Sabtu, 31 Maret 2018

Basic Geometry and Color Pattern

Sabtu, 31 Maret 2018


Day 3

Memasuki hari ketiga belajar matematika logis, Mami masih menyiapkan worksheet khusus, dengan tema tertentu. Mengapa hal itu diperlukan? Karena sebelum tantangan level enam ini dimulai, Zee sudah mengenal matematika dari aktivitas sehari-hari maupun benda yang ada di sekitar. Mami memang belum sekalipun mengenalkannya dengan teori matematika sederhana. Jadi kali ini, Mami memilih memulai hari-hari pertama tantangan dengan mengenalkannya teori terlebih dahulu.

Dua hari sebelumnya, kami sudah belajar sorting dan classifying objects serta counting numbers. Kali ini, giliran basic geometry dan pattern yang menjadi concern Mami. Saat Zee sedang tidur siang, Mami sudah menyiapkan worksheet yang berisi gambar berbagai macam bentuk, nama, serta crayon. Begitu Zee bangun di sore hari, ia meminta nonton video sebentar, sebelum akhirnya dengan berbinar menerima tawaran Mami untuk belajar.

“Dedek, kita belajar matematika yuk,” ajak Mami.

“Sambil main ini kita.” Mami melanjutkan ucapannya dengan mengacungkan worksheet yang ada di tangan ke arah Zee.

“Mau. Mau,” kata Zee cepat. Kamipun langsung beranjak ke ruang samping rumah.

“Ada circle!” seru Zee begitu kertas yang ada di tangan Mami berpindah ke lantai.

“Eh, pinter anak Mami,” puji Mami.

“Hari ini kita belajar apa, Dek?” tanya Mami. Zee menatap Mami, sejenak kemudian beralih memandangi kertas.

“Ini namanya geometri. Kita belajar bentuk-bentuk benda. Coba Dedek sebutkan ini apa namanya?” ujar Mami lalu dilanjutkan dengan bertanya kepada Zee.

“Circle,” jawab Zee cepat. Ia pun bertepuk tangan sambil tertawa.

“Circle apa tu bahasa Indonesianya?” Mami merasa perlu membiasakan Zee untuk menggunakan bahasa Indonesia saat sedang belajar, bukan hanya bahasa Inggris saja. Walau bagaimanapun, nantinya ia tetap akan menggunakan referensi berbahasa Indonesia juga, tidak hanya yang berbahasa Inggris saja. Jadi agar tidak terjadi kerancuan, pengenalan istilah matematika dalam bahasa Indonesia sangatlah penting.

“Lingkaran.” Dengan mantap Zee menjawab. Ya, ia memang sudah mengetahui beberapa bentuk geometri dasar.

“Kalau yang ini?” tanya Mami lagi. Zee terlihat berpikir keras.

“Tri...,” pancing Mami. Zee membuka mulut, dan menggerakkannya perlahan.

“Tri, tri, triangle?” ucap Zee sedikit ragu. Mami mengangguk sambil tersenyum. Mengonfirmasi tanpa suara.

“Kalau dalam bahasa Indonesia, apa disebutnya triangle tu?” tanya Mami.

“Segi, segitiga!” pekik Zee. Mami bertepuk tangan dan tersenyum lebar.

“Yeay, pintar,” ucap Zee senang.

“Ini square,” lanjut Zee sambil menunjuk gambar di bawah segitiga sebelum Mami bertanya.

“Square apa bahasa Indonesianya, Dek?” tanya Mami. Zee menatap Mami. Sepertinya, ia memang belum tahu atau mungkin saja masih susah mengingat tentang square ini.

“Square itu bahasa Indonesianya persegi. Atau bisa juga disebut bujur sangkar,” jelas Mami.

“Apa tu, Dek? Perse...,” Mami bertanya kepada Zee.

“Persegi. Bujur, bujur?” Zee mengulang ucapan Mami.

“Bujur sangkar,” sahut Mami cepat.

“Bujur sangkar,” ulang Zee.

“Nah, kalau yang ini, apa namanya, Dek?” Mami kembali mengajak Zee fokus.

“Rectangle.” Zee tanpa ragu menjawab. Mami bertepuk tangan.

“Rectangle itu bahasa Indonesianya persegi panjang,” kata Mami.

“Persegi panjang,” ulang Zee cepat.

