Tampilkan postingan dengan label Sekolah Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah Kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2018

Learn Math with Graphic

Kamis, 5 April 2018



Day 8

Hari kedelapan ini, Zee meminta Mami untuk membuatkan gambar. Dengan bersemangat, ia menyalakan laptop sendiri.

“Mi, buatkan gambar,” kata Zee setelah laptop menyala. Sebelumnya Mami menawarinya menonton video seperti yang biasa dilakukannya. Namun rupanya kali ini ia tak mau.

“Gambar apa?” tanya Mami.

“Gambar brokoli,” jawab Zee. Biasanya, kami membuat gambar dengan pensil warna atau crayon di atas buku gambar. Tetapi karena beberapa bulan ini Zee sering melihat Papi menggambar dengan laptop untuk ilustrasi buku anak, sepertinya ia jadi ingin melakukan hal yang sama.

“Oke. Tungguin bentar ya, biar Mami gambarkan. Dedek duduk di sini.” Mami menunjuk lantai di depan meja laptop.

“Udah ni, Dek,” ucap Mami setelah beberapa menit. Zee mengamati layar. Sampai di sini Mami belum terpikir untuk mengajak Zee belajar matematika sekalian.

“Gambar pisang lagi,” sahut Zee. Mami melanjutkan proses menggambar. Hingga setelahnya ia mengucapkan kata wortel, apel, jeruk, dan anggur. Untung saja bukan benda-benda aneh yang ia minta untuk digambarkan. Kalau iya, Mami lambaikan tangan sajalah. Hehe.

“Terus kita buat apa lagi sekarang?” tanya Mami. Zee terlihat berpikir sejenak.

“Pisang lagi. Wortel lagi,” ujar Zee cepat. Mendengar ucapannya itu, Mami langsung punya ide untuk membuatkan worksheet sederhana buat si bocah.

“Oke. Tunggu sebentar. Kita belajar matematika sekalian yuk,” ajak Mami. Zee tidak menyahut dan memilih berjalan-jalan keliling ruang tamu, tempat kami menggambar. Akhirnya tergambarlah worksheet seperti foto di atas.

“Dek, ini wortelnya ada berapa? Yuk kita hitung yuk.” Mami memperlihatkan hasil gambar seperti foto pertama. Zee tidak menjawab. Hingga Mami memancingnya.

“Satu,” kata Mami.

“Dua, tiga, empat,” lanjut Zee. Mami bertepuk tangan.

“Terus kalau brokolinya ada berapa?” Kembali Mami bertanya.

“Dua,” jawab Zee mantap tanpa menghitung satu persatu terlebih dahulu. Tentu saja Mami kegirangan.

“Kalau wortel sama brokoli, semuanya ada berapa? Yuk kita hitung sama-sama,” kata Mami.
Kami menghitung hingga angka enam. Zee tertawa senang.

Setelah selesai dengan worksheet pertama, sebenarnya Mami ingin melanjutkan ke worksheet kedua tentang pola. Namun si bocah sudah melesat, kembali melakukan eksplorasi. Baiklah, sepertinya kami harus menunda hingga esok pagi. Tak mengapa, karena belajar adalah hal menyenangkan, jadi alangkah lebih bagus jika dilakukan dengan suka cita, tanpa paksaan. Sampai jumpa besok.

Pancar Matahari Family

Rabu, 21 Februari 2018

2 + 2

Salah satu kebiasaan Zee menjelang tidur adalah minta dibacakan buku cerita. Biasanya, Papi yang melakukannya, namun semalam ia memilih membaca bersama Mami karena melihat Papi sibuk di depan laptop.

Seperti biasa pula, ia tidak akan serta merta diam mendengarkan suara Emaknya sambil berbaring. Yang terjadi adalah mulut kecilnya itu sibuk berceloteh, melebihi jumlah kata yang tertulis dalam buku.

Hingga sampailah kami di suatu kalimat yang menceritakan tentang seorang anak sedang duduk di bangku kayu, mendengarkan penjelasan gurunya di depan kelas. Di situ terdapat gambar papan tulis dengan angka 2 + 2 tercetak jelas.

“Ini gambar apa, Mi?” tanya Zee.

“Itu gambar papan tulis. Abangnya sedang belajar penjumlahan.” Mami menjelaskan.

“Apa tu?” Si bocah rupanya belum mengerti maksud kalimat Mami.

“Penjumlahan itu tambah tambah. Lihat tu, angka berapa yang digambar tu?” Mami mulai  menjelaskan dengan memakai bahasa ala-ala.

“Angka two,” jawab Zee. Si bocah ini memang sering memakai bahasa Inggris ketika menyebut angka dan huruf.

“Kalau bahasa Indonesianya angka two apa?” Dan Mami harus rajin membuatnya paham terjemahan dari kata yang diucapkannya dalam bahasa Inggris tersebut.

“Dua.” Zee memang sudah bisa menyebut angka menggunakan bahasa Indonesia, meskipun sangat jarang ia lakukan.

“Nah, tambah tambah itu kayak yang kita lihat itu. Dua ditambah dua,” kata Mami sembari menggerakkan jari tangan, menunjukkan dua jari terlebih dahulu kemudian dua lainnya menyusul hingga berjumlah empat.

“Nanti kalau sudah besar, Dedek belajar tambah tambah ya. Mau?” Penjelasan cukup sampai di sini. Si bocah terlihat berpikir saat mendengar pertanyaan Mami.

“Dedeknya mau tumbuk aja. Tumbuk cabe,” ucap Zee. Emaknya pun melongo. Apa hubungannya coba??

“Dedek nggak mau belajar tambah tambah, mau tumbuk cabe aja,” lanjut Zee. Dan seketika Emaknya pun tertawa. Eh dasar bocah, kalau ada guru matematika dengar, bisa gawat nih.

