Kamis, 16 November 2017

Zee's Creation



Day 15

Kamis, 16 November 2017

Seperti biasa, pagi ini Zee susah diajak mandi. Hampir satu jam Mami membujuk hingga akhirnya ia mau beranjak masuk ke dalam kamar mandi, dengan janji setelah mandi Mami akan menemaninya bermain crayon. Selesai mandi, belum sempat Mami memakaikan baju, ia sudah merengek, menagih janjinya untuk bermain crayon.

“Mami ambilkan buku Dedek. Sama crayon,” ucap Zee. Sambil sedikit membujuknya untuk bersabar, Mami menyelesaikan urusan memakaikan baju dengan cepat.

“Nih. Buku gambar Dedek sama crayon. Gambarnya di sini ya,” tunjuk Mami dengan jari telunjuk mengarah ke buku gambar.

Jika sedang bermain crayon, Zee tidak bisa ditinggal sendirian. Meskipun sudah disediakan tempat khusus untuk menggambar, tetap saja ia akan lebih senang memilih dinding, lantai, maupun sprei untuk dicoret. Sebenarnya hal ini wajar bagi anak seusianya, namun karena kami masih menumpang di rumah Kakek dan Neneknya yang kurang menyukai dinding penuh coretan, maka sebisa mungkin Mami selalu mengawasi Zee ketika sedang asyik dengan crayon.

“Mi, Dedek gambar ular. Ni komodo. Dinosaurus.” Celoteh si bocah sambil membuat coretan berwarna-warni. Bukan bentuk yang ia gambar, namun garis-garis lurus panjang, yang ia sebut ular, juga arsiran kecil-kecil yang menurutnya adalah komodo dan dinosaurus.

“Dedek sudah pintar gambar ya. Tepuk tangan!” seru Mami begitu Zee memamerkan hasil karyanya di depan Mami. Mendengar pujian dari Mami, ia tersenyum lebar, lalu kembali meneruskan kreasinya.

“Mi, Dedek coret sini ya? Ya?” Zee menoleh sebentar ke arah Mami sambil mencoretkan crayon ke atas sprei. Karena sudah berkali-kali ia menguji Mami dengan kelakuan jahilnya itu, serta Mami harus konsisten menerapkan komunikasi produktif, maka penggunaan kalimat 'jangan coret di situ' tidak lagi Mami gunakan untuk mengingatkan Zee.

“Dek, kalau gambar itu di buku gambar ya. Atau di papan tulis itu,” tunjuk Mami ke arah papan tulis yang tergantung di dinding kamar.

“Dedek sini aja gambar,” lanjut Zee dengan tangan terangkat, lalu perlahan turun hendak kembali mencoret sprei. Emosi Mami terpancing. Namun sekali lagi, Mami mencoba bersabar.

“Ini buku gambar Dedek kan masih kosong, jadi gambarnya di sini aja. Oke?” Mami membujuk perlahan. Zee menatap Mami cukup lama.

“Dedek mau digambarkan apa?” Jika tidak dialihkan segera, ia pasti akan tantrum dan tetap melakukan kemauannya untuk mencoret sembarang tempat.

“Panda Mami buatkan,” kata Zee.

“Oke, sini bukunya, biar Mami buatkan Panda.” Mami berkata sambil tersenyum. Zee mengangsurkan buku gambar bersampul merah muda ke hadapan Mami.

“Nanti lagi Dedek kalau mau gambar di buku ini ya. Kayak Mami nih,” ucap Mami.

“Iya,” jawab Zee cepat.

Kami melakukan aktivitas menggambar serta mencoret-coret buku hampir dua jam. Dan tak sekalipun Zee mencoret dinding maupun lantai. Sprei yang sebelumnya ia coret, tidak lagi terkena warna-warni crayon. 

Meskipun harus berkali-kali menjelaskan dan tidak selalu berhasil, serta tetap mendampingi aktivitas menggambarnya, penerapan komunikasi produktif cukup membantu kami. Mami belajar bersabar dan menghilangkan penggunaan kalimat negatif, sedangkan Zee belajar menangkap penjelasan Mami tentang sesuatu yang boleh ataupun tidak boleh dilakukan tanpa melibatkan emosi yang berujung tantrum.

