Jumat, 10 November 2017

Cerita Zenitha Part 1

Ini adalah catatan keseharian Zenitha, yang kami tulis seminggu pertama ketika ia memulai masa homeschooling dengan menggunakan kurikulum sederhana yang kami susun. Simak yuk.

****

Tepat 28 September kemarin, Zee genap berusia dua tahun. Sebagai orang tua, momen ini sangat kami tunggu-tunggu, karena berdasarkan family plan yang telah kami rancang, usia dua tahun adalah titik start untuk melakukan observasi terhadap keseharian Zee dengan panduan kurikulum yang telah kami susun.

Sebagai keluarga muda yang baru mencoba menerapkan konsep homeschooling, kami banyak melakukan brainstorming terkait konsep, metode, serta kurikulum apa yang nantinya akan kami terapkan buat Zee. Namun ternyata, semua materi yang kami baca, nyatanya justru membuat kami kebingungan untuk memilih. Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk menyusun kurikulum personal berdasarkan apa yang menurut kami akan Zee butuhkan ke depannya. 

Alih-alih memusingkan tentang teori montessori, charlotte mason, dan lain sebagainya, kami justru menyusun sebuah kurikulum sederhana dengan pertimbangan dua hal. Pertimbangan pertama bagi kami adalah mudah dan logis untuk diterapkan serta bersifat fleksibel sehingga tidak membatasi ruang gerak Zee dalam melakukan eksplorasi. Yang kedua tentunya tidak melanggar syariat agama.

Kurikulum yang telah kami susun meliputi agama (tauhid, aqidah akhlak, alqur'an dan tafsir, sirah, serta tarikh), self esteem (identitas diri, anggota tubuh, dan panca indera), math/ reasoning (mengenal bilangan, paham konsep jumlah, paham konsep bentuk dan ukuran), physical skill (balance and coordination, other skill), literature and language (listening, reading, writing,  speaking), natural science (mengenal ekosistem, mengenal alam semesta, menjaga kebersihan dan kesehatan, eksplorasi dan percobaan), technology (alat komunikasi dan transportasi), engineering (mengenal geometri sederhana, mengenal engineering tools, macam dan fungsi bangunan), art (basic design, menggambar dan mewarnai bebas, gerak mengikuti irama, pretend play, mengenal musik) dan yang terakhir social and emotional (mempunyai konsep diri yang positif, mampu bermain di tempat dan dengan anak yang berbeda, mampu bermain dengan teman berbagai macam usia, menjadi anggota keluarga yang aktif, mengenal serta mengontrol perasaan dan emosi).

Untuk standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator, kami sesuaikan dengan usia Zee. Kurikulum ini berlaku untuk satu tahun. Jadi saat usia Zee genap tiga tahun nanti, kami akan melakukan evaluasi terhadap kurikulum tersebut dengan melihat tingkat keberhasilan serta kendala apa saja yang kami temui selama satu tahun masa penerapan.

Selanjutnya, kurikulum inilah yang kami jadikan sebagai acuan untuk melakukan observasi harian dalam setiap aktivitas yang Zee lakukan. Penerapannya tidak kaku seperti sistem di sekolah, tetapi dibiarkan saja mengalir. Karena pada dasarnya kami lebih nyaman menerapkan sistem unschooling terhadap Zee saat ini.

Hal penting yang harus kami lakukan untuk menunjang penerapan kurikulum yang telah kami susun adalah melakukan dokumentasi setiap hari, baik itu berupa foto, video, serta catatan seputar aktivitas yang Zee lakukan. Dokumentasi ini sangat penting bagi kami karena nantinya kami berencana tidak memasukkan Zee ke dalam sekolah formal, sehingga kehadiran file hasil dokumentasi sejak usia pra sekolah akan sangat memudahkan kami untuk menyusun kurikulum saat Zee memasuki masa sekolah. Dokumentasi berupa foto maupun video bisa dilakukan oleh papi maupun mami, sedangkan khusus untuk catatan harian akan dikerjakan oleh mami yang memang bertanggung jawab penuh untuk menemani Zee beraktivitas setiap hari.

****
Jumat, 29 September 2017


Ini hari pertama mami melakukan observasi terhadap aktivitas yang Zee lakukan. Sebenarnya, sebelum Zee berusia dua tahun mami juga sudah melakukan observasi, namun bedanya kali ini mami akan mengamati dengan lebih teliti serta mencatat hal apa saja yang sekiranya perlu didokumentasikan.

Penerapan kurikulum yang telah disusun sebelumnya tidak bersifat menjejalkan materi serta teori. Konsep yang mami terapkan adalah bermain sambil belajar. 