Setelah selesai dengan konsep geometri dasar, kami melanjutkan dengan permainan pola. Kali ini, tetap menggunakan worksheet yang sama dengan sebelumnya. Dan pola yang Mami pilih adalah pola perubahan warna, karena Zee merupakan anak yang selalu terlihat tertarik dengan warna.

“Dek, lihat ini. Kita main tebak-tebakan yuk,” ajak Mami. Zee yang sebelumnya sudah berjalan ke arah tempat sepedanya terparkir, kembali lagi mendekati Mami.

“Lingkaran ini warna apa, Dek?” tanya Mami.

“Blue.” Lagi-lagi Zee menjawab dengan bahasa Inggris.

“Terus kalau yang ini?” tanya Mami lagi.

“Orange!” pekik Zee. Mami bertanya lagi untuk warna lingkaran setelahnya. Ada lima lingkaran yang sudah Mami beri warna, dan berakhir di warna biru.

“Nah, kalau lingkaran yang terakhir ini, warna apa, Dek?” Mami menunjuk lingkaran yang masih polos.

“White?” tanya Zee. Mami mengangguk.

“Terus, dia harus diberi warna apa dong?” Zee tampak memikirkan pertanyaan Mami.

“Kita ulangi lagi ya. Lihat ini, Dek. Ini namanya pola. Pola perubahan warna,” kata Mami menjelaskan, lalu memberikan jeda sejenak agar Zee mencerna perkataan Mami. Entah ia paham atau tidak, just she knows. Hehe.

“Ini warna biru. Terus oranye. Terus biru lagi. Lalu oranye. Nah, lingkaran ini warna biru lagi. Jadi habis biru itu warna oranye,” jelas Mami. Zee menatap Mami dan worksheet di hadapannya bergantian.

“Habis warna biru, warna apa ini, Dek?” tanya Mami.

“Orange!” Zee memekik kencang. Mami memujinya sambil bertepuk tangan.

“Berarti lingkaran white ini, kita kasih warna apa tu? Habis biru kan,” ucap Mami.

“Orange?” Zee bertanya dengan suara pelan, seolah ragu. Mami sontak tersenyum dan bertepuk tangan.

“Horaay, you're right.” Mami memuji Zee. Ia tersenyum lebar juga hingga kelihatan gigi putihnya.

Setelahnya, kami meneruskan permainan pola untuk beberapa bentuk geometri setelah lingkaran. Meskipun sesekali Zee masih perlu diberika arahan, namun secara garis besar ia sudah cukup memahami tentang aturan permainan yang kami lakukan hari ini. Zee juga belajar mewarnai sekaligus. Selain matematika, unsur art juga dipelajarinya sekaligus.

Nah, ada satu hal yang membuat Mami takjub pada si bocah. Anggap saja sebagai bonus dari pelajaran kami hari ini. Tanpa diduga, Zee melakukan sesuatu yang membuat Mami terkejut. Ia mengumpulkan crayon yang semula digunakan untuk mewarnai, lalu tiba-tiba meletakkan crayon sesuai warna bangun datar yang ada di worksheet.

“This is orange. Where is it? Where is it?” ucap Zee sambil mengangkat crayon warna orange.

“This is it. This is orange. Yeaay,” lanjut Zee sambil menunjuk lingkaran berwarna oranye. Setelah bertepuk tangan, ia meletakkan crayon di atas gambar lingkaran berwarna oranye. Beberapa menit selanjutnya, ia melakukan hal yang sama untuk warna-warna lain, sehingga semua gambar geometri tertutup dengan crayon.

Mami menatap Zee dengan bangga. Memang benar adanya, pada dasarnya, anak itu terlahir cerdas. Zee bahkan belum pernah belajar mencocokkan warna sebelumnya. Namun hari ini, dengan inisiatifnya sendiri, ia belajar sebuah hal baru. Bahkan ia berbicara menggunakan bahasa Inggris yang agak panjang, padahal biasanya Zee hanya menyebutkan kosakata-kosakata saja, bukan kalimat. Tetap semangat, Zee. Besok kita belajar hal baru lagi lho.

Pancar Matahari Family

Jumat, 30 Maret 2018

Counting Numbers

Jumat, 30 Maret 2018



Day 2

Setelah hari pertama tantangan level 6 kemarin Zee belajar sorting and classifying objects, hari ini ia belajar sambil mandi. Iya, si bocah ini memang saat mandi sangat suka membawa barang-barang untuk dimainkan. Salah satu yang ia suka adalah bermain botol sabun dan shampoo. Biasanya, Zee meminta Mami mengisi ember dengan air, lalu ia akan memasukkan mainannya ke dalam air. Bergantian dengan aktivitas menyusun satu persatu mainan tersebut di lantai kamar mandi.