Semangat ya, Zee. Mami yakin semakin besar nanti Zee akan lebih mudah mengerti makna dari setiap perkataan Mami.

Pancar Matahari Family

Rabu, 15 November 2017

Screen Time



Day 14

Rabu, 15 November 2017

Pagi-pagi sekali hari ini Zee terbangun. Sambil menunggu Mami salat subuh, ia bermain bersama Papi. Selepas itu, ternyata Zee mau tidur lagi. Mami mencoba mengajaknya keluar kamar, namun ia tidak mau dan merengek minta tidur lagi. Karena semalam si bocah tidur larut, akhirnya Mami membiarkannya kembali tidur.

Saat Zee tidur, Mami berkutat dengan urusan domestik. Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Zee bangun. Mau Mami ajak mandi langsung, ia tidak mau. Dan setelah mengamati ekspresinya, Mami menyimpulkan sepertinya Zee mau buang air besar. Karena setiap malam hari Zee masih memakai diapers, Mami memberikan waktu kepada Zee untuk buang air besar dulu, sementara Mami memasak menu makan siang. Satu jam lebih Mami memasak sekaligus mencuci piring. Setelah itu, Mami membujuk Zee untuk langsung mandi. Ada sedikit drama, namun dengan lembut Mami terus membujuk, hingga akhirnya ia menurut tanpa merengek.

“Mi, Dedek mau nonton,” ucap Zee saat Mami sedang membalurkan minyak telon di sekujur tubuhnya.

“Oke. Tapi sekarang pakai baju dulu ya. Setelah itu nonton,” putus Mami dengan suara tegas. Zee menurut, meskipun sesekali ia bergerak ke sana kemari saat Mami tengah memakaikan baju.

“Dedek nyalakan tv ya, Mi.” Baru saja Mami akan beranjak menjemur handuk, Zee sudah berlari ke ruang tengah dan memencet tombol power. Adegan film kartun kesukaannya langsung terpampang di layar.

“Dek, nontonnya sebentar aja ya. Nanti kalau film Rubi udah selesai, kita tidur ya,” Mami mencoba menerapkan komunikasi produktif untuk membatasi waktu menonton televisi. Karena selama ini, Zee tidak mau menuruti permintaan Mami jika Mami berkata jangan lama-lama menonton tv.

“Iya,” ucap Zee cepat sambil memandang layar.

“Janji?” tanya Mami.

“Janji. Abis nonton kita tidur,” jawab Zee. Mami tersenyum sambil mengusap rambutnya. Oke, Zee. Mari kita lihat janjimu. Batin Mami.

“Dedek nontonnya dari jauh sini, Dek. Duduk sini.” Mami kembali mengingatkan Zee saat ia berdiri terlalu dekat dengan televisi. Hampir saja keceplosan berkata jangan dekat-dekat nontonnya, namun Mami langsung ingat materi katakan yang kita mau, bukan yang kita tidak mau. Jadi strategi diubah.

Tanpa menjawab, Zee berjalan mundur mendekati Mami dan langsung duduk di pangkuan Mami. Wah, jelas saja Mami terpukau. Jika diperhatikan, si kecil ini tidak memerhatikan ucapan Mami, namun rupanya ia mencerna kalimat yang Mami katakan. Hebatnya lagi, ia menuruti permintaan Mami. Sepertinya komunikasi produktif berhasil.

Selama satu jam lebih Zee menikmati film kartun kesukaannya, sambil sesekali minta diambilkan tempe goreng. Ia berlari keliling ruangan sambil sesekali menari mengikuti irama yang ia dengar, saat film yang ditontonnya menyuguhkan adegan menyanyi. Mami membiarkan Zee menonton saat harus menunaikan salat dhuhur.

“Mi, tidur lagi kita, Mi,” ucap Zee saat jarum jam menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh menit.

“Tidur lagi kita, Mi,” rengek Zee lagi karena belum mendapatkan tanggapan serius dari Mami. Biasanya Zee memang sangat jarang meminta tidur siang sendiri tanpa Mami bujuk terlebih dahulu.

