Kamis, 19 April 2018

Math in Everywhere

Jumat, 20 April 2018


Setelah menyelesaikan tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3 yaitu mengenalkan anak pada matematika logis, banyak hal yang akhirnya membuka mata saya. Jika sebelumnya saya berpikir bahwa kecerdasan anak itu harus distimulasi terlebih dahulu baru akan terlihat, nyatanya, setiap anak itu terlahir dengan fitrah kecerdasan yang tidak terbayangkan oleh orang tua. Contohnya Zee, saat Mami ingin mengenalkan sebuah konsep yang menurut pandangan Mami belum ia mengerti, namun ternyata praduga Mami salah. Ia bahkan dengan lancar mempraktikkan konsep dan teori dengan lancar sebelum Mami jelaskan satu patah katapun.

Mengenalkan matematika logis kepada anak juga tidak harus terpaku pada masalah angka dan aneka persamaan rumit lainnya. Hal-hal sederhana seperti pola urutan warna, bentuk, bahkan hembusan angin yang terasa kencang maupun pelan, juga merupakan bentuk pembelajaran yang akan melatih si anak berpikir logis, runut, dan kritis. Mencari bentuk materi pembelajaran yang disenangi anak juga merupakan salah satu hal ampuh untuk mengenalkan matematika logis tanpa harus disertai unsur paksaan.

Terima kasih Tim Nasional Bunda Sayang atas pencerahannya lewat materi dan tantangan di sesi ini. Terima kasih fasilitator, korlan, serta perangkat kelas Sumatera 1. Terima kasih untuk teman-teman di kelas yang saling support tak kenal lelah.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 07 April 2018

Math with Vegetables Card

Sabtu, 7 April 2018


Day 10

Sampai hari kesepuluh membiasakan Zee dengan matematika logis, membuat Mami semakin menyadari jika dalam keseharian, saat melakukan aktivitas apapun, seringkali Zee bersetuhan dengan ilmu matematika. Seperti pagi ini misalnya. Saat kami sedang sarapan di belakang rumah, tampaknya segerombolan burung terbang, hinggap dari satu pohon mangga ke pohon yang lain.

“Mi, ada burung terbang. Banyak burungnya. Satu, dua, tiga, empat,” ucap Zee.

“Terbang tinggi burungnya,” lanjutnya. Mami menoleh ke arah yang ditunjuk oleh jemari mungilnya.

“Itu ada lagi burung. Nggak tinggi dia terbangnya. Satu, dua burungnya,” ucap Zee, kembali menghitung burung terbang.

“Dek, kalau burung terbangnya nggak tinggi, itu kita sebut rendah.” Mami membantu Zee mengenalkan tentang lawan kata, yang mana selain berfungsi ke pengetahuan literasinya, juga merupakan bekal untuknya mengenal matematika yang lebih rumit.

“Yuk kita gunting kartu yang ada di majalah Dedek. Abis itu kita main deh,” ajak Mami setelah kami selesai makan. Awalnya Zee menolak dan memilih nonton video. Namun Mami sengaja menggunting kartu sayuran di sebelah bocah aktif itu.

Benar saja. Trik yang Mami mainkan berhasil. Begitu semua kartu sudah Mami gunting rapi, ia langsung menarik kartu bergambar kacang kapri dan merobeknya. Tak mengapa, karena setelah itu, ucapan yang keluar dari mulutnya bikin Mami tercengang.

“Dek, kita main kartunya yuk. Kita belajar sama-sama dengan gambar sayuran. Mau?” tanya Mami.

