Tampilkan postingan dengan label Math Around Us. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Math Around Us. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2018

Math in Everywhere

Jumat, 20 April 2018


Setelah menyelesaikan tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3 yaitu mengenalkan anak pada matematika logis, banyak hal yang akhirnya membuka mata saya. Jika sebelumnya saya berpikir bahwa kecerdasan anak itu harus distimulasi terlebih dahulu baru akan terlihat, nyatanya, setiap anak itu terlahir dengan fitrah kecerdasan yang tidak terbayangkan oleh orang tua. Contohnya Zee, saat Mami ingin mengenalkan sebuah konsep yang menurut pandangan Mami belum ia mengerti, namun ternyata praduga Mami salah. Ia bahkan dengan lancar mempraktikkan konsep dan teori dengan lancar sebelum Mami jelaskan satu patah katapun.

Mengenalkan matematika logis kepada anak juga tidak harus terpaku pada masalah angka dan aneka persamaan rumit lainnya. Hal-hal sederhana seperti pola urutan warna, bentuk, bahkan hembusan angin yang terasa kencang maupun pelan, juga merupakan bentuk pembelajaran yang akan melatih si anak berpikir logis, runut, dan kritis. Mencari bentuk materi pembelajaran yang disenangi anak juga merupakan salah satu hal ampuh untuk mengenalkan matematika logis tanpa harus disertai unsur paksaan.

Terima kasih Tim Nasional Bunda Sayang atas pencerahannya lewat materi dan tantangan di sesi ini. Terima kasih fasilitator, korlan, serta perangkat kelas Sumatera 1. Terima kasih untuk teman-teman di kelas yang saling support tak kenal lelah.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 07 April 2018

Math with Vegetables Card

Sabtu, 7 April 2018


Day 10

Sampai hari kesepuluh membiasakan Zee dengan matematika logis, membuat Mami semakin menyadari jika dalam keseharian, saat melakukan aktivitas apapun, seringkali Zee bersetuhan dengan ilmu matematika. Seperti pagi ini misalnya. Saat kami sedang sarapan di belakang rumah, tampaknya segerombolan burung terbang, hinggap dari satu pohon mangga ke pohon yang lain.

“Mi, ada burung terbang. Banyak burungnya. Satu, dua, tiga, empat,” ucap Zee.

“Terbang tinggi burungnya,” lanjutnya. Mami menoleh ke arah yang ditunjuk oleh jemari mungilnya.

“Itu ada lagi burung. Nggak tinggi dia terbangnya. Satu, dua burungnya,” ucap Zee, kembali menghitung burung terbang.

“Dek, kalau burung terbangnya nggak tinggi, itu kita sebut rendah.” Mami membantu Zee mengenalkan tentang lawan kata, yang mana selain berfungsi ke pengetahuan literasinya, juga merupakan bekal untuknya mengenal matematika yang lebih rumit.

“Yuk kita gunting kartu yang ada di majalah Dedek. Abis itu kita main deh,” ajak Mami setelah kami selesai makan. Awalnya Zee menolak dan memilih nonton video. Namun Mami sengaja menggunting kartu sayuran di sebelah bocah aktif itu.

Benar saja. Trik yang Mami mainkan berhasil. Begitu semua kartu sudah Mami gunting rapi, ia langsung menarik kartu bergambar kacang kapri dan merobeknya. Tak mengapa, karena setelah itu, ucapan yang keluar dari mulutnya bikin Mami tercengang.

“Dek, kita main kartunya yuk. Kita belajar sama-sama dengan gambar sayuran. Mau?” tanya Mami.

“Sini, Mi. Sini. Biar Dedek yang susun. Dedek bisa. Dedek bisa. Mami nggak usah,” protes Zee saat Mami hendak memberikan contoh bagaimana cara memainkan kartu. Akhirnya Mami mengalah dan membiarkan Zee belajar dengan caranya sendiri. Dengam cekatan si bocah menyusun masing-masing sayuran dengan jumlah setiap sayur adalah dua buah. Yeay, rupanya meskipun tidak Mami ajarkan konsep-konsep dasar matematika secara detail, namun ia justru sudah menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari. Pertahankan ya, Zee. Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Jumat, 06 April 2018

Learn Math with Shopping

Jumat, 6 April 2018


Day 9

Hari ini merupakan hari kesembilan tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3. Tidak seperti sebelumnya, belajar menggunakan worksheet dan mainan, kali ini Zee belajar melalui aktivitas sungguhan. Sore tadi kami ikut meramaikan talkshow parenting yang diselenggarakan oleh IP Pekanbaru, bertempat di salah satu mall di bumi lancang kuning ini. Sesuai janji malam sebelumnya, Mami akan mengajak Zee bermain, makan, dan belanja usai acara.

Tujuan kami adalah salah satu supermarket yang ada di lantai dasar mall. Baru saja masuk dan melewati tumpukan keranjang, Zee sudah bergerak hendak menarik salah satu benda berwarna biru tersebut. Namun karena letak keranjang yang akan diraihnya itu tinggi sekali, akhirnya ia merengek dan meminta tolong kepada Mami untuk mengambilnya. Setelah itu, kamipun langsung masuk dan disambut onggokan buah, sayur, dan jenis bahan makanan basah lainnya.

“Mi, Dedek mau terong,” ucap Zee. Si bocah memang akhir-akhir ini berkali-kali minta dibuatkan jus terong belanda kesukaannya. Namun saat Mami mengedarkan pandangan, tak nampak buah kecil-kecil berwarna ungu.

“Terongnya tak ada, Dek. Kita beli yang lain aja yuk,” ajak Mami.