“Dedek udah nontonnya. Tidur lagi kita.” Zee membawa botol air minumnya ke dalam kamar dan langsung berbaring di kasur. Mami tersenyum. Sepertinya ia mengingat janjinya sebelum Mami memberinya izin menonton televisi. Sungguh tidak diduga anak sekecil Zee bisa konsisten dan bertanggung jawab. Padahal jika diamati, ia terlihat cuek dan tidak memedulikan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Mami.

“Dedek udah pintar ya sekarang, mau tidur siang.” Pillow talk berlangsung sebentar sebelum si bocah terlelap. Deretan gigi mungilnya tampak dipamerkannya, menanggapi pujian Mami.

“Besok lagi kayak gitu ya nontonnya. Nonton sebentar aja, abis itu tidur siang,” lanjut Mami. Zee tidak menjawab dan hanya tersenyum. Meskipun begitu, Mami berharap ia memahami kalimat yang Mami ucapkan.

Di era digital dan modern seperti sekarang ini, pengaruh teknologi memang tidak bisa langsung kita musuhi begitu saja secara frontal. Mungkin dengan sedikit menyiasati, tetap memberikan kelonggaran yang disertai aturan yang tepat, merupakan solusi bagi orang tua yang tidak mau anak-anaknya terlena dengan kemajuan teknologi, namun tidak juga tergerus arus zaman karena begitu kuat menghindari teknologi. Semoga Zee seperti itu ya, Nak.

Pancar Matahari Family

Selasa, 14 November 2017

Sarapan Sehat Ala Zee



Day 13

Selasa, 14 November 2017

Pagi ini langit murung tiada henti. Gerimis membuat hawa dingin menyergap tulang dan persendian. Zee yang menyukai udara sejuk, jelas saja terlelap hingga hari beranjak siang. Hampir pukul sembilan ketika ia bangun dan mau meninggalkan kasur.

“Dedek mau makan sama Papi.” Melihat Papinya sedang sarapan sebelum berangkat ke kantor, ia pun langsung menghampiri meja makan. Si bocah tembam ini memang sangat manja sama Papinya. Bukan sekali dua kali ia suka minta makan sama Papi.

“Nasi Papi udah mau habis, Dek,” sahut Papi. Namun rupanya Zee tetap tidak mau tahu. Ia merengek. Papi memberinya dua suap nasi goreng sebelum akhirnya nasi di piring Papi benar-benar tak bersisa.

“Dedek mau lagi,” rengek Zee. Mami yang  sedang berada di dapur langsung menyahut.

“Dek, Mami buatkan bubur oat mau?” Hahaha. Apalah Mami ni, mana tahu Zee oat itu apa kan? Mungkin begitulah ungkapan hati Zee kalau ia sudah bisa mengungkapkannya. Namun dugaan Mami salah.

“Mau, Mi. Dedek mau bubur.” What? Tidak salah dengar? Rupanya melihat bungkus oat, si bocah antusias dan langsung mengekori Mami yang sudah berdiri di depan kompor.

“Ya udah, Dedek tunggu sebentar ya. Duduk dulu ya.” Sambil menyalakan kompor setelah menuang oat ke dalam panci dan menambahkan air, Mami berkata ramah kepada Zee.

Beberapa menit kemudian, bubur oat matang. Zee yang tidak sabar, langung merengek.

“Mau, Mi! Dedek mau!” Ia menarik kaki Mami. Alhasil, Mami dan Zee langsung duduk saja di lantai depan kompor.

“Dek, buburnya masih panas. Tunggu sebentar ya, biar agak dingin.” Mami menjelaskan kepada Zee.

“Mau! Dedek mau!” Nah, tantrum si bocah mulai kambuh.

“Ya udah, coba makan. Buka mulutnya ya.” Daripada ia merengek, Mami sengaja membiarkam Zee merasakan panasnya bubur. Dan benar saja. Baru saja sendok masuk ke dalam mulut, ia mengeluarkan suapan pertama buburnya kembali.