“Sini, Mi. Sini. Biar Dedek yang susun. Dedek bisa. Dedek bisa. Mami nggak usah,” protes Zee saat Mami hendak memberikan contoh bagaimana cara memainkan kartu. Akhirnya Mami mengalah dan membiarkan Zee belajar dengan caranya sendiri. Dengam cekatan si bocah menyusun masing-masing sayuran dengan jumlah setiap sayur adalah dua buah. Yeay, rupanya meskipun tidak Mami ajarkan konsep-konsep dasar matematika secara detail, namun ia justru sudah menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari. Pertahankan ya, Zee. Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Jumat, 06 April 2018

Learn Math with Shopping

Jumat, 6 April 2018


Day 9

Hari ini merupakan hari kesembilan tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3. Tidak seperti sebelumnya, belajar menggunakan worksheet dan mainan, kali ini Zee belajar melalui aktivitas sungguhan. Sore tadi kami ikut meramaikan talkshow parenting yang diselenggarakan oleh IP Pekanbaru, bertempat di salah satu mall di bumi lancang kuning ini. Sesuai janji malam sebelumnya, Mami akan mengajak Zee bermain, makan, dan belanja usai acara.

Tujuan kami adalah salah satu supermarket yang ada di lantai dasar mall. Baru saja masuk dan melewati tumpukan keranjang, Zee sudah bergerak hendak menarik salah satu benda berwarna biru tersebut. Namun karena letak keranjang yang akan diraihnya itu tinggi sekali, akhirnya ia merengek dan meminta tolong kepada Mami untuk mengambilnya. Setelah itu, kamipun langsung masuk dan disambut onggokan buah, sayur, dan jenis bahan makanan basah lainnya.

“Mi, Dedek mau terong,” ucap Zee. Si bocah memang akhir-akhir ini berkali-kali minta dibuatkan jus terong belanda kesukaannya. Namun saat Mami mengedarkan pandangan, tak nampak buah kecil-kecil berwarna ungu.

“Terongnya tak ada, Dek. Kita beli yang lain aja yuk,” ajak Mami.

“Anggur, Mi. Dedek mau anggur.” Saat melewati pedingin berisi buah, Zee menyuarakan keinginannya. Dan benar saja, saat Mami mengambil salah satu anggur yang sudah dikemas, Zee tersenyum senang.

“Mami letakkan keranjang. Biar Dedek yang bawa,” tawar Zee. Mami mengerutkan kening. Wah, ini bocah mengapa tiba-tiba mau mengangkat keranjang belanjaan? Batin Mami.

Akhirnya Mami menuruti kemauan Zee. Kami berkeliling supermarket dengan Zee memegang keranjang.

“Dek, kalau capek bilang Mami ya. Berat tu,” ucap Mami. Zee menggeleng kuat sambil mengeratkan pegangannya pada keranjang. Mami mengalah, dan melanjutkan ke rak deterjen, pembersih lantai dan sebagainya. Setelah mengambil beberapa barang yang dibutuhkan, Mami mendekati Zee.

“Dek, Mami letakkan barang belanjaan Mami di keranjang. Abis ini Mami yang bawa keranjangnya ya,” lanjut Mami. Zee membiarkan Mami menyusun belanjaan di dalam keranjang.

“Mi, berat, Mi. Kurangkan. Keluarkan belanja Mami. Dedek bawa anggur aja,” kata Zee sambil mencoba mengangkat keranjang yang sudah bertambah bobotnya.

Mami mengambil kembali barang-barang selain anggur. Zee mengangkat kembali keranjang dengan ringan.

“Udah nggak berat lagi. Biar Dedek aja yang bawa.” Zee terlihat senang.

“Udah nggak berat lagi itu namanya apa, Dek?” tanya Mami. Zee terdiam.

“Nggak berat itu namanya ringan. Kalau barang belanjaan kita banyak, keranjangnya kan jadi berat, itu artinya bobot keranjang plus belanjaan besar.” Mami menjelaskan kepada Zee, entah ia mengerti atau tidak, tetapi si bocah terlihat mengamati wajah Mami.

“Nah, kalau keranjang kita isinya anggur Dedek aja, berarti bobotnya kecil, makanya jadi ringan dan Dedek kuat bawa.” Mami menambah penjelasan. Zee hanya mengangguk sekilas dan kembali asyik dengan keranjang, melanjutkan eksplorasinya.

Hari ini cukuplah sampai di sini. Tak menyangka juga rupanya Zee sudah paham konsep tentang berat dan ringan. Terus semangat, Zee. Besok kita belajar lagi.

