Kamis, 07 Desember 2017

Melatih Si Kecil Mandi Sendiri

Day 8

Kamis, 7 Desember 2017





Setelah tujuh hari sebelumnya Zee belajar makan sendiri, mulai hari ke delapan ini Mami ingin memfokuskan Zee untuk mulai belajar membuka baju, menaruh baju kotor ke tempatnya, serta mandi sendiri. Namun nyatanya, si bocah yang beberapa hari sebelumnya sudah mendengarkan tentang rencana Mami untuk melatihnya mandi sendiri justru berimprovisasi. Si kecil nan aktif ini malah ingin belajar memakai baju sendiri. Lihatlah kegigihannya untuk memasukkan tangan ke dalam lengan baju.

Setelah puas mencoba memakai baju sendiri, Mami berhasil membujuk Zee untuk mandi.

“Dedek mau mandi?” tanya Mami.

“Nggak mau. Dedek main aja. Mami mandi sendiri,” jawab Zee. Ia tengah sibuk memotong-motong kol menggunakan tangan dan berkata sedang memasak sayur.

“Kita main air mancur yuk, Dek. Mami bawa gayung green ya,” bujuk Mami. Zee menatap Mami lama. Setelah beberapa kali membujuk, Zee menurut.

“Dek, antar baju kotornya ya,” kata Mami setelah mengajari Zee membuka bajunya sendiri. Tanpa banyak protes ia langsung mengambil baju kotor di tangan Mami dan menaruh pada tempatnya.

“Yuk, masuk kamar mandi,” kata Mami. Zee menurut. Ia masuk ke dalam ember bulat berwarna hitam karena kami mandi berdua.

“Zee, ambil airnya pakai gayung,” kata Mami sambil mempraktikkan cara mengambil air dari ember hitamnya dengan menggunakan gayung. Zee mengikuti apa yang Mami lakukan. Ia mengambil air, lalu mengangkat gayung dan menyiramkan airnya ke lengan serta perutnya.

“Bisa, Mi! Dedeknya bisa mandi sendiri!” pekik Zee.

“Dedek hebat ya sudah bisa mandi sendiri,” puji Mami. Zee meringis. Mami lalu memakaikan sabun ke seluruh badan Zee.

“Zee, gosok badannya,” ucap Mami sambil menggosok bagian belakang tubuh Zee. Ia menurut dan menggosok dada serta perutnya.

Aktivitas mandi pagi Zee hari ini berjalan lancar. Ia sudah bisa mulai belajar mandi sendiri sesuai usianya. Tak apa, yang penting semangat dan kemauannya. Besok kita akan melakukan kegiatan yang sama ya, Zee. Tetapi harus fokus mulai dari membuka baju sendiri hingga memakai pakaian ganti setelah mandi. Sampai ketemu esok pagi, semua.

Pancar Matahari Family

Rabu, 06 Desember 2017

Melatih Si Kecil Makan Sendiri (7)

Day 7

Kamis, 6 Desember 2017





Hari ini merupakan hari terakhir Mami melatih Zee makan sendiri. Genap satu minggu sudah Zee selalu konsisten sarapan sendiri setiap hari. Dari yang awalnya ia makan sambil berlari, berdiri, berjalan, sampai akhirnya dengan sendirinya ia mau makan dengan baik. Dari yang semula ia makan berserak, hingga sekarang ia bisa makan dengan rapi.

Pagi ini setelah bangun tidur, Mami berniat mengajak Zee mandi. Namun ternyata si bocah memilih untuk sarapan terlebih dahulu.

“Dedek mau makan nasi, Mi,” pinta Zee.

“Iya sebentar ya Mami ambilkan,” jawab Mami.

Mami meninggalkan Zee sebentar, lalu kembali menghampirinya dengan membawa sepiring nasi. Zee sudah menunggu di bangku kayu.

“Dedek mau Mami suap?” tanya Mami.

“No, no, no. Dedek mau makan sendiri,” pekik Zee.

“Ya udah, makan sambil duduk ya. Berdoa dulu sebelum makan, Dek,” kata Mami mengingatkan Zee.

“Mi, Dedek mau tempenya aja,” ucap Zee sambil memotong-motong tempe di dalam piring dengan sendok.

“Sini, Mami bantu potongkan.” Mami mendekati Zee dan meminta piringnya.