Pagi ini, ia melakukan hal yang sama. Saat Mami mulai menyiram badannya dengan air, ia pun secara bersamaan menyusun botol shampoo dan sabun di lantai. Susunannya berurutan seperti gambar di atas. Namun karena sedang mandi, jadi tidak ada dokumentasi live. Foto di atas Mami ambil setelahnya sebagai ilustrasi saja.

“Dedek susun apa tu?” tanya Mami.

“Sabun harum,” jawab Zee sambil tersenyum. Ia mulai menyusun botol di depannya.

“Sabun Dedek ada berapa?” Mami mulai memancing untuk mengarahkan Zee memahami tentang basic counting numbers. Biasanya, Zee akan menebak jumlah benda sekehendak hati. Namun semenjak usianya dua tahun lima bulan, Mami secara perlahan membantunya mengenal konsep menghitung benda. Hari ini, ia juga melakukan apa yang sudah Mami ajarkan kepadanya.

“One...,” ucap Zee ragu-ragu. Ia hendak melanjutkan hitungan, namun dengan cepat Mami mengoreksi perkataannya.

“Pakai bahasa Indonesia, Dek,” sahut Mami cepat. Karena kali ini kami akan belajar counting sekaligus menyisipkan sedikit penjumlahan dan pengurangan sederhana, maka penggunaan bahasa Indonesia tentu saja akan lebih membantu. Zee memandang Mami.

“Satu, dua,” kata Zee. Ia tidak menurunkan intonasi, karena sepertinya sedikit ragu, apakah harus berhenti di angka dua atau tidak. Padahal sambil menghitung, ia juga menunjuk botol sabun. Untuk membantunya agar tidak kebingungan, Mami mengangguk dan tersenyum.

“Betul tu.” Mami bertepuk tangan.

“Jadi, sabun Dedek ada berapa?” tanya Mami. Zee menatap Mami sebentar.

“Du, dua?” Kalimat tanya yang keluar dari mulutnya, bukan jawaban pasti. Sekali lagi Mami mengangguk. Ia kini yang bertepuk tangan.

“Sekarang susun shampoonya. Sambil dihitung ya,” kata Mami. Zee dengan cepat mengeluarkan satu persatu botol shampoo dari dalam ember.

“One,” ucap Zee. Mami menggeleng, memberi isyarat tanpa kata agar ia tidak menggunakan bahasa Inggris.

“Satu, dua, tiga?” sahut Zee. Mami mengangguk. Botol sabun dan shampoo tersusun rapi.

“Jadi ada berapa botol shampoo Dedek?” tanya Mami.

“Tiga.” Kali ini ia menjawab dengan mantap.

“Kalau sabun dan shampoo, ada berapa?” tanya Mami. Ia menatap Mami dengan pandangan bertanya.

“Yuk, kita hitung semua.” Mami mengajak Zee menghitung, sambil menunjuk satu persatu botol.

“Satu, dua,” ucap Mami. Dan otomatis Zee meneruskan ucapan Mami sampai semua botol habis ditunjuk.

“Jadi, ada semua botol Dedek?” Mami bertanya ulang.

“Lima?” tanya Zee. Mami mengangguk.

“Betul. Botol sabun ada dua. Ditambah shampoo tiga. Jumlahnya jadi lima deh. Paham Dedek?” Mami menjelaskan dengan bahasa sederhana, entah dimengerti oleh bocah seumur Zee entah tidak. Haha.

“Nah, kalau shampoonya Dedek ambil, botolnya sisa berapa, Dek?” Setelah konsep penjumlahan, kali ini Mami sedikit mengenalkan pengurangan.

“Ambil botol shampoonya,” lanjut Mami. Zee mengikuti petunjuk Mami.

“Tadi ada berapa botol shampoonya?” Mami mengulang pertanyaan counting numbers yang kami lakukan sebelumnya. Ia menatap botol shampoo yang sudah berpindah tempat ke dalam ember.

“Tiga?” tanya Zee. Mami mengangguk.