Pancar Matahari Family

Kamis, 05 April 2018

Learn Math with Graphic

Kamis, 5 April 2018



Day 8

Hari kedelapan ini, Zee meminta Mami untuk membuatkan gambar. Dengan bersemangat, ia menyalakan laptop sendiri.

“Mi, buatkan gambar,” kata Zee setelah laptop menyala. Sebelumnya Mami menawarinya menonton video seperti yang biasa dilakukannya. Namun rupanya kali ini ia tak mau.

“Gambar apa?” tanya Mami.

“Gambar brokoli,” jawab Zee. Biasanya, kami membuat gambar dengan pensil warna atau crayon di atas buku gambar. Tetapi karena beberapa bulan ini Zee sering melihat Papi menggambar dengan laptop untuk ilustrasi buku anak, sepertinya ia jadi ingin melakukan hal yang sama.

“Oke. Tungguin bentar ya, biar Mami gambarkan. Dedek duduk di sini.” Mami menunjuk lantai di depan meja laptop.

“Udah ni, Dek,” ucap Mami setelah beberapa menit. Zee mengamati layar. Sampai di sini Mami belum terpikir untuk mengajak Zee belajar matematika sekalian.

“Gambar pisang lagi,” sahut Zee. Mami melanjutkan proses menggambar. Hingga setelahnya ia mengucapkan kata wortel, apel, jeruk, dan anggur. Untung saja bukan benda-benda aneh yang ia minta untuk digambarkan. Kalau iya, Mami lambaikan tangan sajalah. Hehe.

“Terus kita buat apa lagi sekarang?” tanya Mami. Zee terlihat berpikir sejenak.

“Pisang lagi. Wortel lagi,” ujar Zee cepat. Mendengar ucapannya itu, Mami langsung punya ide untuk membuatkan worksheet sederhana buat si bocah.

“Oke. Tunggu sebentar. Kita belajar matematika sekalian yuk,” ajak Mami. Zee tidak menyahut dan memilih berjalan-jalan keliling ruang tamu, tempat kami menggambar. Akhirnya tergambarlah worksheet seperti foto di atas.

“Dek, ini wortelnya ada berapa? Yuk kita hitung yuk.” Mami memperlihatkan hasil gambar seperti foto pertama. Zee tidak menjawab. Hingga Mami memancingnya.

“Satu,” kata Mami.

“Dua, tiga, empat,” lanjut Zee. Mami bertepuk tangan.

“Terus kalau brokolinya ada berapa?” Kembali Mami bertanya.

“Dua,” jawab Zee mantap tanpa menghitung satu persatu terlebih dahulu. Tentu saja Mami kegirangan.

“Kalau wortel sama brokoli, semuanya ada berapa? Yuk kita hitung sama-sama,” kata Mami.
Kami menghitung hingga angka enam. Zee tertawa senang.

Setelah selesai dengan worksheet pertama, sebenarnya Mami ingin melanjutkan ke worksheet kedua tentang pola. Namun si bocah sudah melesat, kembali melakukan eksplorasi. Baiklah, sepertinya kami harus menunda hingga esok pagi. Tak mengapa, karena belajar adalah hal menyenangkan, jadi alangkah lebih bagus jika dilakukan dengan suka cita, tanpa paksaan. Sampai jumpa besok.

Pancar Matahari Family

Rabu, 04 April 2018

Math with Video

Rabu, 4 April 2018


Day 7

Tak terasa sudah memasuki hari ketujuh tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3. Dan Zee, semakin menunjukkan aksinya yang mengindikasikan bahwa si bocah aktif ini merupakan seorang pembelajar mandiri. Rancangan permainan Emaknya sudah tidak lagi menarik baginya. Ia dengan sendirinya mempelajari matematika dari video yang dipilihnya sendiri di youtube.

Seperti yang terjadi pagi ini. Zee yang semula menonton video salah satu film kartun, memgubah tontonannya. Lagu anak-anak mengalun.

“Dua mata saya, hidung saya satu,” ucap Zee, mengikuti nyanyian yang ada di dalam video. Terang saja hal ini langsung memancing Mami untuk sekalian mengecek kemampuannya mengenali bagian tubuh serta hitungan jumlah masing-masing bagian tersebut.