“Anggur, Mi. Dedek mau anggur.” Saat melewati pedingin berisi buah, Zee menyuarakan keinginannya. Dan benar saja, saat Mami mengambil salah satu anggur yang sudah dikemas, Zee tersenyum senang.

“Mami letakkan keranjang. Biar Dedek yang bawa,” tawar Zee. Mami mengerutkan kening. Wah, ini bocah mengapa tiba-tiba mau mengangkat keranjang belanjaan? Batin Mami.

Akhirnya Mami menuruti kemauan Zee. Kami berkeliling supermarket dengan Zee memegang keranjang.

“Dek, kalau capek bilang Mami ya. Berat tu,” ucap Mami. Zee menggeleng kuat sambil mengeratkan pegangannya pada keranjang. Mami mengalah, dan melanjutkan ke rak deterjen, pembersih lantai dan sebagainya. Setelah mengambil beberapa barang yang dibutuhkan, Mami mendekati Zee.

“Dek, Mami letakkan barang belanjaan Mami di keranjang. Abis ini Mami yang bawa keranjangnya ya,” lanjut Mami. Zee membiarkan Mami menyusun belanjaan di dalam keranjang.

“Mi, berat, Mi. Kurangkan. Keluarkan belanja Mami. Dedek bawa anggur aja,” kata Zee sambil mencoba mengangkat keranjang yang sudah bertambah bobotnya.

Mami mengambil kembali barang-barang selain anggur. Zee mengangkat kembali keranjang dengan ringan.

“Udah nggak berat lagi. Biar Dedek aja yang bawa.” Zee terlihat senang.

“Udah nggak berat lagi itu namanya apa, Dek?” tanya Mami. Zee terdiam.

“Nggak berat itu namanya ringan. Kalau barang belanjaan kita banyak, keranjangnya kan jadi berat, itu artinya bobot keranjang plus belanjaan besar.” Mami menjelaskan kepada Zee, entah ia mengerti atau tidak, tetapi si bocah terlihat mengamati wajah Mami.

“Nah, kalau keranjang kita isinya anggur Dedek aja, berarti bobotnya kecil, makanya jadi ringan dan Dedek kuat bawa.” Mami menambah penjelasan. Zee hanya mengangguk sekilas dan kembali asyik dengan keranjang, melanjutkan eksplorasinya.

Hari ini cukuplah sampai di sini. Tak menyangka juga rupanya Zee sudah paham konsep tentang berat dan ringan. Terus semangat, Zee. Besok kita belajar lagi.

Pancar Matahari Family

Kamis, 05 April 2018

Learn Math with Graphic

Kamis, 5 April 2018



Day 8

Hari kedelapan ini, Zee meminta Mami untuk membuatkan gambar. Dengan bersemangat, ia menyalakan laptop sendiri.

“Mi, buatkan gambar,” kata Zee setelah laptop menyala. Sebelumnya Mami menawarinya menonton video seperti yang biasa dilakukannya. Namun rupanya kali ini ia tak mau.

“Gambar apa?” tanya Mami.

“Gambar brokoli,” jawab Zee. Biasanya, kami membuat gambar dengan pensil warna atau crayon di atas buku gambar. Tetapi karena beberapa bulan ini Zee sering melihat Papi menggambar dengan laptop untuk ilustrasi buku anak, sepertinya ia jadi ingin melakukan hal yang sama.

“Oke. Tungguin bentar ya, biar Mami gambarkan. Dedek duduk di sini.” Mami menunjuk lantai di depan meja laptop.

“Udah ni, Dek,” ucap Mami setelah beberapa menit. Zee mengamati layar. Sampai di sini Mami belum terpikir untuk mengajak Zee belajar matematika sekalian.

“Gambar pisang lagi,” sahut Zee. Mami melanjutkan proses menggambar. Hingga setelahnya ia mengucapkan kata wortel, apel, jeruk, dan anggur. Untung saja bukan benda-benda aneh yang ia minta untuk digambarkan. Kalau iya, Mami lambaikan tangan sajalah. Hehe.

“Terus kita buat apa lagi sekarang?” tanya Mami. Zee terlihat berpikir sejenak.

“Pisang lagi. Wortel lagi,” ujar Zee cepat. Mendengar ucapannya itu, Mami langsung punya ide untuk membuatkan worksheet sederhana buat si bocah.

“Oke. Tunggu sebentar. Kita belajar matematika sekalian yuk,” ajak Mami. Zee tidak menyahut dan memilih berjalan-jalan keliling ruang tamu, tempat kami menggambar. Akhirnya tergambarlah worksheet seperti foto di atas.

“Dek, ini wortelnya ada berapa? Yuk kita hitung yuk.” Mami memperlihatkan hasil gambar seperti foto pertama. Zee tidak menjawab. Hingga Mami memancingnya.

“Satu,” kata Mami.

“Dua, tiga, empat,” lanjut Zee. Mami bertepuk tangan.

“Terus kalau brokolinya ada berapa?” Kembali Mami bertanya.

“Dua,” jawab Zee mantap tanpa menghitung satu persatu terlebih dahulu. Tentu saja Mami kegirangan.

“Kalau wortel sama brokoli, semuanya ada berapa? Yuk kita hitung sama-sama,” kata Mami.
Kami menghitung hingga angka enam. Zee tertawa senang.

Setelah selesai dengan worksheet pertama, sebenarnya Mami ingin melanjutkan ke worksheet kedua tentang pola. Namun si bocah sudah melesat, kembali melakukan eksplorasi. Baiklah, sepertinya kami harus menunda hingga esok pagi. Tak mengapa, karena belajar adalah hal menyenangkan, jadi alangkah lebih bagus jika dilakukan dengan suka cita, tanpa paksaan. Sampai jumpa besok.