“Terus sekarang botol sabun yang Dedek susun tu ada berapa?” Mami bertanya dengan cepat. Zee memandang botol sabun, bergantian dengan shampoo di dalam air.

“Dua.” Dengan cepat Zee menjawab.

“Betul. Yeaay. Jumlah botol sabun dan shampoo Dedek semuanya kan ada lima. Terus Dedek ambil botol shampoonya aja, tiga. Sisanya botol sabun kan, ada dua,” ujar Mami. Zee terlihat berpikir.

“Jadi, lima dikurang tiga, hasilnya dua,” lanjut Mami. Zee bertepuk tangan. Entah dia mengerti atau tidak, namun yang penting, hari ini si bocah happy karena bisa bermain sambil mandi sekaligus belajar matematika. Besok kita belajar yang lain lagi ya, Zee. Tetap semangat.

Pancar Matahari Family

Kamis, 29 Maret 2018

Sorting and Classifying Objects

Kamis, 29 Maret 2018


Day 1

Wah, tak terasa hampir setengah perjalanan terlewati di kelas Bunda Sayang Batch #3. Hari ini, game level 6 resmi dimulai, hingga 10 sampai 17 hari ke depan. Mudah-mudahan bisa konsisten melaporkan kegiatan Zee.

Setelah materi tentang literasi dan bahasa di sesi lima kemarin, kali ini giliran matematika logis yang jadi concern. Ya, bahasa dan matematika logis memang dua hal yang sangat krusial dan harus dikuasai anak sebagai modal untuk bertahan hidup, agar ia bisa memecahkan permasalahan yang bisa menghampiri kapan saja.

Hari ini, secara tidak direncanakan, Zee belajar memisahkan benda berdasarkan ukuran, atau dalam istilah matematika biasa disebut sorting and classifying objects. Hal ini tercetus saat si bocah sibuk bermain abjad, angka, dan puzzle plastik miliknya.

“Mi, Dedek mau buat tempat tidur Dedek bayi ni,” kata Zee. Mami yang semula tengah sibuk menata baju, langsung menoleh dan mendapati bocah aktif itu sedang berusaha keras merangkai puzzle. Di hadapannya puzzle berbagai warna dan ukuran berserak. Dan tercetuslah ide untuk mengajaknya belajar matematika sejenak.

“Zee, main dulu kita yuk. Sambil belajar. Mau?” tanya Mami. Zee terlihat berpikir sambil menatap Mami.

“Mau main sama Mami?” ulang Mami sambil tersenyum.

“Mau. Main. Main kita,” jawab Zee dengan riang.

“Puzzle Dedek ada banyak kan tu,” ucap Mami. Zee melihat tumpukan benda plastik aneka warna di depannya.

“Mana yang panjang, Dek?” Mami mulai memberikan pertanyaan pancingan. Zee memilah puzzle.

“Ini?” tanya Zee. Sebelah tangannya mengangkat puzzle panjang warna biru. Mami tersenyum lebar dan bertepuk tangan.

“That's right. You're smart,” puji Mami.

“Yeaay, pintar!” pekik Zee sembari bertepuk tangan. Biasanya setelah Mami memberikan pujian, ia memang akan ikut berteriak kegirangan. Mami sengaja membiarkan hal tersebut untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya, bukan mengajarinya menjadi orang narsis.

“Terus mana yang pendek?” tanya Mami lagi. Dan dengan cepat Zee mengambil puzzle pendek warna kuning sambil diacungkan ke arah Mami. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Mami sekali lagi memberinya pujian.

“Nah, kita main yuk sekarang. Dedek kan udah tahu tuh mana puzzle panjang, mana puzzle pendek. Yuk kita pisahkan ya, seperti ini,” ucap Mami. Zee diam sambil mengamati mimik muka Mami. Sesekali ia menatap tangan Mami yang bergerak hendak mengambil puzzle.

“Puzzle panjang kita letakkan di sini. Puzzle pendek di sini. Sekarang Dedek ambil puzzle panjang. Hayoo, yang mana puzzle panjang?” Mami kembali memberinya challenge. Ia memilih puzzle di depannya. Dan pilihannya jatuh pada puzzle panjang warna pink.

“Ini!” pekik Zee.

“Betul. Puzzle panjang, kita letakkan di dekat temannya. Yang sama panjangnya. Yang mana tuh?” tanya Mami sambil menunjuk dua tempat puzzle berbeda ukuran yang sebelumnya kami letakkan.