“Dek, mana mata?” tanya Mami.

“Ini,” jawab Zee cepat sambil menggerakkan tangan, menyentuh kelopak mata yang sudah tertutup sebelumnya.

“Ada berapa mata Dedek?” tanya Mami lagi.

“Dua.” Dengan mantap Zee menjawab. Mami tersenyum.

“Kalau mata kanan, yang sebelah mana tu? Coba tunjukkan sama Mami.” Mami melanjutkan pertanyaan. Zee menyentuh kelopak mata kanannya. Mami lalu menanyakan mata kiri, dan Zee melakukan hal yang sama di mata kirinya. Tentu saja Mami gembira, dan langsung bertepuk tangan. Rupanya si bocah sudah konsisten mengetahui mana kanan dan mana kiri.

Pertanyaan Mami berlanjut dengan bagian-bagian lain. Sesekali, Zee bernyanyi sambil berdiri dan menunjuk bagian tubuh sesuai nyanyiannya. Ah, rupanya tidak serumit yang kita pikirkan belajar matematika itu. Bahkan lewat video dan obrolan sederhana seperti yang kami lakukan pun sudah termasuk sebuah pembelajaran bagi Zee. Dan tidak berhenti sampai di situ, Mami juga dikejutkan dengan aksi Zee yang tiba-tiba mengubah tontonannya ke materi counting numbers. Bukan hanya menampilkan simbol angka-angka, namun digambarkan dengan buah-buahan, kue, serta sayuran, sesuai jumlah angka yang sedang disuarakan oleh narator.

Semoga Zee selalu semangat untuk belajar secara mandiri setiap hari. Sampai jumpa esok pagi.

Pancar Matahari Family

Selasa, 03 April 2018

Kue Donat Mami

Selasa, 3 April 2018


Day 6

Pada hari keenam tantangan level enam Bunda Sayang Batch #3 ini, lagi-lagi Zee tidak menunjukkan minat untuk belajar konsep saat Mami menawarkan kembali aktivitas meronce yang gagal kami lakukan kemarin. Dan yang membuat Mami takjub, si bocah justru belajar secara mandiri. Mungkin memang benar, setiap anak itu merupakan seorang pembelajar yang mandiri.

Bangun tidur, seperti biasa, Zee selalu meminta pensil warna. Kali ini lengkap dengan buku gambar, tidak seperti biasanya yang hanya berbekal majalah anak-anak sebagai tempat menuangkan kreasi berupa 'benang kusut'. Awal mulanya Zee mewarnai gambar Abang sepupunya. Namun saat Mami sedang membaca buku di sampingnya, tiba-tiba Zee memanggi Mami.

“Mi, tengok Dedek ni, Mi,” ucap Zee.

“Dedek buat lingkaran,” lanjutnya. Mami jelas langsung menoleh saat ia mengatakan tentang lingkaran. Wah, si bocah rupanya sedang belajar matematika tanpa perlu Mami suruh.

“Mana lingkarannya, Dek?” tanya Mami.

“Ini, Dedek buat ni. Banyak lingkaran,” jawab Zee sambil terus menggambar bentuk bundar.

Nah, karena sudah membahas lingkaran, Mami akhirnya sengaja mengecek pengetahuan Zee terkait aplikasi bangun datar dalam keseharian.

“Kue yang bentuknya lingkaran, Dedek tahu?” Mami bertanya. Zee terlihat membuka mulut.

“Tahu. Kue donat. Kue donat Mami lingkaran.” Seketika emaknya speechles. Ini bocah cepat amat menjawabnya. Curhat kali ya karena sudah lama tidak makan donat buatan emaknya. Batin Mami.

Mami kembali menanyakan benda-benda lain di sekitar yang berbentuk lingkaran. Sekaligus bangun datar lain juga Mami tanyakan. Dan kesimpulannya, terkadang, kita sebagai orang tua terlalu berpikir rumit dan menganggap bahwa seorang anak butuh diajarkan terlebih dahulu tentang berbagai konsep matematika. Padahal, dengan mengamati dan berbekal fitrah untuk menjadi pembelajar mandiri, seringnya anak sudah tahu terlebih dahulu sebelum orang tua mengajarkannya.