Seperti siang ini, jam baru menunjukkan pukul sebelas saat Zee yang semula mau bermain alfabet dan lego seorang diri, tiba-tiba merengek minta bermain congklak. Untuk permainan satu ini, mami masih harus melakukan pengawasan penuh terhadap Zee karena biji-bijian congklak yang sangat kecil rentan dimasukkan ke dalam mulut dan hidung. Meskipun usianya sudah dua tahun,  Zee memang masih sering memasukkan benda-benda kecil apapun yang ia lihat dan temukan ke dalam mulut. Biasanya hal itu ia lakukan untuk belajar mengenal tekstur, rasa, dan lain sebagainya. Ia akan memekik dan meneriakkan kata pedas jika tanpa sengaja memasukkan potongan cabai yang jatuh di dapur ke dalam mulut. Tutul spidol, kerikil, ataupun benda serupa lain yang ia gigit akan membuatnya berkata bahwa tekstur benda itu keras.

Setelah selesai dengan urusan dapur, mami menuruti keinginan Zee untuk main congklak. Begitu papan congklak diambil, iapun tertawa kegirangan, apalagi saat melihat biji-biji bermacam warna dalam genggaman mami, matanya langsung berbinar. Mami dan Zee duduk di lantai. Mami memberikan satu toples kecil berisi biji congklak. Dengan bersusah payah Zee berusaha membuka. Dan begitu terbuka, imajinasinya langsung bermain.

“Zee, mainnya yang bagus, diisi lubang-lubangnya ni.” Mami mengajak Zee bermain.

“Mandi bola!” Bukannya menuruti perkataan mami, Zee justru menggerakkan tangan ke atas dan langsung menuang biji congklak dalam toples ke atas kepalanya.

“Mi, ambil sendok sama garpu.” Sepertinya pretend play akan dimulai.

Mami membiarkan Zee mengambil sendok dan garpu yang disusun bersama dengan mainan lainnya di dalam kamar, seperti yang biasa ia lakukan sejak usianya satu tahun lebih. Begitu sendok dan garpu sudah berada dalam genggaman, tangan mungilnya bergerak lincah menyendok biji congklak dari dalam toples dan memasukkannya ke dalam lubang-lubang kecil yang ada di papan congklak.

“Masak apa Dedek, Mi?” Kali ini Zee berimajinasi sedang bermain masak-masakan. Dan mami harus berpura-pura mengikuti.

“Masak goreng. Dedek goreng apa?” Mami mengikuti gaya bahasa Zee yang belum sepenuhnya sempurna strukturnya.

“Goreng nasi.” Jawabnya spontan. Mungkin karena keseringan melihat mami masak nasi goreng di dapur.

“Warna apa ini, Mi?” Bukan Zee namanya kalau tidak cepat mengalihkan topik pembahasan. Tangan kanannya memegang biji congklak berwarna hijau.

“Warna apa tu, Dek?” Mami memang tidak selalu menjawab pertanyaan Zee, terlebih jika dirasa Zee sudah mengetahui jawabannya. Jadi mami memilih untuk melemparkan pertanyaan kepada Zee kembali.

“Green.” Zee menjawab setelah berpikir beberapa saat.

“Kalau yang ini?” Mami menunjuk satu buah biji congklak berwarna kuning.

“Kuning.” Dengan cepat Zee menyahut.

“Ini nih?” Zee melihat biji congklak warna merah yang ada di dekat kakinya.

“Red. Pintar Dedek kan, Mi?” Dan Zee pun tersenyum lebar sampai bertepuk tangan.

Mami dan papi memang selalu membiasakan memuji Zee jika ia berhasil melakukan sesuatu yang menakjubkan. Dari bermain congklak ini Zee belajar banyak hal. Mulai dari social dan emotional, yaitu ia harus membiasakan diri menahan emosi karena harus bersabar menunggu mami selesai masak dan menemaninya bermain. Ia juga belajar pretend play, bermain peran, seolah-olah sedang masak. Materi art juga sudah ia dapatkan, yaitu saat ia belajar mengenali warna.

“Mi, serak Mi, serak.” Ah, mami lupa jika Zee tidak selalu memainkan permainan sesuai fungsinya. Ia lebih sering berimajinasi sendiri. Rupanya setelah puas bertanya tentang warna, ia kembali menaburkan biji congklak ke atas kepala. Mandi bola katanya.

“Ayo Zee, kumpulkan.” Mami memberi komando karena sudah waktunya salat dan makan siang.

“Nanti Allah sayang.” Sambil memunguti biji-biji congklak yang sudah berserakan kemana-mana Zee berujar lirih.

“Nah tu. Makanya jadi anak?” Mami menggantung ucapannya sambil membantu Zee memungut biji congklak yang melesat jauh ke bawah kolong meja.

“Baik. Nanti masuk surga. Sama Khadijah. Mau, mau.” Ya, begitulah Zee. Ia suka membaca buku cerita bergambar tentang Khadijah. Dan begitu mendengar kata surga, ia pasti akan bilang masuk surga seperti Khadijah.

Hari ini permainan congklak Zee ditutup dengan pelajaran agama. Tauhid dan aqidah. Mengenalkan Allah, membiasakan ia untuk mencintai Allah dan segala sesuatu yang baik di dalam agama. Karena pada masa 0-6 tahun pertama, rasa cinta terhadap Sang Pencipta adalah unsur terpenting yang harus ditanamkan kepada anak.

Tidur Siang



Day 9

Jumat, 10 November 2017

Pagi ini Mami demam. Zee yang selalu ikut sakit saat Mami sakit, rupanya kali ini sedikit banyak terpengaruh juga. Meskipun tidak demam, tapi saat bangun tidur, ia merengek, terlihat seperti sedang tidak enak badan.

Setelah bangun, bukannya mandi, ia justru sibuk membongkar mainan di lantai sambil makan kue. Karena Mami masih lemas, jadi membiarkan Zee menikmati pagi dengan santai. Setelah puas bermain crayon, ia pun minta bermain dough. Papi membentang tikar di belakang untuk tempat Zee main, sembari Mami memasak di dapur. Setelah selesai memasak, Mami baru memandikan Zee.

Selesai mandi, Zee langsung minta makan nasi. Sambil sibuk mengunyak nasi plus hati ayam, Zee kembali membongkar mainan di ruang tengah. Saat sibuk bermain, Mami melihatnya menguap. Matanya juga terlihat mengantuk.

“Dek, Dedek mau tidur siang?” Mami bertanya lembut.

“Nggak mau! Nggak mau!” Begitulah Zee, ia akan melawan rasa kantuk dan tak berhenti bermain.

“Kenapa Dedek nggak mau tidur?” Mami memancingnya menjelaskan alasan mengapa ia tidak mau tidur, alih-alih memaksanya.

“Nggak mau. Main aja, Mi.” Oke. Sepertinya rasa kantuk belum terlalu menyerangnya.

“Oke. Main apa lagi kita?” Mami bertanya.

“Tiup ini, Mi.” Zee berlari ke dalam kamar. Terdengar bunyi lemari dibuka, lalu ia keluar kembali sambil memegang flute. Dan beraksilah si bocah kecil nan aktif itu.

Setelah puas bermain flute, tiba-tiba ia kembali merengek. Sesekali Zee mengucek mata. Mami kembali bertanya.

“Dedek ngantuk?” Bukannya menjawab, Zee malah merengek lagi.

“Kalau Dedek ngantuk, Dedek harus tidur dulu.” Zee memandang Mami. Ia mulai mengacak-acak crayon sambil sesekali melemparnya.

“Dedek masih mau main?” Mami bertanya sambil mengelus kepala Zee yang sudah berbaring di lantai.

“Tidur, Mi. Kita tidur.” Nah kan! Pasti bentar lagi tantrum kalau sudah begini.

“Ya udah, kalau kita tidur, bereskan dulu mainannya ya. Sini, Mami bantu.” Mami mengajak Zee membereskan mainan yang berserakan di mana-mana.

“Nggak mau! Main lagi! Main lagi!” Si bocah kecil ini, meskipun sedang mengantuk dan ingin tidur, tetapi setiap melihat mainannya dibereskan, pasti akan langsung berteriak. Sepertinya Zee sangat tidak mau berpisah dengan mainan.

“Tapi katanya mau tidur?” Mami kembali bertanya sambil menatap mata Zee.

“Dedek mau tidur dulu sebentar, abis itu main lagi, atau main aja sambil ngantuk?” Hahaha. Mami memaksakan anak dua tahun memilih sesuatu yang susah dimengerti. Zee berpikir sambil membulatkan mata memandang Mami.

“Tidur aja kita. Tidur, Mi.” Lho? Kok itu bocah bisa milih? Batin Mami. Ajaib ya.

“Tapi kita bereskan mainannya dulu ya. Baru tidur.” Mami mendekati Zee dan memeluknya. Lalu pelan-pelan mengajak Zee mengumpulkan mainan satu persatu.

Setelah semuanya beres, ia berdiri, membawa botol minum dan langsung masuk ke dalam kamar. Meskipun melalui proses yang alot, namun tampaknya komunikasi produktif hari ini berhasil. Dan penilaian Mami tentang pemikiran anak kecil yang kemungkinan tidak mengerti logika agak rumit, ternyata salah. Buktinya begitu dijelaskan pelan, pun diberikan pertanyaan dengan lembut, Zee ternyata bisa memahami ucapan Mami. Semangat tumbuh dan berkembang lebih baik lagi ya, Zenitha.

Pancar Matahari Family


Kamis, 09 November 2017

Meow Meow Meow


Day 8

Kamis, 9 November 2017

Waktu baru menunjukkan pukul 06.15 saat Zee memekik dan menangis di tengah tidur. Karena tengah mencuci baju, maka Mami memilih untuk membiarkan Zee puas merengek sampai akhirnya bangun sendiri. Selesai mencuci, Mami mengajak Zee keluar kamar. Sementara Mami merapikan tempat tidur, Zee bermain dengan Papi di depan rumah.

“Mi, tengok, Mi! Kucing itu, ada kucing.” Begitu selesai membereskan kamar, Mami bergabung dengan Zee dan Papi yang tengah asyik menikmati roti dan kopi susu.

“Mana kucingnya?” Mami bertanya.

“Itu! Itu!” Zee berlari menuju pintu pagar yang terbuka separuh.

“Dek, pakai sandalnya dulu. Nanti kaki Dedek kotor.” Mami menjelaskan dengan perlahan karena melihat Zee langsung berlari tanpa mengenakan sandal. Ia tertawa hingga menampakkan deretan gigi mungilnya, lalu berbalik dan mengambil salah satu sandal di rak sepatu.

“Ada berapa tu kucingnya, Pi?” Zee bertanya kepada Papi. Matanya mengawasi anak kucing beserta induknya sedang bersembunyi di bawah pintu pagar tetangga depan rumah.

“Ada dua.” Papi menjawab.

“Ada tiga,” ucap Zee cukup keras. Lho kok? Mami yang mendengar dua jawaban berbeda dari si anak dan Bapak itu jelas bingung.

“Eh iya ada tiga. Papi nggak lihat yang kecil itu sembunyi.” Rupanya Papi yang salah lihat.

“Pintar Dedek ya, udah bisa menghitung kucing itu.” Mami memuji Zee.

Rupanya si bocah penasaran dengan kucing kecil yang kebetulan tengah memandangnya. Papi mengizinkan Zee keluar pagar dan mendekat ke arah kucing berwarna kuning.

“Ih, takut, Dedek.” Zee pasti begitu. Ia paling sering takut-takut berani jika berhadapan dengan kucing. Setelah dipanggilnya kucing dengan gerakan tangan, lalu si bocah kecil itu berlari memeluk Papi.

“Nggak apa-apa, Dek. Dedek kan sudah besar, berani sama kucing. Yuk tengok kucingnya yuk.” Mami mengajak Zee mendekat ke arah anak kucing.

“Meow, meow, meow.” Zee mengulurkan tangan ke arah si anak kucing sembari berjalan mendekat. Ia berjongkok hendak mengelus kepala kucing imut yang tengah meringkuk di bawah pintu pagar berwarna hitam. Tetapi kucing berbulu lembut itu malah berlari ke arah dalam.

“Mana kucingnya, Mi? Mana kucingnya, Pi?” Zee hendak masuk ke dalam halaman rumah orang.

“Kucingnya masuk ke dalam, Dek.” Mami menjelaskan singkat. Zee terlihat kecewa.

“Dedek hebat ya, berani dekat kucing.” Mami langsung memberinya pujian yang membuatnya kembali tersenyum lebar.

Ah, meskipun Mami kurang menyukai hewan peliharaan masuk di dalam rumah, tetapi sebagai orang tua, tetap harus memupuk keberanian si bocah kan? Dan ternyata, melalui komunikasi yang produktif, mengubah kata takut menjadi berani, membuat kepercayaan diri Zee meningkat. Semangat ya, Zee. Kapan-kapan kalau ada kesempatan kita lihat hewan-hewan lainnya.

Pancar Matahari Family

Rabu, 08 November 2017

Segelas Susu Cokelat



Day 7

Rabu, 8 November 2017

Hari ini masih sama dengan kemarin. Hujan tak berhenti mengguyur sejak malam. Hal itu membuat Zee betah bermalas-malasan dan enggan mandi. Namun setelah membujuknya, ia yang paling suka mandi di dalam ember besar langsung setuju dengan ajakan Mami karena berniat main air.

“Dedek mau main crayon,” ucap Zee begitu keluar dari kamar mandi.

Mami langsung saja memberikan crayon dan buku gambar kepadanya, daripada nanti si bocah tantrum. Sembari memakai baju, tangan Zee lincah mencoret kertas dengan berbagai macam warna.

“Dedek mau kue. Mami ambilkan.” Begitu selesai memakai baju, Zee langsung meminta cemilan. Sejak boleh makan, ia memang sangat jarang makan nasi. Biasanya Zee akan lebih memilih cemilan dibanding makanan berat.

“Kue apa?” tanya Mami.

“Kue wafer. Mami ambilkan. Wafer brown.” Mami tersenyum mendengarnya. Langsung saja Mami ambilkan kue yang ia minta, lalu memberitahunya untuk segera memakan kue tersebut.

“Dedek mau teh. Mami buatkan. Dedek tunggu sini.” Ah, ini bocah, belum juga selesai makan kue, sudah minta teh saja.

“Dek, anak kecil itu nggak bagus minum teh.” Mami mencoba memberinya pengertian. Meskipun faktanya sekali-kali ia masih meminta teh, terlebih es teh, namun Mami tetap selalu memberinya pengertian singkat. Entah ia pahak atau tidak.

“Susu aja. Mami buatkan ya, ya? Susu cokelat Dedek mau, Mi.” Mami tercengang mendengarnya. Dibanding susu formula, Zee memang lebih senang minum susu fullcream dan susu uht. Tak apalah, setidaknya ia mengerti jika Mami tidak ingin ia sering-sering minum teh.

“Mami buatkan, Dedek tunggu sini ya. Oke?” Mami tersenyum dan menggerakkan tangan membentuk huruf O.

“Dedek tunggu sini. Main sendiri. Main abc.” Sambil tersenyum lebar Zee menyahut. Syukurlah si kecil dua puluh lima bulan ini sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah dan mengerti perintah serta ucapan-ucapan singkat Mami.

“Dek, ini susunya. Tunggu dulu sebentar ya, masih agak panas.” Mami kembali ke kamar dan mendekati Zee. Tanpa diduga, ia malah merengek.

“Dedek pegang. Dedek pegang susunya.” Kedua tangan mungil Zee berusaha menjangkau segelas susu yang berada di pegangan Mami. Karena merengek terus, akhirnya Mami biarkan ia mencoba merasakan sendiri panas yang terasa pada gelas.

“Nggak mau, Mi. Panas.” Dengan cepat Zee menyerahkan kembali gelas kepada Mami.

“Nah, kan Mami udah bilang tadi. Ditunggu dulu sebentar biar dingin.” Zee masih menatap Mami sebelum kembali menyibukkan diri dengan mainannya dan melupakan kemauannya untuk minum susu. Karena melihat susu yang hanya teronggok, Mami menawarkan kembali kepada Zee.

“Dedek mau susunya?” Ia memandang Mami, lalu mengangguk.

“Mami pegangkan. Dedek nggak mau. Panas. Panas.” Sepertinya karena ia tadi sempat merasakan panas dari gelas, sekarang tak berani lagi menyentuh.

“Nggak apa-apa. Susunya udah dingin. Dedek bisa pegang sendiri sekarang.” Awalnya Zee tetap menolak dan sedikit merengek, namun lama-kelamaan ia tampak mengerti dan langsung menggenggam gelas.

“Nah, gitu dong. Anak pinter udah bisa minum sendiri.” Mami bertepuk tangan sambil menatap Zee lembut.

Hari ini nggak cukup menyita waktu dan tenaga untuk berkomunikasi secara produktif dengan Zee. Efek cuaca kali ya. Kalau adem Zee memang seringkali lebih tenang dibandingkan saat panas membara. Main lagi kita yuk, Zee!

Pancar Matahari Family

Selasa, 07 November 2017

Main Crayon Yuk!


Day 6

Selasa, 7 November 2017

Setelah semalam Pekanbaru diguyur hujan, pagi ini cuaca sepertinya masih enggan beranjak meninggalkan kegelapan. Mendung menggantung sejak pagi hingga pukul delapan lewat, membuat Zee betah meringkuk di kasur. Hampir pukul delapan lewat tiga puluh menit ketika Zee akhirnya bangun dan beranjak dari tempat tidur.

“Dek, mandi yuk.” Ajak Mami. Dan seperti biasa, Zee menolak. Pasti ia akan beralasan dingin. Padahal kemarin sore, bocah yang baru genap dua puluh lima bulan itu justru minta mandi hujan. Ia tak takut sedikitpun meskipun air turun begitu derasnya dari langit, ditambah petir dan kilat yang sahut-menyahut terdengar memekakkan telinga.

“Nggak mau. Dedek mau main crayon, Mi.” Sambil merengek, Zee mengulurkan tangan, minta Mami gendong. Dan kalau sudah seperti ini, Mami tahu maksud bocah kecil nan aktif itu. Apalagi kalau bukan ingin mengambil crayon?

“Kalau main crayon sekarang, kita mainnya sebentar aja ya. Abis itu mandi.” Mulutnya mengerucut ke depan.

“Dedek main crayon! Main crayon!” Pekikan mulai keluar dari mulut mungilnya.

“Dedek pilih main crayon sebentar terus mandi, atau mandi dulu sekarang abis itu kita main crayonnya lama?” Matanya membulat memandang Mami. Kena lagi kamu, Bocah! Haha.

“Pilih mandi kan?” Mami mempercepat ajakan. Zee memang tidak menjawab, namun bahasa tubuhnya menunjukkan kalau ia sudah melunak dan bisa diajak mandi.

“Yuk kita mandi. Abis itu kita main crayon. Dedek mau buat apa? Gambar Panda? Donat?” Sambil mengajaknya berbicara, Mami menuntun Zee ke kamar mandi.

Aktivitas mandi pagi Zee kali ini berlangsung cukup singkat karena ia mandi sendiri, sedang biasanya ia mandi bersama Mami. Drama terjadi ketika tiba saatnya menggosok gigi. Mami mengoles pasta gigi ke atas sikat gigi lalu menyerahkan kepada Zee.

“Dedek gosok gigi sendiri?” Ia memandang sikat gigi lalu mulutnya terbuka, hendak protes.

“Nggak mau! Dedek nggak mau gosok gigi.” Zee berteriak. Mami tersenyum sambil mengusap rambutnya yang masih basah.

“Nanti kalau Dedek gosok gigi, mulutnya harum. Gigi Dedek bersih.” Mami berusaha menjelaskan. Entah ia paham atau tidak. Lama ia berpikir, sebelum sebuah kalimat keluar dari mulutnya.

“Dedek gosok gigi. Nanti Allah sayang.” Kata Zee sambil tangannya meminta sikat gigi yang masih Mami pegang.

Meskipun hanya beberapa kali menggosok dan tidak mau berkumur, setidaknya si bocah sudah mau membersihkan giginya.

“Anak Mami pintar, sudah bisa menggosok gigi sendiri.” Zee meringis lebar.

Keluar dari kamar mandi, Zee langsung memberikan kode kepada Mami.

“Zee Zee wants to play. Zee Zee wants to play.”

Dan belum juga sempat memakai baju, Zee langsung teringat kesepakatan kami sebelumnya. Ia langsung menagih sambil tersenyum lebar.

“Main crayon, Mi! Dedek main crayon.” Kesabaran Mami kembali diuji.

“Kita pakai baju sebentar dulu ya, abis itu main crayon lama deh.” Tidak cukup membantu, karena rengekan sepanjang Mami memakaikan baju terus terdengar. Setelah semuanya beres, saat bermain akhirnya tiba.

“Yuk kita main crayon. Nih sini Dedek mainnya, pakai buku gambar.” Mami mengambilkan crayon dan buku gambar. Zee memekik kegirangan.

“Mami duduk sini.” Matanya kembali memandang Mami sambil memohon.

“Mami buatkan panda,” ucap Zee.

“Buat anggur red lagi.”

“Buat donat brown, Mi. Mami dua. Sama donat green.” Celoteh Zee membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung tertawa. Ia memang suka berbicara dengan mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.

Berbagai gambar kami buat. Mulai donat, panda, anggur, padi, gunung, dan banyak lagi yang lain. Sprei mulai kusut, crayon berserakan.

“Dek, bereskan crayon ya. Mami mau masak.” Mami berkata dengan nada rendah. Zee sempat protes, namun akhirnya ia menurut juga. Ditatanya satu persatu crayon ke dalam kotaknya.

“Udah, Mi! Dedek udah susun crayon.” Zee memandang Mami dan tersenyum bangga.

“Anak Mami hebat ya. Sudah pandai susun crayon sendiri. Tepuk tangan.” Mami memberikan tepukan tangan sambil tersenyum senang. Zee mengikutinya.

Crayon beres, namun keinginan mainnya belum berakhir. Mainan lain kembali ia keluarkan dan diserak di lantai. It's ok. Bermainlah sepuasmu, Zee! Masa kecil tidak akan berlangsung lama kok, Nak. Besok kita sama-sama belajar lagi ya menahan emosi.

Pancar Matahari Family

Senin, 06 November 2017

Mau Sambal Terasi?


Day 5

Senin, 6 November 2017

Pagi tadi seperti biasa, mengajak Zee mandi dipenuhi drama. Si bocah terus mengelak setiap Mami mengejarnya. Hampir setengah jam membujuk, akhirnya Mami berhasil juga membawa Zee mandi. Namun ternyata, drama berlanjut setelah ia selesai mandi dan sedang Mami pakaikan baju.

“Dedek mau buku baru sama buku Apel.” Buku baru, adalah sebutan Zee untuk Ensiklopedia Anak-Anak di Dunia, gift dari penerbit BIP beberapa waktu lalu.

“Pakai baju dulu, Dek. Abis itu baru kita baca buku.” Mami membujuknya dengan nada rendah sambil tersenyum. Namun ternyata gagal total. Si bocah malah merengek dan memekik. Akhirnya Mami yang mengalah, mengikuti kemauan Zee. Si kecil nan aktif itu pun membuka-buka buku sambil Mami pakaikan baju.

“Dek, Mami mau masak ya di belakang. Dedek ikut?” Bibirnya mencebik begitu mendengar Mami hendak meninggalkannya.

“Mami duduk sini aja.” Sambil merengek, Zee menatap Mami. Sebentar lagi pasti nangis. Batin Mami.

“Mami masak dulu sebentar ya.” Mami memberitahu Zee, dan si krucil itu tetap menatap Mami dengan mata berkaca-kaca, bersiap menumpahkan air mata.

Mami menunda untuk memasak, lalu duduk di sebelah Zee yang tengah tengkurap di kasur sambil membuka buku. Sepertinya memang harus dicoba memberinya pilihan lagi.

“Dedek mau Mami bacakan buku Apel aja abis itu Mami masak, atau Dedek ikut Mami masak sebentar abis itu kita baca buku Apel, buku baru, sama buku Dinar. Sambil tulis juga. Mau?” Hahaha. Biarlah si bocah bingung dengan kalimat panjang nan lebar yang Mami ucapkan.

Ternyata, dugaan Mami salah lho. Meskipun menatap Mami sangat lama seperti tidak mengerti ucapan Mami, nyatanya saat itu Zee sedang berpikir. Dan hasilnya, ia bisa menyampaikan pilihannya, meskipun dengan bahasa sederhana.

“Dedek ikut Mami. Mami bawakan buku baru.” Mami tercengang sesaat. Lalu tersenyum dan membantu Zee membawakan bukunya yang cukup berat.

Di dapur, jangan harap Zee mau diam sambil membaca buku. Ia justru bergerak lebih aktif dibandingkan Mami. Mulai dari membuka-buka rak piring dan mengeluarkan isinya, membuka kulkas dengan harapan bisa mengambil susu uht yang letaknya di rak paling tinggi, hingga puncaknya hendak masuk ke dalam tempat mencuci piring sekaligus menyimpan alat-alat dapur.

“Wajan itu, Mi. Mami ambilkan wajan itu.” Sambil menunjuk wajan kecil, Zee memohon.

“Buat apa wajan itu? Dedek kan ada wajan sendiri.” Maksud Mami wajan mainan berbahan plastik yang ia punyai.

“Nggak mau! Dedek mau wajan itu!” Zee mulai tantrum. Mami mencoba mengabaikannya dan memilih melanjutkan aktivitas dapur.

Mami mengeluarkan batu tumbuk untuk membuat sambal. Di dalamnya sudah terisi cabai, bawang, dan terasi. Saat Mami tinggal ke dalam mengambil garam, gula, serta jeruk nipis, rupa-rupanya Zee sudah beraksi.

“Mi! Tengok, Mi! Dedek pintar. Dedek masak.” Pekik Zee dengan riang. Tangannya menggenggam anak batu tumbuk sambil tersenyum jahil. Panik, Mami langsung datang menghampirinya.

“Zee, itu cabai tu, pedas tu.” Tak dihiraukannya ucapan Mami. Zee tetap mencoba mengangkat anak batu tumbuk dengan susah payah.

“Dedek nggak bisa, Mi. Nggak bisa.” Zee mengeluh disertai rengekan. Mami tersenyum dan mengusap kepalanya.

“Bisa, Dedek bisa kok. Coba.” Mami ikut memegang anak batu tumbuk. Zee mengangkatnya kembali.

“Angkatnya pelan-pelan, Dek.” Mami memberi instruksi sederhana. Zee mengikuti gerakan Mami, hingga akhirnya Mami melepas tangan dan membiarkan Zee menghasilkan bunyi berdenting, gesekan anak dan batu tumbuk.

“Horay! Dedek bisa! Dedek masak.” Setelah beberapa kali berhasil menumbuk bahan membuat sambal terasi di dalam batu tumbuk, Zee berteriak kegirangan.

Ya, ya, ya. Anak Mami memang hebat. Dan peran komunikasi produktif dalam menaikkan kepercayaan diri serta mendongkrak keberaniannya jelas sangat signifikan. Besok kita eksplorasi lagi ya, Zee.