“Ini. Di sini, Mi,” ujar Zee setelah mengamati beberapa saat.

“Eh, pinter anak Mami. Yuk, sekarang puzzle pink yang Dedek pegang tu letakkan deket temannya,” sahut Mami. Dengan cekatan Zee meletakkan benda yang sebelumnya ada di tangannya.

“Puzzle panjang udah. Sekarang giliran puzzle pendek. Yang mana puzzle pendek? Tunjukkan sama Mami,” kata Mami sambil menunjuk tempat puzzle yang masih bercampur ukuran panjang dan pendek. Zee mengaduk-aduk, dan menarik puzzle pendek berlubang warna kuning.

“Ini.” Zee menemukan pilihannya.

“Di mana kita letakkan puzzle pendek tu?” Mami menguji ingatan Zee dan penangkapan otaknya akan penjelasan Mami sebelumnya. Ia tampak berpikir. Dan ragu-ragu ia hendak menjatuhkan puzzle di tangannya ke dekat tempat puzzle panjang berada. Tidak langsung dijatuhkan begitu saja, ia melirik Mami dan mengamati wajah Mami. Mungkin karena ia melihat Mami memberikan isyarat bahwa yang ia lakukan itu belum betul, keragu-raguan makin merayapinya.

“Di sini?” Dengan suara pelan Zee bertanya. Mami tersenyum.

“No. Ini kan tempat puzzle panjang. Yang Dedek pegang itu puzzle apa?” tanya Mami.

“Pendek ni,” jawab Zee.

“Nah, kalau puzzle pendek, temannya puzzle apa?” tanya Mami lagi.

“Puzzle pendek,” sahut Zee mantap.

“Tuh kan tahu Dedeknya. Jadi, di mana kita letakkan puzzle pendek itu?” Mami menunjuk puzzle di tangan mungilnya. Ia kembali menatap dua gundukan puzzle di depannya. Panjang dan pendek yang terpisah jarak sekitar sejengkal jari tangan.

“Di sini?” tanya Zee menunjuk tempat puzzle pendek. Mami bertepuk tangan dan mengatakan bahwa jawaban Zee benar. Ia langsung menjatuhkan puzzle di tempatnya.

“Yuk, sekarang kita pisahkan puzzle itu ke dekat teman-temannya yuk,” ajak Mami.

“Dedek ambil puzzle panjang ya,” ujar Mami. Zee dengan cepat menyodorkan puzzle panjang warna biru ke hadapan Mami.

“Di mana kita letakkan puzzle itu?” Mami bertanya dengan semangat.

“Di sini!” pekik Zee sambil menunjuk tempat puzzle panjang berada.

“Dedek cari lagi ya puzzle panjang. Cari sampai habis, letakkan di dekat temannya ya,” kata Mami. Zee dengan bersemangat mengerjakan permintaan Mami.

“Habis, Mi,” kata Zee setelah tak tersisa lagi puzzle panjang.

“Nah, sekarang puzzle pendek lagi. Letakkan di dekat temannya. Ayo cepet. Cepet.” Mami memberikan tepukan penyemangat. Zee dengan tak kalah cepat langsung memindahkan puzzle pendek yang berserak ke dekat tempat puzzle pendek yang sudah tersusun sebelumnya.

“Yeeaay! Pintar. Udah selesai kita, Mi,” kata Zee riang. Mami bertepuk tangan. Tak menyangka juga ternyata si bocah yang biasanya tidak mau fokus ke satu hal, mau sejenak berkonsentrasi dengan permainan sederhana yang tidak direncanakan sebelumnya.

Besok-besok kita ciptakan permainan simple lagi ya, Zee. Tak perlu yang ribet, karena matematika itu tak harus rumit kok. Let's love math everywhere, kids.

Pancar Matahari Family

Kamis, 22 Maret 2018

Book Lover

Kamis, 22 Maret 2018


Aliran Rasa Game Level 5

Membuat pohon literasi, seakan menjadi booster bagi kami untuk kembali menjadwalkan kegiatan membaca secara rutin. One day one book. Semoga setiap anggota keluarga kami akan selalu konsisten menjalankan program tersebut.

Terima kasih kepada fasilitator, tim dapur Bunda Sayang Batch #3, perangkat kelas, korlan sesi 5, serta teman-teman pembelajar yang saling support dan memberi semangat.

