menggoda penglihatan si bocah begitu ia bangun tidur dan beranjak ke dapur.

“Mi, mau jelly kecil,” kata Zee.

“Hari ini kita nggak usah beli jelly kecil ya, ini mami sudah buat jelly.” Mami menjelaskan kepada Zee.

“Mana jelly?” Meskipun menunjukkan raut cemberut, namun ia tetap bertanya.

“Itu di atas meja,” tunjuk mami. Zee berjinjit dan melongok melihat apa yang ada di atas meja.

“Wah, jelly pink. Rasa apa itu, Mi?” tanya Zee dengan mata berbinar.

“Rasa strawberry,” jawab mami.

“Mau, Mi. Dedek mau jelly. Mau jelly!” pekik Zee girang.

Mami lalu mengambilkan beberapa potong dan meletakkannya ke dalam piring kecil. Zee menunggu dengan tidak sabar.

“Asyik, jelly. Enak. Dedek suka.” Sambil memasukkan sendok ke dalam mulut, Zee berceloteh.

“Mau warna white, Mi. Sama orange.” Zee meminta jelly rasa lain kepada mami. Memang biasanya kalau beli di warung kemasan kecil-kecil, ia bisa menjajal beraneka rasa dan warna.

“Besok kita buat warna white ya. Hari ini kan kita buatnya yang warna pink. Kalau kita buat sendiri, nggak bisa banyak-banyak buatnya, nanti nggak habis. Besok kita buat lagi ya.” Mami memberinya penjelasan. Ia mengangguk.

“Besok lagi kalau mau jelly, kita buat sendiri aja ya, Dek. Nggak usah beli jelly kecil lagi ya,” ucap mami, memasukkan inti pelajaran hari ini. Lagi-lagi Zee mengangguk.

“Iya. Dedek mau jelly kecil Emak ajalah,” sahut Zee sambil tersenyum lebar. Mami tertawa.

“Nanti malam Dedek boleh beli kue yang lain. Mau apa?” Mami memberinya hadiah sebagai apresiasi sikapnya yang mau menuruti peraturan yang berusaha kami tegakkan.

“Es krim Dedek mau, Mi.” Zee berteriak kencang.

“Oke. Tapi yang warna light blue atau brown aja ya. Nggak usah yang warna green atau yellow. Oke?” Tetap saja mami mewanti-wantinya untuk berhemat, meskipun menyetujui kemauannya. Zee menganggukkan kepala dengan ekspresi senang.

Semoga terus konsisten berhemat ya, Zee.

Pancar Matahari Family

Minggu, 01 Juli 2018

Mari Mengisi Celengan Kembali

Minggu, 1 Juli 2018



Day 4

Awal bulan, saatnya bagi Zee untuk mengisi kembali celengan ayam merah. Sore tadi, ia meminta mami menemaninya ke warung untuk membeli es krim. Tentu saja mami menolak, karena uang jajan Zee sudah habis, dan ia harus memahami jika tidak ada uang lagi di dalam celengan, berarti dirinya tidak bisa jajan sesuka hatinya dan harus menerima jatah kue yang mami berikan. Tampaknya Zee mengerti, sehingga ia tidak protes dengan aturan yang mami buat.

Malam tiba, mami mengajak Zee untuk kembali mengumpulkan uang logam dari dompet mami maupun dompet papi. Dengan senang hati Zee memasukkan satu per satu uang yang mami berikan, dan tersenyum lebar saat mami mengatakan bahwa uang di dalam celengan itu nantinya akan dibongkar menjelang akhir bulan dan dapat ia gunakan untuk jajan kue kesukaannya. Sebagai apresiasi atas tindakannya yang tidak protes, mami menjanjikan akan mengizinkannya membeli es krim esok hari.

Semoga konsisten menabung ya, Zee.

Sabtu, 30 Juni 2018

Susu atau Kue?

Sabtu, 30 Juni 2018



Day 3

Pada hari ketiga tantangan level 8 Bunda Sayang Batch #3, saya kembali membiasakan Zee untuk memilih antara kebutuhan dan keinginan. Cerita ini bermula dari pagi tadi saat ia bangun tidur dan langsung meminta kue.

“Mi, Dedek mau kue astor,” kata Zee.

Mami mencoba menjelaskan kepada Zee bahwa kue astornya sudah habis. Karena uang tabungannya sudah habis sehingga jatah jajan kembali didapatkan dari mami, maka ia harus memilih.

“Kue astornya kan sudah habis tadi malam Dedek makan.” Mami menjawab.

“Dedek mau kue. Mau kue!” Zee mulai memekik.

“Dedek kalau mau kue astor, berarti kita nggak beli susu M*m* ya?” tanya mami.

“Mau susu,” sahut Zee cepat.