“Panas, Mi. Dedek nggak mau,” ucap Zee. Mami tersenyum.

“Kan tadi Mami sudah bilang kalau buburnya panas. Jadi kita tunggu sebentar, biar agak dingin. Dedek minum susu dulu mau?” Mau mengalihkan perhatian Zee. Kebetulan juga si bocah mau.

“Dedek makan sendiri.” Sembari menarik mangkok bubur di tangan Mami, Zee merengek.

“Ya udah, Dedek pegang ni. Pelan-pelan ya makannya,” ucap Mami memberi instruksi. Baru dua sendok ia makan, kepalanya menggeleng.

“Dedek nggak mau lagi. Nggak mau,” kata Zee.

“Kenapa?” tanya Mami.

“Nggak mau,” ulang Zee. Mami tersenyum.

“Dedek mau sehat nggak?” Mami memancing Zee. Ia terlihat berpikir cukup lama, ia mengangguk.

“Mau, Mi. Mau.” Zee menjawab dengan penuh semangat.

“Nah, kalau mau sehat, kita sarapan oat ya.” Mami menjelaskan dan mata Zee langsung kembali menatap mangkok bubur.

“Mau, Dedek mau.” Zee kembali manuruti perkataan Mami.

“Dedek mau makan sendiri?” tanya Mami.

“Nggak mau. Mami suap Dedek. Panas,” jawab Zee cepat.

Mami akhirnya menyuapkan sesendok demi sesendok bubur oat ke dalam mulut Zee. Tak terasa, lebih dari separuhnya habis ia makan.

“Anak Mami pintar ya, udah tahu makanan sehat.” Mami memuji Zee sambil mengusap punggungnya. Ia tersenyum lebar.

Besok lagi ya, Zee. Kita belajar sarapan sehat, yuk!

Pancar Matahari Family


Senin, 13 November 2017

Cerita Zenitha Part 2

Sabtu, 30 September 2017


Bagi kami, akhir pekan adalah waktu yang selalu ditunggu. Karena setiap seminggu sekali, entah itu hari Sabtu atau Minggu, kami mempunyai jadwal outing. Kegiatan ini penting buat Zee, karena ia berkesempatan belajar di luar lingkungan rumah. Sebenarnya mulai Jumat malam, Zee udah bilang mau main perosotan, dan tempat main perosotan terdekat dengan tempat tinggal kami adalah di UNRI. Tapi biasanya tiap akhir pekan, di sana ramai. Susah kalau mau main karena harus bergantian dengan anak-anak lain, dan seringnya Zee jadi tidak ingin main lagi. Akhirnya kami memutuskan mengajak Zee ke Transmart untuk naik wheel dan odong-odong mobil, wahana favoritnya kalau lagi main di sana.

“Nanti malam kita naik wheel ya, Dek.” Mami mulai sounding ke Zee sejak pagi. Zee tertawa dan bilang mau. Kalau mau mengajak Zee pergi jalan, Mami memang harus memberitahunya sejak pagi, agar ia mau tidur siang. Entah bagaimana caranya ia bisa memanajemen waktu tidurnya sendiri di usia sekecil ini, tapi faktanya setiap kami menjadwalkan akan pergi jalan sore atau malam hari, Zee pasti akan merengek minta tidur siang sekitar jam satu sampai jam dua siang. Dengan sendirinya ia akan bangun tepat jam tiga atau saat salat ashar. Tetapi jika kami tidak menjadwalkan kegiatan di luar rumah saat sore hari, ia baru akan tidur saat sudah jam tiga atau empat sore, dan mengoptimalkan waktu siang untuk bermain.

Setelah memberitahu Zee tentang rencana outing sore nanti, Mami menawarkan sarapan kepada Zee. Alih-alih mau makan nasi, ia memilih untuk makan nanas, salah satu buah favoritnya. Mami memotong kecil-kecil buah nanas dan meletakkannya di mangkok kecil tempat biasa Zee makan.

