Salah satu kebiasaan Zee menjelang tidur adalah minta dibacakan buku cerita. Biasanya, Papi yang melakukannya, namun semalam ia memilih membaca bersama Mami karena melihat Papi sibuk di depan laptop.
Seperti biasa pula, ia tidak akan serta merta diam mendengarkan suara Emaknya sambil berbaring. Yang terjadi adalah mulut kecilnya itu sibuk berceloteh, melebihi jumlah kata yang tertulis dalam buku.
Hingga sampailah kami di suatu kalimat yang menceritakan tentang seorang anak sedang duduk di bangku kayu, mendengarkan penjelasan gurunya di depan kelas. Di situ terdapat gambar papan tulis dengan angka 2 + 2 tercetak jelas.
“Ini gambar apa, Mi?” tanya Zee.
“Itu gambar papan tulis. Abangnya sedang belajar penjumlahan.” Mami menjelaskan.
“Apa tu?” Si bocah rupanya belum mengerti maksud kalimat Mami.
“Penjumlahan itu tambah tambah. Lihat tu, angka berapa yang digambar tu?” Mami mulai menjelaskan dengan memakai bahasa ala-ala.
“Angka two,” jawab Zee. Si bocah ini memang sering memakai bahasa Inggris ketika menyebut angka dan huruf.
“Kalau bahasa Indonesianya angka two apa?” Dan Mami harus rajin membuatnya paham terjemahan dari kata yang diucapkannya dalam bahasa Inggris tersebut.
“Dua.” Zee memang sudah bisa menyebut angka menggunakan bahasa Indonesia, meskipun sangat jarang ia lakukan.
“Nah, tambah tambah itu kayak yang kita lihat itu. Dua ditambah dua,” kata Mami sembari menggerakkan jari tangan, menunjukkan dua jari terlebih dahulu kemudian dua lainnya menyusul hingga berjumlah empat.
“Nanti kalau sudah besar, Dedek belajar tambah tambah ya. Mau?” Penjelasan cukup sampai di sini. Si bocah terlihat berpikir saat mendengar pertanyaan Mami.
“Dedeknya mau tumbuk aja. Tumbuk cabe,” ucap Zee. Emaknya pun melongo. Apa hubungannya coba??
“Dedek nggak mau belajar tambah tambah, mau tumbuk cabe aja,” lanjut Zee. Dan seketika Emaknya pun tertawa. Eh dasar bocah, kalau ada guru matematika dengar, bisa gawat nih.
Namun begitulah Zee, ia justru tersenyum dan bercerita jika suka menumbuk cabai. Aih, masa iya si kecil ini lebih tertarik sama bawang, merica, dan bumbu dapur lainnya sih? But, it's ok, Zee. Emakmu ini tidak akan memaksamu menyukai angka kok. Toh lewat cabai, bawang, dan sebagainya pun bisa belajar menghitung.
Mungkin begitulah anak-anak. Adakalanya ia bisa menyuarakan sesuatu yang tidak disukainya, adakalanya ia hanya memilih diam. Tetapi berhati-hatilah, karena diam belum tentu tanda ia menyukai suatu aktivitas. Bisa jadi, karena si bocah merasa tidak mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan suara hatinya.
Tetaplah menyukai menumbuk cabai ya, Zee. Karena Emakmu ini tidak akan mengungkung dirimu dengan angka-angka dan kerumitan lainnya. Emakmu tidak akan membuatmu melepas kesenangan hanya untuk memenuhi tuntutan sosial. Karena sejatinya, belajar bisa dilakukan dalam semua aktivitas yang kita lakukan.
#ceritazenitha
#2y4m
#homeeducation
#fitrahbelajardanbernalar
#passion
#status_inspirasi
#rumbel_menulis_ip_pekanbaru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar