Rabu, 24 Januari 2018

Aliran Rasa

Kamis, 25 Januari 2018


Sebulan sudah terlewati sesi ketiga kelas Bunda Sayang Batch#3. Pada sesi ketiga ini materi yang disampaikan oleh fasilitator di kelas adalah tentang melejitkan kecerdasan anak. Bagaimana caranya? Yaitu melalui family forum dan family project. Begitulah inti dari games level tiga yang harus dilakukan oleh setiap pelajar di kelas. Melalui family project ini diharapkan, kecerdasan anak meliputi spiritual, emosial, intelektual, maupun kecerdasan menghadapi tantangan dapat ditingkatkan.

Sesi ketiga ini merupakan bagian berat dalam perjalanan saya menuntut ilmu di kelas Bunda Sayang Batch#3. Saat jadwal games dimulai, saat itu pulalah pesanan siomay sedang menumpuk. Saya dan suami yang memang melakukan produksi sendiri, membuat saya kesulitan meluangkan waktu untuk menuliskan laporan kegiatan keluarga yang dilakukan bersama Zee. Point penting sudah didapat, dokumentasi sudah dilakukan, namun disaat hendak menuliskannya pada malam hari ketika semua aktivitas selesai, ujian berupa ketiduran datang. Ah, sungguh ujian itu sekaligus nikmat. Meskipun ada rasa sedih karena harus merelakan rapel laporan di keesokan harinya, namun jika tidak ketiduran, mungkin saya masih memaksakan diri untuk melakukan aktivitas seperti membuat laporan, padahal badan sudah meminta jatah istirahat. Jadi, untuk mengurangi kesedihan, saya mencoba bersyukur atas nikmat ketiduran yang telah Allah berikan.

Tantangan lain lagi juga saya hadapi, misalnya menjelang tenggat waktu pengumpulan laporan pukul dua belas malam, si kecil rewel dan minta ditemani tidur. Padahal saat itu, saya juga sedang mengerjakan pesanan. Alhasil, meskipun saya sudah menyelesaikan laporan, dengan teepaksa saya harus telat beberapa detik dalam pengumpulan. Jadi di sesi ini, saya hanya mengerjakan laporan selama sepuluh hari karena aktivitas yang begitu padat. Tetapi saya bersyukur, karena masih tetap bisa mengikuti kelas meskipun harus mencuri-curi waktu.

Ada hikmah yang saya dapatkan pada sesi ketiga ini, yaitu melejitkan kecerdasan anak ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan sebelumnya. Semua itu bisa dilakukan dengan sederhana, melalui aktivitas sehari-hari yang sudah dirancang sebelumnya.

Terima kasih IIP, terima kasih Mbak Amma yang telah berbaik hati menemani perjalanan proses belajar peserta kelas Sumatera 1, dan teruntuk suami serta anak saya tercinta, terima kasih karena selalu memberikan sedikit kesempatan kepada saya untuk belajar lebih dan lebih lagi. Semoga sesi selanjutnya saya bisa kembali konsisten menerapkan materi yang saya dapat di kelas.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 13 Januari 2018

Kue Ulang Tahun Ala Zee

Day 10

Sabtu, 13 Januari 2018



Pada hari kesepuluh tantangan level tiga Bunda Sayang, Mami mengajak Zee bermain dengan kayu. Bukan sebuah unsur kesengajaan. Hal ini dipicu karena Papi pagi ini sedang membongkar sebuah meja. Zee yang awal mulanya tengah menonton video, langsung tertarik dan mendekati Papi.

“Dedek mau apa?” tanya Mami dari dalam kamar mandi sambil mencuci baju.

“Dedek mau main,” jawab Zee.

“Main apa, Dek?” tanya Mami lagi. Namun Zee tidak kunjung menjawab.

“Ya udah, mainlah. Tapi hati-hati ya ada banyak paku tu. Itu ada kayu kecil-kecil bisa buat main tu, Dek. Minta sama Papi ya,” kata Mami. Dan seperti tersengat sebuah kilatan ide, Zee yang mendengar kata paku dari mulut Papi langsung beraksi.