“Nggak mau! Dedek potong sendiri,” kata Zee. Ia tidak mau menyerahkan piring kepada Mami. Karena jika sudah menginginkan sesuatu, Zee pasti akan ngotot mempertahankan keinginannya, maka Mami akhirnya membiarkan Zee melakukan apa yang ia mau. Mami melihat Zee kesulitan memotong tempe dengan sendok, hingga akhirnya ia memotong-motong tempe menjadi bagian-bagian kecil dengan tangan dan memasukkannya ke dalam mulut satu persatu.

Mungkin memang begitulah manfaat melatih kemandirian pada anak. Saat si anak sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan mandiri setiap hari, maka ia akan enggan dibantu oleh orang lain dan dengan sendirinya selalu meminta melakukan sesuatu tanpa bantuan.

Melatih Zee makan sendiri Mami rasa cukup sampai di sini untuk diamati. Ia akan tetap melakukan aktivitas makan sendiri meskipun tanpa dibuat laporan lagi.

Besok kita ganti fokus baru ya, Zee. Semangat! Sampai jumpa esok pagi semua.



Pancat Matahari Family

Selasa, 05 Desember 2017

Melatih Si Kecil Makan Sendiri (6)

Day 6

Selasa, 5 Desember 2017


Memasuki hari keenam dalam melatih Zee makan sendiri, Mami tidak lagi mengalami kesusahan membujuknya. Zee tidak lagi merengek minta disuap. Bahkan ketika Kakeknya menawarkan akan menyuapkan nasi kepada Zee, ia menolak sendiri dan meminta sendoknya kembali.

Pagi tadi setelah mandi, Mami langsung mengambilkan nasi buat Zee.

“Zee, makan dulu ya,” kata Mami kepada Zee yang tengah bermain ketumbar butir.

“Dedek makan sendiri, Mi. Mami fotokan,” pinta Zee. Mami memberitahu Zee agar ia duduk di atas bangku, namun ternyata si bocah dua tahun itu lebih memilih duduk di bawah dan menggunakan bangku kayu sebagai meja.

“Berdoa dulu, Dek,” ucap Mami mengingatkan Zee. Dengan semangat Zee langsung membaca doa sebelum makan.

Mami membiarkan Zee makan sendiri sambil melihatnya dari dekat, karena saat itu tengah menumbuk daging ikan. Sesekali Mami membantu Zee membersihkan nasi yang berserak di sekitar baju dan lantai tempat Zee duduk. Kemajuan yang ditunjukkan oleh Zee sangat mengagumkan. Ia tidak lagi makan sambil berjalan-jalan. Sesekali ia masih berdiri, namun secara keseluruhan, sikap yang ditunjukkan oleh Zee sudah sangat baik. Ia makan sedikit demi sedikit, pelan-pelan, dan menghabiskan nasinya hingga bersih. Zee bahkab mengantar tempat makannya sendiri ke tempat cuci piring dan berniat mencucinya. Namun karena keadaan lantai yang licin dan mudah membuat Zee terpeleset, Mami belum memberikan izin kepada Zee untuk melakukan aktivitas tersebut.

Besok hari terakhir dari minggu pertama Mami melatih kemandirian Zee. Namun bukan berarti juga menjadi hari terakhir Mami membantu Zee belajar makan sendiri. Seterusnya, Zee harus belajar konsisten menerapkan latihan kemandirian. Semangat, Zee.

Pancar Matahari Family

Senin, 04 Desember 2017

Melatih Si Kecil Makan Sendiri (5)

Day 5

Senin, 4 Desember 2017




Melatih kemandirian sepertinya memang memerlukan pembiasaan rutin. Hal ini dapat disimpulkan dari rutinitas makan pagi Zee. Memasuki hari kelima, ia tidak lagi merengek minta suap. Pagi tadi, setelah Mami berhasil mengajaknya mandi, langsung menawari Zee untuk sarapan. Pada awalnya ia menolak dan berkata tidak mau makan. Namun Mami sengaja langsung mengambilkan nasi dan memberikannya kepada Zee.

“Dedek makan sendiri ya, Mi,” ucap Zee.

“Nggak mau Mami suap?” pancing Mami. Zee langsung menarik piring dari tangan Mami.

“Nggak mau! Dedek makan sendiri aja,” tegas Zee dengan nada yang sudah mulai meninggi.

“Ya udah, Dedek makan sendiri. Tapi makannya duduk ya. Tidak boleh berdiri,” kata Mami. Zee yang semula tengah mengajak Kakeknya bermain balon langsung duduk di atas bangku kayu.