“Kalau mau susu, berarti nggak usah beli kue astor. Kan uang celengan Dedek udah habis.” Mami kembali mengulang penjelasan. Zee tampak cemberut.

“Kita nggak usah beli kue astor. Mami bikinkan Dedek kue. Mau?” tawar mami. Zee memandang mami cukup lama, dan berakhir dengan anggukan.

“Oke. Kita bikin pancake ya. Nanti habis mandi kita beli susu. Mau?” ucap mami. Lagi-lagi Zee kembali mengangguk.

Saat akhirnya kami pergi ke warung, entah memang ia paham atau tidak, tapi nyatanya Zee tidak merengek minta kue dan cukup senang saat kami hanya membawa pulang dua kotak susu uht. Semangat, Zee. Tidak mudah memang menahan keinginan. Namun manfaatnya besar jika kita bisa mengendalikan hawa nafsu.

Jumat, 29 Juni 2018

Makan Sekarang atau Nanti?

Jumat, 29 Juni 2018



Day 2

Setelah mengenalkan Zee pada konsep jual beli dan menabung, hari ini saya memperkenalkannya cara mengelola barang yang dibelinya menggunakan uang tabungan. Yang kami jadikan bahan pembelajaran adalah kue astor.

Cerita bermula saat siang tadi Zee memakan kue yang ia beli menggunakan uang tabungannya kemarin. Sudah dua bungkus kue ia habiskan, namun rupanya si bocah masih belum mau berhenti.

“Mi, Dedek mau lagi kuenya,” ucap Zee.

“Lho, kan udah Dedek makan dua tadi. Kuenya tinggal satu, buat nanti malam.” Mami menjelaskan perlahan.

“Tapi Dedek mau kuenya sekarang.” Zee tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Kalau kuenya Dedek makan sekarang, berarti nanti malam nggak makan kue ya,” kata mami.

“Nanti beli lagi?” tawar Zee.

“Nggak bisa dong. Kan kemarin janjinya kuenya dimakan hari ini. Besok baru beli lagi. Uang celengan Dedek kan udah habis.” Mami kembali mengingatkan kesepakatan yang telah kami buat kemarin. Zee tampak berpikir. Hingga akhirnya mami memberi solusi.

“Dedek lapar?” tanya mami. Zee mengangguk.

“Kalau gitu makan nasi aja ya. Mau?” tanya mami lagi. Zee sempat akan protes, namun ucapan mami menghentikannya.

“Sekarang makan nasi dulu. Nanti malam baru makan kue lagi ya. Mau?” Lama tidak ada jawaban, hingga akhirnya Zee menganggukkan kepalanya.

Sesuai kesepakatan, malam ini Zee memakan sisa kuenya yang tinggal satu bungkus. Tak mudah memang mengajarkannya konsisten dengan kesepakatan yang telah kami buat. Bahkan beberapa kali ia menanyakan tentang kue dan ingin memakannya saat itu juga. Namun hal itu tak lantas membuat tekad saya mengajarkan Zee mengenai konsistensi melemah. Memang bisa saja saya kembali membelikannya kue setelah yang ada di rumah habis, tetapi hal itu tidak akan membantunya sama sekali untuk belajar memanajemen barang yang ia beli dari hasil tabungannya sendiri. Tak mengapa terlihat kejam dan keras, itu semua demi kebaikannya sendiri. Lagipula keinginannya untuk menghabiskan kue yang ada itu bukan semata-mata karena kebutuhan, namun sebagian besar hanya hawa nafsunya saja.

Pancar Matahari Family

Kamis, 28 Juni 2018

Koin Terakhir

Kamis, 28 Juni 2018




Day 1

Setelah jeda libur Idul Fitri selama hampir dua minggu, kelas Bunda Sayang Batch #3 minggu ini resmi dimulai kembali. Kali ini materi yang diberikan adalah melatih kecerdasan finansial anak sejak dini, yang menempati urutan kedelapan dari dua belas materi dalam kuliah Bunda Sayang Ibu Profesional.

Hari ini, game level 8 dimulai, membuat saya bersemangat untuk melaksanakannya sesegera mungkin, karena salah satu materi Bunda Sayang yang amat saya nanti yaitu melatih kecerdasan finansial anak sejak dini. Mengapa? Karena mengelola keuangan merupakan PR besar yang harus saya latihkan kepada si kecil agar tidak mengulang kesalahan yang pernah saya lakukan saat muda dulu.

Sebelum sampai pada materi kedelapan ini, saya sudah mulai menerapkan pengenalan manajemen keuangan kepada Zee (2 tahun 8 bulan) sejak ia berumur 20 bulan. Bermula dari seringnya mengajak Zee ke pasar, minimarket, warung, hingga sempat membawanya berjualan batagor dan siomay setiap sore. Sejak kecil, Zee sudah tahu soal uang. Bukan nominalnya, namun lebih fungsi uang sendiri yang bisa digunakan sebagai alat tukar. Zee sudah paham jika ingin naik wahana permainan anak, ia memerlukan uang. Pun saat dirinya menginginkan jajanan di warung juga harus menyerahkan sejumlah uang kepada penjual.