Pancar Matahari Family

Senin, 02 April 2018

Velocity

Senin, 2 April 2018


Day 5

Separuh perjalanan dari jumlah minimal setoran tantangan level enam ini, Zee sepertinya sudah tidak tertarik lagi belajar konsep dengan menggunakan alat peraga maupun worksheet. Mungkin ia bosan. Ceritanya, pagi ini Mami menyiapkan bentuk-bentuk bangun datar yang terbuat dari kertas karton serta dua buah tali. Mami berencana mengajak Zee meronce sekaligus belajar shorting objects and pattern. Namun ternyata, ia cuma tertarik menyerakkan bangun-bangun datar tanpa berniat belajar lrbih lanjut. Ketika Mami bertanyapun, ia menjawab tidak. Akhirnya Mami mengalah dan membiarkan ia kembali bermain.

Alih-alih merespon ajakan Mami, Zee justru mengeluarkan mainan masak-masakan miliknya. Mulai dari sayur, buah, ikan, dan lain sebagainya. Ia juga melakukan aktivitas counting numbers saat menyusun mainannya secara berurutan. Saat tengah bermain, tiba-tiba Zee bangun dan berlari ke arah samping. Ternyata si bocah mengambil sepeda dan mulai menyalakan lagu. Saat itulah Mami tercetus untuk mengajak Zee mengenal tentang konsep kecepatan.

“Zee, kita belajar matematika yuk,” ajak Mami.

“Apa? Apa?” tanya Zee.

“Kita belajar kecepatan. Mau?” jawab Mami. Zee mengangguk, padahal entah ia paham atau tidak. haha.

“Coba Dedek kayuh sepedanya,” ujar Mami. Namun bukannya mengayuh, Zee malah berjalan dengan kaki, bukan menggerakkan pedal.

“Sekarang kayuh kencang-kencang,” lanjut Mami. Zee dengan cepat menggerakkan kaki. Hingga terdengar bunyi decit kaki beradu dengan lantai.

“Stop,” kata Mami.

“Sekarang pelan-pelan jalannya.” Mami mengarahkan Zee untuk kembali bergerak. Dan benar saja, rupanya si bocah sudah memahami tentang konsep dasar kecepatan. Ia melambatkan laju sepeda dengan menggerakkan kaki secara perlahan.

“Nah, itu tadi namanya kecepatan, Dek. Kalau Dedek jalannya cepat, berarti kecepatannya tinggi. Kalau Dedek jalankan sepedanya dengan kencang, Dedek akan cepat sampai ke belakang,” jelas Mami. Zee cuma mengamati wajah Mami, entah ia paham apa yang Mami katakan atau tidak.

“Terus kalau Dedek gerakkan sepedanya pelan-pelan, nanti Dedek lama sampainya di belakang. Paham?” tanya Mami. Dan Zee cuma mengangguk-anggukkan kepala sebelum kembali melesat dengan sepedanya plus kecepatan tinggi. Ah, dasar bocah. Selalu begitu, sudah mengerti praktik sebelum konsep.

Pancar Matahari Family

Minggu, 01 April 2018

Matching Object and Color

Minggu, 1 April 2018


Day 4

Setelah tiga hari kemarin belajar tentang hal baru, kali ini Mami juga berencana mengenalkan permainan baru. Saat Zee masih tidur di pagi hari, Mami membuat bentuk geometri sederhana, lagi-lagi hanya berkutat di empat bentuk dasar dulu, yaitu lingkaran, segitiga, persegi, dan persegi panjang. Mami menggambar bentuk benda di kertas karton, lalu mengguntingnya. Setelah itu, setiap bangun datar diwarnai dengan warna berbeda. Selanjutnya, Mami menggambar bentuk yang sama di kertas karton lain, namun tidak digunting. Terakhir, Mami membuat bentuk persegi menggunakan kertas HVS sebanyak empat buah dan mewarnainya sesuai warna bentuk geometri yang dibuat di awal.