Namun begitulah Zee, ia justru tersenyum dan bercerita jika suka menumbuk cabai. Aih, masa iya si kecil ini lebih tertarik sama bawang, merica, dan bumbu dapur lainnya sih? But, it's ok, Zee. Emakmu ini tidak akan memaksamu menyukai angka kok. Toh lewat cabai, bawang, dan sebagainya pun bisa belajar menghitung.

Mungkin begitulah anak-anak. Adakalanya ia bisa menyuarakan sesuatu yang tidak disukainya, adakalanya ia hanya memilih diam. Tetapi berhati-hatilah, karena diam belum tentu tanda ia menyukai suatu aktivitas. Bisa jadi, karena si bocah merasa tidak mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan suara hatinya.

Tetaplah menyukai menumbuk cabai ya, Zee. Karena Emakmu ini tidak akan mengungkung dirimu dengan angka-angka dan kerumitan lainnya. Emakmu tidak akan membuatmu melepas kesenangan hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Karena sejatinya, belajar bisa dilakukan dalam semua aktivitas yang kita lakukan.

#ceritazenitha
#2y4m
#homeeducation
#fitrahbelajardanbernalar
#passion
#status_inspirasi
#rumbel_menulis_ip_pekanbaru

Kamis, 15 Februari 2018

Lingkaran Kecil dan Mami Finger

Kamis, 15 Februari 2018



Day 15

Hari ini genap lima belas kali Mami mengamati gaya belajar Zee. Dan seperti biasa ia juga belum menunjukkan satu gaya yang dominan.

Malam ini Zee yang diajak tidur langsung menolak. Ia malah sibuk mengambil crayon dan mainan huruf dan angka dari plastik. Zee memilih salah satu crayon dan mencoret papan tulis kecil di kamar.

“Mi, lihat Dedek, Mi,” ujar Zee. Mami menoleh.

“Dedeknya gambar, Mi,” lanjut Zee.

“Gambar apa Dedek tu?” tanya Mami.

“Gambar lingkaran ni. Lingkaran kecil,” jawab Zee cepat.

“Mami gambarkan buku,” pinta Zee. Tanpa banyak kata, Mami mengikuti permintaan bocah aktif ini. Ia memerhatikan Mami, lalu bertepuk tangan saat Mami menyelesaikan goresan crayon di atas papan tulis.

Mami pikir Zee akan bertahan lama bermain crayon dan menggambar. Rupanya dugaan Mami meleset. Tiba-tiba saja Zee yang semula sibuk dengan crayon di tangan, meninggalkan sisi papan tulis dan bergeser ke arah kasur.

“Brown color. Yellow color. Blue color,” ucap Zee sambil menyusun crayon dan menatanya ke dalam tempat.

“Mi, Mami nyanyikan lagu Mami finger. Gimana tu, Mi?” Nah, dari visual, kinestetik, tiba-tiba ia memerlukan unsur auditory saat sedang belajar. Mami mengikuti permintaan Zee dan ditirukan langsung olehnya setiap kata dari lirik lagu yang Mami nyanyikan. Ah, dasar bocah. Belajar kok gayanya loncat-loncat begitu.

Pancar Matahari Family

Senin, 27 November 2017

Cerita Zenitha Part 7

Kamis, 5 Oktober 2017



Jika ada yang bilang batita hanya bisa mengganggu pekerjaan orang tuanya, mungkin yang berkata seperti itu belum peka dan mengamati dengan teliti setiap aktivitas yang dilakukan oleh anaknya. Kadangkala, batita juga bisa melakukan kebaikan, misalnya dengan membantu pekerjaan yang tengah dilakukan oleh orang tua. Seperti yang dilakukan Zee pagi ini.

Setelah mami selesai dengan pekerjaan dapur pagi-pagi sekali, mami menunggu Zee bangun. Kebetulan pagi ini waktunya mengganti sprei. Mami berkata kepada Zee agar ia main dulu di luar kamar. Zee pun mengambil beberapa mainan, kemudian berlalu meninggalkan mami yang sibuk di dalam kamar.

“Dedek bantu.” Saat mami tengah memasang sprei baru, tiba-tiba Zee datang dan membantu mami menarik sprei yang belum sepenuhnya menutupi kasur. Dan semua itu dilakukan sambil tersenyum.

“Dedek bantu Mami? Anak pinter,” puji mami. Zee tersenyum sambil tepuk tangan.

Setelah urusan sprei selesai, mami mengajak Zee mandi. Bukan Zee namanya kalau tidak bisa berinisiatif mencari sumber permainan. Saat mandi sekalipun, ia menggunakan sikat gigi untuk pura-pura memancing.

“Dedek mancing kodok. Dedek main kuda nil.” Zee menyebutkan satu persatu mainan hewan-hewanan dari karet dengan sebelah tangannya memegang sikat gigi, memasukkannya ke dalam ember bulat berisi air.

Selesai mandi, permainan berganti. Ia sibuk dengan mainan masak-masakannya sambil membawa boneka. Didudukkannya boneka berwarna pink tepat di sebelahnya.

“Neka mau mamam?” Zee bertanya kepada boneka.

“Dedek suap neka.” Tangan kanannya menggerakkan sendok plastik berwarna kuning ke depan mulut boneka.

“Nyam, nyam, nyam. Sedapnye.” Mami tersenyum mendengar perkataan Zee. Selain menyanyi, pretend play memang saat ini menjadi permainan favoritnya.

Aktivitas hari ini diakhiri dengan bermain ayunan bersama papi, tepat saat papi baru pulang kerja. Zee melihat kucing di atas atap, menikmati angin sore, sambil melafalkan asmaul husna serta surat al fatihah. Ia memang sudah menghafal setiap ayat surat al fatihah, meskipun belum sempurna pelafalannya. Tidak masalah bagi mami maupun papi. Karena yang terpenting bagi kami, Zee mencintai Allah, menerima kebaikan-kebaikan dalam setiap ajaran agama dengan bersuka cita. Mempelajari syariat dan yang lain tentu saja ada waktunya nanti, setelah fitrah kecintaan terhadap Allah tumbuh dengan paripurna. Semoga kamu menjadi anak sholehah ya, Zee.