“Berdoa dulu, Dek. Gimana doanya?” tanya Mami. Zee diam, hingga Mami harus mengulangi permintaan beberapa kali agar ia mau membaca doa sebelum makan. Tidak sia-sia, karena pada akhirnya Zee mau berdoa sebelum menyuapkan nasi ke dalam mulut.

“Makannya rapi-rapi ya, Dek. Mami tinggal masak dulu.” Mami mengingatkan Zee kebiasaan baik yang menjadi PR kami. Ia mengangguk.

Hampir sekitar lima belas menit Mami membiarkan Zee makan sendiri tanpa ditemani. Tidak ada teriakan maupun pekikan, menandakan bahwa si bocah baik-baik saja dan tidak memerlukan bantuan.

“Dek, udah makannya?” tanya Mami ketika ada kesempatan melihat Zee di tengah sibuknya aktivitas produksi batagor/siomay.

“Dedek kumpul yang serak, Mi,” kata Zee sambil memungut butiran-butiran nasi yang terjatuh di bawah bangku. Mami tersenyum. Sepertinya si kecil ini mengingat perkataan Mami kemarin, yang mengatakan jika ada nasi yang berserak harus dikumpulkan.

“Anak Mami hebat, pandai kumpulkan nasi yang beserak sendiri,” puji Mami kepada Zee.

“Mami fotokan Dedek lah,” ucap si bocah. Mami tercengang. Narsis juga ini anak ya. Batin Mami. Sepertinya karena Mami selalu mengambil foto kegiatannya untuk dokumentasi, ia jadi terbiasa dengan berkegiatan sambil difoto.

“Tunggu ya,” jawab Mami sambil berlalu pergi mengambil ponsel.

“Sini, lihat sini, Dek,” kata Mami sambil mengarahkan kamera ponsel ke wajah Zee. Dan terciptalah senyum narsis sambil meringis seperti foto di atas.

“Ini, Mi,” kata Zee sambil mengangsurkan piring dengan sisa nasi sedikit kepada Mami.

“Dedek udah makannya? Nggak mau lagi?” tanya Mami.

“Nggak mau,” jawab Zee sambil menggeleng.

“Biar Dedek antar piring kotornya. Biar Dedek,” kata Zee sambil berdiri dari duduknya.

“No. Kalau masih ada sisa nasinya tidak diantar ke tempat cuci piring, Dek. Nanti biar Mami makan nasinya. Kalau sudah habis baru nanti kita antar ya piring kotornya. Oke?” jelas Mami. Meskipun mungkin diusianya yang baru dua tahun ini ia belum mengerti tentang hal-hal seperti itu, namun Mami pikir tidak ada salahnya menanamkan ajaran tidak membuang-buang makanan sejak dini.

“Kalau udah selesai makannya bilang apa, Dek?” tanya Mami.

“Alhamdulillah,” jawab Zee.

“Anak pintar. Sekarang minum air putih ya,” lanjut Mami. Zee meraih botol air putih yang terletak di atas bangku, tidak jauh dari tempatnya duduk.

Hari ini proses Zee makan sendiri tidak dipenuhi drama. Semoga setiap hari ia terbiasa mengurus dirinya sendiri sesuai tahapan usianya. Semangat ya, Dek.

Sampai ketemu esok ya, semua.

Pancar Matahari Family

Minggu, 03 Desember 2017

Melatih Si Kecil Makan Sendiri (4)

Day 4

Minggu, 3 Desember 2017




Hari ini masuk hari keempat sejak Zee belajar makan sendiri dengan baik dan benar. Jika pada dua hari pertama ia masih suka makan sambil berdiri, berlari, dan bahkan melompat-lompat, di hari keempat ini ia sudah bisa sedikit lebih teratur saat makan.

Saat Mami tengah sibuk berkutat di depan laptop dan jarum jam belum genap menunjukkan pukul tujuh, Zee sudah bangun. Ia bermain berlarian di dalam rumah. Saat Mami mengajaknya untuk mandi, ia mengelak dengan berbagai macam alasan. Karena setelah menyelesaikan pekerjaan dengan laptop Mami harus berpindah ke dapur untuk memulai produksi barang dagangan, maka Mami menawarkan Zee untuk makan pagi terlebih dahulu.

“Dedek mau makan?” tanya Mami.

“Mau. Dedek makan sendiri,” jawab Zee.

“Makan apa, Dek? Nasi goreng atau nasi putih?” tanya Mami lagi.