Nah, salah satu cara yang kami gunakan sebagai media pembelajaran adalah menabung uang logam untuk keperluan jajannya sendiri. Zee mempunyai celengan ayam berwarna merah yang akan kami isi dengan uang logam pecahan berapapun. Biasanya, Zee yang memasukkan uang dari kami ke dalam celengan. Hasil menabung Zee ini akan kami bongkar setiap akhir bulan, beberapa hari sebelum tanggal 30 atau 31, biasanya sekitar satu minggu sebelumnya. Uang logam ini lalu kami lakban per 1.000 rupiah guna memudahkan Zee belajar menghitung totalnya.

Bulan ini, hasil tabungan Zee hampir mencapai 70.000 rupiah. Beberapa hari sebelumnya sudah ia gunakan untuk membeli kue di warung, juga beberapa keperluannya seperti susu dan pampers. Hari ini, koin terakhir yang dimiliki Zee habis dibelanjakan. Siang tadi, mami mengajaknya menghitung sisa koin yang ia punyai sebelum digunakan membeli kue.

“Dek, uang Dedek tinggal ini ya. Sudah tidak ada lagi yang lain. Ini mau buat beli apa?” tanya mami sambil memperlihatkan uang logam di dalam plastik kepada Zee.

“Beli es krim sama jelly kecil, Mi,” jawab Zee.

“Oke. Kita hitung dulu yuk uangnya ada berapa,” ajak mami.

Zee dengan semangat mulai menghitung, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.”

“Uang Dedek ada tujuh berarti ya. Karena satu bendelnya seribu, berarti uang Dedek ada tujuh ribu.” Mami menjelaskan kepada Zee. Ia mengangguk.

“Es krimnya mau yang warna apa?” Mami memang mengenalkan harga es krim kepada Zee sesuai warna bungkusnya.

“Warna yellow. Sama jelly kecilnya banyak. Sama astor juga,” ucap Zee cepat.

“Es krim yellow harganya empat ribu lho. Uang Dedek berarti tinggal tiga nanti.” Mami berkata sambil memisahkan uang berdasarkan harga es krim.

“Tiga ribu itu nanti cuma dapat jelly kecil empat sama astor dua. Mau?” Zee tampak berpikir mendengar pertanyaan mami. Lalu ia menggeleng.

“Jelly kecilnya mau banyak Dedek, Mi.” Sepertinya si bocah memang sudah tahu jika empat itu merupakan jumlah yang sedikit.

“Kalau gitu tidak bisa beli es krim yang yellow. Bisanya es krim lain yang harganya tiga ribu. Mau?” Mami memberikan pilihan.

“Iya. Yang warna light blue Dedek mau,” jawab Zee.

“Ya udah, yuk kita ke warung. Nanti Uang Dedek ini dapat es krim light blue, jelly kecil enam sama astor dua ya,” pungkas mami. Zee mengangguk, entah ia benar-benar mengerti atau tidak.

Sesampai di warung, Zee bergegas menuju rak tempat jelly berada. Rupanya ada banyak pilihan warna. Tanpa menghitung terlebih dahulu, ia langsung meraup banyak jelly.

“Hayo, tadi kan sudah sepakat jelly-nya enam aja. Kok Dedek ambil banyak? Mau diambil semua itu?” tanya mami. Zee mengangguk tanpa berpikir.

“Berarti nggak bisa beli es krim sama astor ya,” lanjut mami. Zee mencebik.

“Mau nggak?” tanya mami lagi. Zee menggeleng.

“Ya udah, kembalikan itu jelly-nya. Ambil enam aja. Yuk kita hitung,” ajak mami. Meskipun tampak keberatan, namun akhirnya Zee mengembalikan jelly ke dalam tempatnya dan hanya menyisakan enam buah di tangan.

Setelah mengambil jelly, Zee otomatis bergerak mengambil astor dan berjalan ke arah freezer tempat es krim berada.

“Es krimnya warna apa tadi Dedek mau?” Mami mengetes Zee.

“Light blue.” Zee menjawab mantap. Oke. Sepertinya hari ini bebas drama, tidak seperti biasanya ia yang tiba-tiba berubah pikiran menginginkan es krim dengan warna berbeda dari kesepakatan awal.

Semua kue sudah didapat, Zee lantas menyerahkan uang di dalam plastik kepada penjual. Ia menunggu penjual menghitung jumlahnya, lalu keluar dari warung dengan riang.

Begitulah cara kami mengenalkan konsep jual beli dan mengatur keuangan sederhana kepada Zee hari ini. Esok pagi semoga ada metode lain yang bisa kami terapkan.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...