Sabtu, 30 Juni 2018

Susu atau Kue?

Sabtu, 30 Juni 2018



Day 3

Pada hari ketiga tantangan level 8 Bunda Sayang Batch #3, saya kembali membiasakan Zee untuk memilih antara kebutuhan dan keinginan. Cerita ini bermula dari pagi tadi saat ia bangun tidur dan langsung meminta kue.

“Mi, Dedek mau kue astor,” kata Zee.

Mami mencoba menjelaskan kepada Zee bahwa kue astornya sudah habis. Karena uang tabungannya sudah habis sehingga jatah jajan kembali didapatkan dari mami, maka ia harus memilih.

“Kue astornya kan sudah habis tadi malam Dedek makan.” Mami menjawab.

“Dedek mau kue. Mau kue!” Zee mulai memekik.

“Dedek kalau mau kue astor, berarti kita nggak beli susu M*m* ya?” tanya mami.

“Mau susu,” sahut Zee cepat.

“Kalau mau susu, berarti nggak usah beli kue astor. Kan uang celengan Dedek udah habis.” Mami kembali mengulang penjelasan. Zee tampak cemberut.

“Kita nggak usah beli kue astor. Mami bikinkan Dedek kue. Mau?” tawar mami. Zee memandang mami cukup lama, dan berakhir dengan anggukan.

“Oke. Kita bikin pancake ya. Nanti habis mandi kita beli susu. Mau?” ucap mami. Lagi-lagi Zee kembali mengangguk.

Saat akhirnya kami pergi ke warung, entah memang ia paham atau tidak, tapi nyatanya Zee tidak merengek minta kue dan cukup senang saat kami hanya membawa pulang dua kotak susu uht. Semangat, Zee. Tidak mudah memang menahan keinginan. Namun manfaatnya besar jika kita bisa mengendalikan hawa nafsu.

Zee Basic Learning Lite and Fresh Animation

Sabtu, 30 Juni 2018



Day 50

Hari terakhir di bulan Juni ini kami masih menggunakannya untuk mempelajari beberapa teknik yang ada di software Synfig. Antara lain teknik morphing dan cutout animation.

Teknik morphing mungkin tidak terlalu banyak kami gunakan nantinya. Sedang cutout, khususnya transformasi sangat kami perlukan, karena banyak frame yang nantinya berupa orang sedang berjalan atau hewan yang bergerak. Dengan mempelajari teknik ini, membantu kami untuk meneliti ulang apakah ada frame yang kurang atau perlu diperbaiki sebelum disatukan menjadi animasi utuh.

#RuangBerkaryaIbu
#Ibu Profesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day50

Jumat, 29 Juni 2018

Makan Sekarang atau Nanti?

Jumat, 29 Juni 2018



Day 2

Setelah mengenalkan Zee pada konsep jual beli dan menabung, hari ini saya memperkenalkannya cara mengelola barang yang dibelinya menggunakan uang tabungan. Yang kami jadikan bahan pembelajaran adalah kue astor.

Cerita bermula saat siang tadi Zee memakan kue yang ia beli menggunakan uang tabungannya kemarin. Sudah dua bungkus kue ia habiskan, namun rupanya si bocah masih belum mau berhenti.

“Mi, Dedek mau lagi kuenya,” ucap Zee.

“Lho, kan udah Dedek makan dua tadi. Kuenya tinggal satu, buat nanti malam.” Mami menjelaskan perlahan.

“Tapi Dedek mau kuenya sekarang.” Zee tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Kalau kuenya Dedek makan sekarang, berarti nanti malam nggak makan kue ya,” kata mami.

“Nanti beli lagi?” tawar Zee.

“Nggak bisa dong. Kan kemarin janjinya kuenya dimakan hari ini. Besok baru beli lagi. Uang celengan Dedek kan udah habis.” Mami kembali mengingatkan kesepakatan yang telah kami buat kemarin. Zee tampak berpikir. Hingga akhirnya mami memberi solusi.

“Dedek lapar?” tanya mami. Zee mengangguk.

“Kalau gitu makan nasi aja ya. Mau?” tanya mami lagi. Zee sempat akan protes, namun ucapan mami menghentikannya.

“Sekarang makan nasi dulu. Nanti malam baru makan kue lagi ya. Mau?” Lama tidak ada jawaban, hingga akhirnya Zee menganggukkan kepalanya.