“Nasi putih aja,” kata Zee.

“Oke deh. Tungguin di belakang ya.” Salah satu cara Mami agar tetap bisa melatih Zee untuk makan sendiri tanpa takut mengotori ruangan dalam rumah adalah memanfaat area belakang rumah.

“Ini nasinya, Dek. Sini duduk sini makannya,” ujar Mami sambil melambaikan tangan kepada Zee yang tengah sibuk berlarian. Ia datang mendekat dan melihat nasi di dalam kotak makannya.

“Berdoa dulu ya. Gimana doanya?” tanya Mami. Zee tersenyum, lalu dengan lancar ia membaca doa sebelum makan. Saat ia akan mengangkat sendok dengan posisi berdiri, Mami kembali mengingatkan tentang etika makan yang baik dan benar. Karena target kami adalah melatih Zee makan sesuai aturan dan adab.

“Dek, apa kata Mami kemarin? Kalau makan itu kita harus duduk. Tidak boleh berdiri. Oke?” Zee mengangguk mendengar perkataan Mami. Lalu dengan cepat ia duduk di atas bangku kayu.

Mami mengamati si kecil yang sibuk menyendok nasi. Beberapa suapan ia lakukan dengan tertib, hingga tiba-tiba jahilnya kambuh. Sembari menyeringai tengil, Zee memanggil Mami.

“Mi, tengok ni, Mi,” kata Zee. Saat Mami datang dan melihatnya, rupanya satu sendok penuh nasi sudah siap masuk ke dalam mulut.

“Zee Zee, makannya tidak boleh banyak-banyak seperti itu. Dikit-dikit aja sendok nasinya ya,” jelas Mami. Namun beberapa kali Mami mengingatkan, Zee tetap melakukan sesuai keinginannya.

“Mi, udah, Mi,” pekik Zee setelah hampir setengah jam Mami membiarkannya asyik makan sendiri.

“Mi!” Zee kembali memekik karena Mami telat mendatanginya. Lalu sebuah suara berdenting terdengar. Mami berlari ke arah si bocah. Rupanya ia tengah melempar sendok ke lantai. Mungkin kesal karena Mami lambat merespon.

Mami mengamati ke sekeliling dan mendapati nasi yang lumayan berserak, seperti sengaja Zee pakai main. Stok kesabaran Mami memang sepertinya masih harus terus ditambah. Baiklah, yang terpenting sekarang Zee sudah mau makan sambil duduk. PR selanjutnya adalah melatih Zee untuk makan dengan rapi dan bersih. Semangat, Zee. Besok kita belajar lagi ya.

Pancar Matahari Family

Sabtu, 02 Desember 2017

Melatih Si Kecil Makan Sendiri (3)

Day 3

Sabtu, 2 Desember 2017




Hari ini Mami mengajak Zee untuk datang ke acara peringatan Milad IIP dan Wisuda Matrikulasi Batch #4. Pagi-pagi sekali Zee sudah Mami bangunkan. Meskipun awalnya ia enggan membuka mata, namun akhirnya mau bangun juga dengan iming-iming Mami ajak jalan.

“Dedek mau sarapan nggak?” tawar Mami. Ia berteriak bilang tidak mau.

“Minum susu mau?” tawar Mami lagi. Zee menggeleng. Akhirnya langsung mengajaknya mandi dan bersiap-siap.

Sampai di tempat acara, Zee riang sekali karena banyak teman-teman seusianya. Ia berlari dan baru diam saat merasa lapar.

“Dedek mau kue, Mi,” ucap Zee.

“Suap Mami,” kata Zee lagi begitu melihat Mami membuka kotak snack.

“Dedek kan sudah besar, makan sendiri ya,” ujar Mami.

“Dedek makan sendiri. Mau jelly,” tunjuk Zee saat melihat jelly slice di dalam kotak. Mami mengambilkan Zee jelly tersebut.

“Buka, buka,” pinta Zee sambil berusaha menarik plastik pembungkus jelly.

“No. Bukan begitu makannya, Dek. Nanti tangan Dedek kotor,” jawab Mami.

“Begini makannya,” ucap Mami sambil menarik plastik ke bawah dan menunjukkan kepada Zee agar ia mau memegang bagian kue yang masih terbungkus plastik. Zee menggigit besar-besar kue yang ada di tangannya.

“Gigitnya sedikit-sedikit, Dek,” kata Papi. Zee awalnya tidak mau ikut kata Papi, namun karena ia kesusahan menggigit, akhirnya menurut juga.