Tangan kecilnya memungut satu demi satu paku yang telah dicabut oleh Papi dan menusukkannya kembali ke dalam bekas lubang. Ada tiga buah kayu kecil yang ia tempeli paku. Lalu tiba-tiba ia pun bernyanyi.

“Selamat ulang tahun. Yeay. Horray!” pekik Zee. Mami dan Papi tertawa sambil menggelengkan kepala. Betapa takjub kami dibuatnya. Sungguh si bocah ini begitu kreatif.

“Dedek buat apa tu?” tanya Mami.

“Kue ulang tahun ni, Mi,” jawab Zee sembari pura-pura meniup paku seolah itu adalah lilin-lilin kecil yang sedang menyala. Meningkatkan kecerdasan intelektual si bocah ini tidak susah, hanya perlu dipancing sedikit. Semoga selalu konsisten ya, Zee.

Pancar Matahari Family

Jumat, 12 Januari 2018

Mengenal Allah Lewat Lagu

Day 9

Jumat, 12 Januari 2018



Di usianya yang kedua tahun, penting bagi Zee untuk mengenal Sang Maha Pencipta. Hal itu memicu Mami untuk membantunya meningkatkan kecintaan terhadap Allah. Cara yang kami pilih bukan memaksakan anak mengamalkan syariat, melainkan dengan cara asyik. Contohnya lewat lagu.

“Dek, Dedek mau nonton apa?” tanya Mami saat Zee meminta handphone.

“Tayo lah, Mi. Tayo,” jawab Zee.

“Nggak ada yang lain?” Mami menatap mata Zee.

“Nggak mau lain. Tayo aja,” sahut Zee. Karena sepertinya Zee tidak akan mau dihadapkan pada pilihan lain, maka Mami memberinya waktu sejenak untuk menikmati keinginya. Setelah hampir setengah jam, Mami mencoba kembali kalimat yang sebelumnya.

“Dedek mau nonton Omar Hana? Sini biar Mami bantu carikan.” Mami berkata lembut.

“Mami carikan. Dedek nonton Omar Hana.” Zee tersenyum ke arah Mami.

Begitu ketemu, Mami langsung memberinya kepada Zee. Si bocah aktif ini memilih lagu Bismillah, Sayang Semuanya, Sayangi Anak Yatim, dan lainnya.

“Dek, Dedek mau masuk surga nggak?” tanya Mami.

“Mau. Sama Khadijah, Abu Bakar, Nabi Yunus,” jawab Zee.

“Kalau gitu Dedek harus jadi anak baik ya. Lihat tuh videonya. Omar sama Hana baik kan sama temannya?” kata Mami. Zee tidak menjawab dan memilih tetap memandangi layar handphone yang sedang menayangkan lagu Sayang Semuanya.

Tak mengapa, Nak. Setidaknya kamu mau sesekali meninggalkan tontonan edukasi umum dan memilih video anak Islami. Mami yakin semakin besar nanti kamu semakin pintar.

Pancar Matahari Family

Kamis, 11 Januari 2018

Adab Meminjam Barang

Day 8

Kamis, 11 Januari 2018


Memasuki hari kedelapan tantangan level tiga Bunda Sayang ini, Mami kembali mengajak Zee untuk meningkatkan kecerdasan spiritualnya. Kali ini Mami menekankan pada tata cara meminjam barang kepada orang lain. Hal ini terpicu dari Zee yang mengamuk saat meminjam handphone Mami.

“Dedek mau handphone Mami,” ucap Zee dengan pelan.

“Dedeknya mau handphone Mami, Mi!” ulang Zee mulai meninggikan nada suara ketika melihat Mami tidak merespon.

“Handphone! Mau handphone!” pekik Zee.

“Sebentar ya. Mami pakai dulu sebentar handphonenya,” jawab Mami.

“Nggak mau!” teriak Zee, lalu ia pun mulai menangis.

“Handphone! Handphone! Mau handphone Dedeknya!” Ditengah tantrum, Zee memekik.

“Kalau mau pinjam handphone Mami, gimana bilangnya?” tanya Mami.

“Dedek mau handphone Mami,” jawab Zee.

“Bukan begitu bilangnya. Tapi begini, Mi, Dedek pinjam handphone Mami ya, Mi,” ucap Mami. Zee tertawa di tengah tangisnya.

“Ayo bilang dulu kalau mau handphonenya,” lanjut Mami. Zee menatap Mami.

“Mi, pinjam handphone Mami, Mi,” kata Zee pelan.

“Ulang lagi, Dek,” pinta Mami.

“Dedek pinjam handphone Mami, Mi,” jawab Zee. Mami tersenyum. Meskipun didahului dengan drama tantrum dan pekikan, namun akhirnya si bocah yang kuat pendiriannya ini mau juga belajar tentang adab meminjam barang.

Jangan pantang menyerah ya, Zee. Perjalanan ini masih panjang. Keep spirit.

Pancar Matahari Family

Rabu, 10 Januari 2018

Belajar Warna

Day 7

Rabu, 10 Januari 2018




Sore ini Zee yang melihat Mami sedang membereskan beberapa box tempat buah, langsung merengek dan meminta box yang sedang Mami pegang.

“Dedek mau inilah, Mi,” kata Zee.

“Tapi kotak ini kan buat tempat buah, Dek. Buat jualan,” sahut Mami.

“Dedeknya mau tutup. Mau tutup,” cerocos Zee tanpa peduli jika Mami belum memberikan izin.

“Emang Dedek bisa?” pancing Mami.

“Dedek bisa. Dedek bisa.” Dengan antusias, Zee menunjukkan ekspresi gembira di wajah.

“Ya udah, main sini.” Mami mengajak Zee bermain di dekat bangku kayu.

“Mi, kotak sama, Mi.” Zee langsung memekik begitu selesai menata tiga buah box.

“Iya. Kotak sama. Tapi tutupnya beda kan?” tanya Mami.

“Dedek tutup warna pink lah,” ucap Zee.

“Ah, ini ada,lagi. Blue sama green. Mana lagi ini, Mi?” Zee menatap Mami.

“Yang mana hayo? Yang belum bertutup dong. Mana, Dek?” Mami memancingnya untuk meningkatkan kecerdasan intelektualnya, terlebih kemampuan bernalar dasar.

“Ini, ini. Tengah Dedek tutup warna green.” kata Zee.

“Oke deh. Anak Mami pintar tutup kotak sendiri ya,” puji Mami. Zee bertepuk tangan.

“Terus warna apalagi, Dek?” Mami sengaja membawa Zee larut dalam proses pembelajaran.

“Warna blue belum lagi,” jawab Zee.

“Sebelah mana lagi, Mi?” tanya Zee.

“Coba Dedek lihat. Yang mana lagi yang masih terbuka kotaknya?” Mami sengaja mengajak Zee bermain logika.

“Itu, tepi,” sahut Zee.

“Dedek tutup dulu ya,” lanjut Zee sambil tangannya sibuk, berusaha menutup kotak.

“Horay!” Zee memekik begitu berhasil menutup kotak. Ia tertawa lebar.

“Dedek senang, Mi,” kata Zee.

“Iya. Kalau Dedek tertawa seperti itu, namanya senang. Kalau marah, gimana, Dek?” pancing Mami. Zee menirukan suara orang menggeram.

“Kalau sedih?” tanya Mami lagi. Zee menjawab dengan berpura-pura menangis.

“Kotaknya ada berapa ni, Mi?” tanya Zee tiba-tiba.

“Coba Dedek susun ya,” kata Zee sebelum Mami sempat menjawab pertanyaannya. Ia pun menumpuk satu demi satu kotak yang ada di hadapannya.

“Jadi, ada berapa kotaknya, Dek?” tanya Mami.

“Dua,” jawab Zee cepat.

“Yang bener?” Mami tersenyum misterius. Zee terlihat berpikir sejenak.

“Tiga,” ucapnya setelah beberapa menit diam.

“Kok tahu? Gimana cara hitungnya?” tanya Mami.

“Gimana cara hitungnya?” ulang Zee.

“Tunjuk dong kotaknya sambil dihitung,” jawab Mami. Zee langsung menunjuk satu demi satu kotak, namun hitungannya tidak berhenti di angka tiga dan berlanjut hingga angka sepuluh.

Ah, dasar bocah ajaib. Lumayan juga logikanya hari ini. Besok kita belajar lagi ya, Zee. Semangat.

Pancar Matahari Family

Selasa, 09 Januari 2018

Adab Meminta Tolong

Day 6

Selasa, 9 Januari 2018



Pada hari keenam tantangan level tiga Bunda Sayang, ide meningkatkan kecerdasan spiritual Zee tercetus seketika saat ia meminta untuk diambilkan susu kotak di pagi hari. Cara si bocah ini meminta yang dibarengi dengan rengekan dan ketergesaan, membuat Mami kembali mengulang untuk mengajarinya cara meminta tolong.

“Mau susu, Mi. Dedek mau susu. Susu!” pekik Zee.

“Bilangnya yang bagus dong, Dek. Gimana bilangnya kalau minta tolong Mami buat ambil susu?” tanya Mami. Zee merengut. Ia enggan menjawab pertanyaan Mami.

“Mi, tolong ambilkan susu, Mi. Gitu bilangnya. Coba Dedek bilang gitu dulu baru Mami ambilkan nanti susunya,” ucap Mami, masih berusaha membujuk Zee.

“Apa bilangnya? Mi ...,” lanjut Mami. Zee sedikit membuka mulut.

“Tolong ...,” kata Mami.

“Mi, ambilkan susu tolong, Mi,” kata Zee cepat.

“Apa, Dek? Coba ulang lagi,” pinta Mami.

“Ambilkan susu tolong, Mi,” sahut Zee pelan. Mami tersenyum.

“Nah, gitu dong. Tunggu sebentar ya biar Mami ambilkan,” kata Mami seraya bangkit dari duduk.

“Nih, susunya. Apa bilangnya kalau sudah Mami ambilkan?” tanya Mami.

“Nggak. Nggak mau,” jawab Zee. Mami menggeleng. Sepertinya menjadi PR bagi Mami untuk terus membiasakan Zee mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, Mi. Gitu bilangnya, Dek. Besok bilang gitu ya kalau Mami sudah ambilkan susu. Oke?” Mami tersenyum sambil menatap Zee. Ia diam tidak menyahut.

Tak mengapa. Kita tidak boleh menyerah. Besok kita coba lagi ya, Zee. Mami tahu Zee anak yang baik.

Pancar Matahari Family

Minggu, 07 Januari 2018

Adab Makan

Day 5

Senin, 8 Januari 2018


Di hari kelima tantangan level tiga ini, Mami kembali mengajak Zee untuk meningkatkan kecerdasan spiritualnya. Hal ini tercetus saat si kecil sibuk makan kerupuk sambil berbaring telungkup di atas bangku kayu.

“Dek, kalau makan itu kita harus duduk. Tidak bagus berbaring seperti itu,” ucap Mami. Zee tidak bergeming.

“Zee, dengar apa kata Mami?” tanya Mami saat melihat Zee diam saja tanpa berusaha bangkit dari posisinya.

“Yuk duduk yuk. Mau Mami bantu?” tanya Mami lagi.

“Nggak ah, Dedek duduk sendiri.” Zee bergerak pelan dan berangsur mengubah posisi yang semula tengkurang menjadi duduk. Namun kali ini, ia tidak juga duduk dengan posisi yang bagus.

“Dek, kalau duduk itu kakinya di bawah. Dedek kan perempuan. Tidak bagus kalau kaki diangkat ke atas seperti itu. Turunkan kakinya, Sayang,” ucap Mami sambil tersenyum lembut dan menatap Mami Zee.

Perlahan-lahan Zee meluruskan kaki kanannya dan menurunkannya dari atas bangku.

“Ih, anak pintar. Anak Mami sudah bisa duduk bagus ya,” puji Mami. Zee tersenyum lebar.

“Besok lagi, kalau sedang makan, harus duduk ya. Dan kalau sedang duduk di atas bangku, kakinya diturunkan ke bawah. Oke?” tanya Mami. Zee mengangguk-angguk tanda setuju. Semoga saja kamu ingat ya, Nak.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...