Pancar Matahari Family

Rabu, 04 April 2018

Math with Video

Rabu, 4 April 2018


Day 7

Tak terasa sudah memasuki hari ketujuh tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3. Dan Zee, semakin menunjukkan aksinya yang mengindikasikan bahwa si bocah aktif ini merupakan seorang pembelajar mandiri. Rancangan permainan Emaknya sudah tidak lagi menarik baginya. Ia dengan sendirinya mempelajari matematika dari video yang dipilihnya sendiri di youtube.

Seperti yang terjadi pagi ini. Zee yang semula menonton video salah satu film kartun, memgubah tontonannya. Lagu anak-anak mengalun.

“Dua mata saya, hidung saya satu,” ucap Zee, mengikuti nyanyian yang ada di dalam video. Terang saja hal ini langsung memancing Mami untuk sekalian mengecek kemampuannya mengenali bagian tubuh serta hitungan jumlah masing-masing bagian tersebut.

“Dek, mana mata?” tanya Mami.

“Ini,” jawab Zee cepat sambil menggerakkan tangan, menyentuh kelopak mata yang sudah tertutup sebelumnya.

“Ada berapa mata Dedek?” tanya Mami lagi.

“Dua.” Dengan mantap Zee menjawab. Mami tersenyum.

“Kalau mata kanan, yang sebelah mana tu? Coba tunjukkan sama Mami.” Mami melanjutkan pertanyaan. Zee menyentuh kelopak mata kanannya. Mami lalu menanyakan mata kiri, dan Zee melakukan hal yang sama di mata kirinya. Tentu saja Mami gembira, dan langsung bertepuk tangan. Rupanya si bocah sudah konsisten mengetahui mana kanan dan mana kiri.

Pertanyaan Mami berlanjut dengan bagian-bagian lain. Sesekali, Zee bernyanyi sambil berdiri dan menunjuk bagian tubuh sesuai nyanyiannya. Ah, rupanya tidak serumit yang kita pikirkan belajar matematika itu. Bahkan lewat video dan obrolan sederhana seperti yang kami lakukan pun sudah termasuk sebuah pembelajaran bagi Zee. Dan tidak berhenti sampai di situ, Mami juga dikejutkan dengan aksi Zee yang tiba-tiba mengubah tontonannya ke materi counting numbers. Bukan hanya menampilkan simbol angka-angka, namun digambarkan dengan buah-buahan, kue, serta sayuran, sesuai jumlah angka yang sedang disuarakan oleh narator.

Semoga Zee selalu semangat untuk belajar secara mandiri setiap hari. Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Selasa, 03 April 2018

Kue Donat Mami

Selasa, 3 April 2018


Day 6

Pada hari keenam tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3 ini, lagi-lagi Zee tidak menunjukkan minat untuk belajar konsep saat Mami menawarkan kembali aktivitas meronce yang gagal kami lakukan kemarin. Dan yang membuat Mami takjub, si bocah justru belajar secara mandiri. Mungkin memang benar, setiap anak itu merupakan seorang pembelajar yang mandiri.

Bangun tidur, seperti biasa, Zee selalu meminta pensil warna. Kali ini lengkap dengan buku gambar, tidak seperti biasanya yang hanya berbekal majalah anak-anak sebagai tempat menuangkan kreasi berupa 'benang kusut'. Awal mulanya Zee mewarnai gambar Abang sepupunya. Namun saat Mami sedang membaca buku di sampingnya, tiba-tiba Zee memanggi Mami.

“Mi, tengok Dedek ni, Mi,” ucap Zee.

“Dedek buat lingkaran,” lanjutnya. Mami jelas langsung menoleh saat ia mengatakan tentang lingkaran. Wah, si bocah rupanya sedang belajar matematika tanpa perlu Mami suruh.

“Mana lingkarannya, Dek?” tanya Mami.

“Ini, Dedek buat ni. Banyak lingkaran,” jawab Zee sambil terus menggambar bentuk bundar.

Nah, karena sudah membahas lingkaran, Mami akhirnya sengaja mengecek pengetahuan Zee terkait aplikasi bangun datar dalam keseharian.

“Kue yang bentuknya lingkaran, Dedek tahu?” Mami bertanya. Zee terlihat membuka mulut.

“Tahu. Kue donat. Kue donat Mami lingkaran.” Seketika emaknya speechles. Ini bocah cepat amat menjawabnya. Curhat kali ya karena sudah lama tidak makan donat buatan emaknya. Batin Mami.

Mami kembali menanyakan benda-benda lain di sekitar yang berbentuk lingkaran. Sekaligus bangun datar lain juga Mami tanyakan. Dan kesimpulannya, terkadang, kita sebagai orang tua terlalu berpikir rumit dan menganggap bahwa seorang anak butuh diajarkan terlebih dahulu tentang berbagai konsep matematika. Padahal, dengan mengamati dan berbekal fitrah untuk menjadi pembelajar mandiri, seringnya anak sudah tahu terlebih dahulu sebelum orang tua mengajarkannya.

Pancar Matahari Family

Senin, 02 April 2018

Velocity

Senin, 2 April 2018


Day 5

Separuh perjalanan dari jumlah minimal setoran tantangan level enam ini, Zee sepertinya sudah tidak tertarik lagi belajar konsep dengan menggunakan alat peraga maupun worksheet. Mungkin ia bosan. Ceritanya, pagi ini Mami menyiapkan bentuk-bentuk bangun datar yang terbuat dari kertas karton serta dua buah tali. Mami berencana mengajak Zee meronce sekaligus belajar shorting objects and pattern. Namun ternyata, ia cuma tertarik menyerakkan bangun-bangun datar tanpa berniat belajar lrbih lanjut. Ketika Mami bertanyapun, ia menjawab tidak. Akhirnya Mami mengalah dan membiarkan ia kembali bermain.