Pancar Matahari Family

Cerita Zenitha Part 6

Rabu, 4 Oktober 2017



Semasa Zee bayi, mami sudah membiasakannya untuk membaca buku. Dimulai sejak ia berusia sembilan bulan. Berbagai macam buku mami berikan, dan ia bisa membacanya kapanpun, tidak mengenal waktu. Kadang di tengah malam buta, saat mami dan papi sudah sangat mengantuk, ia bisa merengek minta dibacakan buku. Tetapi ternyata fase duduk diam sambil membaca buku itu berhenti saat usianya mendekati dua puluh bulan. Awalnya mami merasa sedih karena berpikir kecintaan Zee terhadap buku menghilang begitu saja. Namun lama kelamaan, saat mami mengamati perkembangan Zee, mami menyimpulkan, mungkin memang ada fase-fase di mana anak akan lebih menyukai aktivitas yang dinamis, dibanding statis.

Saat ini, Zee lebih suka bermain dengan berbagai macam jenis permainan. Dan kecintaannya akan buku masih tetap sama, hanya intensitas membaca hariannya saja yang jauh berkurang. Ia masih melihat buku dan membaca ala Zee dengan mata berbinar-binar.

Siang ini, saat mami tengah sibuk di dapur, Zee bermain dengan mainan alfabetnya. Bukan disusun, tetapi diserak kemana-mana. Di ruang tengah, di kamar, bahkan di dapur. Kemudian ia berlari-lari sambil sesekali menyanyi. Lalu tiba-tiba terdengar suaranya dari arah ruang tengah.

“Astaghfirullahalazim. Dedek jatuh.” Mami langsung setengah berlari dari arah dapur, dan mendapati Zee tertawa. Ah, rupanya ia tengah bermain. Mamipun tersenyum, dan belum membetulkan fungsi kalimat istighfar yang ia ucapkan. Biarlah nanti ada saatnya ia mendapatkan penjelasan. Yang terpenting sekarang ia mengenal Allah dulu.

Sore harinya begitu papi pulang, ia minta menggambar. Dan tidak tanggung-tanggung, tanpa takut, ia naik ke atas kursi, lalu dengan bersusah payah merangkak ke atas meja.

“Buat panda, Pi.” Zee merengek kepada papi. Dan papipun menuruti permintaan Zee. Dilanjutkan dengan membuat gambar awan, dan lain sebagainya.

Malam harinya, saat ia tengah menonton video di youtube, tiba-tiba langsung menghampiri papi yang tengah menggambar menggunakan laptop.

“Dedek mau ketik.” Sepertinya laptop memang selalu lebih menarik bagi Zee dibandingkan smartphone.

“Tunggu, biar Mami buka dulu ni.” Mami membuka microsoft word, dan mengatur huruf dengan ukuran besar serta berlainan warna.

“Sini, Dedek ketik sini.” Mami berkata kepada Zee. Dan dengan cepat, tangan kecilnya menari-nari tanpa beraturan di atas keyboard.

“Dek, ini warna apa?” tanya mami.

“Pink.” Dengan cepat Zee menjawab.

“No.” Mami menyahut. Karena memang yang dilihatnya bukan warna pink. Wajar saja jika ia masih salah dalam mengenali warna, dan mami tidak akan memaksanya untuk segera bisa.

“Red.” Setelah berpikir lama, akhirnya Zee bisa menyebutkan warna yang salah tadi.

“Ini warna blue. Ini yellow. Ini black.” Satu persatu warna ia sebutkan dengan benar.

“Pintar Dedek. Tepuk tangan.” Mami tersenyum dan bertepuk tangan. Betapa pujian adalah yang sangat penting bagi anak seusia Zee.

“Dedek nggak mau ketik lagi, Mi. Dedek mau gambar.” Zee memang gampang bosan dengan satu aktivitas saja.

“Ya udah, sama papi aja.” Mami berkata. Akhirnya papi membuka corel draw.

“Sini, Dedek gambar balon.” Kata papi.

“Ini apa namanya?” Zee bertanya sambil menunjuk layar.

“Corel.” Jawab mami.

“Kolek.” Sambil meringis ia menirukan ucapan mami.

“Kolek.” Diulanginya lagi. Sontak mami dan papi tertawa.

“Bukan kolek. Corel.” Mami membetulkan.

“Kolel.” Zee mengikuti sambil melihat gerakan bibir mami.

“Pintar.” Kata mami.

Aktivitas Zee malam ini berakhir hingga pukul dua belas. Mami dan papi bersyukur karena Zee tertarik dengan banyak hal. Dan kehadiran teknologi menurut kami tidak harus dihindari dengan ekstrim. Asalkan penggunaannya tepat dan memberikan manfaat positif, tidak ada salahnya dijadikan sebagai alat dan media pembelajaran. Seperti yang Zee lakukan, ia belajar tentang sopan santun dan adab terhadap orang yang lebih tua, harus menghabiskan makanan agar tidak mubazir, menyayangi teman, itu semua lewat video animasi Omar dan Hana yang ia tonton lewat youtube. Dunia yang terus berubah tidak bisa kita hindari. Yang harus kita lakukan adalah ikut bergerak dinamis agar tidak tergerus zaman. Happy learning and exploring, Zee.