“Dedek makan sendiri.” Tepat saat Mami akan menyuapkan potongan pertama, Zee memaksa untuk makan sendiri. Oke. Mami harus mengalah dan rela membiarkan ia bereksplorasi dengan konsekuensi potongan makanan pasti akan berceceran di lantai. Akhirnya Mami membiarkan Zee makan di depan televisi. Ia menonton serial kartun Shaun the Sheep. Meskipun sebenarnya Mami ingin meminimalisir asupan tayangan televisi pada Zee, namun karena kondisi lingkungan yang belum memungkinkan, idealisme itu harus dikesampingkan.

“Ada berapa kambingnya, Mi?” Sambil makan nanas, ia bertanya.

“Coba hitung, ada berapa.” Mami memang belum mengajarkan berhitung kepada Zee, namun sedikit banyak ia sudah mengerti tentang konsep berhitung dan jumlah benda.

“Dua.” Dan dua adalah jawaban favoritnya saat Mami bertanya jumlah benda apapun yang ia lihat.

“Ah, yang benar? Emang iya dua?” Mami kembali bertanya. Zee terlihat bimbang sambil menatap Mami, sesekali kembali melihat layar televisi.

“Tiga.” Tiga adalah jawaban favorit kedua setelah dua. Dan kebetulan untuk pertanyaannya kali ini, jawabannya adalah tiga.

“Hitung dulu yang betul, Dek.” Mami menguji kembali.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.” Dan Mamipun tertawa. Zee memang belum paham jika disuruh menghitung. Di angka berapa ia harus berhenti, ia belum tahu. Dan Mami memang sengaja belum berniat membetulkan kesalahan yang ia buat. Pokoknya kalau disuruh menghitung, ia akan langsung menyebut angka satu sampai sepuluh, tapi selalu melewatkan angka enam. Setelah lima, lompat ke angka tujuh.

Setelah cukup lama, akhirnya nanas di dalam mangkoknya habis. Meskipun sempat dibuat berserakan di lantai, ia kembali mau memungutnya satu persatu setelah Mami bilang nanti Allah sayang kalau makanannya dikumpulkan lagi.

“Dedek main, Mi.” Zee membalik mangkok yang sudah kosong. Tangan kanannya masih memegang sendok. Lalu dengan senyum terkembang, ia memukul mangkok.

“Ha, bunyi!” Zee memekik. Ia kembali memukul mangkok seperti  sedang bermain alat musik. Permainan ini memang salah satu favoritnya. Biasanya ia akan menggunakan kaleng-kaleng bekas minuman untuk digunakan sebagai alat musik mainan.

Bagi kami, belajar itu sederhana. Tidak harus mengajarkan teori rumit secara formal. Lewat aktivitas makan pagi hari ini, Zee juga sudah mempelajari sesuatu yang tidak menyimpang dari kurikulum yang kami terapkan. Ia belajar makan sendiri, termasuk ke dalam belajar kemandirian dan life skill. Ia juga belajar self esteem, tentang panca indera. Karena nanas yang dimakannya baru dikeluarkan dari dalam lemari es, ia beberapa kali bilang kalau buah tersebut dingin. Zee juga belajar art dan pretend play dengan menjadikan mangkok kosong sebagai alat musik mainan. Ia bahkan secara tidak langsung sudah mempelajari materi math/reasoning saat menanyakan tentang jumlah kambing dalam film yang ia tonton. Mengetahui nama hewan dan buah juga merupakan salah satu pembelajaran materi natural science. Menghabiskan makanan serta tidak membiarkan makanan berserakan di lantai juga salah satu pembelajaran tentang konsep bersyukur kepada Allah. Ia belajar agama, belajar mencintai Allah.

Minggu, 12 November 2017

Sandal Baba



Day 12

Senin, 13 November 2017

Pagi ini Zee bangun pukul 04.00, karena semalam ia tidur sebelum jam dua belas. Mami pikir ia mau diajak tidur lagi hingga usai salat subuh. Rupanya dugaan Mami salah. Setelah si bocah sibuk bermain botol air minum dengan menumpahkan isinya ke kasur, ia pun meminta Mami menyalakan lampu.

“Mi, hidupkan lampu, Mi.” Zee meminta dengan sedikit rengekan.