Alih-alih merespon ajakan Mami, Zee justru mengeluarkan mainan masak-masakan miliknya. Mulai dari sayur, buah, ikan, dan lain sebagainya. Ia juga melakukan aktivitas counting numbers saat menyusun mainannya secara berurutan. Saat tengah bermain, tiba-tiba Zee bangun dan berlari ke arah samping. Ternyata si bocah mengambil sepeda dan mulai menyalakan lagu. Saat itulah Mami tercetus untuk mengajak Zee mengenal tentang konsep kecepatan.

“Zee, kita belajar matematika yuk,” ajak Mami.

“Apa? Apa?” tanya Zee.

“Kita belajar kecepatan. Mau?” jawab Mami. Zee mengangguk, padahal entah ia paham atau tidak. haha.

“Coba Dedek kayuh sepedanya,” ujar Mami. Namun bukannya mengayuh, Zee malah berjalan dengan kaki, bukan menggerakkan pedal.

“Sekarang kayuh kencang-kencang,” lanjut Mami. Zee dengan cepat menggerakkan kaki. Hingga terdengar bunyi decit kaki beradu dengan lantai.

“Stop,” kata Mami.

“Sekarang pelan-pelan jalannya.” Mami mengarahkan Zee untuk kembali bergerak. Dan benar saja, rupanya si bocah sudah memahami tentang konsep dasar kecepatan. Ia melambatkan laju sepeda dengan menggerakkan kaki secara perlahan.

“Nah, itu tadi namanya kecepatan, Dek. Kalau Dedek jalannya cepat, berarti kecepatannya tinggi. Kalau Dedek jalankan sepedanya dengan kencang, Dedek akan cepat sampai ke belakang,” jelas Mami. Zee cuma mengamati wajah Mami, entah ia paham apa yang Mami katakan atau tidak.

“Terus kalau Dedek gerakkan sepedanya pelan-pelan, nanti Dedek lama sampainya di belakang. Paham?” tanya Mami. Dan Zee cuma mengangguk-anggukkan kepala sebelum kembali melesat dengan sepedanya plus kecepatan tinggi. Ah, dasar bocah. Selalu begitu, sudah mengerti praktik sebelum konsep.

Pancar Matahari Family

Minggu, 01 April 2018

Matching Object and Color

Minggu, 1 April 2018


Day 4

Setelah tiga hari kemarin belajar tentang hal baru, kali ini Mami juga berencana mengenalkan permainan baru. Saat Zee masih tidur di pagi hari, Mami membuat bentuk geometri sederhana, lagi-lagi hanya berkutat di empat bentuk dasar dulu, yaitu lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang. Mami menggambar bentuk benda di kertas karton, lalu mengguntingnya. Setelah itu, setiap bangun datar diwarnai dengan warna berbeda. Selanjutnya, Mami menggambar bentuk yang sama di kertas karton lain, namun tidak digunting. Terakhir, Mami membuat bentuk persegi menggunakan kertas HVS sebanyak empat buah dan mewarnainya sesuai warna bentuk geometri yang dibuat di awal.

Belum selesai aktivitas yang Mami lakukan, Zee terbangun. Ia menatap potongan-potongan kertas yang ada di dekat kepalanya. Matanya langsung cerah begitu mendapati ada crayon di sebelah kertas-kertas yang berserakan.

“Warna, Mi. Dedek mau warna,” kata Zee. Si bocah aktif itu memang akan langsung on meskipun baru bangun tidur.

“Sebentar, Mami selesaikan dulu ya potongnya. Setelah ini kita bermain sambil belajar. Belajar apa kita, Dek?” tanya Mami.

“Math,” sahut Zee cepat. Dasar bocah kecil, sudah diajar bahasa Indonesia, tetap istilah dalam bahasa Inggris yang lebih dulu nyangkut di otaknya.

Begitu Mami menyelesaikan alat tempur untuk bermain matching object and color, Zee tanpa disuruh langsung berdiri, meninggalkan kasur dengan membawa serta senjata untuk permainannya.

“Nah, letakkan di lantai dulu, Dek. Yuk kita susun ya,” ujar Mami begitu kami sampai di ruang samping.

Namun alangkah terkejutnya Mami saat hendak memberikan petunjuk permainan, ternyata Zee sudah terlebih dahulu menyelesaikan proses mencocokkan benda dengan bentuk yang sama.

“This is circle,” kata Zee sambil meletakkan lingkaran berbahan karton dengan warna oranye ke atas gambar lingkaran polos di kertas lain.

“This is triangle. Rectangle. Square,” lanjutnya sambil menyusun satu persatu benda pada tempatnya.

“Selesai! Yeaay, pintar!” pekik Zee sambil bertepuk tangan. Mami terbengong dibuatnya. Dan hanya bisa menjepret tingkah bocah lucu itu dengan kamera ponsel, lalu ikut bertepuk tangan begitu ia menatap Mami, seolah meminta Mami ikut tertawa bersamanya.

Meskipun Zee memang sudah paham konsep warna, geometri sederhana, dan materi basic lainnya, namun tak Mami sangka ia ternyata sudah paham mengenai materi asosiasi ini. Memang benar, tak seharusnya kita mendiskreditkan seorang anak dan menganggapnya tidak lebih memahami suatu hal dibanding kita, orang tuanya. Nyatanya, dengan berbekal kecerdasan bawaan, anak-anak mampu belajar secara mandiri, bahkan tanpa perlu kita mengajarkan.