Pancar Matahari Family

Cerita Zenitha Part 5

Selasa, 3 Oktober 2017



Hari ini merupakan hari spesial bagi kami. Setelah melewatkan momen ulang tahun Zee yang kedua tanggal 28 September kemarin, hari ini kami melakukan sesuatu sebagai rasa syukur kami atas bertambahnya usia Zee. Pagi-pagi mami sibuk di dapur, memasak nasi kuning dan teman-temannya. Bukan untuk sebuah perayaan, tetapi untuk kami makan sekeluarga. Zee bermain di belakang menunggu mami selesai masak. Mulai dari bermain lilin bersama papi, hingga main doh dan crayon.

Pukul 09.30, mami selesai masak. Kamipun makan bersama setelah sebelumnya berdoa kepada Allah, memohon semua kebaikan untuk Zee.

“Makan, Dek.” Papi mengajak Zee yang sibuk dengan mainannya untuk makan. Ia menggeleng.

“Zee, lihat nih nasi mami. Warna apa nasinya?” Mami memancing rasa ingin tahu Zee. Dan betul saja, ia langsung menoleh, melihat nasi dalam piring mami.

“Yellow. Nasi yellow.” Zee berkata nyaring. Mami tertawa.

“Namanya nasi kuning. Bukan nasi yellow.” Mami membetulkan. Sepertinya Zee memang suka berbicara dengan kosakata campuran seperti itu.

Setelah makan, Zee kembali bermain. Papi pun pergi ke kantor. Dan seperti biasa, kamar adalah ruangan favoritnya untuk membongkar semua mainannya dan membuatnya berserakan.

“Ibu pergi dulu ya, Bu.” Kata Zee sambil memasukkan mainan ke dalam tas plastik kecil. Ia memang paling suka aktivitas pretend play, dan menyebut dirinya 'ibu'. Udah merasa ibu-ibu kali ya. Setelah selesai memasukkan mainan ke dalam tas, ia melenggang keluar kamar sambil menenteng tas di tangan.

“Udah. Dedeknya udah pergi.” Zee kembali masuk ke dalam kamar. 

“Mau main apa lagi?” Mami bertanya. Zee mengambil kotak obat dari mainan dokter-dokteran. Lalu tanpa mami duga, ia juga mengambil kerincingan berbentuk ikan, mainannya waktu masih bayi.

“Dedek nyanyi ya, Mi.” Zee berteriak. Dan belum sempat mami menjawab, ia sudah berlari keliling-keliling kamar, naik turun kasur, sambil berdendang.

“Twinkle twinkle little star, how i wonder what you are.” Dengan pelafalan yang belum terlalu jelas, Zee menyanyikan lagu Twinkle Twinkle sambil memainkan kerincingan dan bergerak ke sana kemari. Mami hanya mengamati sambil sesekali ikut bernyanyi dan bertepuk tangan.

Puas bernyanyi, ia pun lanjut bermain doh. Dicetaknya bentuk kupu-kupu, bebek, gajah, dan orang-orangan (ia sebut superman), lalu dimasukkan ke dalam kotak doh.

“Dedek masak, Mi.” Dengan cekatan tangannya memotong-motong aneka bentuk yang sudah dicetak, lalu dimasukkan kembali ke dalam kotak doh.

“Dedek kasih saos, Mi.” Sambil pura-pura menuang sesuatu dari botol shampo yang sudah kosong.

“Suap Mami.” Akhirnya ia pun menyendok potongan doh dan pura-pura menyuapkannya ke mulut mami.

Aksi main berlangsung sampai makan siang, dan masih berlanjut setelahnya. Pukul tiga sore ia baru tidur, dan bangun sekitar pukul empat lewat lima belas menit. Setelah itu, Zee melihat mami, papi, dan baba Kaka (panggilan untuk abang sepupunya) membagikan kue kepada teman-teman main baba. Sore ini aktivitas Zee ditutup dengan mandi pada pukul 17.30, tentunya setelah melewati aksi drama seperti biasa. Entah mengapa semenjak umur satu setengah tahun, Zee sangat susah untuk diajak mandi. Padahal waktu bayi, ia justru paling semangat untuk mandi.

Setelah salat magrib, seperti biasa, papi mengajar Zee mengaji.

“Dedek ngaji surat apa?” Tanya papi. Zee membuka-buka juz amma.

Sesuatu yang membuat mami dan papi takjub adalah, setelah usianya melewati satu setengah tahun, Zee bisa menghafal letak setiap surat dalam juz amma-nya. Padahal jelas-jelas ia belum bisa membaca. Mungkin itulah yang disebut membaca dengan otak kanan, menghafal berdasarkan bentuk atau gambar. Entahlah, tapi kenyataannya Zee bisa langsung menunjuk dan mencari sendiri setiap surat yang ingin dibacakan. Ia juga sudah menghafal satu hingga tiga ayat masing-masing surat dalam juz amma. Khusus al fatihah, ia hafal keseluruhan ayat meskipun belum terlalu jelas pelafalannya.

Mengamati tumbuh kembang Zee, membuat mami dan papi takjub akan keajaiban-keajaiban kecil yang sering terjadi tiba-tiba dalam dirinya. Sejak bayi, pola perkembangannya memang sedikit berbeda dengan anak-anak normal seusianya. Dan jika dilihat secara awam, mungkin ia akan tampak seperti anak nakal, bandel, lasak, tidak mau tidur, cerewet, dan lain sebagainya. Tetapi sebagai orang tua, kami percaya bahwa itulah anugerah yang diberikan oleh Allah kepadanya. Dan kami harus terus mengamati dengan detail setiap aktivitas yang ia lakukan agar nantinya bisa membantunya terus berkembang, bahkan saat lingkungan di luar rumah kurang menerimanya sekalipun. Karena kami tidak pernah tahu akan jadi seperti apa Zee kalau sudah besar nantinya, maka sebagai orang tua, kami harus selalu mempersiapkan diri, menyediakan pelukan terhangat, untuk tempatnya pulang setiap saat.