Sesuai kesepakatan, malam ini Zee memakan sisa kuenya yang tinggal satu bungkus. Tak mudah memang mengajarkannya konsisten dengan kesepakatan yang telah kami buat. Bahkan beberapa kali ia menanyakan tentang kue dan ingin memakannya saat itu juga. Namun hal itu tak lantas membuat tekad saya mengajarkan Zee mengenai konsistensi melemah. Memang bisa saja saya kembali membelikannya kue setelah yang ada di rumah habis, tetapi hal itu tidak akan membantunya sama sekali untuk belajar memanajemen barang yang ia beli dari hasil tabungannya sendiri. Tak mengapa terlihat kejam dan keras, itu semua demi kebaikannya sendiri. Lagipula keinginannya untuk menghabiskan kue yang ada itu bukan semata-mata karena kebutuhan, namun sebagian besar hanya hawa nafsunya saja.

Pancar Matahari Family

Zee Basic Learning Lite and Fresh Animation

Jumat, 29 Juni 2018



Day 49

Pada hari ke-49 pengerjaan ZBL project, kami masih mempelajari software Synfig. Kali ini kami mempelajari teknik-teknik yang tersedia di dalamnya. Seperti yang terlihat dalam gambar, ada beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk memberikan efek pada gambar agar menjadi sebuah animasi yang menarik. Yang kami perlukan salah satunya adalah teknik transformasi, untuk membuat efek orang berjalan.

Besok rencananya kami juga masih akan mempelajari mengenai penggunaan beberapa efek dalam Synfig.

#RuangBerkaryaIbu
#Ibu Profesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day49

Kamis, 28 Juni 2018

Koin Terakhir

Kamis, 28 Juni 2018




Day 1

Setelah jeda libur Idul Fitri selama hampir dua minggu, kelas Bunda Sayang Batch #3 minggu ini resmi dimulai kembali. Kali ini materi yang diberikan adalah melatih kecerdasan finansial anak sejak dini, yang menempati urutan kedelapan dari dua belas materi dalam kuliah Bunda Sayang Ibu Profesional.

Hari ini, game level 8 dimulai, membuat saya bersemangat untuk melaksanakannya sesegera mungkin, karena salah satu materi Bunda Sayang yang amat saya nanti yaitu melatih kecerdasan finansial anak sejak dini. Mengapa? Karena mengelola keuangan merupakan PR besar yang harus saya latihkan kepada si kecil agar tidak mengulang kesalahan yang pernah saya lakukan saat muda dulu.

Sebelum sampai pada materi kedelapan ini, saya sudah mulai menerapkan pengenalan manajemen keuangan kepada Zee (2 tahun 8 bulan) sejak ia berumur 20 bulan. Bermula dari seringnya mengajak Zee ke pasar, minimarket, warung, hingga sempat membawanya berjualan batagor dan siomay setiap sore. Sejak kecil, Zee sudah tahu soal uang. Bukan nominalnya, namun lebih fungsi uang sendiri yang bisa digunakan sebagai alat tukar. Zee sudah paham jika ingin naik wahana permainan anak, ia memerlukan uang. Pun saat dirinya menginginkan jajanan di warung juga harus menyerahkan sejumlah uang kepada penjual.

Nah, salah satu cara yang kami gunakan sebagai media pembelajaran adalah menabung uang logam untuk keperluan jajannya sendiri. Zee mempunyai celengan ayam berwarna merah yang akan kami isi dengan uang logam pecahan berapapun. Biasanya, Zee yang memasukkan uang dari kami ke dalam celengan. Hasil menabung Zee ini akan kami bongkar setiap akhir bulan, beberapa hari sebelum tanggal 30 atau 31, biasanya sekitar satu minggu sebelumnya. Uang logam ini lalu kami lakban per 1.000 rupiah guna memudahkan Zee belajar menghitung totalnya.

Bulan ini, hasil tabungan Zee hampir mencapai 70.000 rupiah. Beberapa hari sebelumnya sudah ia gunakan untuk membeli kue di warung, juga beberapa keperluannya seperti susu dan pampers. Hari ini, koin terakhir yang dimiliki Zee habis dibelanjakan. Siang tadi, mami mengajaknya menghitung sisa koin yang ia punyai sebelum digunakan membeli kue.

“Dek, uang Dedek tinggal ini ya. Sudah tidak ada lagi yang lain. Ini mau buat beli apa?” tanya mami sambil memperlihatkan uang logam di dalam plastik kepada Zee.

“Beli es krim sama jelly kecil, Mi,” jawab Zee.

“Oke. Kita hitung dulu yuk uangnya ada berapa,” ajak mami.

Zee dengan semangat mulai menghitung, “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.”

“Uang Dedek ada tujuh berarti ya. Karena satu bendelnya seribu, berarti uang Dedek ada tujuh ribu.” Mami menjelaskan kepada Zee. Ia mengangguk.

“Es krimnya mau yang warna apa?” Mami memang mengenalkan harga es krim kepada Zee sesuai warna bungkusnya.

“Warna yellow. Sama jelly kecilnya banyak. Sama astor juga,” ucap Zee cepat.