Pancar Matahari Family

Kamis, 15 Maret 2018

Mombi Aja!

Kamis, 15 Maret 2018


Day 15

Yeay... tak terasa tantangan level 5 Bunda Sayang Batch #3 sudah memasuki hari kelima belas. Dan hingga saat ini, kami masih berusaha menjaga konsistensi dalam hal meningkatkan minat baca. Meskipun di awal kami berusaha menerapkan jadwal one day one book, secara khusus one book yang dimaksud adalah one title alias berbeda judul setiap hari. Namun saat pelaksanaannya, hal tersebut terkadang tidak terpenuhi, karena Zee maupun Mami membaca buku yang sama dalam beberapa hari, terlebih buku-buku tebal yang memerlukan waktu beberapa hari sampai tamat dibaca. Hanya Papi saja yang berganti-ganti judul bacaan setiap hari, karena Papi lebih suka membaca artikel maupun koran online.

Kejadian seperti di atas juga kami alami hari ini. Ketika Mami menawarkan judul-judul buku yang belum dibaca kepada Zee, responnya diluar dugaan.

“Dek, kita baca buku apa hari ini? Salman? Nabi Yunus? Abu Bakar?” tanya Mami.

“Nggak. Nggak. Nggak mau. Mombi aja Mami ambilkan,” jawab Zee.

“Kok baca Mombi terus? Kan udah dibaca kemarin. Baca buku yang lain aja yuk,” ajak Mami masih berusaha membujuk.

“Mombi aja. Dedek mau baca Loli, Mi!” pekik Zee. Akhirnya Mamipun mengalah dan menuruti keinginan Zee. Tak apalah, yang terpenting si bocah mau membaca hari ini. Zee tertawa lebar saat melihat Mami keluar kamar sambil membawa majalah di tangan.

“Ini bayangan Mombi ni, Mi,” ucap Zee. Ia menunjuk salah satu bayangan dari tiga gambar, yang sesuai dengan gambar Mombi di sebelah bayangan.

“Eh, pintar ya, Dedek. Udah tahu yang mana bayangan Mombi,” puji Mami. Zee bertepuk tangan.

“Ini kakaknya pakai topi orange nih. Yang mana topengnya, Mi?” Zee membalik halaman majalah yang menunjukkan gambar anak-anak memakai topi, dan harus disesuaikan dengan topeng senada warna topi.

“Yang mana, Dek?” tanya Mami.

“Ini, ini. Topeng orange juga,” sahut Zee cepat. Ia kembali menunjuk topi-topi yang lain. Zee lalu melanjutkan membaca halaman lain, ia menyebut berbagai alat musik tiup yang ada di gambar, donald di kolom iklan, serta gambar-gambar lain.

Jika Zee lagi-lagi membaca majalah Mombi, hari ini Mami menamatkan novel Resign karya Kal Almira Bastari yang sebelumnya telah Mami baca beberapa hari lalu. Dan ternyata, versi cetak yang dijual ini berbeda dengan yang ada di wattpad. Ada beberapa perubahan, seperti misalnya unsur keromantisan yang sedikit berlebihan di wattpad, tidak dimunculkan di versi cetak. Hal ini membuat unsur romantika di buku ini tidak terlalu mencolok. Namun justru hal itu menjadi daya tarik tersendiri, terlebih bagi para pembaca yang kurang menyukai cerita roman picisan.

Jika Mami dan Zee membaca buku yang sama dengan beberapa hari lalu, Papi malah tidak membaca kali ini. Tak mengapa, Mami mengerti, karena padatnya pekerjaan yang harus Papi selesaikan beberapa hari ini pasti cukup menyita waktu. Meskipun begitu, Papi masih menyempatkan diri untuk berdiskusi mengenai cerita Mombi bersama Zee.

Pancar Matahari Family

Rabu, 14 Maret 2018

Retelling Story Ala Zee

Rabu, 14 Maret 2018


Day 14

Menjelang penghujung masa tantangan level 5, daun Zee dan Mami tidak bertambah. Bukannya kami tidak membaca, namun buku yang kami baca adalah buku-buju yang nama judulnya sudah pernah dituliskan di salah satu daun, jadi kami tidak membuat naa yanh sama di daun yang berbeda. Sedangkan daun hijau kepunyaan Papi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bertambah kuantitasnya juga, karena Papi yang sibuk dengan pekerjaan memang tidak sempat membaca hari apapun hari ini.