Pancar Matahari Family

Cerita Zenitha Part 4

Senin, 2 Oktober 2017



Hari ini Zee belajar warna dengan menggunakan crayon. Biasanya ia memakai spidol dan pensil warna. Sepertinya, dari sekian aktivitas yang ia lakukan setiap hari, art adalah sesuatu yang tidak terpisahkan darinya.

“Ha, black.” Zee berkata sambil memegang crayon warna hitam.

“Papi bilang black.” Sambil tersenyum ia mendatangi papinya.

“Be...lek.” Zee langsung tertawa begitu papi menyebut kata black dengan pengucapan yang dibuat lucu.

“Ini lagi brown.” Tangannya kembali meraih crayon dari dalam kotaknya. Dicoret-coretkannya crayon tersebut di atas buku gambar milik abang sepupunya.

“Ini warna apa, Pi?” Saat memegang crayon warna putih, ia bertanya kepada papi. Zee memang jarang mendengar tentang warna putih. Biasanya saat menonton video learn colors di youtube, warna-warna yang diperkenalkan adalah warna-warna cerah seperti merah, biru, hijau, dan  sebagainya.

“Warna putih. White.” Jawab papi.

“Hah, tak nampak. Mana? Mana?” Zee kebingungan saat mencoretkan crayon warna putih di atas buku gambar berwarna sama.

“Kalau warna putih, nggak kelihatan, Dek. Sini, buat di atas sini.” Papi menjelaskan sambil mengajak Zee mencoret sebuah gambar berwarna hitam.

“Ini yellow.”

“Ini green.”

“Ini blue.” Zee melafalkan setiap kata dalam bahasa Inggris dengan jelas. Tetapi saat mengucapkan kata blue, pasti akan selalu membuat mami dan papi tertawa. Bagaimana tidak, mengucapkan kata blue, seperti orang yang sedang berkata 'bulu' dengan lambat pula. Biasanya mami akan bercanda dengan berkata 'emang ulat bulu?' yang akan membuat Zee tertawa.

“Susun lagi, susun lagi.” Setelah puas bermain crayon, Zee mengeluarkan semua crayon dari dalam kotak. Setelah itu ia kembali menyusunnya satu persatu ke dalam kotak.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi energi si bocah ini seolah tak pernah habis. Setelah mami menggantikan bajunya dengan yang lebih nyaman buat tidur, tiba-tiba iapun beraksi.

“Kalau kau suka hati tepuk tangan.” Zee berjalan memutar sambil bertepuk tangan.

“Kalau kau suka hati bilang hore. Hooree.” Ia menggerakkan tangannya ke atas.

“Kalau kau suka hati mari kita bersama. Kalau kau suka hati injak bumi.” Dan iapun melompat sambil tertawa riang.

“Tepuk tangan. Tepuk tangan.” Zee mengajak mami dan papi untuk tepuk tangan.

Ah, sepertinya Zee dan bernyanyi memang tidak bisa dipisahkan. Hampir setiap hari ia selalu mendendangkan berbagai macam lagu. Yang menjadi favoritnya adalah lagu-lagu yang ada video animasi seperti Omar Hana, Alif Sofia, Kastari Animation, dan lagu-lagu anak Indonesia. Zee juga suka lagu-lagu berbahasa Inggris, Arab, dan Perancis, yang kesemuanya adalah lagu tentang kalimat syahadat, basmallah, dan hamdalah.

Hari ini Zee belajar banyak hal. Mulai dari art, literature and language, serta natural science. Tetapi dari semua itu, art adalah hal yang paling senang ia lakukan. Apapun itu, teruslah tumbuh, berkembang, dan jangan pernah berhenti untuk belajar, Nak.
Pancar Matahari Family

Cerita Zenitha Part 3

Minggu, 1 Oktober 2017


Minggu adalah hari spesial bagi Zee, karena ia dapat bermain dan belajar bersama papi sepuasnya. Dalam kesepakatan yang telah kami buat, baik mami maupun papi memang diharuskan mendampingi Zee dalam keseharian, dengan kemampuan dan kesukaan masing-masing.

Seperti Minggu sore ini, Zee yang telah bosan bermain doh, memilih untuk ikut menggambar saat melihat papi berkutat dengan kertas dan pensil. Dengan cekatan ia naik ke atas kursi, tepat di depan papi. Tangan mungilnya memegang pensil tanpa kesulitan, meskipun mami maupun papi hanya mengajari cara memegang pensil sekilas saja, tapi sejak usianya satu tahun lebih beberapa bulan, ia sudah mahir memegang pensil.

“Dedek buat apa?” Mami bertanya.

“Dinosaurus.” Zee menjawab cepat.

“Komodo namanya, Dek. Dinosaurus itu nggak ada.” Mami membetulkan. Ia memang sering melihat gambar dinosaurus di buku yang ia baca saat berkunjung di perpustakaan. Ia juga melihat patung hewan-hewan tersebut di Transmart. Tetapi mami selalu menanamkan konsep bahwa dinosaurus itu tidak ada, yang ada komodo.

“Pi, buat bebek.” Ia berteriak mengganggu papi yang tengah menggambar.

“Panda lagi.” Zee memang paling hobi berpindah-pindah keinginan seperti itu.
Papi menggambarkan bebek dan panda buat Zee. Ia pun tertawa.

“Lihat, Mi! Lihat!” Ia menunjukkannya kepada mami.

“Buat lagi dinosaurus gendut.” Mami tertawa. Entah mengapa di usianya yang  sekecil ini Zee sudah paham konsep perbandingan ukuran. Ia suka minta dibuatkan gambar hewan yang ukurannya besar, biasanya sering disebut gendut sama Zee. Kadang ia minta dibuatkan gambar hewan yang kecil atau kurus disebutnya.