“Emang Dedek mau ngapain?” tanya Mami.

“Dedek mau baca. Mami ambilkan buku.” Zee menjawab dengan mata berbinar.

Akhirnya Mami menuruti keinginannya, alih-alih berkata jangan. Sembari menunggu Mami salat, Zee sibuk membuka-buka buku di atas kasur. Hingga tiba-tiba ia berkata.

“Makan nasi kita, Mi. Masak kita.” Dengan cengiran kecil, Zee menatap Mami.

Mami menuruti kemauan Zee. Dengan sekali membujuk, Mami berhasil mengajak Zee ikut ke dapur. Ia meninggalkan buku-bukunya. Selesai masak, Mami menyuapi Zee sarapan. Sambil sesekali si aktif itu bermain dengan lego dan peralatan masak-masakan. Setelah selesai, Mami membiarkan Zee bermain sendiri karena akan menyapu halaman dan dalam rumah.

“Mi, Dedek ambil sepatu, Mi.” Zee berjalan ke arah Mami sambil menenteng dua pasang sepatu boot miliknya. Dengan cekatan, ia menyusun sepatu-sepatu yang dibawanya ke atas rak tv. Lalu Zee kembali berlari.

“Mi, Dedek pakai sandal Baba.” Baba adalah panggilan Zee untuk Abang sepupunya. Sepasang sandal merah bertali sudah melekat di kakinya.

“Dek, kalau mau pakai sandal itu di luar rumah.” Mami menjelaskan kepada Zee. Ia hanya memandang Mami.

“Bukan dipakai di dalam rumah ya. Nanti kotor.” Mami kembali melanjutkan ucapannya.

“Lepas sandal Baba itu ya.” Dengan halus Mami memintanya melepas sandal Babanya. Namun bukannya diletakkan kembali ke rak sepatu, malah dibiarkan begitu saja di ruang tengah.

“Dek, sini.” Mami memanggil Zee yang tengah asyik membongkar crayon. Meskipun masih kecil, ia harus belajar bertanggung jawab.

“Tadi siapa yang ambil sandal Baba ni?” tanya Mami.

“Dedek, Mi,” jawab Zee cepat.

“Terus kenapa nggak dibalikin lagi?” Mami memancingnya agar belajar mengungkapkan perasaan.

“Di mana letak sandal, Dek?” Karena Zee hanya memandang Mami bengong, Mami kembali melanjutkan pertanyaan.

“Rak sepatu,” jawab Zee lagi.

“Nah, kalau gitu, sekarang Dedek susun lagi sandal Baba di rak sepatu ya.” Mami berjongkok di depan Zee sambil memberikan kode dengan mata agar ia mengambil sandal yang berserak di lantai ruang tengah.

Zee berlari sambil membawa sandal Baba. Mami mengikuti di belakang, dan melihatnya dari pintu. Rupanya meskipun tidak menjawab, si bocah langsung menyusun sandal dengan rapi, tepat di tempat semula.

“Udah, Mi!” pekik Zee sambil berjalan menghampiri Mami.

“Anak pintar udah pandai susun sandal sendiri ya sekarang,” puji Mami, membuat Zee meringis kegirangan. Ia pun melanjutkan aktivitas bermain, sementara Mami sibuk dengan urusan bersih-bersih rumah.

Mungkin begitulah anak-anak. Kadangkala ia terlihat tidak memahami apa yang orang tuanya bicarakan, namun nyatanya, otak cerdasnya sebenarnya menangkap maksud yang disampaikan oleh mereka. Orang tua hanya perlu bersabar, berkali-kali menjelaskan dengan kalimat sederhana agar mudah dimengerti. Tetap semangat ya, Zee. Besok kita lanjutkan lagi penerapan komunikasi produktifnya.

Pancar Matahari Family

Let's Play The Music



Day 11

Minggu, 12 November 2017

Biasanya, jika hari Minggu tiba, Zee akan menghabiskan Minggu pagi dengan berenang. Namun karena ia bangun sudah hampir pukul sembilan, maka kami meniadakan jadwal berenang. Mami yang saat itu sedang masak, membiarkan Zee menikmati akhir pekan dengan Papi. Ia menggelar tempat duduk, mengambil drumband, lalu minta kepada Papi untuk diambilkan kaleng soya dan sarang burung.