“Es krim yellow harganya empat ribu lho. Uang Dedek berarti tinggal tiga nanti.” Mami berkata sambil memisahkan uang berdasarkan harga es krim.

“Tiga ribu itu nanti cuma dapat jelly kecil empat sama astor dua. Mau?” Zee tampak berpikir mendengar pertanyaan mami. Lalu ia menggeleng.

“Jelly kecilnya mau banyak Dedek, Mi.” Sepertinya si bocah memang sudah tahu jika empat itu merupakan jumlah yang sedikit.

“Kalau gitu tidak bisa beli es krim yang yellow. Bisanya es krim lain yang harganya tiga ribu. Mau?” Mami memberikan pilihan.

“Iya. Yang warna light blue Dedek mau,” jawab Zee.

“Ya udah, yuk kita ke warung. Nanti Uang Dedek ini dapat es krim light blue, jelly kecil enam sama astor dua ya,” pungkas mami. Zee mengangguk, entah ia benar-benar mengerti atau tidak.

Sesampai di warung, Zee bergegas menuju rak tempat jelly berada. Rupanya ada banyak pilihan warna. Tanpa menghitung terlebih dahulu, ia langsung meraup banyak jelly.

“Hayo, tadi kan sudah sepakat jelly-nya enam aja. Kok Dedek ambil banyak? Mau diambil semua itu?” tanya mami. Zee mengangguk tanpa berpikir.

“Berarti nggak bisa beli es krim sama astor ya,” lanjut mami. Zee mencebik.

“Mau nggak?” tanya mami lagi. Zee menggeleng.

“Ya udah, kembalikan itu jelly-nya. Ambil enam aja. Yuk kita hitung,” ajak mami. Meskipun tampak keberatan, namun akhirnya Zee mengembalikan jelly ke dalam tempatnya dan hanya menyisakan enam buah di tangan.

Setelah mengambil jelly, Zee otomatis bergerak mengambil astor dan berjalan ke arah freezer tempat es krim berada.

“Es krimnya warna apa tadi Dedek mau?” Mami mengetes Zee.

“Light blue.” Zee menjawab mantap. Oke. Sepertinya hari ini bebas drama, tidak seperti biasanya ia yang tiba-tiba berubah pikiran menginginkan es krim dengan warna berbeda dari kesepakatan awal.

Semua kue sudah didapat, Zee lantas menyerahkan uang di dalam plastik kepada penjual. Ia menunggu penjual menghitung jumlahnya, lalu keluar dari warung dengan riang.

Begitulah cara kami mengenalkan konsep jual beli dan mengatur keuangan sederhana kepada Zee hari ini. Esok pagi semoga ada metode lain yang bisa kami terapkan.

Pancar Matahari Family

Zee Basic Learning Lite and Fresh Animation

Kamis, 28 Juni 2018


Day 48

Pada hari ke-48 ini, akhirnya kami berhasil memutuskan software pembuat animasi apa yang akan kami gunakan. Setelah berdiskusi dan menimbang beberapa hal, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan software Synfig animation.

Meskipun baik saya maupun suami sama-sama belum pernah menggunakan software ini, namun kami berniat untuk mempelajari tutorial penggunaannya di internet, baru kemudian mendownloadnya. Memang macromedia flash lebih familiar bagi kami, namun dikarenakan harddisk laptop yang kekurangan space, sepertinya software yang satu itu tidak bisa kami gunakan.

Karena sudah berniat menggunakan Synfig, maka hari ini kami memulai dengan mempelajari berbagai tutorial yang kami dapatkan. Semoga beberapa hari ke depan cukup digunakan untuk mempelajari Synfig sehingga kami bisa langsung mendownload dan memulai pembuatan animasi ZBL.

#RuangBerkaryaIbu
#Ibu Profesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day48

Selasa, 26 Juni 2018

Zee Basic Learning Lite and Fresh Animation

Selasa, 26 Juni 2018





Day 46

Pada hari ke-46 masa action di project 2 Ruang Berkarya Ibu ini, akhirnya kami berhasil menyelesaikan seluruh gambar yang diperlukan untuk pembuatan animasi ZBL. Namun karena file yang dikerjakan oleh suami masih berada di dalam flashdisk yang dibawa ke kantor sampai saat laporan ini dibuat, maka contoh gambarnya tidak dapat ditampikan.

Selain menyelesaikan ilustrasi, kami kembali searching backsound yang diperlukan untuk efek suara, seperti suara angin, kucing, burung, dan lainnya. Beberapa sudah berhasil diunduh dan kekurangannya akan kembali dicari esok hari.

#RuangBerkaryaIbu
#Ibu Profesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day46

Mau Baca Buku? Install iPusnas Yuk!

Selasa, 13 November 2018 Day 1 Membaca buku merupakan salah satu aktivitas yang patut dibiasakan oleh orang tua terhadap anak-a...