“Zee, mandi lagi kita.” Mami mengajak Zee mandi. Seperti biasa ia akan melakukan drama panjang untuk menghindari mandi. Setelah beberapa kali membujuk, akhirnya ia mau mandi juga.

Hari ini Zee belajar banyak hal. Meskipun rencananya minggu sore ini ia akan berenang, tetapi terpaksa batal karena cuaca mendung, ia tetap belajar dari hal lain. Mulai dari pagi hari bermain doh dan asyik mencetak bentuk gajah, bebek, kupu-kupu, serta bentuk orang-orangan yang disebut oleh Zee dengan istilah superman, secara tidak langsung ia mempelajari materi natural science. Math/reasoning juga ia pelajari saat mencetak bentuk hewan lebih dari satu. Ia juga belajar art pada saat membedakan warna doh yang dimainkannya, yaitu pink dan hijau. Pretend play  serta musik adalah dua hal yang tidak pernah ia lewatkan setiap hari. Dengan semangat Zee menggunakan tempat nasi berbahan plastik sebagai pengganti topi. Ia menyebutnya topi bundar. Setelah beberapa kali mengenakan topi bundar di kepalanya sendiri, ia memakaikannya kepada bonekanya. Tentu saja sambil bernyanyi lagu Topi Bundar serta bergerak-gerak seperti tengah menari. Begitulah Zee, harinya tidak pernah dilewatkannya tanpa banyak gerak. Meskipun kadang capek dan kesal karena harus mengimbanginya, tetapi sebagai orang tua kami harus selalu bersyukur dengan anugerah yang diberikan oleh Allah kepada kami.

Enjoy your day with play more and more, Zee.

Pancar Matahari Family

Senin, 13 November 2017

Cerita Zenitha Part 2

Sabtu, 30 September 2017


Bagi kami, akhir pekan adalah waktu yang selalu ditunggu. Karena setiap seminggu sekali, entah itu hari Sabtu atau Minggu, kami mempunyai jadwal outing. Kegiatan ini penting buat Zee, karena ia berkesempatan belajar di luar lingkungan rumah. Sebenarnya mulai Jumat malam, Zee udah bilang mau main perosotan, dan tempat main perosotan terdekat dengan tempat tinggal kami adalah di UNRI. Tapi biasanya tiap akhir pekan, di sana ramai. Susah kalau mau main karena harus bergantian dengan anak-anak lain, dan seringnya Zee jadi tidak ingin main lagi. Akhirnya kami memutuskan mengajak Zee ke Transmart untuk naik wheel dan odong-odong mobil, wahana favoritnya kalau lagi main di sana.

“Nanti malam kita naik wheel ya, Dek.” Mami mulai sounding ke Zee sejak pagi. Zee tertawa dan bilang mau. Kalau mau mengajak Zee pergi jalan, Mami memang harus memberitahunya sejak pagi, agar ia mau tidur siang. Entah bagaimana caranya ia bisa memanajemen waktu tidurnya sendiri di usia sekecil ini, tapi faktanya setiap kami menjadwalkan akan pergi jalan sore atau malam hari, Zee pasti akan merengek minta tidur siang sekitar jam satu sampai jam dua siang. Dengan sendirinya ia akan bangun tepat jam tiga atau saat salat ashar. Tetapi jika kami tidak menjadwalkan kegiatan di luar rumah saat sore hari, ia baru akan tidur saat sudah jam tiga atau empat sore, dan mengoptimalkan waktu siang untuk bermain.

Setelah memberitahu Zee tentang rencana outing sore nanti, Mami menawarkan sarapan kepada Zee. Alih-alih mau makan nasi, ia memilih untuk makan nanas, salah satu buah favoritnya. Mami memotong kecil-kecil buah nanas dan meletakkannya di mangkok kecil tempat biasa Zee makan.

“Dedek makan sendiri.” Tepat saat Mami akan menyuapkan potongan pertama, Zee memaksa untuk makan sendiri. Oke. Mami harus mengalah dan rela membiarkan ia bereksplorasi dengan konsekuensi potongan makanan pasti akan berceceran di lantai. Akhirnya Mami membiarkan Zee makan di depan televisi. Ia menonton serial kartun Shaun the Sheep. Meskipun sebenarnya Mami ingin meminimalisir asupan tayangan televisi pada Zee, namun karena kondisi lingkungan yang belum memungkinkan, idealisme itu harus dikesampingkan.

“Ada berapa kambingnya, Mi?” Sambil makan nanas, ia bertanya.

“Coba hitung, ada berapa.” Mami memang belum mengajarkan berhitung kepada Zee, namun sedikit banyak ia sudah mengerti tentang konsep berhitung dan jumlah benda.

“Dua.” Dan dua adalah jawaban favoritnya saat Mami bertanya jumlah benda apapun yang ia lihat.

“Ah, yang benar? Emang iya dua?” Mami kembali bertanya. Zee terlihat bimbang sambil menatap Mami, sesekali kembali melihat layar televisi.

“Tiga.” Tiga adalah jawaban favorit kedua setelah dua. Dan kebetulan untuk pertanyaannya kali ini, jawabannya adalah tiga.

“Hitung dulu yang betul, Dek.” Mami menguji kembali.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.” Dan Mamipun tertawa. Zee memang belum paham jika disuruh menghitung. Di angka berapa ia harus berhenti, ia belum tahu. Dan Mami memang sengaja belum berniat membetulkan kesalahan yang ia buat. Pokoknya kalau disuruh menghitung, ia akan langsung menyebut angka satu sampai sepuluh, tapi selalu melewatkan angka enam. Setelah lima, lompat ke angka tujuh.

Setelah cukup lama, akhirnya nanas di dalam mangkoknya habis. Meskipun sempat dibuat berserakan di lantai, ia kembali mau memungutnya satu persatu setelah Mami bilang nanti Allah sayang kalau makanannya dikumpulkan lagi.