“Sekarang kita main yang lain yuk. Kita susun warna yang sama. Seperti ini,” kata Mami akhirnya, mencoba mengajak Zee lanjut ke permainan matching color. Tangan Mami terulur, hendak mencontohkan kepada Zee dengan mengambil objek berbentuk lingkaran warna oranye.

“No. Jangan, Mi. Jangan. Biar Dedek. Dedek bisa. Bisa,” sahut Zee cepat sambil menahan lingkaran di tangannya. Mami membuka mulut dan mengerjap. Menanti apalagi yang akan dilakukan si bocah. Dan seperti sim salabim, hanya dalam hitungan menit, semua benda dengan warna yang sama sudah tersusun sebagaimana mestinya. Wow. Tak ada kata lagi yang mampu Mami ucapkan selain excellent buat Zee.

“Orange, blue, brown, green. Selesai. Udah, Dedek udah bisa. Main, Mi. Ambil sepeda,” ucap Zee begitu selesai dengan tugasnya. Mami masih bengong dibuatnya. Bahkan ia sudah tak mau lagi mendekat saat Mami hendak mencoba mengenalkan konsep dasar dari permainan yang baru saja kami lakukan. Ah, bocah. Tingkahmu sungguh tak terduga.

Akhirnya Mami mengalah dan membiarkan Zee sibuk dengan sepedanya. Tak mengapa menunda bahasan tentang teori, yang terpentik ia sudah bisa mempraktikkan secara mandiri. Dengan begitu, Mami tak perlu lagi mengkhawatirkan tentang perkembangan otak serta kemampuannya untuk melakukan sinkronisasi serta asosiasi terhadap dua hal yang sama. Tinggal nantinya melanjutkan permainan dengan level yang lebih sulit.

Baiklah, sampai jumpa esok pagi, semua.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 31 Maret 2018

Basic Geometry and Color Pattern

Sabtu, 31 Maret 2018


Day 3

Memasuki hari ketiga belajar matematika logis, Mami masih menyiapkan worksheet khusus, dengan tema tertentu. Mengapa hal itu diperlukan? Karena sebelum tantangan level enam ini dimulai, Zee sudah mengenal matematika dari aktivitas sehari-hari maupun benda yang ada di sekitar. Mami memang belum sekalipun mengenalkannya dengan teori matematika sederhana. Jadi kali ini, Mami memilih memulai hari-hari pertama tantangan dengan mengenalkannya teori terlebih dahulu.

Dua hari sebelumnya, kami sudah belajar sorting dan classifying objects serta counting numbers. Kali ini, giliran basic geometry dan pattern yang menjadi concern Mami. Saat Zee sedang tidur siang, Mami sudah menyiapkan worksheet yang berisi gambar berbagai macam bentuk, nama, serta crayon. Begitu Zee bangun di sore hari, ia meminta nonton video sebentar, sebelum akhirnya dengan berbinar menerima tawaran Mami untuk belajar.

“Dedek, kita belajar matematika yuk,” ajak Mami.

“Sambil main ini kita.” Mami melanjutkan ucapannya dengan mengacungkan worksheet yang ada di tangan ke arah Zee.

“Mau. Mau,” kata Zee cepat. Kamipun langsung beranjak ke ruang samping rumah.

“Ada circle!” seru Zee begitu kertas yang ada di tangan Mami berpindah ke lantai.

“Eh, pinter anak Mami,” puji Mami.

“Hari ini kita belajar apa, Dek?” tanya Mami. Zee menatap Mami, sejenak kemudian beralih memandangi kertas.

“Ini namanya geometri. Kita belajar bentuk-bentuk benda. Coba Dedek sebutkan ini apa namanya?” ujar Mami lalu dilanjutkan dengan bertanya kepada Zee.

“Circle,” jawab Zee cepat. Ia pun bertepuk tangan sambil tertawa.

“Circle apa tu bahasa Indonesianya?” Mami merasa perlu membiasakan Zee untuk menggunakan bahasa Indonesia saat sedang belajar, bukan hanya bahasa Inggris saja. Walau bagaimanapun, nantinya ia tetap akan menggunakan referensi berbahasa Indonesia juga, tidak hanya yang berbahasa Inggris saja. Jadi agar tidak terjadi kerancuan, pengenalan istilah matematika dalam bahasa Indonesia sangatlah penting.

“Lingkaran.” Dengan mantap Zee menjawab. Ya, ia memang sudah mengetahui beberapa bentuk geometri dasar.

“Kalau yang ini?” tanya Mami lagi. Zee terlihat berpikir keras.

“Tri...,” pancing Mami. Zee membuka mulut, dan menggerakkannya perlahan.

“Tri, tri, triangle?” ucap Zee sedikit ragu. Mami mengangguk sambil tersenyum. Mengonfirmasi tanpa suara.

“Kalau dalam bahasa Indonesia, apa disebutnya triangle tu?” tanya Mami.

“Segi, segitiga!” pekik Zee. Mami bertepuk tangan dan tersenyum lebar.

“Yeay, pintar,” ucap Zee senang.

“Ini square,” lanjut Zee sambil menunjuk gambar di bawah segitiga sebelum Mami bertanya.

“Square apa bahasa Indonesianya, Dek?” tanya Mami. Zee menatap Mami. Sepertinya, ia memang belum tahu atau mungkin saja masih susah mengingat tentang square ini.

“Square itu bahasa Indonesianya persegi. Atau bisa juga disebut bujur sangkar,” jelas Mami.

“Apa tu, Dek? Perse...,” Mami bertanya kepada Zee.

“Persegi. Bujur, bujur?” Zee mengulang ucapan Mami.

“Bujur sangkar,” sahut Mami cepat.

“Bujur sangkar,” ulang Zee.

“Nah, kalau yang ini, apa namanya, Dek?” Mami kembali mengajak Zee fokus.