Zee menghabiskan kuenya dengan rapi tanpa berserak di mulut, wajah, maupun tangan. Ia juga mau minum air putih langsung setelahnya. Syukurlah, hari ini melatih ia makan sendiri tidak diiringi adegan drama seperti kemarin-kemarin. Semoga nanti lama-lama Zee terbiasa mandiri ya, Nak.

Pancar Matahari Family

Jumat, 01 Desember 2017

Melatih Si Kecil Makan Sendiri (2)

Day 2

Jumat, 1 Desember 2017



Hari kedua melatih Zee untuk makan sendiri pagi ini berlangsung cukup mudah. Setelah mandi, ketika Mami menawarkan kepadanya untuk sarapan, dengan cepat Zee menjawab ingin makan sendiri. Ia menunggu Mami mengambilkan nasi di tempat favoritnya, belakang dapur.

“Dedek makan sendiri, Mi,” pinta Zee.

“Iya, tunggu sebentar ya. Mami kukus kentang dulu. Abis itu Mami ambilkan nasi Dedek,” jawab Mami.

Mami menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, lalu segera mengambilkan sarapan buat Zee. Ia tersenyum begitu melihat Mami datang dengan membawa sepiring nasi.

“Dedek pegang piringnya, Mi,” kata Zee sambil berdiri.

“Dedek duduk dulu ya baru pegang piringnya. Nanti kalau dipegang sambil berdiri, piringnya jatuh,” jelas Mami. Ini memang sebuah tantangan yang harus kami taklukkan, karena meskipun Zee mau makan sendiri, tetapi menyuruhnya makan sembari duduk diam itu amatlah susah.

“Dedek pegang piringnya,” ucap Zee lagi, mempertahankan keinginannya.

“Duduk dulu, Dek. Dedek kan sudah besar, sudah ngerti, kalau makan itu harus duduk. Iya kan?” tanya Mami. Zee menatap mata Mami lama. Namun akhirnya, si bocah duduk juga. Mungkin ia sudah tidak sabar melihat nasi, sambal, dan udang goreng yang disukainya itu.

“Berdoa dulu ya, Dek. Gimana doanya?” tanya Mami lagi. Zee tersenyum, lalu dengan lancar melafalkan doa sebelum makan, meskipun masih ada beberapa pelafalan yang kurang jelas.

“Pelan-pelan ya makannya. Dikunyah dulu baru ditelan,” jelas Mami. Zee mengangguk.


“Mami mau goreng tahu dulu ya. Dedek makan sendiri di sini,” lanjut Mami. Lagi-lagi Zee mengangguk sambil mulai menyendok nasi.

Saat Mami tengah sibuk di dapur, Zee memekik sambil memukul piring. Mami dengan cepat datang menghampiri Zee.

“Dedek mau apa? Sudah habis makannya?” Melihat hanya beberapa butir nasi yang tersisa di piring Zee, Mami mencoba menebak keinginan si aktif tersebut. 

“Tambah lagi, Mi,” ucap Zee sambil menampakkan deretan gigi mungilnya.

“Yang benar Dedek mau tambah lagi?” Mami bertanya karena biasanya ia hanya bercanda ketika minta tambah nasi.

“Tambah nasi lagi!” pekik Zee sambil menghentakkan kaki. Kalu sudah begini, biasanya ia memang serius dengan apa yang diucapkannya.

“Ya udah, Dedek tunggu sini biar Mami ambilkan nasi,” kata Mami. Zee mengangguk.

Beberapa menit kemudian Mami membiarkan Zee makan lagi. Namun tiba-tiba ia kembali memekik.

“Dedek mau tambah lagi. Tambah lagi!” Semula Mami menolak mengambilkan nasi, namun akhirnya Mami terpaksa mengikuti keinginan Zee karena ia tidak juga berhenti memekik.

Mulanya Zee makan dalam diam, hingga Papi yang sedang keluar ke dekat Zee terkejut karena ternyata si bocah sudah sibuk membalik piring dan menumpahkan nasi ke atas lantai. Ya, walaupun masih perlu diajarkan dan dibiasakan lagi bagaimana tata cara makan yang baik dan benar, namun kemauan Zee untuk makan sendiri harus tetap Mami apresiasi. Dan etika makan yang baik tetap menjadi PR bagi kami.

Semangat ya, Zee. Besok kita kembali mengerjakan tantangan kemandirian tentang makan ini.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...