Kakak, Abang, Om, Tante, Kakek, Nenek, Adik, mau sambal terasi buatan Zee? Sedap lho. Hihihi.

Minggu, 05 November 2017

Menara Ala Zee


Day 4

Minggu, 5 November 2017

Hari ini merupakan hari yang sibuk bagi kami. Mami dan Papi harus membuat sample produk makanan untuk persiapan usaha baru. Pagi-pagi, Mami sudah membangunkan Zee dan mengajaknya mandi. Tak ada drama yang terjadi, karena Mami membisikkan kalimat 'kita mau jalan' di telinga Zee saat membangunkannya. Bocah berumur dua tahun itu memang paling senang pergi keluar rumah. Termasuk ikut Mami dan Papi ke pasar.

Akhirnya setelah mandi dan memasak menu makan hari ini, kami bertiga pergi ke pasar pagi Arengka. Zee termasuk anak yang baik dan tidak pernah rewel jika diajak ke pasar. Mungkin karena sejak usianya enam bulan, ia sudah biasanya kami ajak ke tempat ramai tersebut. Begitu sampai di tempat parkir, mata Zee berbinar.

“Dedek mau naik odong.” Mami menoleh mencari di manakah gerangan odong-odong yang ia katakan tersebut. Setelah menyisir sekitar, ternyata bunyi nyanyian yang terdengar itu bukan dari tukang odong, melainkan sales susu kental manis yang sedang promosi.

“Itu bukan odong Dek. Tante itu jual susu. Dedek mau?” Mami menawari Zee.

“Nggak mau. Odong aja.” Zee masih mempertahankan keinginannya.

“Malam ya. Sekarang nggak ada odong. Es krim mau?” Akhirnya Mami mengganti pilihan agar ia tidak merengek.

“Mau. Dedek mau es krim.” Dengan ceria Zee melihat tukang es krim.

“Oke. Sekarang kita belanja dulu ya. Abis itu baru beli es krim.” Zee mengangguk.

Di dalam pasar, Zee tenang dalam gendongan Papi,  sementara Mami sibuk berbelanja. Kami menyelesaikan semuanya dengan cepat karena takut Zee kepanasan. Sampai di luar, rupanya ia kembali teringat tentang es krim.

“Es krim, Mi. Dedek mau es krim.” Baiklah, kali ini kamu boleh makan es krim, Bocah kecil.

“Kita duduk dulu sini ya baru makan.” Mami menjelaskan dengan kalimat sederhana sebelum Zee mulai menyendok es krim beraneka rasa. Ia mengangguk dan Mami tersenyum sambil membelai rambutnya.

Setelah selesai, kami pun langsung pulang. Sampai di rumah, untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak mengganggu pekerjaan Mami dan Papi, kami memberinya mainan. Papi membentang tikar di belakang rumah.

“Dedek main cetak-cetak.” Ah, mulai lagi ini bocah. Mami memang tidak pernah membiarkan Zee main dogh tanpa pengawasan, karena kadangkala ia masih suka memasukkan mainan tersebut ke dalam mulut.

“Kita main kaleng aja mau?” Mami menawarkan pilihan.

“Kaleng soya mau, Mi.” Karena Mami tengah sibuk di depan kompor, Papi yang mengambilkannya.

“Dedek main sendiri ya. Mami sama Papi mau masak.” Mami menjelaskan dengan suara lembut dan Zee mengangguk. Syukurlah, setidaknya untuk beberapa saat ia akan tenang.

Lama ia berkutat dengan kaleng dan suara-suara musik dari handphone. Sambil sesekali minta diambilkan susu uht, kue, dan makanan lain. Lalu tiba-tiba ia berteriak. Mami yang sedang fokus di dapur menoleh.

“Mi, tengok, Mi! Menara Dedek ini, Mi! Tinggi menara Dedek.” Ia tersenyum sambil memperlihatkan hasil karyanya. Rupanya tujuh buah kaleng soya dan sarang burung sudah tersusun menjulang tinggi ke atas.

“Eh, anak Mami pintar ya buat menara. Keren menara Dedek ni.” Mami memberinya pujian sambil bertepuk tangan. Zee berputar-putar sambil tersenyum lebar, sesekali menyanyikan lagu-lagu kesukaannya.

Begitulah, selama Mami dan Papi sibuk di dapur, selama itu pula ia sibuk dengan berbagai macam mainan. Dan akhirnya, kami memberinya kesempatan untuk bermain dogh saat sudah bisa mengawasi tanpa meninggalkan pekerjaan.

Zee adalah anak yang hebat. Di usia sekecil ini ia sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah. Sungguh anugerah yang luar biasa bagi kami. Besok kita main lagi ya, Zee.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...