“Rectangle.” Zee tanpa ragu menjawab. Mami bertepuk tangan.

“Rectangle itu bahasa Indonesianya persegi panjang,” kata Mami.

“Persegi panjang,” ulang Zee cepat.

Setelah selesai dengan konsep geometri dasar, kami melanjutkan dengan permainan pola. Kali ini, tetap menggunakan worksheet yang sama dengan sebelumnya. Dan pola yang Mami pilih adalah pola perubahan warna, karena Zee merupakan anak yang selalu terlihat tertarik dengan warna.

“Dek, lihat ini. Kita main tebak-tebakan yuk,” ajak Mami. Zee yang sebelumnya sudah berjalan ke arah tempat sepedanya terparkir, kembali lagi mendekati Mami.

“Lingkaran ini warna apa, Dek?” tanya Mami.

“Blue.” Lagi-lagi Zee menjawab dengan bahasa Inggris.

“Terus kalau yang ini?” tanya Mami lagi.

“Orange!” pekik Zee. Mami bertanya lagi untuk warna lingkaran setelahnya. Ada lima lingkaran yang sudah Mami beri warna, dan berakhir di warna biru.

“Nah, kalau lingkaran yang terakhir ini, warna apa, Dek?” Mami menunjuk lingkaran yang masih polos.

“White?” tanya Zee. Mami mengangguk.

“Terus, dia harus diberi warna apa dong?” Zee tampak memikirkan pertanyaan Mami.

“Kita ulangi lagi ya. Lihat ini, Dek. Ini namanya pola. Pola perubahan warna,” kata Mami menjelaskan, lalu memberikan jeda sejenak agar Zee mencerna perkataan Mami. Entah ia paham atau tidak, just she knows. Hehe.

“Ini warna biru. Terus oranye. Terus biru lagi. Lalu oranye. Nah, lingkaran ini warna biru lagi. Jadi habis biru itu warna oranye,” jelas Mami. Zee menatap Mami dan worksheet di hadapannya bergantian.

“Habis warna biru, warna apa ini, Dek?” tanya Mami.

“Orange!” Zee memekik kencang. Mami memujinya sambil bertepuk tangan.

“Berarti lingkaran white ini, kita kasih warna apa tu? Habis biru kan,” ucap Mami.

“Orange?” Zee bertanya dengan suara pelan, seolah ragu. Mami sontak tersenyum dan bertepuk tangan.

“Horaay, you're right.” Mami memuji Zee. Ia tersenyum lebar juga hingga kelihatan gigi putihnya.

Setelahnya, kami meneruskan permainan pola untuk beberapa bentuk geometri setelah lingkaran. Meskipun sesekali Zee masih perlu diberika arahan, namun secara garis besar ia sudah cukup memahami tentang aturan permainan yang kami lakukan hari ini. Zee juga belajar mewarnai sekaligus. Selain matematika, unsur art juga dipelajarinya sekaligus.

Nah, ada satu hal yang membuat Mami takjub pada si bocah. Anggap saja sebagai bonus dari pelajaran kami hari ini. Tanpa diduga, Zee melakukan sesuatu yang membuat Mami terkejut. Ia mengumpulkan crayon yang semula digunakan untuk mewarnai, lalu tiba-tiba meletakkan crayon sesuai warna bangun datar yang ada di worksheet.

“This is orange. Where is it? Where is it?” ucap Zee sambil mengangkat crayon warna orange.

“This is it. This is orange. Yeaay,” lanjut Zee sambil menunjuk lingkaran berwarna oranye. Setelah bertepuk tangan, ia meletakkan crayon di atas gambar lingkaran berwarna oranye. Beberapa menit selanjutnya, ia melakukan hal yang sama untuk warna-warna lain, sehingga semua gambar geometri tertutup dengan crayon.

Mami menatap Zee dengan bangga. Memang benar adanya, pada dasarnya, anak itu terlahir cerdas. Zee bahkan belum pernah belajar mencocokkan warna sebelumnya. Namun hari ini, dengan inisiatifnya sendiri, ia belajar sebuah hal baru. Bahkan ia berbicara menggunakan bahasa Inggris yang agak panjang, padahal biasanya Zee hanya menyebutkan kosakata-kosakata saja, bukan kalimat. Tetap semangat, Zee. Besok kita belajar hal baru lagi lho.

Pancar Matahari Family

Jumat, 30 Maret 2018

Counting Numbers

Jumat, 30 Maret 2018



Day 2

Setelah hari pertama tantangan level 6 kemarin Zee belajar sorting and classifying objects, hari ini ia belajar sambil mandi. Iya, si bocah ini memang saat mandi sangat suka membawa barang-barang untuk dimainkan. Salah satu yang ia suka adalah bermain botol sabun dan shampoo. Biasanya, Zee meminta Mami mengisi ember dengan air, lalu ia akan memasukkan mainannya ke dalam air. Bergantian dengan aktivitas menyusun satu persatu mainan tersebut di lantai kamar mandi.

Pagi ini, ia melakukan hal yang sama. Saat Mami mulai menyiram badannya dengan air, ia pun secara bersamaan menyusun botol shampoo dan sabun di lantai. Susunannya berurutan seperti gambar di atas. Namun karena sedang mandi, jadi tidak ada dokumentasi live. Foto di atas Mami ambil setelahnya sebagai ilustrasi saja.

“Dedek susun apa tu?” tanya Mami.

“Sabun harum,” jawab Zee sambil tersenyum. Ia mulai menyusun botol di depannya.