“Pi, Dedek main, Pi. Dedek main!” Seru Zee sambil mengangkat sebelah tangan dan stik drumband.

“Dedek nyanyi apa?” tanya Papi.

“Selamat, selamat, selamat pengantin baru. Kompang dipalu,” ucap Zee dengan irama teratur. Rupanya ia tengah menirukan lagu yang dinyanyikan Upin Ipin, seperti dalam video yang suka ia lihat di youtube.

“Pukul lagi drumband-nya, Dek. Sama kaleng soya-nya juga,” kata Mami menimpali. Tanpa diduga, dengan sebelah tangan, Zee memulai aksinya. Dengan feeling-nya, ia mulai memukul drumband, lalu satu persatu kaleng juga ia pukul menggunakan stik. Ah, anak sekecil ini sudah punya feel merasakan nada.

“Yeay! Dedek keren, pandai main musik ya,” puji Mami setelah serempak bertepuk tangan bersama Papi. Zee meringis, tersenyum lebar memamerkan gigi mungilnya.

Mami melanjutkan aktivitas dapur, sementara Papi sibuk dengan crafting-nya. Zee masih asyik bermain sendiri. Setelah selesai, Mami mengajak Zee mandi.

“Dek, kita mandi yuk,” ajak Mami. Seperti biasa, Zee berlari menghindari Mami.

“Nggak mau! Dedek main aja,” kilah Zee. Mami harus membujuk lagi.

“Nanti kita main lagi sepuasnya setelah mandi. Oke?” Zee menatap Mami skeptis. Mami balas menatapnya sambil tersenyum meyakinkan. Setelah melihat Zee melunak, Mami kembali ke mode pembujukan.

“Yuk Mami bantu bereskan mainannya ya. Abis itu kita mandi, baru main lagi.” Dengan lembut Mami menuntun Zee untuk mengajaknya membereskan mainan yang berserak.

“Mi! Udah, Mi. Dedek udah bereskan mainan.” Zee memekik. Mami langsung bertepuk tangan.

“Susun mainan. Susun mainan.” Tanpa menunggu komando dari Mami, Zee sudah mengangkat drumband beserta botol minumnya ke arah kamar. Mami menyusul.

“Anak Mami pintar ya, udah pandai susun mainan sendiri.” Mami mengacungkan jempol sambil mengusap kepala Zee.

Ah, akhirnya selesai juga proses bujuk membujuk masalah mandi. Zee yang asyik dengan musik ala-ala, enggan dipisahkan dengan kaleng-kaleng bekasnya. 

Semoga semakin besar nanti, dirimu bisa mengerti sendiri bahwa mandi itu baik untuk kesehatan ya, Nak.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 11 November 2017

Kotak Papi


Day 10

Sabtu, 11 November 2017

Hari kesepuluh di tantangan level 1 kelas Bunda Sayang IIP ini semangat Mami dan Zee masih membara. Mudah-mudahan bisa konsisten menerapkan komunikasi produktif hingga masa tantangan selesai.

Pagi ini Mami menyelesaikan urusan dapur sebelum Zee bangun. Jika biasanya hanya memasak untuk sarapan saja, kali ini Mami memasak menu makan siang sekaligus. Pukul delapan lewat si bocah bangun. Seperti biasa, ia langsung minta buku gambar dan crayon. Mami biarkan Zee bermain dengan warna sebelum mandi.

Aktivitas mandi pagi hari ini tidak terlalu banyak drama. Dengan sendirinya Zee mau menggosok gigi serta tidak perlu waktu lama untuk membujuknya agar segera masuk ke kamar mandi. Mungkin karena sebelumnya ia sudah Mami berikan waktu bermain sebentar. Selepas mandi, bahkan saat Zee belum memakai baju, ia sudah sibuk meraih mainan di dalam kotak, dan langsung membongkarnya.