Hari ini, Zee membaca majalah Mombi. Setelah mandi pagi, ia yang masih berada di kasur langsung meminta Mami mengambilkan majalah tersebut. Jika biasanya si bocah akan berteriak minta dibacakan, namun kali ini ia hanya diam, sehingga Mami lebih dulu menawarkan.

“Dedek mau Mami bacakan Mombinya?” tanya Mami.

“Nggak, nggak. Dedek bisa baca sendiri,” jawab Zee cepat. Oke, fix. Ini anak sok bisa baca. Batin Mami.

“Mi, lihat Loli ni,” ucap Zee. Mami yang tengah bercermin, menoleh dan langsung mendapati pemandangan Zee yang tengah membuka halaman cerita Loli tengah mencari selendang untuk belajar menari.

“Itu Lolinya ngapain?” tanya Mami.

“Biar Dedek baca,” sahut Zee jumawa. Mami tertawa. Emang dasar bocah sok iye.

“Loli melakukan, apa yang Loli itu lakukan? Ibu keluar. Selendang Loli di mana? Kamar Ibu. Iya, kamar Ibu. Lalu suara gendang televisi. Nang nung. Loli pun menari,” cerocos Zee, yang sontak membuat Mami tergelak. Meskipun bercerita dengan bahasa alien, namun rupanya ia masih menyimpan memori tentang kisah Loli yang Mami bacakan sebelumnya. Hebat.

“Eh, Dedek pintar cerita ya,” puji Mami. Zee meringis, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, bercerita sembari membaca setiap halaman majalah Mombi.

Sore harinya, Zee yang menolak untuk diajak tidur, meminta Mami membacakan buku Gunung. Namun bukannya mendengarkan dengan baik, ia malah menyuruh Mami membaca buku Gunung sendiri. Alhasil Mamilah yang menamatkan cerita Zee yang tengah berpetualang melihat gunung Merapi dari gardu pandang Kaliurang.

Pancar Matahari Family

Selasa, 13 Maret 2018

Dongeng Malam

Selasa, 13 Maret 2018


Day 13

Sudah masuk hari ketiga belas tantangan level lima ternyata. Sungguh tidak terasa. Kemarin daun di pohon literasi kami berjumlah 28, kini menjadi 31 buah. Kali ini bukan hanya daun Zee dan Mami saja yang bertambah, tetapi daun warna hijau kepunyaan Papi juga bertambah.

Papi yang tengah mengerjakan project layout buku, sepulang kerja memilih membaca artikel seputar indesign, software yang akan digunakan untuk mengedit dan menata naskah sebelum dicetak.

Lain halnya dengan Papi, Mami hari ini membaca salah satu antologi yang baru saja terbit dan seleai cetak. Antologi tersebut berjudul Life is Yummy, yang merupakan kumpulan kisah flash fiction yang Mami tulis bersama dengan penulis perempuan lainnya. Di dalam Life is Yummy ini, terdapat berbagai macam genre yang terdiri dari kisah-kisah fiksi yang menarik bertema makanan.

Seperti Mami, Zee juga membaca buku cetak. Ceritanya terjadi saat tengah malam, menjelang pukul satu dini hari, ia yang tidak mau tidur meminta untuk membaca buku.

“Pi, Papi. Ambilkan buku kambing, Pi,” pinta Zee. Ia memang lebih suka membaca cerita bersama Papi dibandingkan Mami, terlebih saat tengah malam sebelum tidur.

“Buku kambing tu buku apa?” tanya Papi.

“Buku kambing. Buku kambing. Ambilkan. Itu, itu,” tunjuk Zee ke arah rak buku, alih-alih menyebut judul buku yang ia inginkan dengan benar.

“Buku nabi Muhammad Dedek maunya? Buku Aminah?” Setelah berpikir beberapa saat, Mami baru menyadari mau Zee. Si bocah mengangguk dan tersenyum lebar. Mami langsung meminta Papi mengambilkan buku yang Zee maksud di rak buku. Tanpa menunggu lama, Zee yang sudah menanti langsung membuka boardbook yang menceritakan tentang kehidupan Rasulullah tersebut. Ia meminta Papi membacakan halaman yang ia mau. Mami yang ada di sebelah mereka sesekali tersenyum dan menimpali jalannya cerita maupun menambahkan kisah jika ada gambar yang menarik perhatian Zee.

Pancar Matahari Family

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...