“Sabun Dedek ada berapa?” Mami mulai memancing untuk mengarahkan Zee memahami tentang basic counting numbers. Biasanya, Zee akan menebak jumlah benda sekehendak hati. Namun semenjak usianya dua tahun lima bulan, Mami secara perlahan membantunya mengenal konsep menghitung benda. Hari ini, ia juga melakukan apa yang sudah Mami ajarkan kepadanya.

“One...,” ucap Zee ragu-ragu. Ia hendak melanjutkan hitungan, namun dengan cepat Mami mengoreksi perkataannya.

“Pakai bahasa Indonesia, Dek,” sahut Mami cepat. Karena kali ini kami akan belajar counting sekaligus menyisipkan sedikit penjumlahan dan pengurangan sederhana, maka penggunaan bahasa Indonesia tentu saja akan lebih membantu. Zee memandang Mami.

“Satu, dua,” kata Zee. Ia tidak menurunkan intonasi, karena sepertinya sedikit ragu, apakah harus berhenti di angka dua atau tidak. Padahal sambil menghitung, ia juga menunjuk botol sabun. Untuk membantunya agar tidak kebingungan, Mami mengangguk dan tersenyum.

“Betul tu.” Mami bertepuk tangan.

“Jadi, sabun Dedek ada berapa?” tanya Mami. Zee menatap Mami sebentar.

“Du, dua?” Kalimat tanya yang keluar dari mulutnya, bukan jawaban pasti. Sekali lagi Mami mengangguk. Ia kini yang bertepuk tangan.

“Sekarang susun shampoonya. Sambil dihitung ya,” kata Mami. Zee dengan cepat mengeluarkan satu persatu botol shampoo dari dalam ember.

“One,” ucap Zee. Mami menggeleng, memberi isyarat tanpa kata agar ia tidak menggunakan bahasa Inggris.

“Satu, dua, tiga?” sahut Zee. Mami mengangguk. Botol sabun dan shampoo tersusun rapi.

“Jadi ada berapa botol shampoo Dedek?” tanya Mami.

“Tiga.” Kali ini ia menjawab dengan mantap.

“Kalau sabun dan shampoo, ada berapa?” tanya Mami. Ia menatap Mami dengan pandangan bertanya.

“Yuk, kita hitung semua.” Mami mengajak Zee menghitung, sambil menunjuk satu persatu botol.

“Satu, dua,” ucap Mami. Dan otomatis Zee meneruskan ucapan Mami sampai semua botol habis ditunjuk.

“Jadi, ada semua botol Dedek?” Mami bertanya ulang.

“Lima?” tanya Zee. Mami mengangguk.

“Betul. Botol sabun ada dua. Ditambah shampoo tiga. Jumlahnya jadi lima deh. Paham Dedek?” Mami menjelaskan dengan bahasa sederhana, entah dimengerti oleh bocah seumur Zee entah tidak. Haha.

“Nah, kalau shampoonya Dedek ambil, botolnya sisa berapa, Dek?” Setelah konsep penjumlahan, kali ini Mami sedikit mengenalkan pengurangan.

“Ambil botol shampoonya,” lanjut Mami. Zee mengikuti petunjuk Mami.

“Tadi ada berapa botol shampoonya?” Mami mengulang pertanyaan counting numbers yang kami lakukan sebelumnya. Ia menatap botol shampoo yang sudah berpindah tempat ke dalam ember.

“Tiga?” tanya Zee. Mami mengangguk.

“Terus sekarang botol sabun yang Dedek susun tu ada berapa?” Mami bertanya dengan cepat. Zee memandang botol sabun, bergantian dengan shampoo di dalam air.

“Dua.” Dengan cepat Zee menjawab.

“Betul. Yeaay. Jumlah botol sabun dan shampoo Dedek semuanya kan ada lima. Terus Dedek ambil botol shampoonya aja, tiga. Sisanya botol sabun kan, ada dua,” ujar Mami. Zee terlihat berpikir.

“Jadi, lima dikurang tiga, hasilnya dua,” lanjut Mami. Zee bertepuk tangan. Entah dia mengerti atau tidak, namun yang penting, hari ini si bocah happy karena bisa bermain sambil mandi sekaligus belajar matematika. Besok kita belajar yang lain lagi ya, Zee. Tetap semangat.

Pancar Matahari Family

Kamis, 29 Maret 2018

Sorting and Classifying Objects

Kamis, 29 Maret 2018


Day 1

Wah, tak terasa hampir setengah perjalanan terlewati di kelas Bunda Sayang Batch #3. Hari ini, game level 6 resmi dimulai, hingga 10 sampai 17 hari ke depan. Mudah-mudahan bisa konsisten melaporkan kegiatan Zee.

Setelah materi tentang literasi dan bahasa di sesi lima kemarin, kali ini giliran matematika logis yang jadi concern. Ya, bahasa dan matematika logis memang dua hal yang sangat krusial dan harus dikuasai anak sebagai modal untuk bertahan hidup, agar ia bisa memecahkan permasalahan yang bisa menghampiri kapan saja.

Hari ini, secara tidak direncanakan, Zee belajar memisahkan benda berdasarkan ukuran, atau dalam istilah matematika biasa disebut sorting and classifying objects. Hal ini tercetus saat si bocah sibuk bermain abjad, angka, dan puzzle plastik miliknya.

“Mi, Dedek mau buat tempat tidur Dedek bayi ni,” kata Zee. Mami yang semula tengah sibuk menata baju, langsung menoleh dan mendapati bocah aktif itu sedang berusaha keras merangkai puzzle. Di hadapannya puzzle berbagai warna dan ukuran berserak. Dan tercetuslah ide untuk mengajaknya belajar matematika sejenak.

“Zee, main dulu kita yuk. Sambil belajar. Mau?” tanya Mami. Zee terlihat berpikir sambil menatap Mami.

“Mau main sama Mami?” ulang Mami sambil tersenyum.