“Dedek main, Mi.” Zee membalik mangkok yang sudah kosong. Tangan kanannya masih memegang sendok. Lalu dengan senyum terkembang, ia memukul mangkok.

“Ha, bunyi!” Zee memekik. Ia kembali memukul mangkok seperti  sedang bermain alat musik. Permainan ini memang salah satu favoritnya. Biasanya ia akan menggunakan kaleng-kaleng bekas minuman untuk digunakan sebagai alat musik mainan.

Bagi kami, belajar itu sederhana. Tidak harus mengajarkan teori rumit secara formal. Lewat aktivitas makan pagi hari ini, Zee juga sudah mempelajari sesuatu yang tidak menyimpang dari kurikulum yang kami terapkan. Ia belajar makan sendiri, termasuk ke dalam belajar kemandirian dan life skill. Ia juga belajar self esteem, tentang panca indera. Karena nanas yang dimakannya baru dikeluarkan dari dalam lemari es, ia beberapa kali bilang kalau buah tersebut dingin. Zee juga belajar art dan pretend play dengan menjadikan mangkok kosong sebagai alat musik mainan. Ia bahkan secara tidak langsung sudah mempelajari materi math/reasoning saat menanyakan tentang jumlah kambing dalam film yang ia tonton. Mengetahui nama hewan dan buah juga merupakan salah satu pembelajaran materi natural science. Menghabiskan makanan serta tidak membiarkan makanan berserakan di lantai juga salah satu pembelajaran tentang konsep bersyukur kepada Allah. Ia belajar agama, belajar mencintai Allah.

Jumat, 10 November 2017

Cerita Zenitha Part 1

Ini adalah catatan keseharian Zenitha, yang kami tulis seminggu pertama ketika ia memulai masa homeschooling dengan menggunakan kurikulum sederhana yang kami susun. Simak yuk.

****

Tepat 28 September kemarin, Zee genap berusia dua tahun. Sebagai orang tua, momen ini sangat kami tunggu-tunggu, karena berdasarkan family plan yang telah kami rancang, usia dua tahun adalah titik start untuk melakukan observasi terhadap keseharian Zee dengan panduan kurikulum yang telah kami susun.

Sebagai keluarga muda yang baru mencoba menerapkan konsep homeschooling, kami banyak melakukan brainstorming terkait konsep, metode, serta kurikulum apa yang nantinya akan kami terapkan buat Zee. Namun ternyata, semua materi yang kami baca, nyatanya justru membuat kami kebingungan untuk memilih. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk menyusun kurikulum personal berdasarkan apa yang menurut kami akan Zee butuhkan ke depannya. 

Alih-alih memusingkan tentang teori montessori, charlotte mason, dan lain sebagainya, kami justru menyusun sebuah kurikulum sederhana dengan pertimbangan dua hal. Pertimbangan pertama bagi kami adalah mudah dan logis untuk diterapkan serta bersifat fleksibel sehingga tidak membatasi ruang gerak Zee dalam melakukan eksplorasi. Yang kedua tentunya tidak melanggar syariat agama.

Kurikulum yang telah kami susun meliputi agama (tauhid, aqidah akhlak, alqur'an dan tafsir, sirah, serta tarikh), self esteem (identitas diri, anggota tubuh, dan panca indera), math/ reasoning (mengenal bilangan, paham konsep jumlah, paham konsep bentuk dan ukuran), physical skill (balance and coordination, other skill), literature and language (listening, reading, writing,  speaking), natural science (mengenal ekosistem, mengenal alam semesta, menjaga kebersihan dan kesehatan, eksplorasi dan percobaan), technology (alat komunikasi dan transportasi), engineering (mengenal geometri sederhana, mengenal engineering tools, macam dan fungsi bangunan), art (basic design, menggambar dan mewarnai bebas, gerak mengikuti irama, pretend play, mengenal musik) dan yang terakhir social and emotional (mempunyai konsep diri yang positif, mampu bermain di tempat dan dengan anak yang berbeda, mampu bermain dengan teman berbagai macam usia, menjadi anggota keluarga yang aktif, mengenal serta mengontrol perasaan dan emosi).

Untuk standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator, kami sesuaikan dengan usia Zee. Kurikulum ini berlaku untuk satu tahun. Jadi saat usia Zee genap tiga tahun nanti, kami akan melakukan evaluasi terhadap kurikulum tersebut dengan melihat tingkat keberhasilan serta kendala apa saja yang kami temui selama satu tahun masa penerapan.

Selanjutnya, kurikulum inilah yang kami jadikan sebagai acuan untuk melakukan observasi harian dalam setiap aktivitas yang Zee lakukan. Penerapannya tidak kaku seperti sistem di sekolah, tetapi dibiarkan saja mengalir. Karena pada dasarnya kami lebih nyaman menerapkan sistem unschooling terhadap Zee saat ini.

Hal penting yang harus kami lakukan untuk menunjang penerapan kurikulum yang telah kami susun adalah melakukan dokumentasi setiap hari, baik itu berupa foto, video, serta catatan seputar aktivitas yang Zee lakukan. Dokumentasi ini sangat penting bagi kami karena nantinya kami berencana tidak memasukkan Zee ke dalam sekolah formal, sehingga kehadiran file hasil dokumentasi sejak usia pra sekolah akan sangat memudahkan kami untuk menyusun kurikulum saat Zee memasuki masa sekolah. Dokumentasi berupa foto maupun video bisa dilakukan oleh papi maupun mami, sedangkan khusus untuk catatan harian akan dikerjakan oleh mami yang memang bertanggung jawab penuh untuk menemani Zee beraktivitas setiap hari.