“Mi, Dedek pakai sepatu.” Setelah selesai memakai baju, Zee berlari ke arah ruangan samping untuk mengambil sepatu boot di rak sepatu. Si kecil aktif ini memang terlihat menyukai fashion. Sesekali ia akan bergaya mengenakan sepatu serta topi pantai warna merah muda favoritnya.

“Dedek mau ke mana?” tanya Mami.

“Dedek mau pergi jalan.” Sambil kembali berlari setelah Mami memakaikan sepatu, Zee berteriak menyuarakan keinginannya. Mami menggelengkan kepala. Zee dan pergi jalan memang dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

“Ini siang, Dek. Panas. Kalau panas kita di rumah aja biar nggak sakit.” Mami mencoba menjelaskan secara simple. Ia memandang Mami, lalu kembali berlari.

“Dedek main ajalah.” Entah karena ia mengerti perkataan Mami sebelumnya atau tidak, tetapi kata-kata jalan sudah tidak ia dengungkan lagi.

“Dedek ambil kotak, Mi.” Mami langsung berjalan cepat menghampiri Zee. Eh, rupanya krucil ini sudah meraih prototype kotak desain produk karya Papinya. Hampir saja Mami terlepas dan mengeluarkan kata jangan. Untung saja seketika langsung teringat materi yang sedang diterapkan dalam komunikasi sehari-hari. Mami berjalan mendekati Zee.

“Dek, itu kotak Papi.” Mami berkata ramah dan memberikan jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan.

“Kotak itu buat kerja ya, Dek. Bukan buat main.” Mami melanjutkan. Zee menghentikan gerakan tangannya.

“Dedek mau main kotak? Yuk kita ambil kotak di tempat mainan Dedek.” Zee memandang Mami sangsi. Sepertinya ia tahu jika Mami hanya berusaha mengalihkan perhatiannya.

“Dedek mau buat kotak kayak punya Papi?” Mami memancingnya. Binar mata Zee menjawab pertanyaan Mami.

“Mau!” Pekik Zee. Mami tersenyum sambil mengelus punggung bocah dua tahun itu.

“Nanti kalau Dedek udah umur tiga tahun, kita buat kotak kayak punya Papi ya. Mau?” Bukannya Mami tak mau mengajak Zee crafting saat ini, namun melihat uji coba yang beberapa kali kami lakukan, sepertinya masanya belum tepat. Apalagi yang melibatkan gunting dan benda tajam lainnya, masih harus dijauhkan dari jangkauan Zee. Ajaibnya, si bocah mengerti.

“Mau. Dedek mau buat kotak umur tiga tahun.” Mami mengangguk sambil tetap tersenyum.

“Iya, nanti kita buat ya. Sekarang umur Dedek berapa?” Mami bertanya. Zee terlihat berpikir.

“Umur Dedek sekarang dua ta ...,” Mami menggantung ucapan.

“Dua tahun.” Zee menimpali. Mami tepuk tangan, mengapresiasi kepintaran Zee.

“Ya udah, sekarang kita main yang lain yuk. Kotak Papi buat apa tadi, Dek?” Mami sengaja mengingatkannya, berharap Zee membiarkan kotak itu aman berada di atas meja, tidak ia jamah lagi.

“Bukan buat main. Itu kotak Papi. Buat kerja,” ucap Zee riang sambil tersenyum. Mami tersenyum sambil kembali bertepuk tangan. Kami pun bermain dengan mainan lainnya. Zee memilih bermain lompat-lompat sambil sesekali belajar bergelantungan di teralis jendela.

Kadangkala, kita sebagai orang tua, terlalu dini menyimpulkan jika seorang anak kecil tidak mungkin memahami penjelasan yang kita jabarkan. Namun rupanya, penilaian kita tidak selalu benar. Yang harus kita lakukan adalah belajar menjelaskan sesuatu yang rumit menjadi kalimat sederhana yang mudah diterima seorang anak. Meskipun belum sepenuhnya mengerti, akantetapi otak anak pasti merekam penjelasan kita. Berdasar hasil observasi tersebut, sepertinya Mami memang harus lebih banyak belajar lagi. Semangat!

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...