“Mau. Main. Main kita,” jawab Zee dengan riang.

“Puzzle Dedek ada banyak kan tu,” ucap Mami. Zee melihat tumpukan benda plastik aneka warna di depannya.

“Mana yang panjang, Dek?” Mami mulai memberikan pertanyaan pancingan. Zee memilah puzzle.

“Ini?” tanya Zee. Sebelah tangannya mengangkat puzzle panjang warna biru. Mami tersenyum lebar dan bertepuk tangan.

“That's right. You're smart,” puji Mami.

“Yeaay, pintar!” pekik Zee sembari bertepuk tangan. Biasanya setelah Mami memberikan pujian, ia memang akan ikut berteriak kegirangan. Mami sengaja membiarkan hal tersebut untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya, bukan mengajarinya menjadi orang narsis.

“Terus mana yang pendek?” tanya Mami lagi. Dan dengan cepat Zee mengambil puzzle pendek warna kuning sambil diacungkan ke arah Mami. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Mami sekali lagi memberinya pujian.

“Nah, kita main yuk sekarang. Dedek kan udah tahu tuh mana puzzle panjang, mana puzzle pendek. Yuk kita pisahkan ya, seperti ini,” ucap Mami. Zee diam sambil mengamati mimik muka Mami. Sesekali ia menatap tangan Mami yang bergerak hendak mengambil puzzle.

“Puzzle panjang kita letakkan di sini. Puzzle pendek di sini. Sekarang Dedek ambil puzzle panjang. Hayoo, yang mana puzzle panjang?” Mami kembali memberinya challenge. Ia memilih puzzle di depannya. Dan pilihannya jatuh pada puzzle panjang warna pink.

“Ini!” pekik Zee.

“Betul. Puzzle panjang, kita letakkan di dekat temannya. Yang sama panjangnya. Yang mana tuh?” tanya Mami sambil menunjuk dua tempat puzzle berbeda ukuran yang sebelumnya kami letakkan.

“Ini. Di sini, Mi,” ujar Zee setelah mengamati beberapa saat.

“Eh, pinter anak Mami. Yuk, sekarang puzzle pink yang Dedek pegang tu letakkan deket temannya,” sahut Mami. Dengan cekatan Zee meletakkan benda yang sebelumnya ada di tangannya.

“Puzzle panjang udah. Sekarang giliran puzzle pendek. Yang mana puzzle pendek? Tunjukkan sama Mami,” kata Mami sambil menunjuk tempat puzzle yang masih bercampur ukuran panjang dan pendek. Zee mengaduk-aduk, dan menarik puzzle pendek berlubang warna kuning.

“Ini.” Zee menemukan pilihannya.

“Di mana kita letakkan puzzle pendek tu?” Mami menguji ingatan Zee dan penangkapan otaknya akan penjelasan Mami sebelumnya. Ia tampak berpikir. Dan ragu-ragu ia hendak menjatuhkan puzzle di tangannya ke dekat tempat puzzle panjang berada. Tidak langsung dijatuhkan begitu saja, ia melirik Mami dan mengamati wajah Mami. Mungkin karena ia melihat Mami memberikan isyarat bahwa yang ia lakukan itu belum betul, keragu-raguan makin merayapinya.

“Di sini?” Dengan suara pelan Zee bertanya. Mami tersenyum.

“No. Ini kan tempat puzzle panjang. Yang Dedek pegang itu puzzle apa?” tanya Mami.

“Pendek ni,” jawab Zee.

“Nah, kalau puzzle pendek, temannya puzzle apa?” tanya Mami lagi.

“Puzzle pendek,” sahut Zee mantap.

“Tuh kan tahu Dedeknya. Jadi, di mana kita letakkan puzzle pendek itu?” Mami menunjuk puzzle di tangan mungilnya. Ia kembali menatap dua gundukan puzzle di depannya. Panjang dan pendek yang terpisah jarak sekitar sejengkal jari tangan.

“Di sini?” tanya Zee menunjuk tempat puzzle pendek. Mami bertepuk tangan dan mengatakan bahwa jawaban Zee benar. Ia langsung menjatuhkan puzzle di tempatnya.

“Yuk, sekarang kita pisahkan puzzle itu ke dekat teman-temannya yuk,” ajak Mami.

“Dedek ambil puzzle panjang ya,” ujar Mami. Zee dengan cepat menyodorkan puzzle panjang warna biru ke hadapan Mami.

“Di mana kita letakkan puzzle itu?” Mami bertanya dengan semangat.

“Di sini!” pekik Zee sambil menunjuk tempat puzzle panjang berada.

“Dedek cari lagi ya puzzle panjang. Cari sampai habis, letakkan di dekat temannya ya,” kata Mami. Zee dengan bersemangat mengerjakan permintaan Mami.

“Habis, Mi,” kata Zee setelah tak tersisa lagi puzzle panjang.

“Nah, sekarang puzzle pendek lagi. Letakkan di dekat temannya. Ayo cepet. Cepet.” Mami memberikan tepukan penyemangat. Zee dengan tak kalah cepat langsung memindahkan puzzle pendek yang berserak ke dekat tempat puzzle pendek yang sudah tersusun sebelumnya.

“Yeeaay! Pintar. Udah selesai kita, Mi,” kata Zee riang. Mami bertepuk tangan. Tak menyangka juga ternyata si bocah yang biasanya tidak mau fokus ke satu hal, mau sejenak berkonsentrasi dengan permainan sederhana yang tidak direncanakan sebelumnya.

Besok-besok kita ciptakan permainan simple lagi ya, Zee. Tak perlu yang ribet, karena matematika itu tak harus rumit kok. Let's love math everywhere, kids.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...