****
Jumat, 29 September 2017


Ini hari pertama mami melakukan observasi terhadap aktivitas yang Zee lakukan. Sebenarnya, sebelum Zee berusia dua tahun mami juga sudah melakukan observasi, namun bedanya kali ini mami akan mengamati dengan lebih teliti serta mencatat hal apa saja yang sekiranya perlu didokumentasikan.

Penerapan kurikulum yang telah disusun sebelumnya tidak bersifat menjejalkan materi serta teori. Konsep yang mami terapkan adalah bermain sambil belajar. 

Seperti siang ini, jam baru menunjukkan pukul sebelas saat Zee yang semula mau bermain alfabet dan lego seorang diri, tiba-tiba merengek minta bermain congklak. Untuk permainan satu ini, mami masih harus melakukan pengawasan penuh terhadap Zee karena biji-bijian congklak yang sangat kecil rentan dimasukkan ke dalam mulut dan hidung. Meskipun usianya sudah dua tahun,  Zee memang masih sering memasukkan benda-benda kecil apapun yang ia lihat dan temukan ke dalam mulut. Biasanya hal itu ia lakukan untuk belajar mengenal tekstur, rasa, dan lain sebagainya. Ia akan memekik dan meneriakkan kata pedas jika tanpa sengaja memasukkan potongan cabai yang jatuh di dapur ke dalam mulut. Tutul spidol, kerikil, ataupun benda serupa lain yang ia gigit akan membuatnya berkata bahwa tekstur benda itu keras.

Setelah selesai dengan urusan dapur, mami menuruti keinginan Zee untuk main congklak. Begitu papan congklak diambil, iapun tertawa kegirangan, apalagi saat melihat biji-biji bermacam warna dalam genggaman mami, matanya langsung berbinar. Mami dan Zee duduk di lantai. Mami memberikan satu toples kecil berisi biji congklak. Dengan bersusah payah Zee berusaha membuka. Dan begitu terbuka, imajinasinya langsung bermain.

“Zee, mainnya yang bagus, diisi lubang-lubangnya ni.” Mami mengajak Zee bermain.

“Mandi bola!” Bukannya menuruti perkataan mami, Zee justru menggerakkan tangan ke atas dan langsung menuang biji congklak dalam toples ke atas kepalanya.

“Mi, ambil sendok sama garpu.” Sepertinya pretend play akan dimulai.

Mami membiarkan Zee mengambil sendok dan garpu yang disusun bersama dengan mainan lainnya di dalam kamar, seperti yang biasa ia lakukan sejak usianya satu tahun lebih. Begitu sendok dan garpu sudah berada dalam genggaman, tangan mungilnya bergerak lincah menyendok biji congklak dari dalam toples dan memasukkannya ke dalam lubang-lubang kecil yang ada di papan congklak.

“Masak apa Dedek, Mi?” Kali ini Zee berimajinasi sedang bermain masak-masakan. Dan mami harus berpura-pura mengikuti.

“Masak goreng. Dedek goreng apa?” Mami mengikuti gaya bahasa Zee yang belum sepenuhnya sempurna strukturnya.

“Goreng nasi.” Jawabnya spontan. Mungkin karena keseringan melihat mami masak nasi goreng di dapur.

“Warna apa ini, Mi?” Bukan Zee namanya kalau tidak cepat mengalihkan topik pembahasan. Tangan kanannya memegang biji congklak berwarna hijau.

“Warna apa tu, Dek?” Mami memang tidak selalu menjawab pertanyaan Zee, terlebih jika dirasa Zee sudah mengetahui jawabannya. Jadi mami memilih untuk melemparkan pertanyaan kepada Zee kembali.

“Green.” Zee menjawab setelah berpikir beberapa saat.

“Kalau yang ini?” Mami menunjuk satu buah biji congklak berwarna kuning.

“Kuning.” Dengan cepat Zee menyahut.

“Ini nih?” Zee melihat biji congklak warna merah yang ada di dekat kakinya.

“Red. Pintar Dedek kan, Mi?” Dan Zee pun tersenyum lebar sampai bertepuk tangan.

Mami dan papi memang selalu membiasakan memuji Zee jika ia berhasil melakukan sesuatu yang menakjubkan. Dari bermain congklak ini Zee belajar banyak hal. Mulai dari social dan emotional, yaitu ia harus membiasakan diri menahan emosi karena harus bersabar menunggu mami selesai masak dan menemaninya bermain. Ia juga belajar pretend play, bermain peran, seolah-olah sedang masak. Materi art juga sudah ia dapatkan, yaitu saat ia belajar mengenali warna.

“Mi, serak Mi, serak.” Ah, mami lupa jika Zee tidak selalu memainkan permainan sesuai fungsinya. Ia lebih sering berimajinasi sendiri. Rupanya setelah puas bertanya tentang warna, ia kembali menaburkan biji congklak ke atas kepala. Mandi bola katanya.

“Ayo Zee, kumpulkan.” Mami memberi komando karena sudah waktunya salat dan makan siang.

“Nanti Allah sayang.” Sambil memunguti biji-biji congklak yang sudah berserakan kemana-mana Zee berujar lirih.

“Nah tu. Makanya jadi anak?” Mami menggantung ucapannya sambil membantu Zee memungut biji congklak yang melesat jauh ke bawah kolong meja.

“Baik. Nanti masuk surga. Sama Khadijah. Mau, mau.” Ya, begitulah Zee. Ia suka membaca buku cerita bergambar tentang Khadijah. Dan begitu mendengar kata surga, ia pasti akan bilang masuk surga seperti Khadijah.

Hari ini permainan congklak Zee ditutup dengan pelajaran agama. Tauhid dan aqidah. Mengenalkan Allah, membiasakan ia untuk mencintai Allah dan segala sesuatu yang baik di dalam agama. Karena pada masa 0-6 tahun pertama, rasa cinta terhadap Sang Pencipta adalah unsur terpenting yang harus ditanamkan kepada anak.

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...