Belum selesai aktivitas yang Mami lakukan, Zee terbangun. Ia menatap potongan-potongan kertas yang ada di dekat kepalanya. Matanya langsung cerah begitu mendapati ada crayon di sebelah kertas-kertas yang berserakan.

“Warna, Mi. Dedek mau warna,” kata Zee. Si bocah aktif itu memang akan langsung on meskipun baru bangun tidur.

“Sebentar, Mami selesaikan dulu ya potongnya. Setelah ini kita bermain sambil belajar. Belajar apa kita, Dek?” tanya Mami.

“Math,” sahut Zee cepat. Dasar bocah kecil, sudah diajar bahasa Indonesia, tetap istilah dalam bahasa Inggris yang lebih dulu nyangkut di otaknya.

Begitu Mami menyelesaikan alat tempur untuk bermain matching object and color, Zee tanpa disuruh langsung berdiri, meninggalkan kasur dengan membawa serta senjata untuk permainannya.

“Nah, letakkan di lantai dulu, Dek. Yuk kita susun ya,” ujar Mami begitu kami sampai di ruang samping.

Namun alangkah terkejutnya Mami saat hendak memberikan petunjuk permainan, ternyata Zee sudah terlebih dahulu menyelesaikan proses mencocokkan benda dengan bentuk yang sama.

“This is circle,” kata Zee sambil meletakkan lingkaran berbahan karton dengan warna oranye ke atas gambar lingkaran polos di kertas lain.

“This is triangle. Rectangle. Square,” lanjutnya sambil menyusun satu persatu benda pada tempatnya.

“Selesai! Yeaay, pintar!” pekik Zee sambil bertepuk tangan. Mami terbengong dibuatnya. Dan hanya bisa menjepret tingkah bocah lucu itu dengan kamera ponsel, lalu ikut bertepuk tangan begitu ia menatap Mami, seolah meminta Mami ikut tertawa bersamanya.

Meskipun Zee memang sudah paham konsep warna, geometri sederhana, dan materi basic lainnya, namun tak Mami sangka ia ternyata sudah paham mengenai materi asosiasi ini. Memang benar, tak seharusnya kita mendiskreditkan seorang anak dan menganggapnya tidak lebih memahami suatu hal dibanding kita, orang tuanya. Nyatanya, dengan berbekal kecerdasan bawaan, anak-anak mampu belajar secara mandiri, bahkan tanpa perlu kita mengajarkan.

“Sekarang kita main yang lain yuk. Kita susun warna yang sama. Seperti ini,” kata Mami akhirnya, mencoba mengajak Zee lanjut ke permainan matching color. Tangan Mami terulur, hendak mencontohkan kepada Zee dengan mengambil objek berbentuk lingkaran warna oranye.

“No. Jangan, Mi. Jangan. Biar Dedek. Dedek bisa. Bisa,” sahut Zee cepat sambil menahan lingkaran di tangannya. Mami membuka mulut dan mengerjap. Menanti apalagi yang akan dilakukan si bocah. Dan seperti sim salabim, hanya dalam hitungan menit, semua benda dengan warna yang sama sudah tersusun sebagaimana mestinya. Wow. Tak ada kata lagi yang mampu Mami ucapkan selain excellent buat Zee.

“Orange, blue, brown, green. Selesai. Udah, Dedek udah bisa. Main, Mi. Ambil sepeda,” ucap Zee begitu selesai dengan tugasnya. Mami masih bengong dibuatnya. Bahkan ia sudah tak mau lagi mendekat saat Mami hendak mencoba mengenalkan konsep dasar dari permainan yang baru saja kami lakukan. Ah, bocah. Tingkahmu sungguh tak terduga.

Akhirnya Mami mengalah dan membiarkan Zee sibuk dengan sepedanya. Tak mengapa menunda bahasan tentang teori, yang terpentik ia sudah bisa mempraktikkan secara mandiri. Dengan begitu, Mami tak perlu lagi mengkhawatirkan tentang perkembangan otak serta kemampuannya untuk melakukan sinkronisasi serta asosiasi terhadap dua hal yang sama. Tinggal nantinya melanjutkan permainan dengan level yang lebih sulit.

Baiklah, sampai jumpa esok pagi, semua.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...